NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 32

"Pasang sensor di truk Kang Dadang itu satu hal, Din," kataku sambil memacu mobil menuruni lereng pegunungan. "Tapi memastikan dia tidak mampir di warung kopi selama tiga jam saat membawa sawi hijau adalah hal lain. Kita butuh pelacak GPS yang terintegrasi dengan suhu kargo."

Dina sudah mengetik dengan cepat di tabletnya. "Sudah masuk ke rencana anggaran, Raka. Kita pakai sistem Internet of Things (IoT) sederhana. Kalau suhu di bak truk naik di atas delapan derajat Celsius, ponsel Kang Dadang dan ponsel kita akan bunyi alarm. Biar dia tahu kalau dia santai terlalu lama, bonus kirimannya hangus."

Seminggu kemudian, di gerai Dapur Ma Express Sudirman, suasana pagi itu terasa berbeda. Di depan kasir, ada sebuah rak kayu baru yang di atasnya terdapat keranjang-keranjang berisi sayuran yang masih memiliki sedikit tanah pegunungan di akarnya. Di sampingnya, ada papan tulis kecil: "Dipetik jam 02.00 pagi ini dari Kebun Pak Sobari di Desa Berdikari."

Seorang pelanggan tetap—karyawan bank yang biasanya hanya memesan rice bowl tanpa banyak bicara—berhenti di depan rak itu. Dia mengambil satu ikat bayam yang warnanya hijau pekat.

"Ini dijual juga?" tanyanya heran. "Segar sekali, sampai masih ada embunnya."

"Ini bahan baku yang sama dengan yang ada di mangkuk Anda hari ini, Pak," jawab staf kami dengan bangga. "Kami bawa langsung dari petani kami dalam hitungan jam."

Aku dan Dina berdiri di sudut gerai, mengamati interaksi itu.

"Raka, lihat," Dina berbisik sambil menunjukkan layar sistem penjualannya. "Penjualan menu 'Super Green Bowl' melonjak 300% pagi ini. Orang-orang di sini haus akan sesuatu yang 'nyata'. Mereka bosan dengan sayuran plastik dari supermarket besar."

Tiba-tiba, sebuah truk tua dengan modifikasi pendingin di bak belakangnya berhenti di depan gerai. Kang Dadang turun dengan jaket kulitnya, kali ini dia mengenakan topi berlogo Dapur Ma. Dia menurunkan keranjang terakhir cabai keriting dengan wajah sumringah.

"Lapor, Mbak Dina! Mas Raka!" seru Dadang sambil menyeka keringat. "Suhu stabil di empat derajat sepanjang jalan. GPS aman, tidak mampir-mampir kecuali isi solar!"

Dina menghampirinya, mengecek data di tabletnya lalu mengangguk puas. "Bagus, Kang Dadang. Bonus efisiensi waktu masuk ke dompet digital Akang sore ini."

Kang Dadang tertawa lebar, menjabat tanganku erat. "Ternyata lebih enak kerja begini, Mas. Nggak perlu kucing-kucingan sama polisi atau takut harga sayur anjlok. Petani di desa juga sekarang semangat sekali, mereka bilang Dapur Ma itu 'napas baru' buat tanah mereka."

Setelah Dadang berangkat lagi untuk pengambilan kedua, aku merangkul Dina di depan gerai yang makin ramai.

"Din, kita baru saja berhasil memindahkan sebagian napas desa ke tengah hutan beton ini," kataku.

Dina menatap tumpukan sayur yang hampir habis terjual itu. "Dan kita baru saja membuktikan kalau transparansi itu lebih laku daripada iklan mahal. Tapi Raka..."

"Apa?"

"Kalau permintaan terus naik begini, luas lahan Pak Sobari nggak akan cukup. Kita butuh digitalisasi lahan. Aku mau setiap jengkal tanah di desa itu punya data produktivitasnya sendiri. Kita harus mulai bicara soal 'Smart Farming'."

Aku tertawa, menariknya masuk ke dalam gerai. "Satu-satu, CFO. Biarkan aku menikmati aroma sayur segar ini sebentar sebelum kita bahas satelit dan sensor tanah."

"Digitalisasi lahan itu bukan cuma soal gaya, Raka," Dina membalas sambil menarik napas dalam, aroma tumisan sawi bawang putih dari dapur mulai memenuhi ruangan. "Kalau kita tidak tahu kapan Pak Sobari tanam dan kapan Pak Agus panen, logistik Kang Dadang akan kacau. Kita akan punya hari-hari di mana kita kebanjiran bayam tapi kehabisan cabai."

Aku mengangguk, melihat antrean pelanggan yang kini bukan cuma membawa rice bowl, tapi beberapa dari mereka memasukkan ikat-ikat kangkung ke dalam tas kerja mereka. "Oke, aku setuju. Tapi jangan buat itu jadi aplikasi yang rumit buat petani. Mereka punya tangan untuk pegang cangkul, bukan untuk ngetik data input yang ribet."

"Tenang," Dina tersenyum penuh rahasia. "Aku sudah bicara sama Arka. Dia punya teman mahasiswa tingkat akhir yang bisa buat sistem pemetaan berbasis foto. Petani cukup foto lahan mereka sekali seminggu. Biar AI yang hitung masa panennya. Sesederhana itu."

Tiba-tiba, pintu gerai terbuka dan sesosok pria paruh baya dengan setelan safari rapi masuk. Bukan Adrian, tapi wajahnya tidak asing. Dia adalah pemilik jaringan supermarket lokal yang gerainya tersebar di seluruh Jakarta.

"Pak Raka? Ibu Dina?" dia menyapa dengan nada yang sangat sopan. "Saya Hendra dari FreshMart Group. Saya sudah berdiri di depan gerai ini selama dua puluh menit hanya untuk melihat truk tua itu menurunkan sayur. Dan saya harus bilang... saya iri."

Dina langsung memasang mode negosiasi profesionalnya. "Apa yang membuat pemilik ratusan gerai supermarket iri pada satu ruko kecil kami, Pak Hendra?"

"Kesegarannya, Bu Dina. Dan ceritanya," Pak Hendra menunjuk ke papan tulis yang menyebut nama Pak Sobari. "Saya punya rantai pasok raksasa, tapi sayur saya harus melewati tiga gudang sebelum sampai ke rak. Hasilnya? Layu dan tidak punya 'wajah'. Saya mau menawarkan kontrak: Bisakah Dapur Ma: Green Farm menjadi pemasok eksklusif untuk lini organik kami?"

Aku melirik Dina. Ini adalah tawaran skala besar kedua setelah Adrian, tapi kali ini terasa berbeda. Ini soal distribusi produk mentah, bukan akuisisi brand.

"Eksklusif itu kata yang berat, Pak Hendra," jawabku tenang. "Prioritas kami adalah mengisi dapur kami sendiri dan memberdayakan petani desa agar tidak lagi bergantung pada satu pembeli besar saja."

"Saya mengerti," Pak Hendra mengangguk cepat. "Tapi bagaimana kalau kita buat sistem shop-in-shop? Pojok Dapur Ma di setiap FreshMart. Kalian tetap pegang kendali mutunya, tetap pakai nama petaninya, kami cuma sediakan panggungnya."

Dina menyentuh lenganku pelan, memberi kode bahwa ini adalah peluang emas untuk melunaskan biaya "Smart Farming" tadi.

"Kami akan pertimbangkan proposalnya, Pak Hendra," kata Dina dengan nada yang memberikan harapan tapi tetap menjaga jarak. "Asalkan sistem logistik Kang Dadang dan teknologi pemetaan kami bisa diintegrasikan ke gudang Bapak. Kami tidak mau sayur kami 'menginap' lebih dari empat jam di fasilitas orang lain."

Setelah Pak Hendra meninggalkan kartu namanya dan pergi, aku menarik napas panjang.

"Din, sepertinya desa kita bakal jadi sangat sibuk bulan depan."

Dina tertawa, menyandarkan kepalanya di bahuku sambil menatap rak sayur yang kini kosong melompong. "Bukan cuma sibuk, Raka. Kita baru saja mulai mengubah cara Jakarta makan. Dari ruko lantai tiga, ke dapur katering, sampai ke tanah pegunungan. Ternyata, bisnis 'kecil-kecilan' ini sudah punya sayap yang sangat lebar."

Aku mengecup keningnya. "Dan semua ini dimulai karena CFO-ku sangat teliti soal angka bumbu."

"Dan karena CEO-ku punya otot untuk melawan tengkulak," balasnya manis.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!