💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.
------------- 💫
Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.
Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.
"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.
Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 : Kedekatan yang tidak diinginkan.
Di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit, Arsen sedang berdiri di depan meja besar yang penuh dengan berkas dan dokumen. Jasnya sudah dilepas dan digantung di sandaran kursi, sementara kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian kerah. Dia sedang membahas rencana proyek baru dengan asistennya, Ferry.
"Rencana perencanaan lahan untuk kawasan bisnis baru sudah sesuai dengan target kita, Tuan," ucap Ferry sambil menunjukkan presentasi di layar proyektor. "Tim hukum sudah memeriksa semua dokumen izin, dan pihak pemerintah juga sudah memberikan persetujuan awal."
Arsen mengerutkan alisnya sambil melihat grafik yang ditampilkan. "Biaya operasionalnya masih terlalu tinggi. Cari cara untuk menekannya tanpa mengorbankan kualitas. Bicarakan dengan departemen keuangan dan usulkan beberapa alternatif vendor yang lebih efisien."
"Baik, Tuan. Saya akan segera mengatur rapat dengan mereka hari ini juga," jawab Ferry dengan cepat.
"Selain itu, pastikan semua pekerja mendapatkan fasilitas yang layak. Jangan sampai ada keluhan tentang kondisi kerja atau upah yang tidak sesuai," tambah Arsen dengan nada tegas. Meskipun dikenal dingin dalam bisnis, dia selalu memperhatikan kesejahteraan karyawannya.
Tiba-tiba, pintu kantor terbuka perlahan dan seorang wanita muda dengan jas biru muda masuk dengan senyum ramah diwajahnya. Dia adalah sekretaris Arsen, Sinta."
"Maaf mengganggu, Pak Arsen," ucap Sinta dengan sopan, mengangkat tumpukan berkas putih di tangannya. "Ada beberapa dokumen penting yang perlu ditandatangani segera. Di antaranya adalah kontrak kerja sama dengan perusahaan teknologi Korea dan surat persetujuan anggaran untuk departemen riset dan pengembangan."
Arsen mengangguk, kemudian menoleh pada Ferry yang masih berdiri tidak jauh didepannya. "Hari ini aku akan pulang lebih awal, nanti kamu tolong urus sisanya."
Ferry mengangguk, "Siap, Tuan."
Setelah Ferry keluar dari ruangan, Arsen duduk kembali di kursi besarnya. Sinta menghampiri meja dan menyusun dokumen dengan rapi di depan Arsen.
"Saya sudah menyortirnya berdasarkan urutan prioritas, Pak. Kontrak dengan perusahaan Korea harus dikirim paling lambat jam tiga siang waktu lokal mereka," jelasnya sambil menunjuk pada berkas paling atas.
Arsen mengambil pulpen dari tempatnya di atas meja, matanya fokus membaca setiap kalimat penting di kontrak sebelum menandatangani bagian yang telah ditandai. "Sudah diperiksa oleh tim hukum juga, bukan?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.
"Ya, Pak. Mereka menyatakan semua klausul sudah sesuai dengan peraturan lokal dan internasional," jawab Sinta dengan yakin.
Setelah selesai menandatangani semua dokumen, Arsen menarik napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi, mengangkat wajahnya untuk melihat Sinta. "Bawa kembali semua dokumen ini dan lanjutkan pekerjaanmu, Sinta."
Sinta mengangguk ringan sambil mengambil kembali berkas yang sudah ditandatangani. "Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."
Setelah Sinta keluar dari ruangannya, Arsen menggeser kursinya sedikit ke arah jendela, dia menatap jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Dia menarik napas perlahan, kemudian berdiri dan mengambil jasnya dari sandaran kursi.
Arsen melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan langkah tegas setelah jasnya sudah terpasang. Langkahnya yang menggema menarik perhatian beberapa karyawan yang sedang ada disana. Mereka segera menyapa dengan hormat, dan Arsen mengangguk dengan tatapan yang tetap fokus dengan langkahnya.
-
-
-
Malam ini acara pertunangan digelar di lantai utama salah satu gedung paling mewah di pusat kota. Dekorasi dengan tema perpaduan warna putih dan biru muda menghiasi setiap sudut ruangan.
Farel sudah berdiri di atas panggung dengan mengenakan jas hitam yang membuat penampilannya terlihat gagah, disampingnya Viona berdiri dengan mengenakan gaun malam panjang warna putih susu. Rambutnya diikat rapi dalam gaya updo klasik, dengan beberapa helai rambut yang sengaja dibiarkan tergerai dibagian depan telinga.
"Pada malam yang penuh berkah ini, kita akan menyaksikan momen bahagia dari dua orang muda yang telah menemukan cinta sejati." ucap MC, membuat para tamu langsung bertepuk tangan meriah.
Farel menatap Viona. "Viona, aku tahu kita baru saja mengenal satu sama lain. Tapi, apakah kamu mau menjadi calon istriku?"
Viona menoleh ke arah Farel, menyembunyikan ekspresi bingung di wajahnya dengan senyum lembut. "Ya, Rel... aku mau," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar namun tetap jelas.
Tamu-tamu langsung bersorak riuh, sementara Farel langsung memasangkan cincin pada jari manis Viona. Dari kursi tamu utama di depan panggung, Tuan Danu menatap cucunya dengan mata yang penuh kebahagiaan. Begitupun dengan Bima yang duduk di sebelahnya dengan wajah penuh haru, matanya terpaku pada panggung tempat putranya dan Viona berdiri bahagia.
"Akhirnya aku bisa memenuhi permintaan terakhir Henry untuk menjaga anak perempuannya sebelum dia meninggal, aku sudah berjanji akan memberikan yang terbaik untuknya," ucapnya dengan nada penuh penghormatan. "Dan melihat mereka berdua seperti ini, rasanya semua yang aku lakukan adalah benar."
Setelah acara tukar cincin usai dan tamu-tamu mulai menikmati hidangan malam, Viona merasa sedikit tidak nyaman di bagian dadanya. Dia menyadari pengait bra-nya telah lepas tanpa dia sadari, membuat gaun malam yang dia kenakan itu mulai terasa tidak aman dipakai.
"Rel, sepertinya aku perlu ke toilet sebentar. Ada sedikit masalah dengan gaunku." ucap Viona dengan suara rendah, menarik dirinya mendekat ke arah Farel yang berdiri disampingnya.
"Baiklah, aku akan tunggu kamu di sini. Atau kamu mau aku temani?" tanya Farel.
"Tidak usah, aku bisa sendiri kok." jawab Viona dengan senyum lembut.
"Kalau begitu hati-hati dan cepat kembali," ucap Farel.
Viona mengangguk, dia berjalan menuju ke arah petugas yang sedang berdiri di sisi pintu ruangan untuk menanyakan letak toilet. Setelah mendapatkan jawaban, Viona berjalan menuju ke arah toilet. Dia melangkah dengan sedikit tergesa-gesa, tangan kirinya menyilang dibagian dada sementara tangan kanannya dia pakai untuk mengangkat gaunnya supaya tidak menghalangi langkahnya.
Saat melewati lorong yang menghubungkan ruangan utama dengan area fasilitas, dia menghentikan langkahnya mendadak dengan ekspresi terkejut yang tidak bisa dia sembunyikan diwajahnya. Arsen sudah berdiri di tengah jalan dengan satu tangannya yang dimasukkan kedalam kantong celana.
Viona melangkahkan kakinya mendekat dengan ragu-ragu, pandangannya menunduk saat menyadari pandangan Arsen terus tertuju padanya.
"Permisi, aku mau lewat."
Arsen tidak langsung bergerak, matanya diam memperhatikan wajah Viona yang tampak tidak nyaman. Setelah beberapa detik, dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping untuk memberikan jalan, kemudian mengeluarkan tangannya dari kantong celana.
Saat Viona mulai melangkah, Arsen menjulurkan satu kakinya yang membuat Viona hampir terjatuh. Tubuhnya terdorong maju dengan cepat, namun sebelum kepalanya sempat menyentuh dinding, tangan Arsen langsung melingkar di sekitar perutnya untuk menyangganya dengan kuat.
Viona terkejut dan menghela napas kecil, tubuhnya terpaku dalam pelukan Arsen yang membuat mereka berdiri dalam posisi berdampingan yang sangat dekat. Dia bisa mencium aroma parfum khas yang pernah dia hirup malam sebelumnya.
"Sepertinya pengait bra-mu lepas, mau aku coba bantu pasangkan?"
Ucapan Arsen terdengar lembut di telinganya, membuat wajah Viona langsung memerah. Dia mencoba untuk menjauh sedikit, namun Arsen justru semakin mengeratkan tangannya di sekitar perutnya. Viona menelan salivanya kasar dengan wajah yang mulai menegang. Mengapa tidak pernah ada hal baik setiap kali dia bertemu dengan pria ini.
-
-
-
Bersambung...