Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 Di Balik Keheningan
Aruna menyadari satu hal sejak pagi itu:
keheningan bisa berubah menjadi sorotan.
Ia melangkah masuk ke gedung utama dengan langkah yang sama seperti biasanya—tenang, tertata, nyaris tak bersuara. Namun hari ini, mata yang menatapnya lebih banyak. Ada yang sekadar melirik, ada yang pura-pura sibuk, ada pula yang terlalu lama memperhatikannya sebelum cepat-cepat memalingkan wajah.
Bisik-bisik itu tidak keras. Tidak juga jelas. Tapi cukup untuk membentuk tekanan yang halus, seperti udara yang perlahan menipis.
Aruna duduk di mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja. Jemarinya bergerak stabil, meski pikirannya tidak sepenuhnya tenang. Amplop cokelat yang ia terima kemarin masih terbayang jelas—isinya bukan hanya dokumen, tapi peringatan.
Dan peringatan selalu datang dengan harga.
“Aruna.”
Suara itu membuatnya berhenti mengetik.
Ia menoleh. Seorang rekan dari divisi legal berdiri tak jauh darinya. Wajahnya tampak ragu, seolah kata-kata yang ingin diucapkan sudah berkali-kali dipertimbangkan.
“Kamu dipanggil ke ruang rapat kecil. Sekarang.”
Aruna mengangguk. “Terima kasih.”
Ia bangkit tanpa bertanya. Tidak ada gunanya. Jika namanya dipanggil hari ini, berarti ada sesuatu yang memang harus dihadapi.
Lorong menuju ruang rapat terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkahnya seperti menggema, meski sebenarnya sunyi. Saat pintu itu dibuka, Aruna langsung tahu: ini bukan pertemuan biasa.
Di dalam ruangan, sudah ada tiga orang. Dua dari manajemen, dan satu yang duduk di ujung meja—Calvin.
Ia tidak berdiri. Tidak pula menyambut. Hanya menatap Aruna dengan ekspresi yang sama seperti kemarin: datar, terkontrol, dan sulit ditebak.
“Silakan duduk,” ujar salah satu manajer.
Aruna duduk. Punggungnya tegak. Tangannya terlipat rapi di atas meja.
“Kami mendapat laporan,” lanjut pria itu, “bahwa ada ketidaksesuaian data pada salah satu proyek lama. Namamu tercantum sebagai penanggung jawab terakhir.”
Aruna mendengarkan tanpa menyela. Ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
“Kami ingin tahu,” pria itu menatapnya tajam, “apa kamu menyadari hal tersebut?”
Aruna mengangkat pandangan. Sekilas, matanya bertemu dengan Calvin. Tidak ada isyarat. Tidak ada bantuan.
Ia menarik napas pelan.
“Ada hal-hal yang saya ketahui,” jawabnya akhirnya, “dan ada yang tidak.”
Jawaban itu menggantung. Tidak membela. Tidak pula mengakui.
Ruangan menjadi hening.
Calvin akhirnya berbicara. Suaranya rendah, tenang, namun cukup untuk menguasai ruangan.
“Yang kami butuhkan bukan asumsi,” katanya. “Tapi fakta.”
Aruna menoleh padanya. Untuk sesaat, ia bertanya-tanya—apakah pria ini benar-benar ingin mendengar kebenaran, atau hanya ingin memastikan ia tetap diam.
“Saya paham,” ujar Aruna. “Dan karena itu saya memilih berhati-hati.”
“Hati-hati atau menghindar?” potong salah satu manajer.
Aruna tidak langsung menjawab. Ia tahu, satu kalimat saja bisa menyeret banyak nama. Dan seperti yang ia katakan sebelumnya—korban sering kali bukan mereka yang bersalah.
“Saya tidak menghindar,” katanya akhirnya. “Saya hanya memastikan bahwa apa pun yang saya katakan tidak menciptakan korban baru.”
Tatapan Calvin mengeras. Bukan marah. Lebih seperti… tertarik.
Rapat itu berakhir tanpa kesimpulan jelas. Tidak ada tuduhan resmi. Tidak ada pembelaan. Hanya satu keputusan: Aruna diminta tetap bekerja seperti biasa—dan tetap tersedia jika sewaktu-waktu dipanggil kembali.
Saat ia keluar ruangan, langkahnya masih tenang. Tapi di dalam dadanya, sesuatu mulai retak.
Di balik keheningan yang ia pilih, Aruna sadar—
diamnya kini bukan lagi perlindungan.
Ia sudah berdiri tepat di tengah pusaran.
Dan mungkin, tidak semua orang yang memintanya bertahan… siap melihat apa yang akan muncul ketika ia akhirnya bicara.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/