Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Seperti janji mereka, kedua sahabat itu setelah sekian lama tak bertemu akhirnya bersua juga. Wulan datang lebih dahulu sedangkan Lidia datang agak telat karna drama dari tubuhnya yang agak susah di ajak kerja sama.
"Lidia." panggil Wulan sambil melambaikan tangan saat melihat sahabatnya datang.
"Wulan." Lidia bergegas menghampiri meja Wulan. Keduanya langsung berpelukan melepas rindu.
"Maaf, nungguin ya." kekeh Lidia setelah pelukan mereka terurai.
"Ga apa - apa, baru juga lima menit yang lalu aku datang kok. Kamu sakit Lid?" tanya Wulan sambil memperhatikan wajah sahabatnya.
"Ga, kenapa - Kenapa. Mungkin karna lelah sehabis bekerja aja?" tepis Lidia sambil tertawa samar.
"Wajahmu aku kok merasa lain ya, mungkin kalau kamu ga pake make up keliatan pucatnya. Nanti aku bilangin mas Panca agar tak terlalu membebani kamu dengan banyak pekerjaan yang tak ada habisnya." Wulan begitu teliti memperhatikan wajah Lidia.
Lidia mendadak menjadi gugup, bayang pengkhianatan membayang. Rasa bersalah menghantui apalagi saat bertemu langsung dengan Wulan.
"Permisi, mbak." obrolan mereka terhenti saat pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Kamu udah pesan?" tanya Lidia.
"Udah, kamu masih suka baksokan?"
"Masih dong, kamu memang trman the best. Dari dahulu selalu tau makanan kesukaan aku." kekeh Lidia sambil menatap semangkok bakso panas di hadapannya. Bayangan segarnya kuah bakso membuat air liur ngeces.
Lidia begitu menikmati makananya begitu juga dengan Wulan. Sesekali terdengar canda dan tawa saat keduanya teringat kisah masa lalu.
"Alhamdulillah, kenyang." Lidia menghabiskan baksonya tanpa bersisa.
"Mau nambah lagi ga?" tawar Wulan.
"Udah, cukup. Rasanya masih sama."
"Kapan - kapan kita kesini lagi, nanti aku ajak mas Panca sekalian biar dia tau tongkrongan kita zaman dahulu."
Lidia hanya tersenyum samar, perkataan Wulan kembali menyadarkan dirinya bahwa hubungannya dengan Panca adalah suatu kesalahan. Apalagi tadi saat Wulan juga bercerita tentang rumah tangganya membuat rasa bersalah itu makin besar.
"Udah yuk, pulang."
"Baru juga bentar, aku masih kangen."
"Nanti kita janjian lagi."
"Beneran ya, janji."
"Janji."
Keduanya lahirnya berpisah pulang kerumah maisng - masing. Tadinya Wulan mau mengantar Lidia pulang tapi wanita itu menolaknya dnegan alasan mau mampir cari sepatu yang ia butuhkan.
Lidia memesan taxi online untuk pulang. Sembari menunggu pesanannya datang, wanita itu duduk karna rasa lelah itu kembali mendera. Ia tak menyadari bahwa ada sesorang yang memperhatikan sedari tadi. Perlahan orang itu mendekati Lidia.
"Lidia." sapa orang itu.
"Pak Panca. Kok bapak bisa ada di sini. Wulan baru saja pulang." Lidia melirik kanan kiri seperti mencari sesuatu.
"Aku tau, ayo pulang bareng aku." Panca menarik tangan Lidia dan mengajaknya ke mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
"Aku udah pesan taxi, pak." tolak Lidia.
"Batalin."
"Kasihan drivernya. Ini udah sampai tadinya." tunjuk Lidia pada sebuah mobil yang sudah ada di depanya.
"Mbak Lidia." ujar driver dari dalam mobil dengan jendela yang sengaja di buka.
"Ini, buat bapak. Orangnya ga jadi pulang." Panca memberikan selembar uang bewarna merah ke driver .
"Baik, pak. Makasih. Mari mbak." taxi meluncur meninggalkan Lidia dan Panca. Wanita itu terpaksa mengikuti perintah Panca, ia tak punya kekuatan untuk membantah kemauan lelaki itu. Bagaimana ia bisa lepas dari lelaki itu karna setiap berada di sampingnya Lidia selalu saja kalah.
Apa yang harus ia lakukan agar bisa terbebas dari jerat lelaki itu? Pertemuanya dengan Wulan membuatnya sadar jika ia harus menghentikan ini semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Assalamualaikum kk, apa kabar. Pagi² gerimis, duduk sambil ngopi dan baca cerita kayanya seru🤭
di tunggu saran dan masukannya kk. dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?