NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pesan singkat di tengah malam itu ternyata bukan sekadar pengantar tidur, melainkan sebuah salam perpisahan yang tidak disengaja. Setelah malam itu, Daven tidak pernah lagi menerima balasan.

Satu minggu, satu bulan, hingga satu tahun berlalu, nama Bakpao di daftar kontaknya tetap sunyi.

Daven tidak diam saja. Di awal kepindahan Cheryl, ia pernah nekat menyeberangi Jembatan Brooklyn hanya dengan bermodalkan insting. Ia berjalan menyusuri trotoar, menatap setiap wajah gadis remaja yang lewat, berharap menemukan pipi tembem yang memerah karena marah.

Namun, Brooklyn terlalu luas untuk seorang remaja yang hanya mengantongi sebuah janji tanpa alamat pasti. Cheryl Alton hilang ditelan bumi, meninggalkan Daven dengan kotak pensil usang yang kini ia simpan di laci terdalam mejanya.

Waktu terus merayap, membawa Daven ke usia 18 tahun, tahun terakhirnya di St. Jude High School. Daven tidak lagi sama. Jika dulu ia adalah remaja riweh yang penuh tawa dan godaan konyol, kini ia menjelma menjadi pria muda yang dingin, irit bicara, dan sangat tertutup.

Ia mewarisi aura intimidasi ayahnya, Nick, namun tanpa kehangatan yang biasanya Nick tunjukkan pada Nadine.

Di sekolah, ia adalah bintang lapangan yang dipuja, namun tak ada satu pun gadis yang berani mendekat lebih dari satu meter. Mereka menyebutnya "Pangeran Es Manhattan". Daven tidak peduli. Baginya, setiap gadis yang ia lihat hanyalah sekumpulan wajah yang tidak memiliki pipi sekenyal bakpao.

Daven menjadi sangat tersentuh jika melihat hal-hal kecil yang mengingatkannya pada Cheryl. Saat melihat seorang siswa yang kebingungan mencari kunci loker, atau saat melihat seorang gadis yang menangis karena lupa membawa buku tugas, jantung Daven akan berdenyut perih. Ia akan membantu mereka tanpa ekspresi, lalu pergi begitu saja, meninggalkan orang-orang yang terbengong melihat kebaikannya yang dingin.

Di rumah, suasana tetap hangat berkat Nadine dan Nick. Namun, ada tembok tinggi yang Daven bangun. Ia tahu ayahnya memiliki koneksi detektif swasta terbaik di New York. Ia tahu, jika ia hanya perlu mengucap satu kalimat, "Ayah, tolong temukan Cheryl," maka dalam waktu 24 jam alamat gadis itu akan ada di tangannya.

Namun, harga diri Teldford yang keras kepala menghalanginya. Daven merasa malu. Ia merasa jika ia meminta bantuan ayahnya, itu adalah tanda bahwa ia lemah. Ia tidak mau ayahnya tahu bahwa putra tunggalnya hancur hanya karena seorang gadis yang bahkan tidak memberinya kabar selama bertahun-tahun.

"Daven, kau baik-baik saja?" tanya Nick suatu malam saat melihat Daven menatap kosong ke arah jendela yang menghadap Brooklyn. "Kau tampak sangat jauh malam ini."

"Hanya lelah dengan latihan, Yah," jawab Daven singkat tanpa menoleh.

Nadine yang berdiri di ambang pintu hanya bisa menatap putranya dengan iba. Ia tahu Daven sedang menanggung beban yang sama seperti yang pernah Nick rasakan dulu. Namun, ia juga tahu Daven perlu menemukan jalannya sendiri.

Daven menghabiskan malam-malamnya dengan mencari di media sosial. Setiap nama "Cheryl", "Cherie", atau "Alton" ia telusuri. Namun hasilnya nihil.

Cheryl adalah gadis pelupa, ia mungkin lupa kata sandinya, atau lebih buruk lagi, ia mungkin tidak pernah membuat akun baru setelah ponselnya hilang di hari pertama pindah dulu.

Daven sering membayangkan, apa jadinya si pipi bakpao sekarang? Di usianya yang ke-18, apakah pipi itu sudah tirus? Apakah dia sudah menjadi wanita dewasa yang elegan dan tidak lagi ceroboh? Apakah ada pria lain yang sekarang menggantikan posisinya sebagai asisten pribadi yang riweh? Pikiran itu membuat Daven meremas kemudi mobilnya dengan kencang setiap kali ia berkendara. Rasa takut bahwa Cheryl telah melupakannya adalah satu-satunya hal yang bisa membuat pertahanan esnya retak.

Hari-hari terakhir di SMA terasa menyesakkan. Semua orang membicarakan tentang Prom Night dan universitas mana yang akan mereka tuju. Daven sudah diterima di universitas ternama, namun baginya, prestasi itu terasa hambar.

Suatu sore, Daven duduk di bangku taman tempat ia biasa mencubit pipi Cheryl dulu. Ia mengeluarkan kotak pensil usang dari tasnya. Warnanya sudah memudar, tapi aroma samar vanila seolah masih tertinggal di sana.

"Kau di mana, Bakpao?" bisiknya parau. "Kau benar-benar keterlaluan. Kau membuatku menjadi pria yang membosankan ini karena tidak ada lagi yang bisa kujahili."

Daven merasa seperti hidup dalam penantian yang tak berujung. Ia sering bertanya-tanya pada takdir, mengapa ia diberi perasaan sekuat ini jika akhirnya hanya untuk kehilangan? Ia merindukan amarah Cheryl. Ia merindukan saat-saat ia harus berlari mencarikan jadwal kelas untuk gadis itu. Ia merindukan menjadi riweh demi seseorang.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!