Wanita modern yang bertransmigrasi ke dalam sebuah novel kuno. Berjuang dari nol sampai akhirnya menjadi immortal, bagaimana kisahnya? Ikuti terus perjalanannya!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh
Karena ucapan Jessy dan Ziang kemarin. Saat ini Zhao sedang duduk termenung di dekat aliran sungai, memikirkan istri itu sebenarnya apa dan untuk apa? kenapa dia harus mencari istri? dan kenapa dia harus mandiri.
Padahal Zhao berpikir dia hanya perlu memiliki keluarga saja setelah itu tinggal hidup nyaman dan selesai. Ternyata masih ada hal lain yang perlu dia cari, yaitu istri.
“Sepertinya masih terlalu cepat bagi kita memberitahu soal istri pada nya.” Jessy yang melihat dari kebun merasa bersalah.
“Aku tidak memiliki pengalaman mengasuh anak. Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku pikir dia pasti sudah bisa hidup mandiri dan memutuskan keinginan hidupnya sendiri.” Ucap Ziang yang sedang menemani Jessy berkebun.
“Dia kan istimewa. Kita masih perlu mengarahkan dia ke jalan yang benar, sepertinya dia juga tidak bisa baca tulis ataupun berhitung.” Ucap Jessy.
“Aku pikir naga itu hewan agung yang pintar, kenapa dia bodoh?.” Ziang terlalu jujur.
“Heii bagaimana bisa kau bicara seperti itu pada anakmu sendiri.” Jessy menegur.
“Anak?.” Ziang sendiri tidak pernah menganggap Zhao anaknya.
“Meskipun ini berat dan sangat tiba-tiba, tapi kita memiliki hutang nyawa pada nya. Kita memiliki tanggung jawab untuk mengasuh dan membesarkannya, seperti katamu dia itu bodoh kan. Jadi jangan sampai di masa depan dia di bodohi orang, kita harus membuatnya menjadi pintar.” Ucap Jessy menasihati.
“Aku tidak tahu harus memulai nya dari mana.” Ucap Ziang.
“Jadi guru untuknya, ajari dia baca, tulis dan berhitung. Lalu berpedang dan berlatih beladiri, atau lakukan pendekatan layaknya Ayah dan Anak untuk mengeratkan ikatan keluarga antara kalian berdua. Jangan pernah anggap dia orang lain, berpikir lah jika anak itu gagal maka kau juga gagal.” Ucap Jessy serius.
“Bukan kah seharusnya itu tugas mu?.” Ziang merasa itu sulit.
“Tidak, untuk sekarang justru peran mu yang lebih penting. Aku sudah menerima nya dengan tulus, kini giliran mu melakuannnya.” Ucap Jessy menggeleng.
Ziang menarik nafas panjang, dia merasa pusing dan stres. Selama ini dia hanya hidup untuk berlatih dan berperang, tidak ada yang peduli padanya dan dia hidup bebas sesuka hatinya. Ini pertama kali dia harus memikirkan nasib orang lain, apa dia bisa melakukannya?.
“Berapa usia mu?.” Tanya Ziang.
“28 tah__ ehh maksudku 18 tahun.” Jessy hampir keceplosan umur di dunia pertama nya.
“Kau juga masih muda, bagaimana cara mu bisa menerima anak sebesar itu? untukku yang berusia 25 tahun saja sulit.” Ucap Ziang terus terang.
“Entahlah, aku merasa Zhao itu kesepian. Dia sendirian dalam waktu yang lama, lalu kita datang sebagai keluarganya. Sebagai Ibu aku tidak mau dia sedih dan kesepian lagi, aku juga bahagia saat dia memanggilku Ibu. Karena impian ku adalah bisa menjadi Ibu, aku ingin merawat anak-anakku dengan baik.” Ucap Jessy.
“Kau tidak bermimpi menjadi permaisuri tapi justru menjadi Ibu?.” Kaget Ziang.
“Karena yang paling berat dan sulit adalah tugas menjadi orangtua. Semua orang bisa menjadi permaisuri jika dia belajar, tapi menjadi orangtua meskipun kau sudah memiliki anak belasan sekalipun jika gagal ya tetap gagal. Ingin tau contoh orangtua yang gagal? contohnya adalah orangtua yang membiarkan anak-anaknya kesepian, memaksa anaknya bekerja, memaksa anaknya membalas budi, memaksa anaknya menanggung beban hidupnya. Aku sangat tertantang untuk bisa menjadi orangtua yang baik, aku ingin membuktikan jika masih ada orangtua yang bertanggung jawab di dunia ini.” Ucap Jessy, mengingat dirinya yang tidak mendapatkan peran orangtua.
“Aku tidak pernah berpikir sejauh itu, tapi sepertinya aku mengerti sekarang.” Ziang paham inti dari ucapan Jessy.
“Benarkah?.” Jessy tersenyum.
“Ya, dulu saat aku masih muda aku juga sering berharap Ayahku menatapku walau sekali saja. Meskipun itu kekanakan tapi aku benar-benar mengharapkan itu siang dan malam, mungkin semua orang melewati fase yang sama.” Ucap Ziang mau bercerita tentang dirinya.
“Kalau begitu jadi lah Ayah yang baik, jangan ikuti jejak Ayahmu yang buruk dan gagal itu.” Jessy tersenyum menunjukan gigi putih nya yang bersih.
“Yaahh aku akan berusaha.” Ziang ikut tersenyum.
“Sekarang pergi ajak Zhao bicara, tanya kan apa yang sedang dirinya pikirkan dan bantu dia menemukan jalan keluar.” Pinta Jessy.
Ziang berdiri dan berjalan menghampiri Zhao, meskipun masih sedikit canggung tapi setidaknya dia sudah memiliki niat berusaha memberikan peran Ayah untuk Zhao.
Pukkk
Zhao tersentak saat Ziang menepuk kepala nya dari belakang. Saat menoleh Zhao heran karena Ziang tumben sekali menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut, padahal biasanya hanya melirik sekilas.
“Ayah?.” Bingung Zhao.
“Apa yang kau pikirkan?.” Tanya Ziang.
“Istri.. kemana aku harus mencari istri?.” Jujur Zhao.
“Pfttt Hahahahahahhaa. Lupakan itu, mulai besok ayo belajar membaca dan menulis.” Ziang tertawa.
“Aku sudah bisa.” Jawab Zhao.
“Apa? kau bisa? bukannya kau bodoh?.” Ziang terlalu ceplas-ceplos.
“AKU TIDAK BODOH!! AKU PINTAR!!.” Teriak Zhao kelepasan, setelah tersadar dia takut Ziang akan marah padanya.
“I-itu.. aku__
“Baguslah, kalau begitu apa yang kau butuhkan dari ku? aku tidak tau harus melakukan apa sebagai Ayahmu.” Akhirnya Ziang jujur saja karena bingung.
“Aku… aku hanya ingin punya orangtua. Membeli baju baru, makan enak bersama, jalan-jalan dan di buatkan ayunan.” Ucap Zhao.
“Ayunan? kenapa kau menginginkan itu?.” Tanya Ziang.
“Dulu aku pernah naik ke bukit dekat rumah dan mengintip kegiatan anak-anak di desa. Mereka bermain bersama lalu di jemput oleh orangtua mereka saat petang tiba, lalu ada salah satu dari mereka yang dibuatkan ayunan oleh Ayah mereka. Aku ingin punya juga.” Lirih Zhao.
Deg.
Ziang terkejut mendengar nya, hanya hal sepele seperti itu pun tidak di dapatkan oleh Zhao. Hidup sendirian di dunia manusia, berusaha menjadi manusia tapi mau bagaimana pun dia tetaplah naga yang pola pikirnya sama dengan hewan lain. Tidak sepintar manusia karena sejatinya naga tetaplah hewan.
“Sekarang kau tidak sendirian lagi, ayo kembali ke rumah.” Ziang tidak tau harus bicara apa lagi dan memilih pulang saja.
Rumah sudah selesai dan bisa di tempati, meskipun tidak ada kasur dan hanya dipan keras. Tapi setidaknya rumah sudah berdiri dan mereka bisa istirahat dengan benar.
Ziang kepikiran dengan ucapan Zhao yang mengatakan ingin memiliki ayunan, dia sampai tidak bisa tidur dan akhirnya memutuskan membuat ayunan dari rotan dan kayu di dahan pohon halaman depan rumah.
Entah kenapa dia ingin membuatnya, menatap ayunan hasil buatannya membuat Ziang ingin tersenyum. Teringat dengan kutukan dirinya yang bisa membunuh wanita jika melakukan hubungan badan, dia bahkan sudah menerima takdir jika tidak bisa memiliki anak tapi siapa sangka anak itu hadir dengan cara yang lain.
gubraakkk
Ziang menoleh saat mendengar suara benda jatuh, ternyata itu Zhao yang sejak tadi mengintip. Niat hati ingin kabur karena terharu, kakinya malah kesemutan jadi dia terjatuh.
“Zhao?.” Heran Ziang.
“A-aku tidur sambil berjalan.” Zhao beralasan.
“Kemari lah, aku sudah membuat ayunan untukmu.” Ziang tersenyum mendengar alasan Zhao.
Zhao dengan senyum malu-malu mendekat, dia terlihat sangat senang hanya karena sebuah ayunan saja. Ayunan yang selama ini dirinya dambakan sudah ada di depan matanya, dia bisa menyentuhnya secara nyata.
hikss
Zhao tidak tahu jika dia sedang terharu, dia menangis karena merasa dadanya sesak dan tenggorokannya panas. Ziang yang melihat itu terkejut, kenapa malah menangis? apa Ayunan buatannya terlalu jelek?.
“A-aku akan membuatkan yang lebih bagus besok.” Ucap Ziang kelimpungan.
Hiks
Srroottt
“Terimakasih Ayah, aku sangat senang.” Zhao tersenyum tapi matanya menangis.
Ziang hanya bisa menghela nafas, melihat Zhao yang naik ayunan dengan brutal membuatnya pusing. Apa benar anak ini normal dan waras? sepertinya tidak.
hueekkkkk
Zhao muntah karena pusing bermain ayunan, Ziang hanya menepuk dahi nya lelah. Bagaimana bisa anak berusia 14 tahun masih belum mengerti perasaan pusing, mual, sedih atau bahkan marah.
“Mau ikut ke pasar besok?.” Ajak Ziang.
“Pasar?!! Mau!.” Zhao langsung sumringah.
“Kalau begitu tidurlah lebih cepat.” Ziang masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Jessy yang tidak tahu tentang apa yang terjadi tadi malam pun hanya merasa bingung karena tiba-tiba Ziang mengajaknya ke pasar. Meskipun dia juga senang, tapi ini terlalu dadakan.
“Jalan keluar kita masih sulit untuk di lewati, bagaimana jika kita perbaiki dulu?.” Usul Jessy, karena kereta kuda sepertinya akan kesulitan lewat.
“Aku bisa melalukannya.” Zhao mengangkat tangan nya semangat.
“Melakukan apa?.” Heran Ziang.
“Membuat jalan dengan sihir, aku bisa.” Ucap Zhao yakin.
“Wahh kalau begitu mohon bantuan nya ya.” Jessy tersenyum.
Zhao dengan semangat mengayunkan tangannya, lalu muncul bebatuan dari dalam tanah yang membentuk seeperti paving jalan yang mulus. Jessy terperangah melihat sihir untuk pertama kali nya.
“Wooww. apa lagi kekuatan mu?.” Tanya Jessy.
“Aku bisa menghancurkan gunung, memecahkan kep*la orang dengan suara ku, me___
“Berhenti, ayo pergi ke pasar.” Potong Jessy merasa ngeri.
Jessy berjalan duluan menuju kereta kuda, Zhao menatap dengan sedih dan lesu. Padahal dia berharap akan mendapatkan pujian dan tepuk tangan.
“Apa aku lemah? Ibu terlihat kecewa.” Lirih Zhao.
“Bukan lemah tapi gila.” Jujur Ziang.
“Apa?.” Zhao terperangah.
“Jangan mengucapkan hal menakutkan di depan Ibu mu, dia berbeda dengan kita. Dia pasti takut karena berpikir kau bisa meledakan kep*l*nya kapan saja.” Ucap Ziang.
“Oh tidak.” Zhao memegang kepalanya merasa gawat.
Akhirnya keluarga jadi-jadian itu pergi ke pasar terdekat. Karena mereka berada di luar kekaisaran Mo, mereka kini masih menjadi warga asing yang tidak memiliki identitas.
Itu akan merugikan mereka di masa depan, bisa di tahan dengan alasan imigran gelap atau mata-mata musuh. Apalagi status Ziang yang merupakan pangeran terpidana kabur dari kekaisaran Mo.
“Ziang, kita harus membuat identitas baru.” Ucap Jessy.
“Ya, aku berpikir untuk membeli marga bangsawan. Hanya identitas formalitas saja, karena kita akan tetap hidup dengan tertutup.” Ucap Ziang.
“Memangnya marga bisa diperjual-belikan?.” Kaget Jessy.
“Bisa. Biasanya nama bangsawan yang sudah bangkrut akan di jual oleh pemerintah.” Ujar Ziang.
“Ibu.. kenapa aku merasa pusing.” Zhao yang sedang menjadi kusir bicara dengan lirih.
“Pusing? hentikan dulu kereta nya, kemari lah biar Ibu memeriksa mu.” Ucap Jessy.
Kereta berhenti, Zhao masuk ke dalam gerbong wajahnya pucat tapi kulitnya merah. Jessy ingin mengukur suhu tubuhnya tapi malah tersengat saking panas nya. Ziang mencoba hal yang sama dan itu memang benar-benar panas.
“Apa kau salah makan? kenapa tiba-tiba demam setinggi ini?.” Kaget Ziang.
“Uhukkkk…ukhh… Ayah perutku sa..kit.” Zhao meremas perutnya kesakitan.
“Zhao!! Apa yang terjadi padamu, kenapa ini? Ziang lakukan sesuatu.” Jessy merasa sangat panik.
Ziang juga terlihat bingung, tapi tetap berusaha mencari cara. Dia membuka lebar mulut Zhao lalu memasukan jari nya ke dalam seakan sedang mencari sesuatu.
“Ukhhhh….
“Muntah kan itu.” Ucap Ziang dengan dingin.
“Ukhhh.. ukh…
“Muntahkan ZHAOLONG.” Bentak Ziang dengan keras.
“Uweekkkkkk…
Sesuatu yang bebentuk bulat menggelinding keluar dari mulut Zhao, Jessy menutup mulut karena melihat itu seperti buntalan daging. Ziang mengambil gumpalan itu dan meremasnya sampai hancur, di dalamnya ada semacam batu bulat bersinar warna kuning.
Tapi Zhao masih belum membaik, dia masih menyentuh perutnya dengan kesakitan. Ziang menatap dengan tatapan yang sulit di artikan, Jessy jadi bingung harus melakukan apa sekarang.
“Kenapa?.” Tanya Jessy.
“Kekuatan naga meridian bawah nya membeku, batu ini adalah mana milik Zhao yang membeku. Harus di keluarkan semuanya atau dia akan mati.” Ucap Ziang.
“Apa? bagaimana cara mengeluarkannya? apa dia hanya perlu muntah?.” Tanya Jessy.
“Tidak semudah itu, sepertinya kekuatan dalam tubuhnya meledak. Padahal dia berkontrak dengan ku tapi kenapa aku baik-baik saja di saat dia kesakitan?.” Ziang sendiri baru pertama kali mengalami hal seperti ini.
“Aku pernah membaca di sebuah buku, ada sebuah sihir segel yang bisa menahan kekuatan yang hampir meledak. Bagaimana jika kita lakukan itu saja?.” Tanya Jessy.
“Tapi dia harus merelakan ingatan nya, bahkan mungkin dia tidak akan tau jika sebenarnya dia seekor naga.” Ucap Ziang.
“Bukankah itu jauh lebih baik daripada membiarkan dia mati?.” Sungut Jessy.
“Tidak…. Ibu.. aku.. ukhhh.. AAARRGGGHHHHHHHHHHH.”
Zhao tiba-tiba mengeluarkan asap berwarna kuning dari tubuhnya. Asap itu mengepul dan membentuk wujud naga yang sangat besar, sebuah naga kloning tercipta dan mengaum
dengan keras di langit. Setelah naga tecipta tubuh Zhao langsung ambruk tidak sadarkan diri.
“Ini buruk, Zhao membelah diri.” Ucap Ziang.
“Apa ini berbahaya?.” Tanya Jessy.
“Naga itu adalah kumpulan kekuatan yang meluap, dia akan mengamuk dan yang paling buruk dia bisa mengacau dimana-mana.” Ucap Ziang.
“Aku akan berkontrak dengan nya.” Ucap Jessy.
“Kau tidak mungkin bisa mengalahkan nya.” Ziang tidak setuju.
“Aku bisa.” Tegas Jessy.
“Jes___
“Aku Ibu nya, aku pasti bisa menenangkan anakku.” Potong Jessy tegas.
Jessy turun dari kereta kuda, menatap tajam ke arah naga yang masih mengaum menakutkan di langit. Jessy tidak memiliki kekuatan apapun, dia hanya percaya bisa melakukan ini.
“ZHAOLONG!!!!.” Teriak Jessy.
Jleb
“JESSY!!!!.” Teriak Ziang.
Jessy menarik tusuk rambut yang terbuat dari cangkang emas Zhao, menancapkan tusuk rambut itu ke jantungnya. Rasanya sangat sakit sampai membuat semua sendi dalam tubuhnya sakit, Jessy memuntahkan darah dari mulutnya tapi tangan nya terbuka seakan ingin memeluk seseorang.
“Zhao, anakku. Kemarilah, Ibu akan selalu ada untukmu.” Bisik Jessy sambil tersenyum, dengan darah yang terus menetes dan wajah yang memucat.