Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase dan Firasat yang Berisik
Montreal di awal musim dingin selalu punya suasana yang magis, tapi entah kenapa, pagi ini Sheilla merasa ada yang meleset. Kopi yang dia seduh rasanya hambar, dan perasaannya kayak benang kusut yang susah diurai. Dia menatap cincin di jari manisnya simbol komitmen Alex yang baru berumur seminggu mencoba mencari kekuatan di sana.
"Fokus, Sheil. Hari ini ada pesanan buat gala dinner konsulat," gumamnya sambil membuka pintu studionya, L’Aube de Sheilla.
Begitu masuk, bau harum bunga yang biasanya menyambutnya malah diganti dengan aroma pengap yang aneh. Dan yang lebih parah, rak pendingin tempat dia menyimpan stok bunga impor dari Indonesia tampak kosong melompong.
"Mbak Sheilla!" Maya yang sekarang sudah dia boyong ke Canada sebagai asisten kepercayaan berlari menghampirinya dengan muka pucat pasi. "Mbak, agen logistik kita telepon. Katanya kontainer bunga anggrek dan sedap malam kita tertahan di bea cukai bandara. Ada masalah dokumen katanya, padahal biasanya aman-aman aja."
Sheilla mengerutkan kening. "Masalah dokumen? Kita pakai jasa Pak Hendra sudah bertahun-tahun, May. Nggak mungkin dia seteledor itu."
"Katanya ada laporan anonim soal parasit di tanaman kita, jadi harus dikarantina minimal dua minggu. Kalau dua minggu di sana, bunganya pasti layu semua, Mbak!" Maya hampir menangis.
Sheilla menghela napas panjang. Logikanya berputar cepat. Parasit? Anonim? Di Canada, aturan memang ketat, tapi ini terasa terlalu tiba-tiba. Tepat saat bisnisnya sedang di puncak dan dia baru saja dilamar.
--
Siang harinya, Alex datang ke studio dengan wajah yang nggak kalah keruh. Dia biasanya ceria, tapi kali ini dia langsung duduk di kursi kerja Sheilla tanpa menyapa dengan candaan seperti biasa.
"Sheil, ada yang aneh," buka Alex. "Gedung di seberang studio kamu... yang rencananya mau jadi galeri seni itu, barusan dikosongkan. Aku dengar dari teman di dinas tata kota, pemilik barunya orang Indonesia. Dan yang lebih gila, dia baru aja ajuin izin buat bangun franchise toko bunga internasional tepat di depan hidung kamu."
Jantung Sheilla berdegup kencang. Orang Indonesia. Toko bunga pesaing. Bea cukai yang bermasalah. Potongan puzzle-nya mulai membentuk wajah yang sangat dia kenal.
"Ardhito," bisik Sheilla.
Alex menatap Sheilla tajam. "Siapa? Mantan suami kamu itu? Bukannya dia di Afrika jadi relawan?"
Sheilla tertawa getir. "Pengecut kayak dia nggak akan tahan lama di tempat tanpa pelayan, Lex. Dia bohong. Dia nggak pernah berubah. Dia cuma ganti strategi."
Alex berdiri, menggenggam tangan Sheilla erat. "Kalau ini beneran dia, dia salah besar kalau mikir bisa main-main di Montreal. Ini bukan Jakarta tempat dia punya semua koneksi. Aku bakal cari tahu siapa nama pemilik perusahaan cangkangnya."
--
Malam harinya, salju turun lebih lebat. Sheilla masih di studio, mencoba mencari alternatif bunga lokal buat menutupi pesanan konsulat. Tiba-tiba, lonceng pintu berbunyi.
Bukan Alex. Bukan Maya.
Ardhito masuk dengan setelan overcoat wol mahal, tampak sangat kontras dengan studio Sheilla yang hangat dan bersahaja. Dia tersenyum, tipe senyum yang bikin Sheilla merasa ingin cuci muka pakai air es.
"Hai, Sheilla. Gimana kabarnya? Kudengar ada masalah di bandara ya?" tanya Ardhito santai, sambil menyentuh kelopak mawar lokal yang ada di meja. "Sayang banget, kualitas bunga lokal Canada nggak seindah anggrek dari tanah air, kan?"
Sheilla berdiri tegak, nggak mundur sedikit pun. "Jadi ini cara kamu, Dhito? Main kotor di bea cukai dan beli gedung di depan toko aku? Kamu nggak punya hobi lain selain merusak hidup orang?"
Ardhito tertawa kecil, langkahnya pelan mendekati Sheilla. "Riset aku bilang, studionya lagi butuh suntikan dana besar karena kontrak konsulat terancam batal kalau bunganya nggak sesuai standar. Aku di sini bukan buat merusak, Sheil. Aku di sini buat jadi solusi. Balik sama aku ke Jakarta, aku beresin masalah bea cukai dalam satu jam, dan aku kasih kamu modal buat buka cabang di mana pun kamu mau."
"Aku lebih milih bangkrut daripada harus hirup udara yang sama sama kamu di Jakarta," jawab Sheilla pedas.
"Yakin?" Ardhito mencondongkan badan. "Si fotografer itu bisa apa? Dia bisa bayar penalti kontrak kamu? Dia cuma bisa foto kamu pas kamu lagi nangis karena kehilangan bisnis ini. Kamu butuh kekuatan, Sheilla. Bukan cuma cinta murahan."
--
Tepat saat itu, pintu studio terbuka lagi. Alex masuk dengan nafas tersenggal, salju masih nempel di bahunya. Dia melihat Ardhito dan langsung berdiri di samping Sheilla, merangkul pinggangnya dengan posesif tapi tetap tenang.
"Ah, jadi ini 'monster' yang sering diomongin itu?" Alex bicara pakai bahasa Indonesia yang agak patah-patah, hasil belajar bareng Sheilla setahun terakhir. "Kamu punya gaya yang norak, Tuan Ardhito. Di sini, kita nggak suka orang yang beli gedung cuma buat gangguin tetangga."
Ardhito menatap tangan Alex di pinggang Sheilla. Matanya berkilat marah. "Kamu nggak tahu apa-apa, anak muda. Sheilla itu berlian yang butuh kotak emas, bukan cuma bingkai foto kayu kayak kamu."
Alex tersenyum tenang. Dia mengambil sesuatu dari saku jaketnya selembar dokumen. "Namamu memang nggak ada di akta gedung seberang, tapi nama sekretarismu, Rio, ada di sana. Dan di Canada, sabotase bisnis dengan laporan palsu ke bea cukai itu bisa berujung deportasi dan penjara. Aku punya sepupu yang kerja di bagian Border Services. Kita baru aja mulai investigasi."
Muka Ardhito sedikit berubah. Dia nggak nyangka Alex bakal bergerak secepat itu.
"Sheilla nggak butuh kotak emas, Dhito," lanjut Alex, suaranya dalam dan penuh chemistry yang bikin Sheilla merasa sangat aman. "Dia butuh matahari. Dan matahari nggak bisa dibeli pakai uang wiski kamu."
Sheilla menatap Alex dengan rasa bangga. Dia lalu menoleh ke Ardhito. "Pergi dari sini. Dan jangan pernah balik lagi. Kalau bisnis aku harus hancur pun, aku bakal hancurin dengan tanganku sendiri daripada diselamatin sama kamu."
--
Setelah Ardhito pergi dengan amarah yang tertahan, studio itu kembali sunyi. Sheilla lemas dan hampir jatuh kalau nggak ditangkap sama Alex.
"Kita bakal gimana, Lex? Kontrak konsulat itu penting banget buat nama baik studio," bisik Sheilla.
Alex mencium kening Sheilla. "Kita pakai cara seniman, Sheil. Kalau kita nggak punya anggrek, kita bikin dekorasi pakai bunga liar musim dingin dan instalasi es. Aku bakal bantu ambil foto-foto progresnya biar konsulat lihat betapa kreatifnya kamu di tengah krisis. Kita nggak bakal kalah sama dia."
Sheilla tersenyum. Dia melihat cincin di jarinya. Ardhito mungkin punya uang dan obsesi, tapi Sheilla punya Alex dan punya dirinya yang baru.
Di Jakarta, Rio menelepon Ardhito. "Pak, mereka mulai curiga. Sebaiknya kita tarik diri dulu sebelum polisi federal ikut campur."
Ardhito membanting ponselnya ke lantai hotel. "Nggak. Jangan tarik diri. Kalau dia nggak mau lewat jalur halus, kita pakai cara yang bikin dia nggak punya pilihan selain lari ke aku."
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --