Di puncak keabadian, saat semua makhluk tunduk pada namanya… dia justru memilih turun.
Seorang Immortal yang telah menembus batas ranah, mencapai puncak keabadian, bahkan secara tak langsung menjadi penjaga keseimbangan semesta, tiba-tiba membuat pengumuman yang mengguncang seluruh alam.
“Aku pensiun.”
Istana Surga terdiam. Para dewa tercengang. Para raja iblis waspada. Dunia fana gemetar—bukan karena perang, melainkan karena satu kenyataan yang tak masuk akal:
sosok yang selama ini menjaga garis takdir… memilih pergi.
Bukan karena kalah.
Bukan karena terluka.
Namun karena… bosan.
Ribuan tahun berlalu dalam siklus yang sama: menekan kekacauan, mengadili pelanggar langit, menutup retakan dimensi, mengulang hari-hari tanpa rasa. Hidup abadi yang sempurna justru terasa seperti penjara paling sunyi.
Maka sang Immortal turun ke dunia, meninggalkan singgasana langit, dan memilih sesuatu yang dianggap remeh oleh para dewa:
Membuka sebuah restoran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Radapedaxa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Aroma Darah di Malam Pingxi
Langit malam menggantung sunyi di atas kota Pingxi.
Lampion-lampion yang biasanya menggantung hangat kini tampak redup, seolah enggan menyinari jalan utama yang mulai ditinggalkan manusia. Angin malam berhembus perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Di tengah jalan itu, tiga sosok berjalan berdampingan.
Wang Yihan, dengan wajah kesal, terus mengomel tanpa henti. Alisnya berkerut, bibirnya mengerucut, jelas belum bisa menerima keputusan yang baru saja diambil.
“Kakek benar-benar keterlaluan! Melepaskan bakat seperti itu begitu saja? Itu sama sekali tidak seperti kakek!” suaranya melengking, penuh ketidakpuasan.
Di sampingnya, Wang Zhenyu hanya tersenyum canggung. Tangannya terkepal di balik jubah, jelas ia pun sebenarnya memiliki pemikiran yang sama, hanya saja ia lebih pandai menahan diri.
“Memang… keputusan itu terasa sedikit terlalu terburu-buru,” ujarnya hati-hati, seolah memilih kata agar tidak memperkeruh suasana.
Namun, orang yang mereka bicarakan—Wang Jianhong—hanya menghela napas panjang.
Napas itu berat.
Seolah membawa beban yang tidak bisa dilihat.
“Kalian tidak mengerti…” gumamnya pelan.
Langkahnya melambat sedikit, sebelum akhirnya ia berkata dengan suara rendah namun tegas, “Jika aku memaksa membawa gadis itu… aku merasa akan mati di tempat begitu saja.”
Langkah Wang Yihan terhenti.
Zhenyu juga ikut diam.
Kata-kata itu… terlalu berat untuk dianggap sebagai lelucon.
Wang Yihan menoleh cepat, wajahnya penuh kebingungan.
“Apa maksud kakek?” suaranya sedikit meninggi, namun lebih karena tidak percaya. “Mana mungkin ada orang di kota kecil seperti ini yang bisa membunuh kakek dengan mudah? Bahkan jika itu kultus iblis pun—”
Namun kata-katanya terhenti.
Wang Jianhong tidak menjawab.
Tatapannya kosong, namun dalam.
Seolah ia kembali melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
Tatapan Zhao.
Santai.
Tenang.
Namun… dalam.
Terlalu dalam.
Sebuah tatapan yang membuat insting bertahan hidupnya—yang telah diasah selama puluhan tahun sebagai pendekar puncak—berteriak tanpa suara.
Pergi.
Menjauh.
Jangan melawan.
Itu bukan sesuatu yang bisa disentuh.
Bukan sesuatu yang seharusnya dihadapi.
Wang Jianhong perlahan mengepalkan tangannya.
Siapa sebenarnya dia…?
Namun sebelum Wang Yihan kembali berbicara—
Kilatan tajam muncul di mata Wang Jianhong.
Tangannya terangkat.
“Berhenti.”
Suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang membuat kedua orang di sampingnya langsung patuh tanpa sadar.
Wang Yihan mengerutkan kening.
“Kakek? Apa yang—”
Namun ia terdiam.
Karena ia melihat sesuatu yang jarang ia lihat.
Tatapan serius.
Tidak… lebih dari itu.
Tatapan berburu.
Wang Zhenyu juga berubah.
Senyum canggungnya lenyap.
Tangannya bergerak cepat, menarik pedang dari sarungnya dengan suara cling yang tajam.
Aura tipis mulai menyelimuti tubuhnya.
“Nona ketiga… tolong jangan jauh dari saya.”
Nada suaranya berubah.
Kaku.
Waspada.
Wang Yihan menelan ludah.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Ia belum merasakan apa-apa… tapi dua orang di sampingnya sudah bersikap seperti ini.
Itu berarti—
Bahaya.
Wang Jianhong menatap sekeliling.
Jalan itu… terlalu sunyi.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara hewan malam.
Bahkan angin… terasa dingin dan asing.
Tiba-tiba—
Sebuah kalimat muncul di benaknya.
Malam di kota Pingxi sangat dingin dan menusuk.
Ucapan Zhao.
Mata Wang Jianhong menyipit.
“Ada yang tidak beres…” katanya dalam. “Jangan lengah sedikit pun.”
Zhenyu dan Yihan langsung mengangguk.
Dan saat itu—
Tap.
Tap.
Tap.
Suara ringan terdengar dari atas.
Ketiganya menoleh serempak.
Dan dalam sekejap—
Puluhan sosok telah berdiri di atas atap bangunan di sekeliling mereka.
Tanpa suara.
Tanpa tanda.
Seolah mereka memang sudah ada di sana sejak awal.
Pakaian hitam menutupi tubuh mereka.
Wajah mereka tertutup masker.
Dan di dada kiri—
Sebuah simbol merah menyala.
Bunga higanbana.
Wang Yihan gemetar.
“Mereka… kultus iblis…”
Aura membunuh turun seperti hujan.
Dingin.
Menyesakkan.
Wang Zhenyu mengangkat pedangnya lebih tinggi.
Wang Jianhong sedikit menundukkan tubuhnya, bersiap.
Namun—
Suara lain terdengar.
Datar.
Namun anehnya… lebih menekan dari semua aura di sekeliling.
“Ah… sepertinya aku sempat lengah beberapa saat.”
Suara itu datang dari atas.
Ketiganya menoleh.
Seorang pria berdiri di salah satu atap tertinggi.
Tubuhnya tegap.
Aura yang mengelilinginya… berbeda.
Lebih liar.
Lebih buas.
Dan di wajahnya memakai topeng anjing.
Wang Jianhong menggertakkan giginya.
“…Mad Dog.”
Pria itu tertawa kecil.
Lalu—
Whoosh!
Ia melompat turun.
Tanpa suara keras saat mendarat.
Namun tanah di bawah kakinya retak halus.
Satu per satu, bawahannya juga turun.
Mengepung.
Menutup semua jalan.
Mad Dog melangkah maju perlahan.
“Kalian mungkin bisa mengelabui bawahan ku…” katanya santai.
Lalu—
Matanya berkilat dingin.
“…tapi kalian tidak bisa lolos dari penciuman ku.”
Ia menarik napas dalam.
Seolah benar-benar mencium sesuatu di udara.
“Sword Saint dari klan Wang…” gumamnya. “Ada alasan kenapa aku dipanggil Mad Dog. Bukan begitu?”
Tekanan turun.
Lebih berat.
Lebih nyata.
Wang Jianhong perlahan melepaskan Qi-nya.
Aura tajam menyebar, seperti pedang tak kasat mata.
“Aku memang ceroboh…” katanya pelan. “Karena rasa penasaran.”
Lalu ia sedikit menoleh.
“Zhenyu.”
Nada suaranya berubah.
“Bawa Yihan pergi dari sini. Secepatnya. Cari bantuan terdekat.”
Wang Yihan langsung membelalak.
“Apa?! Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kakek sendirian!”
Tangannya mengepal.
“Aku juga bisa bertarung! Aku bukan anak kecil lagi yang harus selalu dilindungi!”
Zhenyu mengerutkan kening.
“Nona ketiga… ini bukan waktunya untuk keras kepala.”
Ia menatap Mad Dog.
Aura pria itu…
Berbeda.
“Terlebih lagi… saat salah satu pemimpin kultus iblis berdiri di hadapan kita.”
Wang Yihan menggertakkan giginya.
“Lalu kita harus meninggalkan kakek begitu saja?!”
Suaranya mulai bergetar.
“Kita tidak akan menemukan bantuan dengan cepat! Kota ini terlalu jauh dari ibukota! Kita akan terlambat dan—”
“Yihan.”
Suara Wang Jianhong memotong.
Lembut.
Ia tersenyum.
Senyum hangat.
“Apa yang perlu kau khawatirkan, cucuku?”
Ia menegakkan tubuhnya.
Aura pedangnya meningkat.
Tajam.
Megah.
“Apakah kau lupa… kakekmu ini salah satu dari tujuh Sword Saint terhebat di seluruh benua?”
Wang Yihan terdiam.
Matanya bergetar.
Tangannya mengepal erat.
Namun sebelum ia bisa berkata apa-apa—
Mad Dog mendecak kesal.
“Cukup dengan obrolan keluarga yang membosankan itu.”
Ia mengangkat tangannya.
“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan…”
Lalu tersenyum dingin.
“Tapi tidak ada yang bisa lari setelah tercium olehku.”
Tangannya turun.
Dan—
“Bunuh.”
Dalam sekejap—
Semua anggota kultus bergerak.
Seperti bayangan.
Seperti hantu.
Aura membunuh meledak.
Wang Jianhong melangkah maju.
Pedangnya terhunus.
“Pergi!”
Teriaknya.
Zhenyu langsung menarik Yihan.
Meski gadis itu berusaha melawan—
Ia tetap dibawa mundur.
Air mata mulai menggenang di matanya.
“KAKEK!”
Namun—
Dentang pedang pertama terdengar.
Pertarungan telah dimulai.
—
Di sisi lain kota.
Di sebuah kamar kecil yang hangat.
Cahaya lampu minyak bergoyang pelan.
Zhao duduk di depan meja.
Di tangannya, sebuah buku catatan terbuka.
Ia menulis dengan tenang.
“Pendapatan hari ini… meningkat lagi.”
Ia berhenti sejenak.
Mengetuk meja pelan.
“Hm… stok daging mulai menipis.”
Alisnya sedikit berkerut.
“Ramen jadi terlalu populer akhir-akhir ini…”
Ia menatap daftar bahan.
Kosong di beberapa bagian.
“Di mana aku bisa menemukan daging segar di kota ini?” gumamnya.
Ia menyandarkan tubuhnya.
Menatap langit-langit.
“Tidak ada yang beternak… ya wajar saja. Rumput saja tidak tumbuh di tempat ini.”
Ia menghela napas.
“Haruskah aku berburu di luar kota?”
Diam sejenak.
“Atau beli dari ibukota…?”
Lalu ia menoleh.
Di ranjang kecil—
Yueling tertidur.
Wajahnya tenang.
Napasnya lembut.
Zhao menatapnya beberapa saat.
Lalu tersenyum tipis.
Ia menghela napas panjang.
“Aku harus segera menemukan mitra untuk suplai bahan…”
Ia berdiri.
Melangkah ke jendela.
Membukanya perlahan.
Angin malam masuk.
Dingin.
Menusuk.
Zhao menatap langit.
Gelap.
Sunyi.
Namun—
Matanya sedikit menyipit.
“Hm…”
Senyumnya muncul.
Tipis.
“Sepertinya… sudah dimulai ya?”
Di kejauhan—
Aura membunuh meledak.