NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14

Jek berhenti di anak tangga pertama menuju bunker. Matanya yang dingin menatap Rara, lalu beralih ke tangga spiral yang menjulang ke puncak mercusuar. Di dalam kepalanya, kalkulasi logis bertarung dengan sisa-sisa insting yang tidak bisa diterjemahkan oleh angka.

"Maya, bawa Rara ke bawah. Segel pintu bunker dalam tiga menit," perintah Jek. Suaranya datar, namun ada jeda mikro yang tidak efisien dalam kalimatnya.

"Keputusan tidak logis," sahut Maya. "Peluangmu menghancurkan pemancar di puncak dan kembali ke bunker sebelum efek cairan perak habis adalah 1,2%. Kamu akan terpapar transmisi atmosfer sepenuhnya."

"Bukan tentang peluang," balas Jek sembari mulai mendaki tangga spiral dengan kecepatan mekanis. "Jika pemancar ini selesai melakukan sinkronisasi, bunker ini pun hanya akan menjadi peti mati yang canggih. Aku akan menetralisir sumber gangguan."

Jek memanjat tangga besi itu tanpa rasa lelah, tangannya mencengkeram pegangan yang kasar tanpa peduli pada gesekan yang mengelupas kulitnya. Semakin tinggi ia mendaki, semakin kuat getaran di udara. Pendar ungu di puncak mercusuar mulai mengeluarkan suara mendengking yang mampu memecahkan kaca.

Saat ia mencapai ruang lampu di puncak, pemandangan di depannya adalah horor teknologi-organik. Lensa Fresnel raksasa mercusuar itu telah diselimuti oleh jaringan saraf berwarna ungu yang berdenyut, mengubah cahaya lampu menjadi laser data yang menembus lubang di awan sirkuit.

Jek mendekati konsol utama. Tangannya terulur untuk merobek kabel-kabel organik itu, namun sebuah proyeksi hologram muncul di tengah ruangan. Kali ini bukan Sang Arsitek, melainkan representasi visual dari Jek sendiri—versi dirinya yang mengenakan setelan jas mewah, simbol kejayaan "Kaisar Bayangan" masa lalu.

"Kenapa menghancurkan masa depan yang sempurna, Jek?" tanya proyeksi itu. Suaranya adalah replika sempurna dari suara Jek. "Di bawah bunker itu, kamu hanya akan menjadi serangga yang bersembunyi di kegelapan. Di sini, kamu bisa menjadi kode yang menggerakkan seluruh ekosistem planet ini."

Jek tidak menjawab. Ia melihat arlojinya. 60 detik sebelum emosinya kembali.

Ia menghantamkan tombak besi yang masih ia bawa ke arah jantung pemancar tersebut. Benturan itu memicu ledakan listrik statis yang melemparkan Jek ke dinding kaca. Cahaya ungu itu berkedip-kedip, namun tidak padam.

50 detik.

"Logika," gumam Jek pada dirinya sendiri. Ia menyadari tombak saja tidak cukup. Ia harus menggunakan dirinya sendiri sebagai konduktor untuk mengacaukan frekuensi. Jek berdiri, mendekati inti cahaya ungu itu, dan meletakkan kedua telapak tangannya langsung pada jaringan saraf yang berdenyut panas.

Seketika, triliunan data mencoba masuk ke dalam otaknya. Namun, karena cairan perak masih aktif, data-data itu tertahan di dinding "hampa" kepalanya, menciptakan feedback yang luar biasa dahsyat. Jek menjadi penyumbat dalam saluran transmisi global tersebut.

20 detik.

Cairan perak di pembuluh darah Jek mulai menguap. Rasa sakit yang luar biasa mulai merayap kembali. Jek merasakan panas yang membakar kulitnya, rasa takut yang menghimpit dadanya, dan bayangan wajah Rara yang kini bukan lagi sekadar data statistik.

"Ra..." Jek merintih. Emosinya kembali di saat yang paling berbahaya.

Ledakan frekuensi terjadi. Jaringan ungu di mercusuar itu menghitam dan hangus, meledak menjadi abu organik. Sinar ungu yang menembus langit padam seketika. Awan sirkuit di atas Karang Jamuang terpecah, memperlihatkan kembali bintang-bintang yang asli.

Jek terjatuh di lantai puncak mercusuar, tubuhnya berasap. Di bawah, ia mendengar suara pintu bunker yang tertutup rapat.

Ia sendirian di puncak, terpapar udara yang masih penuh dengan sisa-sisa spora digital, namun pemancar itu telah hancur. Jek mencoba bernapas, setiap tarikan napasnya terasa berat. Di telapak tangannya, kini bukan lagi kode merah, melainkan luka bakar manusia yang nyata.

"Setidaknya..." Jek berbisik ke arah langit yang mulai tenang, "...teh di warung itu tidak akan pernah terasa hampa."

Pintu bunker di bawah sana tiba-tiba terbuka kembali dengan dentuman keras. Rara berlari keluar, mengabaikan teriakan Maya yang mencoba menahan lengannya. Efek cairan perak di tubuh Rara tampaknya luruh lebih cepat karena lonjakan adrenalin dan ikatan emosional yang menolak untuk dipadamkan.

Rara mendaki tangga spiral dengan langkah seribu, paru-parunya terbakar, namun ia tidak peduli. Saat ia mencapai puncak mercusuar, ia menemukan Jek tergeletak di antara puing-puing kaca dan serat organik yang masih mengeluarkan percikan listrik statis.

"Jek!" Rara berlutut, menarik kepala Jek ke pangkuannya.

Jek membuka matanya perlahan. Pendar merah dan biru yang biasanya menghiasi pandangannya kini benar-benar padam, menyisakan tatapan manusia yang sayu dan penuh rasa sakit. "Ra... harusnya kamu... di bawah," bisiknya parau.

"Bunker itu bukan rumah kalau kamu tidak ada di sana," jawab Rara tegas, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia merobek kain bajunya untuk membalut luka bakar di telapak tangan Jek yang masih berasap.

Di sekeliling mereka, atmosfer mulai berubah lagi. Tanpa pemancar di mercusuar ini, jaringan "Jaringan Hijau" di area Karang Jamuang kehilangan sinkronisasinya. Spora digital yang melayang di udara mulai jatuh dan mati begitu menyentuh tanah yang kaya akan garam.

"Kita harus turun, Jek. Sekarang," Rara mencoba membopong tubuh Jek yang terasa sangat berat.

Namun, saat mereka mencapai pintu keluar puncak mercusuar, langkah mereka terhenti. Di tangga spiral bawah, Maya berdiri dengan ekspresi yang sangat asing. Luka parut kode di tangannya tidak lagi berwarna ungu atau jingga, melainkan putih cemerlang.

"Maafkan aku, Jek. Rara," ucap Maya. Suaranya tidak lagi datar seperti saat di bawah pengaruh cairan perak, tapi juga tidak terdengar seperti Maya yang mereka kenal. "Pemancar ini memang hancur, tapi kalian baru saja membuka celah baru. Saat Jek menjadi konduktor tadi, dia tidak hanya menyumbat sinyal... dia mencuri sebagian dari 'kesadaran murni' mereka."

Maya melangkah naik satu per satu. "Satu-satunya cara agar entitas itu tidak melacak sisa kesadaran itu adalah dengan menghapusnya dari memori Jek. Secara permanen."

"Apa maksudmu, Maya?" Jek mencoba berdiri, bersandar pada dinding besi.

"Aku bisa menggunakan sisa energi di tanganku untuk melakukan 'format ulang' pada sarafmu, Jek. Kamu akan tetap hidup, kamu akan tetap manusia... tapi kamu tidak akan pernah mengingat siapa itu Kaisar Bayangan, apa itu J-Group, atau semua perang teknologi ini." Maya menatap Jek dengan tatapan pilu. "Termasuk memori tentang bagaimana kamu mendapatkan Sistem itu pertama kali."

Rara mengeratkan genggamannya pada tangan Jek. "Lalu bagaimana dengan ingatannya tentangku? Tentang kita?"

Maya terdiam sejenak. "Saraf emosional dan saraf memori data sangat berdekatan. Aku tidak bisa menjamin, Rara. Ini adalah hard reset."

Di luar mercusuar, suara deru angin mulai terdengar aneh lagi—seolah-olah seluruh hutan di daratan sedang bersiap untuk melakukan serangan balik masif ke arah pulau garam ini. Mereka kehabisan waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!