Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Jaring Sang Predator
Pukul lima pagi, suasana di ruang kerja pribadi Damian masih remang-remang, hanya diterangi oleh lampu meja temaram dan cahaya dari layar ponselnya. Revan, sang asisten, berdiri dengan kaku di depan meja besar itu. Matanya sedikit berkantung, efek dari bekerja semalaman demi memenuhi titah "aneh" bosnya yang tiba-tiba ingin menjadi detektif swasta.
"Tuan, ini adalah jadwal lengkap Liora Selene untuk hari ini dan beberapa hari ke depan," ucap Revan sambil menyodorkan sebuah tablet digital.
Damian meraih tablet itu dengan gerakan cepat, seolah itu adalah dokumen kontrak bernilai triliunan rupiah. Matanya yang tajam menyapu setiap baris teks dengan teliti.
"Pukul 06.00: Membantu menyiapkan sarapan di dapur panti. Pukul 08.00: Mengantar anak-anak ke sekolah dasar terdekat. Pukul 10.00: Pergi ke pasar tradisional untuk belanja stok dapur..." Damian membacanya dengan suara rendah yang berat.
"Ada satu hal lagi, Tuan," sela Revan dengan nada ragu. "Pukul 13.00, dia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Andre. Dia adalah relawan tetap di panti tersebut dan kabarnya mereka cukup dekat. Mereka berencana memperbaiki atap gudang yang bocor siang ini."
Rahang Damian mengeras seketika. "Dekat? Seberapa dekat?"
"Hanya... rekan kerja di panti, Tuan. Tapi dari informasi yang saya dapat, pemuda itu sering membawakan Selene cokelat hangat setiap sore."
Damian melempar tablet itu ke atas meja hingga menimbulkan suara benturan yang keras. Ia bangkit dari kursi kebesarannya, aura dingin dan mengancam langsung memenuhi ruangan. Obsesi yang membakar sejak semalam kini menemukan bahan bakarnya: cemburu.
"Cokelat hangat? Berani sekali dia," desis Damian. Ia meraih kunci mobilnya di meja. "Revan, hubungi toko bahan bangunan terbesar di kota ini. Suruh mereka mengirim sepuluh tukang terbaik ke panti itu jam satu siang nanti. Katakan pada mereka untuk mengerjakan atap gudang, atau apa pun itu."
"Tapi Tuan, Selene dan pria itu sudah—"
"Aku tidak peduli," potong Damian dengan tatapan yang bisa membunuh. "Aku tidak ingin melihat pria bernama Andre itu berada dalam radius satu meter dari Selene. Jika dia muncul, pastikan pengawal kita memberinya 'pekerjaan' lain di luar area panti."
Revan hanya bisa menunduk pasrah. "Baik, Tuan."
"Satu lagi," Damian berhenti di ambang pintu, kemejanya yang belum dikancingkan sempurna memperlihatkan ketidaksabaran yang nyata. "Batalkan semua pertemuan hari ini. Aku akan menjadi 'asisten panti' mulai pagi ini."
Revan hanya bisa berdiri mematung sambil menghela napas panjang, menatap pintu yang baru saja tertutup dengan dentuman keras. Ia memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit.
"Jatuh cinta benar-benar bisa mengubah predator menjadi penguntit dalam semalam," gumam Revan pelan pada ruangan yang kosong.
Ia mengambil kembali tablet yang tadi dilempar Damian, memastikan layarnya tidak retak. Sebagai orang yang telah mendampingi Damian selama bertahun-tahun, Revan sudah kenyang menghadapi sikap bosnya yang arogan, dingin, dan tidak punya belas kasihan dalam bisnis. Namun, melihat Damian yang biasanya hanya memedulikan grafik saham kini justru sibuk memikirkan jadwal belanja pasar seorang gadis, adalah pemandangan yang sangat janggal sekaligus menggelikan.
"Yah, setidaknya dia tidak memecat orang hari ini hanya karena kopinya kurang panas," batin Revan sambil tersenyum kecut. "Lebih baik bos yang sedang dimabuk cinta dan sedikit gila, daripada bos yang bersikap dingin seolah ingin membekukan seluruh gedung ini."
Revan segera bergerak melakukan panggilan telepon ke toko bahan bangunan, menjalankan instruksi konyol namun absolut dari tuannya. Ia tahu, jika Damian Nicholas sudah menginginkan sesuatu—atau seseorang—maka pria itu akan mengerahkan seluruh kekuasaannya untuk mendapatkannya.
Pukul enam pagi lewat sedikit, mobil jeep hitam Damian sudah terparkir di sudut jalan yang gelap, tak jauh dari gerbang panti. Ia sengaja mematikan mesinnya, duduk diam di dalam kabin sambil memperhatikan pintu dapur panti yang mulai terbuka.
Tak lama, sosok yang ia tunggu muncul. Selene keluar dengan rambut dicepol asal-asalan, mengenakan celemek sederhana yang menutupi kaos tipisnya. Gadis itu tampak sedang menghirup udara pagi yang segar, tanpa menyadari sepasang mata elang sedang mengulitinya dari kejauhan.
Damian merasakan dadanya bergemuruh. Sisi posesifnya berteriak saat melihat Selene tampak begitu cantik meski baru bangun tidur. Ia segera turun dari mobil, merapikan kemejanya yang sengaja ia buat sedikit berantakan agar terlihat seperti "pekerja keras", lalu berjalan mendekat dengan langkah mantap.
"Pagi yang indah untuk memulai sarapan, bukan?" suara berat Damian memecah keheningan pagi.
Selene tersentak, hampir menjatuhkan wadah plastik yang dipegangnya. Ia berbalik dan matanya membelalak lebar melihat siapa yang berdiri di sana. "Damian?! Kau... apa yang kau lakukan di sini jam segini?"
Damian tersenyum, tipe senyum yang terlihat ramah namun menyembunyikan maksud tertentu. "Aku ingat kau bilang butuh bantuan di dapur. Dan karena aku 'asisten' yang sedang tidak punya banyak tugas pagi ini, kupikir aku bisa membantumu memotong bawang atau apa pun itu."
Selene menyipitkan mata, merasa ada yang aneh. "Kau menempuh perjalanan jauh hanya untuk memotong bawang?"
"Aku melakukan perjalanan jauh untuk hal-hal yang berharga, Selene," jawab Damian telak, membuat pipi gadis itu merona meski ia berusaha menutupinya.