Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Sederhana. Dulu kamu memberikan saham itu karena taruhan. Sekarang kamu juga bisa mendapatkannya kembali.”
“Maksudmu?”
“Aku ingin kamu mempermainkan dia seperti dulu. Dekati dia lagi, buat dia percaya. Kalau kamu berhasil, saham itu akan aku kembalikan.”
Kalimat-kalimat itu masih terngiang jelas di kepala Kevin. Ia mengingat bagaimana dirinya yang mengucapkannya dengan tenang, tanpa ragu sedikit pun. Yang lebih mengejutkan justru reaksi Vano. Lelaki itu menyetujuinya hampir tanpa berpikir, seolah yang dipertaruhkan bukan perasaan seseorang, melainkan sekadar angka dalam laporan keuangan.
Kevin tersenyum tipis saat mengingatnya. Kadang ia bertanya dalam hati, apakah ini karma yang pantas diterima Iren karena telah menyia-nyiakan ketulusannya selama empat tahun hanya demi seorang mantan yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggapnya berarti.
Namun Kevin segera menepis pikiran itu. Ia tidak mau menyebut ini sebagai balas dendam. Baginya, ini hanya permainan yang aturannya sudah disepakati sejak awal.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Kevin menoleh seketika.
“Ada apa?”
Lidya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi lembut seperti biasa. “Hari ini nenek ingin mengajak kita makan malam bersama. Sekalian mau membahas tentang pernikahan,” ucapnya pelan.
Kevin hanya mengangguk singkat. “Hemm.”
Lidya tidak terlalu mempermasalahkan respons datar itu. Sejak beberapa hari terakhir bersama Kevin, ia mulai terbiasa dengan sikap lelaki itu yang sulit ditebak. Kadang ia bisa begitu menggoda dan santai, lalu beberapa saat kemudian berubah menjadi perhatian dan protektif. Namun ada kalanya seperti sekarang, dingin dan sulit disentuh.
“Kalau begitu aku duluan,” pamit Lidya sambil berbalik.
Kevin sempat menatap punggungnya beberapa detik. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Sebelum Lidya benar benar melangkah pergi, ia menahannya.
“Tunggu.”
Lidya berhenti lalu menoleh kembali. “Kenapa, Kak?”
Kevin bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat. Tatapannya tidak lagi sedingin tadi, meski tetap tenang.
“Kamu yakin dengan semua ini?” tanyanya pelan.
“Maksudnya?”
“Soal pernikahan,” jawab Kevin. “Nenek mungkin melihat ini sebagai solusi. Keluarga mungkin menganggap ini langkah yang tepat. Tapi kamu sendiri bagaimana?”
Lidya terdiam sejenak. Ia tidak menyangka pertanyaan itu datang dari Kevin.
“Aku tidak pernah merasa dipaksa,” katanya akhirnya dengan jujur. “Aku tahu posisi Kak Kevin sekarang tidak mudah. Kalau dengan menikahiku semuanya jadi lebih sederhana, aku tidak keberatan.”
Kevin menatapnya lebih dalam. “Pernikahan bukan alat untuk menyederhanakan masalah.”
Lidya tersenyum kecil. “Aku tahu. Tapi kadang dua orang bisa saling membantu, meski alasannya tidak selalu dimulai dari cinta.”
Ada ketenangan dalam nada suara Lidya yang membuat Kevin terdiam. Untuk pertama kalinya sejak perceraian itu benar benar berjalan, ia merasa ada seseorang yang tidak menuntut apa pun darinya.
“Kita berangkat bersama nanti malam,” ucap Kevin akhirnya.
Lidya mengangguk pelan. “Baik.”
Setelah wanita itu pergi, Kevin berdiri sendirian di ruangannya. Untuk sesaat pikirannya terbelah antara masa lalu yang belum sepenuhnya selesai dan masa depan yang sedang didorong keluarganya.
"Mungkin dia memang yang terbaik untuk saat ini," gumamnya sembari menarik sudut bibir.
***
Di sisi lain, Iren duduk sendirian di ruang kerjanya dengan kepala terasa penuh. Perceraian yang hampir di depan mata, konflik perusahaan yang belum juga selesai, dan kemunculan Lidya yang terang terangan mengaku sebagai calon istri Kevin membuat pikirannya semakin kacau. Untuk pertama kalinya ia benar benar merasa kehilangan pijakan.
Kini ia mulai menyadari betapa besar peran Kevin dalam hidupnya. Dulu ia tidak pernah merasa kesulitan berarti. Setiap kali ada masalah di perusahaan, Kevin yang turun tangan menyelesaikannya tanpa banyak bicara. Saat hatinya gelisah atau emosinya tak terkendali, Kevin pula yang menenangkannya. Ia seperti dinding kokoh yang selalu ada di belakangnya, meski sering kali tak ia hargai.
Ingatan Iren melayang pada satu kalimat yang dulu begitu sering ia dengar. Tenang, Sayang. Hatiku hanya untukmu. Meskipun banyak bunga bermekaran lebih indah di hidupku, kamu tetap satu satunya bunga yang tak ternilai.
Dulu kalimat itu selalu berhasil membuatnya merasa menang dan merasa dipilih. Ia juga merasa lebih unggul dari siapa pun yang mendekati Kevin. Namun sekarang, saat kalimat itu terngiang kembali, rasanya berbeda.
“Kamu pembohong, Kevin. Pembohong!” ucap Iren spontan, suaranya bergetar di ruang yang sepi.
Entah ia sedang marah pada Kevin atau pada dirinya sendiri. Karena jika dipikir kembali, selama empat tahun itu Kevin tidak pernah benar benar melanggar ucapannya. Justru ia yang terus membiarkan bayangan masa lalu mengganggu pernikahan mereka. Ia yang berkali kali membandingkan, meragukan, bahkan menyakiti tanpa sadar.
Iren menutup wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya ia merasa takut Kevin benar benar pergi.
“Kevin, nyatanya cintamu padaku tidak seperti yang kamu bilang dulu. Aku hanya bermain sebentar, kamu justru ingin pergi,” gumamnya lirih tanpa sadar.
Air matanya jatuh perlahan. “Bukankah dulu kamu selalu bilang aku bisa melakukan apa pun? Aku hanya ingin memenuhi keinginanku yang belum tercapai. Kenapa kamu tidak bisa memahami itu?”
Namun bahkan saat kalimat itu keluar, hatinya terasa ganjil. Ada bagian kecil dalam dirinya yang tahu bahwa ia sedang memutarbalikkan keadaan. Ia menyebutnya bermain, seolah yang ia lakukan hanyalah sesuatu yang ringan dan tidak berarti. Padahal bagi seorang suami, tidak ada yang ringan ketika harga dirinya disentuh oleh pria lain.
Di menit berikutnya, Iren mengangkat wajahnya lalu mengusap sisa air mata yang tadi sempat mengalir. Ia menarik napas dalam dalam lalu berkata, “Tidak, Iren. Kamu harus melakukan sesuatu. Ingat, Kevin hanya milikmu. Tidak boleh ada yang merebutnya darimu.”
Iren memantapkan niatnya lalu meraih ponselnya dan segera menghubungi Kevin. Kebetulan, nomor yang beberapa hari lalu selalu tidak bisa ditelepon kini justru tersambung. Tak lama kemudian suara Kevin terdengar dari seberang sana.
“Aku sudah membuat jadwal sidang perceraian kita. Kalau kamu tidak datang minggu depan, kita sudah sah bercerai.”
“Kevin, apa kamu serius dengan semua ini?” tanya Iren, tetapi tidak ada jawaban dari seberang sana.
“Baiklah, aku tahu kamu sudah kecewa denganku. Tapi malam ini pulanglah. Ada barang yang kamu tinggalkan di rumah,” ucap Iren kembali.
Di seberang sana, Kevin memikirkan barang apa yang ia tinggalkan. Ia lalu teringat sebuah kalung peninggalan orang tuanya yang dulu ia berikan kepada Iren.
“Kamu bisa kirimkan barang itu ke perusahaan,” ucap Kevin.
Iren tahu barang itu sangat berarti bagi Kevin. Ia pun menjawab dengan nada sedikit menggoda, “Dulu kamu memberikannya padaku dengan baik-baik. Jadi aku akan mengembalikannya dengan cara yang baik juga. Aku mohon, pulanglah sebentar. Hanya sebentar.”
"Iren, aku peringkatkan jangan bermain-main denganku."
"Tidak! Kamu sangat mengenalku kan? Aku tidak akan macam-macam," sahut Iren.
"Hem..."
Setelah terdengar suara pendek itu sambungan terputus secara sepihak, Iren tidak marah ia justru tersenyum samar seolah apa yang diinginkannya akan ia dapatkan malam ini.