Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana licik Sebastian
"Tugas? Tugas apa lagi, Pa? Aku malas ikut campur dengan urusan Papa," jawab Prans acuh tak acuh. Ia terlihat sedang bersantai, menyandarkan tubuhnya di sofa mewah tanpa beban sedikit pun di wajahnya.
Sebastian menatap putranya dengan pandangan tajam, tidak suka dengan sikap meremehkan yang ditunjukkan Prans. Baginya, setiap langkah adalah bagian dari catur besar yang sudah ia susun selama 23 tahun.
"Ini bukan sekadar urusan biasa, Prans," ujar Sebastian dengan nada rendah yang menekan. "Ini tentang masa depanmu. Tentang bagaimana kau akan memiliki segalanya yang selama ini dipegang oleh keluarga Erlangga."
Prans hanya menghela napas panjang, memutar bola matanya bosan. "Papa selalu bicara tentang harta Erlangga. Bukankah mereka terlalu kuat untuk kita lawan? Lagipula, aku lebih suka menikmati hidupku yang sekarang daripada harus terjebak dalam dendam lama Papa."
Sebastian membungkuk, lalu berbisik tepat di telinga pria berusia dua puluh delapan tahun itu. "Meskipun ini tentang Adira? Yakin kau tidak mau?" bisik Sebastian, jelas sekali sedang memancing semangat putranya.
Benar saja, Prans langsung terduduk tegak. Rasa kantuk dan sikap santainya sirna seketika saat mendengar nama itu. Matanya menatap sang ayah dengan tajam, mencari kebenaran di balik ucapan tersebut.
"Apa maksud Papa? Adira?" tanya Prans bertubi-tubi. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Bukankah dia di penjara? Bagaimana bisa Papa bicara seolah-olah dia sudah keluar?"
Sebastian hanya menyeringai puas melihat reaksi putranya yang sesuai dengan dugaannya. Ia kembali menyandarkan tubuhnya di kursi, menikmati kemenangan kecilnya.
"Dia sudah keluar, Prans. Tapi sayang, dia tidak kembali ke rumah ayahnya. Dia sekarang berada di tangan Arlan Erlangga. Menjadi istri simpanan—atau lebih tepatnya, alat untuk melahirkan pewaris keluarga itu," ujar Sebastian dengan nada yang memprovokasi.
Wajah Prans seketika mengeras. Rahangnya mengatup rapat menahan amarah yang tiba-tiba meluap. "Arlan... dia mengambil Adira?"
"Bukan hanya mengambil, tapi dia akan menyiksanya dengan caranya sendiri. Jadi, sekarang katakan padaku... apakah kau masih malas untuk ikut campur dalam urusanku?" tanya Sebastian sambil menaikkan sebelah alisnya, menunggu jawaban yang sudah pasti ia ketahui.
"Jangan bercanda, Pa! Mana mungkin Arlan mau menikahi Adira?!" seru Prans dengan nada tidak percaya.
"Semua orang tahu kalau Adira yang membunuh adiknya! Mana mungkin Arlan sudi menikahi wanita yang telah menghabisi nyawa adik kandungnya sendiri?!" lanjut Prans dengan emosi yang meluap.
Ternyata, selama ini Prans sama sekali tidak tahu apa-apa. Ia bahkan tidak menyadari bahwa ayah Adira, Sutra, selama delapan tahun ini disekap di ruang bawah tanah rumah besar yang mereka tinggali.
Sebastian memang sengaja merahasiakan semuanya. Ia tahu betul watak putranya; Prans tidak akan pernah mau mengikuti jejak kejamnya jika mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Bagi Sebastian, Prans hanyalah bidak catur yang sangat berharga untuk melancarkan misinya yang paling kotor: menghancurkan keturunan keluarga Erlangga.
"Justru karena itu, Prans," ujar Sebastian dengan nada yang tenang namun penuh tipu daya. "Arlan tidak menikahinya karena cinta. Dia menikahinya untuk membalas dendam. Dia ingin menyiksa Adira seumur hidupnya."
Sebastian memperhatikan perubahan ekspresi putranya. "Kau mencintai Adira, bukan? Apa kau akan membiarkan wanita yang kau cintai itu terus disiksa oleh monster seperti Arlan Erlangga?"
Rahang Prans mengeras. Ketidaktahuannya akan kekejaman ayahnya sendiri justru membuatnya terjatuh tepat ke dalam perangkap yang sudah disiapkan Sebastian.
"Baiklah, Papa ingin aku melakukan apa?" tanya Prans dengan nada serius, membuat Sebastian menyunggingkan senyum penuh arti.
Sebastian tahu betul bahwa putranya sudah lama menyukai Adira. Ia memanfaatkan perasaan tulus itu demi memuaskan ambisi pribadinya yang busuk.
"Arlan ingin dia hamil, tapi sepertinya Arlan terlalu jijik untuk menyentuh pembunuh adiknya secara langsung," ujar Sebastian dengan nada provokatif. "Arlan memilih prosedur medis untuk membuat Adira hamil. Di sanalah kesempatanmu."
Prans menatap ayahnya, mencoba mencerna setiap kata yang keluar.
"Kau bisa mengambil kesempatan itu untuk menukar benihmu dengan benih Arlan," lanjut Sebastian tanpa keraguan sedikit pun. "Dengan begitu, anak yang dikandung Adira nanti adalah darah dagingmu sendiri, bukan keturunan Erlangga."
Mata Prans membelalak. Tawaran itu terdengar sangat gila, namun di sisi lain, gagasan untuk memiliki ikatan darah dengan wanita yang selama ini ia puja mulai merasuki pikirannya. Ia tidak menyadari bahwa dengan menyetujui rencana ini, ia telah menjadi kaki tangan dari iblis yang sebenarnya.
"Kau ingin Adira menjadi milikmu selamanya, bukan? Inilah satu-satunya cara untuk mengikatnya," bisik Sebastian, menutup jebakannya dengan sempurna.