NovelToon NovelToon
London’S Heart Surgeon

London’S Heart Surgeon

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Pernikahan rahasia / Kehidupan alternatif
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan

Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
​Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Sikap Pharma benar-benar membuat Lyra merasa seperti disiram air es. Setelah melepaskan tangan Veronica dengan canggung tadi, Pharma tidak mengejar Lyra. Ia malah kembali larut dalam obrolan serius soal medis dengan Veronica, seolah kehadiran Lyra tadi hanyalah angin lalu yang tidak mengganggu konsentrasinya.

​Di kafetaria, Lyra duduk termenung menatap gelas kopinya yang sudah dingin. Iva yang duduk di depannya memperhatikannya dengan iba.

​"Jangan terlalu diambil hati, Lyra. Seisi rumah sakit ini sudah tahu kalau Pharma dan Veronica itu memang 'satu paket'. Mereka sudah bareng sejak rumah sakit ini dibangun ulang," kata Iva sambil menyesap minumannya. "Pharma itu orangnya logis banget, dia cuma mau dekat sama orang yang levelnya setara. Dan buat dia, Veronica itu orangnya."

​Lyra tersenyum getir, mengaduk kopinya perlahan. "Level yang setara, ya?" batinnya.

​Kalimat itu menampar Lyra. Di Indonesia, mereka adalah suami istri yang bahagia. Tapi di sini, di gedung megah Delphi ini, Pharma adalah sang CMO yang bersinar, dan Lyra hanyalah "asisten" yang bahkan harus berjuang untuk tidak menabrak orang di koridor.

​"Lagian, Lyra... kita ini siapa, sih?" Lyra akhirnya bersuara, mencoba terdengar santai padahal hatinya perih. "Di sini gue cuma asistennya. Dia mau gandengan sama siapa pun, itu bukan urusan gue. Kita juga bukan siapa-siapa di sini."

​"Nah, itu semangat yang bagus! Jangan sampai baper sama bos sendiri, apalagi modelan Pharma," dukung Iva sambil menepuk bahu Lyra.

​Momen di Lorong: Pertemuan yang Dingin

​Sore harinya, saat Lyra sedang mengecek laporan pasien di lorong, Pharma lewat sendirian. Tidak ada Veronica, tidak ada Leon. Pharma berhenti tepat di samping Lyra, bersandar di dinding dengan gaya angkuhnya yang biasa.

​"Dokter Lyra, laporan Lord Sterling sudah selesai?" tanya Pharma dengan suara bariton yang datar, seolah kejadian di lantai atas tadi tidak pernah terjadi.

​Lyra tidak menoleh sedikit pun. Ia tetap fokus pada tablet di tangannya. "Sudah saya kirim ke email Anda, Sir. Silakan dicek."

​Pharma terdiam sejenak, merasa ada yang berbeda dengan nada bicara Lyra. Biasanya Lyra akan membalas dengan ketus atau memberikan tatapan kesal yang menggemaskan, tapi kali ini Lyra benar-benar dingin dan profesional.

​"Lyra," panggil Pharma pelan, mencoba menghilangkan formalitas.

​Lyra akhirnya menoleh, menatap Pharma dengan tatapan yang sangat kosong. "Ada lagi yang perlu saya bantu, Dokter Pharma? Kalau tidak ada, saya harus membantu Raydil di bangsal bawah. Dia butuh bimbingan untuk pasien pasca-operasi."

​Rahang Pharma mengeras. Ia tidak suka mendengar nama Raydil disebut dengan nada selembut itu. "Raydil punya mentor sendiri. Kamu asisten saya."

​"Di sini saya dokter, Sir. Saya membantu siapa pun yang butuh bantuan," balas Lyra tenang. Ia kemudian merapikan jasnya. "Oh ya, selamat ya. Dokter Veronica cantik sekali. Kalian terlihat sangat serasi tadi pagi. Saya harap hubungan kalian lancar terus."

​Setelah mengatakan itu, Lyra berjalan melewati Pharma begitu saja. Tidak ada cubitan di pinggang, tidak ada bisikan rahasia. Benar-benar seperti dua orang asing yang tidak sengaja berpapasan.

​Pharma berdiri mematung di lorong. Niatnya tadi ingin menjelaskan bahwa Veronica yang tiba-tiba menggandengnya, tapi melihat sikap Lyra yang "bodo amat", ego Pharma sebagai pria sukses malah muncul.

​"Oh, jadi kamu mau main peran 'orang asing' ini sampai akhir, Lyra? Fine. Let's see how long you can hold it," batin Pharma sambil mengepalkan tangannya.Keesokan harinya, aksi Veronica semakin menjadi-jadi dan mulai terang-terangan di depan semua staf medis. Sepertinya kabar tentang "asisten baru dari Indonesia" yang mencuri perhatian Pharma telah sampai ke telinganya, dan sang Ratu Delphi tidak tinggal diam.

​Saat jam istirahat siang, Lyra sedang duduk di kafetaria bersama Iva dan Raydil. Tiba-tiba, suasana menjadi riuh ketika Pharma masuk ke kafetaria. Namun, ia tidak sendiri. Veronica berjalan tepat di sampingnya, mengenakan jas dokter yang sangat pas di tubuhnya, terlihat sangat glamor.

​"Pharma, kamu harus coba salad ini. Aku sudah pesankan khusus untukmu," suara Veronica terdengar manja namun tetap elegan, cukup keras untuk didengar orang-orang di sekitarnya.

​Veronica tidak ragu untuk mengusap bahu Pharma atau sesekali merapikan dasi Pharma di depan umum. Pharma, dengan wajah datarnya yang legendaris, hanya diam dan membiarkan Veronica melakukan aksinya. Ia tampak tidak peduli, tapi sikap diamnya itu justru membuat Veronica semakin berani "menandai wilayah".

​"Liat tuh," bisik Iva sambil menyikut Lyra. "Dia beneran nggak kasih celah ya. Caper banget, padahal Pharma lagi makan."

​Lyra hanya melihat pemandangan itu sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya. Namun, hatinya tetap terasa seperti dicubit. Jadi ini yang dibilang 'profesional'? Membiarkan perempuan lain merapikan dasinya di depan umum?

​Tiba-tiba, Veronica menoleh ke arah meja Lyra dan tersenyum lebar. Ia mengajak Pharma berjalan menghampiri mereka.

​"Hai, Dokter Lyra! Kebetulan sekali ketemu di sini," sapa Veronica dengan nada manis yang dibuat-buat. Ia semakin erat memegang lengan Pharma. "Pharma tadi cerita kalau kamu asisten yang sangat penurut ya? Pantas saja Pharma betah kerja bareng kamu."

​Veronica kemudian menatap Pharma dengan tatapan memuja. "Oh iya, Pharma, jangan lupa nanti malam kita ada janji makan malam dengan dewan direksi. Aku sudah pilihkan restoran favorit kita yang biasa. Kamu nggak lupa, kan?"

​Pharma melirik Lyra sejenak, mencari reaksi di wajah istrinya. Tapi Lyra justru tersenyum sangat ramah senyum yang paling palsu yang pernah ia tunjukkan.

​"Wah, seru banget ya, Dokter Veronica. Silakan dilanjut makannya, saya nggak mau mengganggu 'waktu berkualitas' kalian," ucap Lyra tenang. Ia kemudian berdiri dan menatap Raydil. "Ray, ayo ke bangsal sekarang. Saya mau lihat perkembangan pasien yang kamu tangani tadi pagi."

​"Eh, iya Dok! Ayo!" Raydil buru-buru berdiri, merasa suasana di sana sudah terlalu panas.

​Saat Lyra berjalan melewati Pharma, ia bahkan tidak melirik sedikit pun. Bau parfum Veronica yang menyengat di sekitar Pharma membuat Lyra ingin cepat-cepat pergi.

​Pharma hanya terdiam, matanya terus mengikuti punggung Lyra yang menjauh. Ia merasakan ada sesuatu yang salah. Lyra tidak marah, tidak cemburu secara terang-terangan, tapi sikap "bodo amat" istrinya itu justru membuat Pharma merasa sangat tidak nyaman.

​"Pharma? Kamu denger aku nggak?" tanya Veronica sambil mengguncang pelan lengan Pharma.

​"Saya ada operasi sepuluh menit lagi, Veronica. Makan saja sendiri," ucap Pharma dingin. Ia melepaskan tangan Veronica dari lengannya dengan tegas dan berjalan pergi, meninggalkan Veronica yang wajahnya mendadak berubah kesal karena merasa diabaikan di depan banyak orang.

1
Cici Winar86
di sinopsis nya pharma dokter jantung..tapi ini di bilangnya di sini dokter saraf...
AEERA♤
bacaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!