Menceritakan tentang 2 gadis bersaudara dimana dia adalah seorang anak yang di hidupi oleh pengusaha yang sangat kaya raya dan setiap pesaing kalah bisnis dari orang tua nya selalu saja mereka ingin selalu menjatuh kan orang tua Cahya dan Megy....
" Cahya kamu janji ya, akan membalaskan kedua orang tua kita" kata Megy sembari mengelap air mata adik nya yang menetes di pipi.
"Oke, gue janji kak, lu juga janji ya, kak? Ucap Cahya sembari berhenti menangis.
Cahya sekarang usiamu muda, kamu bisa ikut ke medan perang! Di sana kamu bisa mempelajari ahli beladiri apa saja? Kata Megy dengan serius.
Baiklah kak, gue akan pergi dulu! Titip ayah ya? Ucap Cahya.
Apakah orang tua nya akan jatuh atas segala yang dilakukan penjahat..?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebit S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Emosi Megy
"Boleh, boleh.. tapi gue dulu yang menikmati sawahnya ya, hehehehe." Ucap Josep menyeringai menatap pepaya Megy yang nyembul.
"Laknat semua kalian?" Kata Megy yang sudah geram mendengarkan obrolan jorok mereka.
Dengan cepat Megy segera melesat menyerang Josep yang sedang menatap mesum kearahnya.
Lalu dengan cepat Josep segera menghindari pukulan Megy kemudian begitu Megy sangat dekat dengan Josep.
"Wangi sekali, badanmu?" Kata Josep meneguk air ludahnya.
Lalu Josep mundur dan menjaga jarak dengan Megy sementara Megy yang mendengarkan ucapan Josep semakin Emosi hingga membuat Megy membabi buta menyerang Josep.
"Wah badanmu wangi begini, sawahmu pasti sangat wangi sekali, ya? Jadi tidak sabar ingin mencangkul sawahmu?" Kata Josep sembari mendekati Megy memegang dagunya.
Megy menghindari dagunya yang ingin disentuh lalu Megy langsung memberikan tendangan.
Sementara Cahya yang berdiri melihat semua yang dilakukan oleh Josep terhadap Megy segera bergegas dengan sangat Cepat menyerang Josep.
"Kreeeees..."
Suara kepala Josep segera meletus bagaikan balon akibat diserang oleh Cahya hingga membuat dar*h m*ny*mb*r kemana-mana.
"Aaa..apa?" Ucap Anak buah Edwin Kurniawan tercengang melihat Cahya menyerang hanya dengan satu serangan.
Kemudian 7 orang yang tersisa tercengang melihat ke arah Cahya.
Mereka tidak pernah terpikirkan kalau Cahya menyerang Josep hanya 1 serangan saja.
Lalu Cahya menatap semua bawahan Edwin Kurniawan, Ia dengan dingin berkata."Itu bagi orang yang tidak bisa menjaga mulut?"
Cahya segera mendekati Megy dan langsung menghampiri nya.
"Egy, lu gue lihat emosi lu nggak stabil! Mending lu istirahat aja! Biar mereka gue aja yang urus?" Kata Cahya dengan serius.
"Hati-hati, Cah?" Kata Megy mengingatkan.
Cahya menanggapi ucapan Megy dengan mengangguk kemudian Megy segera kepinggir melihat Cahya yang sedang ingin bertarung melawan ke tujuh berandalan yang sedang melihat Cahya.
"Sekarang giliran kalian?" Kata Cahya menatap serius kearah berandalan.
"Hahahhaaa lu terlalu percaya diri jalang? Jangan lu pikir dengan membuat Josep tewas, lalu dengan mudahnya lu menghadapi kami!" Kata steven dengan wajah serius tidak menganggap remeh Cahya.
Steven segera menatap teman-temannya lalu menganggukkan kepalanya memberi kode untuk menyerang bersama-sama.
Cahya lalu di serang oleh Steven lebih dulu dengan pukulan kemudian pukulan Steven segera ditahan Cahya baru saja Cahya ingin menyerang Steven disusul oleh Santos dengan tendangan hingga Cahya urungkan memberi serang balik ke arah Steven.
Tidak cukup disana lalu Wahyu segera memberikan pukulan kepada Cahya hingga terjadi perkelahian diluar ekpektasi mereka bertujuh.
Mereka berpikir dengan menggabungkan serangan akan membuat Cahya menjadi terdesak.
Ternyata mereka salah Cahya tersenyum santai menepis, menangkis, dan menghindari serangan Mereka bertujuh.
Tidak berselang lama kemudian mereka bertujuh dan Cahya menjaga jarak untuk mengambil nafas meredakan kelelahan mereka yang dari tadi.
Dengan dingin Cahya, berkata."Gue pikir kalian sudah sulit dikalahkan? Ternyata, kalian hanya seonggok sampah yang hidup ditengah-tengah masyarakat."
"Bangs*t lu? Gue paling anti di remehkan cewek jalang kayak lu? Lu lihat nih!" Kata Steven yang geram mendengar ucapan Cahya yang merendahkan.
Cahya yang mendengar ucapan Steven tersenyum dan hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum mengejek menatap Steven.
Steven yang melihat Cahya tersenyum mengejek segera membuat tubuhnya Merah.
Lalu semua urat ditangan serta wajahnya jadi menonjol lalu tidak lama baju yang Ia gunakan segera Robek memperlihatkan Otot-ototnya yang kokoh.
Walaupun usia Steven sudah mencapai 65 tahun tetapi tubuh masih terlihat kokoh seperti usia masih 40 tahunan.
"Iiiih takut?" Ejek Cahya melihat Steven.
Lalu setelah mendengar ucapan Cahya, Steven segera mel*nc*rk*n ser*ng*n dengan melompat menggunakan puk*l*nnya lalu dengan tiba-tiba Cahya menghindar sedikit dari ser*ng*n Steven.
"Apa..." Kata Steven yang habis memukul terkejut menatap Cahya bisa mengindari ser*ng*nnya.
Karena selama Steven menggunakan Jurus ini tidak ada satu pun Musuhnya bisa selamat dari Ser*ng*n dari jurus andalan Steven.
Lalu Steven bergumam di dalam hati dan berkata."Nggak mungkin, ini pasti dia sudah berbuat curang dengan diam-diam tahu atas gerakan yang akan gue lakukan?"
Kemudian Steven, berkata."haaaaaahahhaa.. masih dalam keadaan darurat begini saja, lu masih sempat-sempatnya berbuat picik? Hahaha."
Sementara teman-teman Steven yang tercengang akibat mendengar dari penjelasan Steven jadi berpikiran sama juga seperti Steven.
Cahya yang mendengarkan ucapan dari Steven mengerutkan alisnya hingga menjadi bingung atas ucapan Steven lontarkan.
"Terserah lu aja, bicara bagaimana? Lu sudah belum m*ny*r*ng nya kalau sudah, biar gue yang lakuin? Lu nya kelamaan?" Kata Cahya dengan menatap tajam kearah Steven.
Kemudian begitu Steven ingin segera mengambil T*nd*k*n Cahya segera melesat maju dengan berlari zig..zag.. ke kiri dan ke kanan.
Hingga membuat semua anak buah Edwin Kurniawan menjadi tercengang melihat keahlian Cahya ingin m*ny*r*ng.
"Bak...buk..bak..buk.."
p*kul*n, tend*ng*n, lalu Cahya segera memb*nt*ng Steven.
Lalu Cahya tidak diam lagi, Ia langsung mengh*nt*m tempurung k*ki Steven hingga mengeluarkan d*r*h hingga kaki Steven tidak bisa digunakan lagi.
"Sekarang giliran kalian?" Ucap Cahya berjalan dengan santai sembari berjalan perlahan kearah enam orang yang berbadan besar.
Ke enam Orang itu pun segera bersama-sama m*ny*r*ng Cahya dengan bersama-sama ada yang mengeluarkan r*nt*i, ada yang mengeluarkan balok k*yu dan ada yang mengeluarkan b*si serta ada yang memakai p*s*u.
"Haaaaahahahaha... Kalian pikir, senj*t* yang kalian pakai itu? Akan berguna dihadapanku, hah?" Kata Cahya dengan santai Tidak menganggap senj*t* mereka sama sekali.
Sementara di jalanan kota yang sepi terlihat ada hembusan angin sepoi-sepoi keluar. Lalu di sana terlihat rombongan Kevin, Reno dan Ridho sedang menaiki motor trail nya sangat cepat sekali. Tetapi, tanpa di duga oleh mereka ada yang menghalangi motor mereka memakai tali hingga menyebabkan mereka bertiga terjatuh.
"Braaaaaak... Sreeeeeet... Aduuuuh..."
"Waaaaaaawwwww.. berhasil men! Gue pikir sia-sia akhirnya mereka sampai juga kesini!" Kata Beni sembari menyeringai senang.
"Bener kan kata gue! Mereka pasti nongol disini bro?" Kata Faisal sangat senang atas rencananya.
"Hadeeeh.. kalian banyak banget sih! Kayak ada ribuan pasukan aja, nggak ada habis-habisnya?" Kata Reno yang lelah melihat para berandalan.
"Sebenarnya kalian ini, nggak ada lelahnya ya? Udah banyak tuh, rombongan kalian kita bikin babak bel*r!" Kata Reno sekali lagi nyerocos.
"Kalian hanya berdua aja, apa masih ada yang lain!" Kata Kevin dengan nada dingin.
"Mau tau banget ya?" Kata Beni sembari menyeringai.
"Nggak maksud gue kalau lu, hanya berdua mending pulang aja karena dengan ny*w* kalian nggak cukup bro?" Kata Kevin menjelaskan.
ini seperti isi teks yang langsung up tapi mungkin lupa di edit lagi tanpa di kroscek
padahal isi ceritanya cukup oke