NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mana mungkin Cya diam

“Rajendra, Mama haus sekali. Di dapur ada jus jeruk?” tanya Bu Riska sambil mengusap tenggorokannya.

“Ada, Ma… tapi harus dibuat dulu.”

“Yah… padahal Mama capek sekali habis perjalanan jauh.”

“Mama mau aku buatkan?”

“Enggak usah kamu, Nak. Kamu baru pulang, pasti capek juga.”

Kalimat itu terdengar manis—tapi lirikan Bu Riska ke arah Cya sangat jelas.

Cya langsung mengerti.

Ia diam.

Menunggu. Kalau Rajendra yang menyuruh, ia akan lakukan.

Tapi—“Jadi Mama mau buat sendiri?” tanya Rajendra polos.

Cya menahan napas.

Bu Riska tersenyum tipis. “Kalau boleh… Mama minta tolong istri kamu saja.”

Akhirnya.

Rajendra menoleh ke arah Cya. “Kamu bisa?”

Cya tersenyum—tipis, dingin. “Tentu saja bisa,” jawabnya. “Bukankah saya memang harus mendengar dan menuruti semua perkataan Anda?”

“Cya, aku cum—” Belum sempat Rajendra menyelesaikan kalimatnya, Cya sudah berbalik dan berjalan ke dapur.

Rajendra memijat pelipisnya.

“Istri kamu masih kekanak-kanakan ya?” ucap Bu Riska begitu Cya menghilang.

“Iya, Ma… aku harap Mama dan Papa bisa memaklumi sikapnya.”

“Sikapnya beda jauh dengan Aurel,” lanjut Bu Riska. “Aurel itu kalau ada tamu, selalu ramah. Senang. Enggak pernah pasang wajah seperti itu.”

Rajendra terdiam sejenak.

“Mungkin karena dia terlanjur kesal, Ma. Tapi sebenarnya Cya itu ramah… kalau kita tau cara mengambil hatinya.”

Jawaban itu—tidak sesuai harapan.

Bu Riska ingin Rajendra ikut menyalahkan Cya.

Bukan… membelanya.

“Kamu sudah melupakan Aurel ya?” tanyanya tajam.

Rajendra langsung menggeleng. “Tidak, Ma. Aku tidak pernah melupakan Aurel.”

“Lalu kenapa kamu menikah secepat ini? Bahkan saat jasad Aurel saja belum ditemukan?”

Suasana mendadak berat.

“Aku minta maaf, Ma…” suara Rajendra melemah. “Aku tidak bermaksud mengkhianati Aurel. Aku sangat terpukul… dan sampai sekarang aku masih menyuruh orang mencari jasadnya.”

“Terus kenapa kamu menikah?”

“Aku dijodohkan,” jawab Rajendra jujur. “Orang tuaku yang mengatur. Mereka lihat aku hancur… kehilangan semangat hidup. Mereka pikir… pernikahan ini bisa membantu aku bangkit.”

“Dan sekarang?” tanya Bu Riska menatap tajam. “Kamu sudah bangkit?”

Rajendra terdiam. “Belum sepenuhnya.”

“Berarti…” suara Bu Riska melembut, tapi menusuk, “kamu sudah mulai mencintai istri barumu?”

Rajendra menggeleng pelan. Ragu. “Sampai sekarang… cintaku masih untuk Aurel.”

Dan di saat itulah—Cya muncul.

Dengan tiga gelas jus jeruk di tangannya.

Langkahnya berhenti sepersekian detik.

Tatapannya kosong.

Namun ia tetap berjalan.

Seolah tidak mendengar apa-apa.

“Ini jus jeruknya, Nyonya,” ucap Cya sambil meletakkan gelas di meja.

Sunyi.

Rajendra langsung menatapnya. “Kenapa kamu panggil Mama ‘Nyonya’?”

Sebelum Cya menjawab—“Tadi Mama sudah minta dia panggil Mama dan Papa,” potong Bu Riska cepat. “Tapi istri kamu ini tidak sudi.”

Cya tersenyum.

Senyum yang terlalu rapi untuk disebut tulus. “Sepertinya Nyonya sangat pandai mengarang cerita,” ucapnya tenang.

“Mungkin Nyonya cocok jadi penulis skenario. Siapa tau bisa dapat uang dari situ.”

Wajah Bu Riska menegang.

“Anak ini.... ada-ada saja jawabannya.” geramnya dalam hati.

Namun ia tetap tersenyum tipis. “Terima kasih, Cya. Saya tersanjung. Tapi saya tidak butuh itu. Suami saya sudah sangat mampu… dan kalaupun kurang, menantu saya pasti tidak keberatan membantu.”

Sindiran halus.

Tapi tajam.

“Terima kasih sudah membuatkan jus, Cya,” sela Rajendra, mencoba meredakan suasana. “Sekarang panggil Mama saja. Jangan ‘Nyonya’. Aku jadi risih.”

Cya menoleh.

Menatap Rajendra sebentar.

Lalu tersenyum lagi. “Maaf, Om… sepertinya mertua kesayangan Anda ini lebih suka dipanggil ‘Nyonya’.” Ia menarik napas pelan. “Lagipula tidak masalah,” lanjutnya ringan. “Beliau kan ibu dari pemilik rumah ini.”

Nada suaranya berubah… lebih dingin. “Saya di sini cuma numpang. Jadi memang sudah seharusnya saya menganggap semua orang di rumah ini sebagai majikan saya.”

Sunyi.

Rajendra menutup mata sejenak.

Setiap kali Cya bicara seperti itu—entah kenapa… dadanya terasa sesak.

Ponsel Rajendra berdering. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu mengangkat panggilan itu.

“Halo, Dan?”

“Lo di mana? Kenapa lama banget ambil berkasnya? Kalau gue tau bakal selama ini, mending gue aja tadi yang ke rumah lo.”

Rajendra mendengus pelan. “Enggak usah cari-cari kesempatan buat ketemu Cya.”

Danish langsung menghela napas panjang di seberang sana. “Lo ini kebanyakan mikir negatif. Gue enggak suka main kotor, lo tau itu.”

“Lima belas menit lagi gue sampai,” ucap Rajendra singkat, lalu menutup telepon.

Ia menoleh ke arah ruang tamu. “Ma, aku harus balik ke kantor.”

“Oh iya, silakan, Nak,” jawab Bu Riska dengan senyum tipis.

“Nanti kalau Mama lapar, masak saja di dapur. Bahannya banyak, kok.”

Harapan Bu Riska langsung pupus.

Ia tadinya ingin Cya yang memasak.

Tapi tidak apa-apa.

Setelah Rajendra pergi… semuanya bisa diatur.

Rajendra pun naik ke lantai atas mengambil berkas, lalu tak lama kemudian benar-benar meninggalkan rumah.

Belum sampai sepuluh menit sejak kepergian Rajendra— “Eh, kamu. Masakin saya sup ayam, ya. Saya lapar.”

Nada Bu Riska terdengar seperti perintah, bukan permintaan.

Cya yang sedang berdiri santai langsung menoleh. “Masak saja sendiri.”

Seketika wajah Bu Riska berubah. “Tadi katanya kamu akan menurut. Kenapa sekarang malah membangkang?”

Cya melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya tajam. “Nyonya kan juga jago acting,” balasnya santai. “Saya cuma menyesuaikan kemampuan Nyonya.”

Ucapan itu seperti tamparan.

Bu Riska mengepalkan tangan, emosinya mulai naik.

Belum pernah ada yang berani membalasnya seperti ini.

“Awas kamu, ya. Akan saya buat Rajendra menceraikan kamu.”

Cya tersenyum tipis. Menantang. “Oh ya? Coba saja kalau bisa.”

“Saya heran,” lanjut Bu Riska dengan nada meremehkan, “kenapa orang tua Rajendra mau menjodohkan perempuan seperti kamu. Padahal anak saya jauh lebih baik.”

Bukannya marah—Cya malah tersenyum lebih lebar. “Karena orang tua Rajendra sangat menyayangi saya,” ucapnya ringan. “Dari dulu katanya memang mau menjodohkan saya dengan dia. Tapi sayangnya… Rajendra keburu pacaran sama anak Nyonya yang malang itu.”

“Jaga mulut kamu!” bentak Bu Riska.

“Tapi kan itu fakta,” balas Cya tenang.

“Kalau anak saya masih ada, Rajendra tidak akan melirik kamu sedikit pun.”

Cya mengangguk pelan.

“Sepertinya begitu.” Lalu ia menatap lurus ke mata Bu Riska. “Tapi kenyataannya… anak Nyonya sudah tidak ada.”

Suasana langsung mencekam. “Jadi sekarang,” lanjut Cya pelan tapi menusuk, “saya yang bersama Rajendra.”

Bu Riska menggertakkan gigi. “Jangan terlalu percaya diri. Tadi saja Rajendra tidak percaya sama kamu.”

Cya terkekeh kecil. “Itu karena dia terlalu bodoh percaya sama wanita tua yang licik,” ucapnya dingin. “Termasuk suami Nyonya.”

“Kamu—!”

“Coba bayangkan,” potong Cya, “apa yang akan Rajendra lakukan kalau dia tahu sifat asli kalian?”

“Itu tidak akan pernah terjadi,” sahut Bu Riska cepat. “Rajendra akan selalu percaya pada saya dan suami saya. Kami mertua yang sebenarnya. Kamu?” Ia tersenyum sinis. “Kamu cuma istri karena terpaksa.”

Cya tidak langsung menjawab.

Ia mendekat satu langkah.

“Sayangnya…” ucapnya pelan, “Rajendra tidak pernah dipaksa.”

Bu Riska terdiam.

“Orang tuanya bahkan pernah menyuruh dia membatalkan perjodohan ini,” lanjut Cya. “Tapi Rajendra yang menolak.”

Tatapan Cya tajam. “Jadi kalau Nyonya mau bilang saya tidak diinginkan… sepertinya itu tidak sepenuhnya benar.”

Sunyi.

Kali ini—

Bu Riska benar-benar tidak punya jawaban.

***

“Kenapa tadi pas meeting lo diam terus?” tanya Danish begitu klien mereka sudah pergi.

Rajendra menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Gue kepikiran Cya.”

“Memangnya kenapa?” Danish langsung serius.

“Di rumah ada mertua gue… dan Cya enggak akrab sama mereka.”

Danish mengernyit. “Kenapa Cya gak akrab sama orangtuanya sendiri?”

Rajendra menggeleng. “Bukan orangtua Cya. Tapi Orang tua Aurel.”

Danish langsung menegakkan tubuhnya. “Ngapain orang tua Aurel ke rumah lo?”

“Mereka bilang kangen sama Aurel. Jadi mereka datang ke rumah yang dulu gue siapin buat Aurel.”

Danish menghela napas pelan, mencoba mencerna. “Jendra… sekarang itu rumah lo sama Cya, bukan Aurel lagi.”

Rajendra diam.

“Orang tua Aurel itu enggak punya hak di rumah itu,” lanjut Danish tegas. “Apalagi lo sama Aurel bahkan belum sempat tinggal di sana, dan lo juga enggak punya anak dari pernikahan itu.”

“Mereka cuma mau nginep beberapa hari, Dan,” sahut Rajendra, sedikit defensif. “Mereka enggak mau nguasain apa-apa.”

“Masalahnya bukan di situ,” potong Danish. “Masalahnya Cya enggak nyaman.”

Rajendra mengusap wajahnya kasar. “Cya itu enggak bisa nerima mereka.”

“Dan lo?” Danish menatapnya tajam. “Lo langsung mutusin mereka boleh nginep… tanpa mikirin perasaan istri lo?”

Rajendra terdiam.

“Jendra,” lanjut Danish, suaranya lebih pelan tapi menekan,

“sekarang Cya itu istri lo. Dia juga punya hak di rumah itu.”

Rajendra menggeleng pelan. “Gue enggak mungkin ngelarang orang tua Aurel. Gue udah nganggep mereka kayak orang tua gue sendiri.”

Danish menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya. “Ya udah… terserah lo.” Ia menatap Rajendra sekilas. “Yang penting gue udah ngingetin.”

***

Begitu Rajendra pulang ke rumah, ia mendapati orang tua Aurel duduk santai di ruang tamu sambil menonton televisi. Tawa mereka pecah, tampak menikmati film yang sedang diputar.

“Assalamualaikum,” ucap Rajendra.

Seketika tawa itu terhenti. Bu Riska dan Pak Sammy menoleh bersamaan.

“Waalaikumsalam,” jawab mereka kompak.

Rajendra tidak banyak basa-basi. Tatapannya langsung menyapu ruangan. “Cya di mana?”

Bu Riska menghela napas ringan, seolah sudah menduga pertanyaan itu. “Enggak tau. Tadi begitu kamu pergi, dia juga langsung keluar. Mama sempat tanya dia mau ke mana, tapi dia enggak mau jawab.”

Rahang Rajendra mengeras. Ia memijat pelipisnya pelan. “Ya ampun, anak itu…”

Pak Sammy meliriknya, lalu bertanya, “Dia memang sering pergi tanpa bilang sama kamu?”

Rajendra menggeleng pelan. “Enggak sering… tapi ini juga bukan yang pertama.”

“Ya ampun…” sahut Bu Riska sambil menggelengkan kepala. “Sebagai istri, harusnya dia minta izin dulu sama suaminya kalau mau pergi.”

Pak Sammy ikut menimpali, nada suaranya penuh penilaian. “Dia memang beda jauh sama Aurel. Kalau Aurel, dia pasti sangat menghormati kamu. Enggak mungkin pergi tanpa izin.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

Rajendra terdiam sejenak, lalu berkata pelan tapi tegas, “Mereka memang berbeda… karena mereka dua orang yang berbeda.”

Bu Riska dan Pak Sammy saling berpandangan, tapi tidak menanggapi.

Pak Sammy kembali membuka suara, “Kamu enggak akan tahan lama dengan perempuan seperti dia.”

Kali ini Rajendra langsung menatapnya. “Insya Allah… aku akan bertahan, Pa.”

Jawabannya singkat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya setuju.

Pak Sammy menepuk bahu Rajendra, seolah mendukung, meski terselip makna lain. “Bagus kalau begitu.”

Rajendra mengangguk tipis. “Kalau gitu… aku ke kamar dulu.”

“Iya, Nak,” sahut Bu Riska.

***

Sesampainya di kamar, Rajendra langsung mencoba menghubungi Cya. Namun, panggilannya tidak diangkat.

"Ya ampun… ke mana lagi dia?" keluhnya frustrasi.

Baru semalam ia menasihati Cya, tapi gadis itu kembali mengulang kesalahan yang sama. Rajendra mengusap wajahnya kasar.

"Cya, kamu benar-benar bikin aku pusing…"

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Cya belum juga pulang. Kekhawatiran Rajendra semakin menjadi.

"Rajendra, makan malam dulu, Nak," ajak Bu Riska saat Rajendra turun dari lantai dua. "Nanti saja, Ma. Aku mau cari Cya dulu."

"Memangnya dia belum pulang?" tanya Bu Riska, pura-pura terkejut.

"Belum."

"Ya ampun… istri macam apa itu, keluar rumah tanpa pamit sampai malam begini," gumamnya dengan nada menyindir.

Rajendra menghela napas. "Aku pamit, Ma. Aku takut Cya kenapa-napa."

"Ngapain kamu cari dia? Nanti juga pulang sendiri," balas Bu Riska santai.

"Ma, dia istri aku sekarang. Kalau dia kenapa-napa, aku yang akan disalahkan orang tuanya."

Sekali lagi, Rajendra berlindung di balik alasan itu—meski sebenarnya hatinya benar-benar khawatir.

"Iya sih, tapi itu salah dia sendiri," ujar Bu Riska.

Rajendra tak menjawab. Ia langsung melangkah menuju pintu.

Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pintu itu lebih dulu terbuka dari luar.

Cya masuk begitu saja.

"Kamu dari mana saja?" tanya Rajendra cepat.

"Habis cari angin. Di rumah ini panas," jawab Cya santai.

"Rumah ini full AC, Cya. Mana mungkin panas?" sanggah Rajendra.

Cya melirik ke arah Bu Riska di belakang Rajendra. "Panas kok… dari tadi pagi juga panas. Bahkan sekarang masih panas."

Tatapan itu jelas bukan sekadar jawaban.

Bu Riska langsung tersinggung. "Kamu lihat saya seperti itu… jangan-jangan kamu menyindir saya?"

"Enggak kok, saya enggak nyindir, Nyonya."

"Loh, kenapa masih panggil mama seperti itu? Panggil saja mama Riska atau tante," tegur Rajendra.

"Tapi nyonya Riska maunya dipanggil nyonya. Om, gimana dong?" sahut Cya polos—tapi menusuk.

"Enggak kok, mama bebas dipanggil apa saja," potong Bu Riska cepat. "Istri kamu saja yang mengarang."

"Oh ya?" Cya tersenyum tipis. "Kalau gitu saya panggil nenek tua aja ya. Lebih nyaman."

"Cya!" bentak Rajendra. "Kamu jangan bersikap seperti itu sama mama."

Tanpa memberi kesempatan Cya membalas, Rajendra langsung menarik tangannya. "Ikut aku ke kamar."

Cya sempat menoleh ke belakang.

Bu Riska tersenyum penuh kemenangan, bahkan melambaikan tangan kecil padanya.

Cya tidak tinggal diam.

Ia mengangkat jari tengahnya diam-diam ke arah wanita itu.

Senyum Bu Riska langsung hilang, berganti tatapan tajam penuh amarah.

***

Begitu sampai di kamar, Rajendra langsung melepaskan tangan Cya lalu menutup pintu dengan keras hingga membuat Cya terlonjak kaget.

“Pelan-pelan, Om… nanti pintunya rusak,” tegur Cya sambil mengelus dadanya.

Rajendra menatapnya tajam. “Lebih baik pintunya yang rusak… daripada kamu yang rusak.”

Cya mengernyit bingung. “Saya rusak gimana?”

Rajendra menghela napas kasar, menahan emosi. “Rusak karena pergaulan kamu. Kamu mau jadi perempuan seperti apa kalau keluar sampai malam tanpa kabar?”

“Saya enggak keluar seharian, kok. Saya keluar jam empat sore,” jawab Cya santai.

“Kata Mama dan Papa, kamu keluar setelah aku pergi ambil berkas.”

Cya tersenyum miring. “Pantas saja Om pikir saya pergi seharian,” ucapnya sinis.

“Om mau saja percaya sama nenek dan kakek tua itu.”

“Mereka mertua aku, Cya. Jangan bicara seperti itu.”

“Iya, iya…” Cya mengangguk pelan. “Percuma juga saya jelasin. Om enggak akan percaya sama saya. Om cuma percaya sama mereka.”

“Ini bukan soal percaya atau enggak!” suara Rajendra mulai meninggi. “Ini soal sikap kamu. Kamu harus belajar menghormati orang yang lebih tua.”

Cya terdiam sebentar.

Lalu menatap Rajendra lurus.

“Sekarang saya tanya sama Om…” Nada suaranya berubah—lebih dalam. “Kalau ada orang yang memfitnah Om terang-terangan… atau menginjak harga diri Om… apakah Om akan diam saja hanya karena mereka lebih tua?”

Rajendra mendengus kasar.

Pertanyaan itu menohok.

Tapi juga… membuatnya kesal. Cya selalu punya cara untuk membalikkan keadaan. Dan itu justru membuatnya semakin sulit untuk marah… sekaligus semakin sulit untuk mengalah.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!