Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
the love one
Angeline masuk ke ruang karaoke besar yang hanya bisa dibooking dengan kartu anggota VIP, ia masuk ke ruangan itu tidak dengan metode grebek-hantam seperti yang direncanakannya semula karena Bianca mewanti-wantinya jangan sampai ia kehilangan harga diri di depan Farah (Number Seven) dan Sisca (number nine) alih-alih emosi ia akan menunjukan pada Bima kalau tanpa pria itu ia bisa bertahan, demi anak mereka, dan tetap stay cool.
Seketika ruangan yang tadinya ramai, langsung hening.
"Angel..." sahut Bima. Farah berada tepat di sebelahnya sedang mengapit lengan pria itu. Angeline meliriknya sinis.
"Bima." Sapa Angeline. "Bisa kita bicara sebentar? 10 menit saja saya minta." desisnya, dengan suara yang dibuat tenang. Padahal dadanya bergemuruh dibakar emosi.
"Oke." Bima langsung beranjak. Farah agak kencang mengapit lengannya sehingga Bima harus memelototinya supaya pegangannya terlepas. Akhirnya dengan enggan Farah melepas tangannya.
Mereka berdua keluar dari ruangan VIP.
"Angel..."
"Kami akan pindah rumah." Angeline langsung berkata. "Kemungkinan ke New Zealand kampung halaman ibuku." Angeline langsung membuka percakapan.
"Kenapa..."
"Disini suasananya sudah tidak bersahabat buat kami. Yang ada hanya kenangan buruk..." sahut Angeline. Bima menatapnya nanar. "...dan lagi di sana Gabriel bisa mendapat pendidikan yang lebih baik. Aku juga bisa memulai hidup baru, karier baru, keluarga baru...."
Bima menarik napas tertahan.
Keluarga baru...
Ia benar-benar tidak siap mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Angeline.
"Gabriel... namanya?"
"Iya... Terasa lebih cocok kalau disatukan dengan namaku." sahut wanita itu.
"Angel..."
"Aku tidak berharap maaf dari kamu karena telah meninggalkan kami."
"...bukan..."
"Dan terimakasih atas nafkah setiap bulannya. Tapi kini aku ngga butuh uang kamu lagi. Aku akan bilang mengenai keberadaan Gabriel dengan orangtuaku, jadi sudah ada kakek neneknya. Kamu bisa... Bebas dari aku mulai sekarang." Angeline memandang Bima, tepat ke matanya. Hanya ada rasa sakit yang tertinggal.
Ia merasa wajahnya panas, air mata hampir mendobrak pertahanan kelopaknya. Ia harus bisa menahannya sekuat tenaga.
"Kami... Akan berusaha bahagia tanpa kamu. Aku juga akan usahakan ada sosok ayah baginya, agar Gabriel tidak menanyakan keberadaan kamu terus, jadi kamu tidak terbebani."
Angeline mengangkat tangan kurusnya, membelai pipi Bima yang kokoh.
"Terimakasih... Sudah memberikan malaikat untukku. Akan aku jaga dengan hidupku." kata Angeline.
Belaian tangan Angeline di rahang Bima, bagaikan lahar panas yang membakar wajahnya.
Sometimes Love can be Love
Sometimes Love can be hurt
Sometimes human can make love
Sometimes human can hurt love
Otherwise, you are not feel as a human when you can not be loved.
"Mari kita menikah." kata Bima.
Tenang, tegas, dan penuh keyakinan.
Angeline menatapnya bagai melihat orang sinting.
"Apa?" tanya wanita itu
"Kita nikah. Secepatnya. Pilih tanggalnya. Mau besok, mau lusa, terserah kamu."
"Untuk apa? Supaya kamu bisa lebih menyakiti aku?"
"Angel..."
"Aku bahkan melihat Farah menggandeng kamu barusan."
Bima menghela napas.
"Waktu itu dia yang angkat telepon kamu, katanya kamu lagi mandi. Lalu kemarin dia berani usir aku saat aku datang. Lalu kalau kita menikah aku ngga berani membayangkan apa yang akan terjadi... bisa jadi aku bakalan dipoligami sama Farah."
"Angel, please..." desis Bima.
"No." Angeline dengan tegas menolak. "Jangan muncul lagi di hadapan kami, juga kami tidak akan muncul di hadapan kamu. Aku tidak akan memberitahu Gabriel kalau mamanya pernah berbuat kesalahan dengan..."
"Dengerin aku. Please?"
"Bima... Selama ini aku ingin ketemu kamu, tapi ngga pernah bisa. Kamu blokir nomer aku, aku ke rumah kamu tapi dihalangi sekuriti, aku ke kantorpun dihalang-halangin. Aku ngga pernah kamu dengerin, berapa lama aku ingin ajak kamu ngomong, Bima?! Dan sekarang kamu minta aku dengerin kamu?!"
"...aku ngga pernah blokir nomor kamu."
Mereka terdiam.
"Aku akan bereskan masalahnya selama ini." desis Bima akhirnya. "Aku mohon kamu jangan kemana-mana dulu, tetap di Indonesia... Lalu, aku ingin kamu terima ini."
Bima mengambil dompet dari saku belakang celananya.
"Aku kan udah bilang aku ngga butuh uang kamu..." kata-kata Angeline langsung berhenti saat Bima mengeluarkan cincin dari dalam resleting dompetnya.
"Aku beli cincin ini setahun lalu saat kita..." Bima tidak meneruskan kalimatnya.
"Udah playboy pembohong pula."
"Ada grafir nama kamu dibaliknya."
"Yang namanya Angeline kan banyak."
"Yang namanya Angeline Prasodjo cuma satu."
Angeline tertegun,
Ia menerima cincin berlian itu dan menatap di baliknya.
Benar-benar ada grafir nama itu di balik cincinnya.
Astaga...
"Aku ngga pernah blokir nomor kamu. Aku bahkan selalu nungguin pesan dari kamu. Aku berharap kamu dapat mengirim foto anak kita, selama ini. Aku ngga pernah minta sekuriti rumahku untuk menghalangi kamu datang, kamu bisa datang kapanpun kamu mau. Dan aku bahkan bilang ke Farah kalau kamu datang bisa menunggu di...." lalu Bima menghela napas berat. "Farah..." geramnya.
"Anyway... Aku akan bereskan itu nanti. Angeline... Aku berniat untuk menikahi kamu. Sudah lama. Oke, aku memang brengsek udah bikin kamu hamil dan melahirkan sendirian, aku juga selalu cari wanita lain untuk melupakan kamu, bahkan mengetes DNA anak itu, tapi akhirnya aku ngga bisa melupakan..."
"Kamu mengetes DNA Gabriel?!"
Bima terdiam.
"Iya..." pria itu mengakuinya.
"Gimana caranya?!"
"Aku minta bantuan Firman untuk ambil bahannya."
Angeline memejamkan matanya menahan kesal. Ia lupa kalau Dokter Firman, dokter anak yang sering memeriksa Gabriel untuk diimunisasi, adalah teman SMA Bima.
"Lalu hasilnya?"
"Akurat 99%... Anakku." sahut Bima. "Aku akan kirimkan laporannya lewat wa nanti."
Angeline menghela napas, lalu menyerahkan cincinnya ke Bima.
"Minta maaf sama aku. Dan berjanji mulai sekarang hanya ada aku wanita di hidup kamu."
Bima menatapnya dalam.
Lalu mengambil cincin itu dari tangan Angeline
Memasukkannya ke jemari Angeline
Dan mencium tangan wanita itu.
"Aku janji. Dan aku... minta maaf." sahut Bima. "Kamu... Mau menikah denganku?"
"Nanti kalau aku mood." sahut Angeline pura-pura cuek.
Bima terkekeh perlahan dan menggenggam jemari Angeline, lalu membawa kedua tangan wanita itu ke belakang pinggangnya agar Angeline memeluknya, lalu ia mencium bibir Angeline.
Ciuman yang sama seperti mereka pertama bertemu.
Ciuman manis yang membuat mereka mabuk kepayang
Ciuman yang menjadi benih cinta mereka terlahir ke dunia.
Dan rasa itu masih sangat mereka ingat...
“Satu lagi...” kata Bima saat ia melepaskan ciumannya.
“Apa? Jangan aneh-aneh aku capek.” Sahut Angeline.
Bima terkekeh lagi. “Ngga ada yang tahu aku di sini malam ini kecuali salah seorang yang ikut hari ini. Kamu tahu dari siapa?”
“Untuk apa aku kasih tahu kamu? Memangnya penting?”
“Aku hanya ingin berterimakasih.”
Angeline tersenyum penuh arti. “Aku rasa kamu sudah tahu siapa orangnya.” Lalu wanita itu melepaskan pelukannya.
"Aku pulang. Besok kamu ke apartemenku. Ketemu Gabriel. Bye!!" Angeline berbalik dan menyusuri koridor toko ke arah pintu keluar dengan binar di matanya.
Bima menatap sosok wanita kesayangannya yang menjauh dengan perasaan lega.
Sekarang...
Tinggal bikin perhitungan.
Ia membuka pintu ruangan VIP dengan kasar, menarik Farah dan mencengkeram kerah wanita itu dan mendesaknya ke dinding dengan kasar.
Terdengar teriakan kaget dari orang-orang yang ada disana.
"Kamu yang blokir nomer Angel?"
Farah hanya menatapnya dengan ketakutan.
"Kamu juga yang bilang ke security rumah saya untuk menghalangi Angel datang?"
"Eh...em..." Farah tergagap.
"Kamu bilang kemarin Angel ke sini marah-marah karena uang bulanannya kurang... Itu juga bohong, hah?!"
"Eh..."
"Jawab!!!" teriak Bima.
Semua hening mendengarkan.
Yang terdengar hanya isak tangis Farah.
"Mulai hari Senin, saya ngga mau lihat muka kamu lagi. Wisnu, kamu dengar?! Singkirkan jala**ng ini dari hadapan saya."
Dan Bima mengambil suitnya di kursi, lalu keluar dari ruangan.
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.