Semua akan hadir jika kita sedang memiliki harta benda, Rumah yang mewah , harta dimana mana, semua akan di anggap KELUARGA jika kita punya segalanya, Tapi coba lihat jika kita sedang tidak punya apa apa, jangankan di anggap keluarga di tanya kabar pun tidak akan pernah, Uang yang berbicara, uang yang membuat lingkungan keluarga menjadi Cemara dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coretan Hitam.Id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Iri Dan Dengki
Alhamdulilah hari ini bu Arumi mendapatkan rezeki yang tidak di sangka sangka, beliau mendapatkan bantuan dari desa, Dan bantuan nya berbentuk uang senilai Sembilan ratus ribu rupiah, setelah bu Arumi mendapatkan uang tersebut, ia langsung membelikan nya ke beras sepuluh liter , dan bahan pokok lain nya, tidak lupa juga mengisi gas yang sudah habis, dan juga listrik yang sudah berbunyi.
kini Lesi dan Bu Arumi sedang memotong motong daging ayam di dapur untuk sajian berbuka puasa nanti.
"Nanti kalo udah rebus dulu ya ayam nya, sekalian nih sama bumbunya, air nya dikit aja ya , api nya sedang Les " Perintah itu langsung di dengar oleh Lesi dan Lesi segera masukan ayam yang sudah di potong menjadi 15 bagian, dengan bumbu yang sudah bu Arumi racik.
" Bu kenapa kita gak jualan di rumah aja sih bu , di bulan puasa ini kan banyak yang nyari makanan, pasti rame deh " Ucap Lesi menghampiri bu Arumi yang sedang membuat sambal terasi.
" Kamu gak inget puasa tahun kemarin?" Tanya bu Arumi pelan.
Lesi berfikir sejenak dan ia mengingat sesuatu "Mungkin mereka lagi gak ada duit bu " Jawab Lesi.
" Bukan gak ada duit nak, tapi mereka gak mau kita maju barang selangkah pun " Ungkap Bu Arumi yang masih sibuk dengan sambalnya.
pasalnya puasa tahun kemarin , Bu Arumi coba membuka warung rujak kangkung dan juga gorengan yang pasti di gemari oleh kalangan apa saja.
sengaja bu Arumi membuka di depan rumah dengan meja seadanya, Bu Arumi sudah menggoreng sebaskom besar pala pala dan teman teman nya karena yakin pasti para tetangga akan membelinya, tapi di tunggu sampai pulang terawah puh, jumlah gorengan yang bu Arumi masak tidak berkurang sedikit pun, rujak nya pun masih utuh .
memang se'dari buka tadi siang, meski banyak orang berlalu lalang di depan rumah pun, tidak ada yang menanyakan apa kah bu Arumi sedang berjualan, atau bahkan menanyakan jualan apa pun tidak .
dan pada akhirnya semua nya jadi samtapan bu Arumi dan keluarga , dan tidak lupa juga Bu Arumi bagikan ke tetangga dekat rumah nya, mereka menerima nya dan mereka juga memuji bahwa itu enak, tapi kenapa mereka tadi tidak coba membelinya ?.
" Mereka itu pengen nya di kasih aja, tanpa mau keluar duit " Lanjut bu Arumi yang sudah mencuci tangan nya.
" tapi kenapa ya, kalo yang lain jualab perasaan sampe rame, dan anehnya yang jualan itu hanya berada di dapur, tidak seperti orang jualan, tapi mereka membelinya , kenapa ke ibu seterang terangan itu malah gak ada yang beli ?" Tanya penasaran Lesi, karena menurutnya itu tidak adil.
" Ya gak tau lah, kalo kata kakek mu, tetangga disini memang gak suka sama kita, takut keduluan kaya " Tutur bu Arumi dengan menepuk bahu Lesi.
" Dih gak adil banget, pengen nya yang gratisan mulu deh heran " Kesal Lesi.
" Lagian kenapa sih gak di lihat lihat dulu sebelum punya rumah disini, kan dapetin nya yang Toxic terus bu " Keluh Lesi, mengingat dulu mereka adalah orang pindahan, mereka juga membeli rumah ini karena harga yang murah.
" Ya karena murah, dan ibu sama bapak juga gak punya rumah " Timbal bu Arumi yang sedang mengangkat Ayam ungkep yang sudah matang.
"Sudahlah, biarin aja, toh rezeki kita dari tuhan, bukan dari mereka, tanpa mereka juga kita bisa makan kan ?" Lanjutnya.
Lesi segera mengambil Alih ayam ungkep untuk ia goreng, Dan bu Arumi pun mengerjakan hal lain, seperti menyiapkan takjil dan minuman segar .
*****
Bu Arumi , pak Warto serta Lesi, sudah duduk rapih di meja makan , menunggu suara azdan berkumandang di masjid.
dan tidak lama suara yang di rindukan pun terdengar.
" Alhamdulilah " Sorak syukur Ketiganya.
" eh minum air anget dulu ya, jangan langsung Es " tutah Bu Arumi, melihat Lesi tidak sabaran mau menyeruput es kelapa di depan nya.
Lesi hanya tersenyum malu dan ia beralih ke air hangat yang sudah di sajikan oleh ibunya.
GLEKK GLEKKK GLEKK .
Ahhhh segarnya di tenggorokan setelah empat belas jam menahan dahaga , airnya tenggorokan ini merasakan air yang mengalir lagi.
Setelah minum, Lesi segera mengambil Nasi serta lauk Ayam ungkep yang di buatnya tadi sore bersama sang ibu tercinta.
" hmmmz. enak bu Ayam nya, bumbunya pas " Puji Lesi menyantap Makanan nya.
" Alhamdulilah, sisakan buat nanti kita sahur ya, inget loh meski pun lapar, tapi makan nya dikit dulu aja ya " Timbal Bu Arumi yang di angguki oleh Lesi.
GUBRAKK...
" Elu gak tau diri ya, gue dari tadi nahan lapar , Lu gak bawa uang bahkan makanan buat gue buka puasa hah ? , dari pagi sampe sekarang lu kemana aja ? lu kerja kan ?, kemana uang yang lu cari itu hah ? , kaga lu kasih ke Per*k kan ?" Suara teriakan dari rumah Ratna terdengar lagi, Membuat mereka yang sedang menikmati buka puasa terganggu.
" Ratna kayak nya lagi berantem bu sama Andri " dugaan Pak Warto, dan di angguki oleh Bu Arumi dan Lesi.
" kenapa sih suka gitu setiap bang Andri gak bawa duit ?" tanya Lesi dengan polosnya.
" Mungkin penghasilan Andri hanya bisa menutupi dan di makan sehari saja, Dengerkan tadi Ratna teriak apa, menahan lapar ?" Ungkap Bu Arumi.
Dan teriakan dan omelan Ratna terdengar lagi. " Yang lain mah enak, dapat bantuan, sedangkan aku enggak, aku cuma berharap ke kamu saja, tapi kenapa kamu malah gak bawa uang seperak pun " ucapnya.
membuat Lesi melirik ke Bu Arumi dengan mimik wajah yang tidak mengandung Arti.
" Kenapa sih dia, gak bisa apa liat orang enak dikit, tuh bu denger ibu di sindir karena ibu dapat bantuan , sedangkan dia tidak " Ucap Lesi sambil menujuk ke belakang yang dimana itu adalah arah rumah Ratna.
" Anak itu emang di selimuti iri dan dengki yang tebal, mangkanya hidupnya berkelimangan hutang , untuk menutup gengsi dan ikuti gaya orang " Ungkap Bu Arumi.
" Ya gimana gak dapat bantuan , kan dia bukan warga sini ?, dia hanya pendatang saja " Tutur Pak Warto yang sejak tadi hanya menyimak saja.
" Sudah lah biarkan saja, Toh dia yang menjalankan, biarin dia yang merasakan, apa efek dari iri dan dengki terhadap orang " Bu Arumi melanjutkan sesi makan nya yang tertunda karena gangguan dari rumah sebelah.