Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.
Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 — Hutan Kabut Awan (2) [REVISI]
Wang Yan masih duduk bersila di atas dahan pohon besar. Kabut hutan yang dingin menyentuh kulitnya, namun fokusnya kini teralih sepenuhnya pada sensasi di dalam tubuhnya.
Pertarungan melawan empat puluh ekor Babi Hitam Bercula tadi memang tidak memberinya luka fisik, namun ia bisa merasakan kabut energi spiritual di Dantiannya kini mulai menipis hampir setengahnya.
Sebagai seseorang yang baru dua hari menyentuh jalan kultivasi, ia merasa perlu untuk segera mengisi kembali kekuatan tersebut sebelum melanjutkan perjalanan.
“Tempat ini sepi. Setidaknya, seharusnya ada energi spiritual alam semesta di udara yang bisa kutarik masuk,” gumamnya pelan.
Wang Yan memejamkan mata. Ia mulai memutar sirkulasi Teknik Kultivasi Penipu Langit. Berdasarkan teks kuno yang ia serap dari kitab agung penipu langit pemberian Feng Bo, kitab ini memiliki bak hal-hal yang bisa mengguncang langit, namun ia baru membuka bab pertama: Teknik Kultivasi Penipu Langit.
Wang Yan sendiri belum benar-benar paham apa itu ‘Spiritual Alam Semesta’ yang disebutkan dalam kitab—baginya, itu hanyalah sebuah istilah teknis yang harus ia buktikan keberadaannya.
Ia mengatur ritme pernapasannya. Pikirannya mencoba menjangkau area di sekelilingnya, mencari partikel atau aliran energi spiritual yang seharusnya menjadi bahan bakar bagi para kultivator.
Satu menit berlalu.
Dua menit berlalu.
Lima menit berlalu.
Lima belas menit berlalu.
Dahi Wang Yan mulai berkerut. Ia mempercepat putaran tekniknya, memaksa Dantiannya untuk menciptakan daya hisap. Namun, alih-alih merasakan aliran energi spiritual yang masuk, ia justru merasa seperti sedang mencoba bernapas di dalam ruang hampa udara.
“Kosong? Bukankah seharusnya tidak seperti ini...”
Wang Yan membuka matanya dengan kaget. Ia tidak merasakan apa-apa. Saat ia menggunakan teknik ini di kamarnya bersama pil pengumpul spiritual pemberian pamannya, energi spiritual meledak dengan begitu nyata. Namun sekarang, di tengah hutan yang rimbun ini, ia merasa seolah-olah dunia di sekitarnya benar-benar mati—tak ada energi spiritual yang dapat diserapnya kedalam dantian.
Ia mencoba sekali lagi, kali ini dengan konsentrasi penuh hingga pelipisnya menegang. Hasilnya tetap nihil. Tidak ada partikel energi spiritual, tidak ada rasa hangat yang masuk, hanya keheningan yang tak bisa diungkapkan.
“Aneh, mengapa teknik kultivasi ini tak bisa berfungsi seperti sebelum-sebelumnya?”
Logika sarjananya segera bekerja membedah situasi. Hipotesis pertama, hutan ini tidak memiliki energi spiritual sama sekali.
Wang Yan terdiam sejenak, lalu segera menggelengkan kepalanya. “Tidak, itu tidak mungkin. Hipotesis itu tidak logis. Jika hutan ini benar-benar kosong dari energi spiritual, lalu dari mana asal empat puluh Babi Hitam Bercula tadi? Binatang buas hanya bisa terlahir dan berevolusi karena adanya energi spiritual yang mereka serap secara alami. Keberadaan mereka adalah bukti fisik bahwa energi spiritual itu ada di sini. Yah, walaupun kristal dari hewan buas benar-benar sangat sedikit.”
Ia turun dari pohon dengan sekali lompatan ringan, mendarat tanpa suara di atas tanah yang lembap. Ia mencoba bermeditasi lagi sambil menyentuh tanah, namun tetap saja, ia tidak bisa menarik satu tetes pun energi spiritual ke dalam Dantiannya.
“Fakta pertama, binatang buas di sini memiliki energi spiritual. Fakta kedua, aku tidak bisa menyerap energi spiritual dari alam terbuka menggunakan teknik ini,” gumamnya dengan dahi berkerut.
Jemarinya mengetuk dagu, tanda ia sedang dalam mode analisis mendalam. “Apakah masalahnya ada pada Teknik Kultivasi Penipu Langit? Di kamarku, teknik ini bekerja sangat buas saat ada pil dan herbal. Tapi dengan cara meditasi alami, ia seolah menolak untuk bekerja.”
Sebuah pemikiran pahit mulai terbentuk di benaknya.
“Apakah teknik ini memiliki 'kebutuhan khusus'? Seolah-olah ia hanya mau melahap energi spiritual yang sudah dalam bentuk padat atau murni seperti pil, dan meremehkan energi mentah yang tersebar di alam terbuka? Atau...” Wang Yan menatap ke langit yang tertutup kabut tebal, “...energi di alam ini terlalu kotor atau terkunci sehingga teknik ini tidak sudi menyentuhnya? Hmm, ini cukup membingungkan.”
Wang Yan tidak tahu seperti apa bentuk energi spiritual alam semesta yang dijanjikan kitab agung penipu langit, tapi kegagalannya melakukan meditasi alami memberinya satu kesimpulan pragmatis: ia tidak bisa menjadi kultivator mandiri yang kuat hanya dengan bermeditasi seperti kebanyakan kultivator yang menyerap energi spiritual alam dari langit dan bumi.
“Jika aku tidak bisa memulihkan energi melalui meditasi alami, maka dua butir batu kristal binatang buas kusam ini menjadi sangat berharga sekarang,” Wang Yan mengeluarkan dua batu kristal kecil dari sakunya.
Wang Yan menatap dua butir batu kristal di telapak tangannya. Meskipun kualitasnya buruk, di dalamnya masih tersimpan sisa-sisa energi spiritual yang padat. Logikanya mengatakan bahwa jika ia bisa melahap isi batu kristal ini, Dantiannya akan pulih.
Namun, ia segera menggelengkan kepala dan memasukkan kembali batu kristal itu ke sakunya.
“Ini masalah baru. Aku tidur tahu cara mengekstrak energi dari benda padat selain pil dan herbal,” gumamnya.
Dalam buku-buku teori yang pernah ia baca, setiap sekte atau keluarga besar memiliki teknik khusus untuk memurnikan energi dari batu kristal binatang buas agar tidak terjadi kontaminasi racun spiritual. Tanpa metode yang benar, mencoba menyerapnya secara mentah-mentah sama saja dengan memasukkan kotoran ke dalam aliran darah. Teknik Kultivasi Penipu Langit miliknya memang agresif, tapi tanpa petunjuk spesifik untuk batu kristal binatang buas, ia tidak ingin berjudi dengan nyawanya di tengah hutan.
“Mungkin aku harus bertanya pada Paman Huo Ting nanti. Dia mungkin memiliki teknik ekstraksinya,” batin Wang Yan. Ia sedikit menyeringai membayangkan reaksi pamannya. “Paman pasti akan sangat terkejut saat aku beritahu bahwa aku sudah melangkah sejauh ini dalam jalan kultivasi hanya dalam waktu singkat.”
Wang Yan berdiri, menepuk sisa tanah di jubah hitamnya. Ia memandang ke arah vegetasi hutan yang rapat dengan tatapan yang lebih dingin.
“Jika memang energi di tempat ini tidak bisa kusentuh, aku akan mencari tempat lain. Jika di seluruh dunia ini pun aku tetap tidak bisa bermeditasi secara alami, maka aku harus menjadi kaya agar bisa membeli banyak sumber daya,” ucapnya mantap.
Tujuan Wang Yan kini menjadi sangat sederhana dan transaksional. Jika ia ingin terus meningkatkan kekuatannya, ia harus menjadi kaya raya. Menjadi kultivator mandiri yang bertapa adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki.
Ia mulai melangkah, berniat keluar dari radius bau darah bangkai babi yang tadi ia bantai. Namun, baru tiga langkah berjalan, bulu kuduknya berdiri.
Udara di sekitarnya mendadak terasa lebih berat. Kabut yang tadinya mengalir tenang kini tersibak paksa oleh sebuah kehadiran yang masif.
Hrrngh—!
Sebuah dengusan berat bergema dari balik pepohonan besar di sisi kanan. Suara itu bukan berasal dari babi hutan. Getarannya rendah, dalam, dan membawa aura penindasan yang membuat permukaan air di kubangan tanah bergetar hebat.
Wang Yan segera menghentikan napasnya, tangannya secara instan mencengkeram gagang pedang hitam di pinggangnya. Matanya menyipit, berusaha menembus kabut tebal.
Dari balik bayang-bayang pohon besar, sepasang mata berwarna kuning pekat muncul. Ukurannya jauh lebih besar dari binatang buas mana pun yang ia temui hari ini. Wang Yan bisa merasakan fluktuasi energi yang meledak-ledak dari makhluk itu—sebuah tekanan yang jauh melampaui Lautan Spiritual lapisan keempat miliknya.
“Sial, itu bukan binatang tingkat rendah,” batin Wang Yan. Jantungnya berdegup kencang—insting bertahan hidupnya menjerit bahwa predator puncak Hutan Kabut Awan baru saja bangun dari tidurnya.
Binatang itu melangkah keluar dari kabut, memperlihatkan taring yang melengkung tajam dan bulu perak yang berkilau.
Wang Yan tahu, kali ini ia tidak bisa hanya mengandalkan gerakan dasar pedang jika ingin pulang dengan nyawa yang utuh.
...