NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 04 Di Balik Keheningan

Aruna menyadari satu hal sejak pagi itu:

keheningan bisa berubah menjadi sorotan.

Ia melangkah masuk ke gedung utama dengan langkah yang sama seperti biasanya—tenang, tertata, nyaris tak bersuara. Namun hari ini, mata yang menatapnya lebih banyak. Ada yang sekadar melirik, ada yang pura-pura sibuk, ada pula yang terlalu lama memperhatikannya sebelum cepat-cepat memalingkan wajah.

Bisik-bisik itu tidak keras. Tidak juga jelas. Tapi cukup untuk membentuk tekanan yang halus, seperti udara yang perlahan menipis.

Aruna duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja. Jemarinya bergerak stabil, meski pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Amplop cokelat yang ia terima kemarin masih terbayang jelas—isinya bukan hanya dokumen, tapi peringatan.

Dan peringatan selalu datang dengan harga.

“Aruna.”

Suara itu membuatnya berhenti mengetik.

Ia menoleh. Seorang rekan dari divisi legal berdiri tak jauh darinya. Wajahnya tampak ragu, seolah kata-kata yang ingin diucapkan sudah berkali-kali dipertimbangkan.

“Kamu dipanggil ke ruang rapat kecil. Sekarang.”

Aruna mengangguk. “Terima kasih.”

Ia bangkit tanpa bertanya. Tidak ada gunanya. Jika namanya dipanggil hari ini, berarti ada sesuatu yang memang harus dihadapi.

Lorong menuju ruang rapat terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahnya seperti menggema, meski sebenarnya sunyi. Saat pintu itu dibuka, Aruna langsung tahu: ini bukan pertemuan biasa.

Di dalam ruangan, sudah ada tiga orang. Dua dari manajemen, dan satu yang duduk di ujung meja—Calvin.

Ia tidak berdiri. Tidak pula menyambut. Hanya menatap Aruna dengan ekspresi yang sama seperti kemarin: datar, terkontrol, dan sulit ditebak.

“Silakan duduk,” ujar salah satu manajer.

Aruna duduk. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat rapi di atas meja.

“Kami mendapat laporan,” lanjut pria itu, “bahwa ada ketidaksesuaian data pada salah satu proyek lama. Namamu tercantum sebagai penanggung jawab terakhir.”

Aruna mendengarkan tanpa menyela. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini.

“Kami ingin tahu,” pria itu menatapnya tajam, “apa kamu menyadari hal tersebut?”

Aruna mengangkat pandangan. Sekilas, matanya bertemu dengan Calvin. Tidak ada isyarat. Tidak ada bantuan.

Ia menarik napas pelan.

“Ada hal-hal yang saya ketahui,” jawabnya akhirnya, “dan ada yang tidak.”

Jawaban itu menggantung. Tidak membela. Tidak pula mengakui.

Ruangan menjadi hening.

Calvin akhirnya berbicara. Suaranya rendah, tenang, namun cukup untuk menguasai ruangan.

“Yang kami butuhkan bukan asumsi,” katanya. “Tapi fakta.”

Aruna menoleh padanya. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya—apakah pria ini benar-benar ingin mendengar kebenaran, atau hanya ingin memastikan ia tetap diam.

“Saya paham,” ujar Aruna. “Dan karena itu saya memilih berhati-hati.”

“Hati-hati atau menghindar?” potong salah satu manajer.

Aruna tidak langsung menjawab. Ia tahu, satu kalimat saja bisa menyeret banyak nama. Dan seperti yang ia katakan sebelumnya—korban sering kali bukan mereka yang bersalah.

“Saya tidak menghindar,” katanya akhirnya. “Saya hanya memastikan bahwa apa pun yang saya katakan tidak menciptakan korban baru.”

Tatapan Calvin mengeras. Bukan marah. Lebih seperti… tertarik.

Rapat itu berakhir tanpa kesimpulan jelas. Tidak ada tuduhan resmi. Tidak ada pembelaan. Hanya satu keputusan: Aruna diminta tetap bekerja seperti biasa—dan tetap tersedia jika sewaktu-waktu dipanggil kembali.

Saat ia keluar ruangan, langkahnya masih tenang. Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai retak.

Di balik keheningan yang ia pilih, Aruna sadar—

diamnya kini bukan lagi perlindungan.

Ia sudah berdiri tepat di tengah pusaran.

Dan mungkin, tidak semua orang yang memintanya bertahan… siap melihat apa yang akan muncul ketika ia akhirnya bicara.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!