Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.
Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.
Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!
Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?
"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
"Duh... kenapa perutku mendadak mules pelintir begini sih?! Sialan, jangan-jangan ubi ini beracun!"
Takut terjadi bencana memalukan yang mengotori kasur mewahnya, Linzy berlari kencang secepat ninja menuju kamar mandi indahnya yang berlapis marmer Italia. Ia langsung duduk di atas toilet duduk, wajahnya memerah padam menahan tekanan udara dari dalam perutnya yang sudah di ujung tanduk. Dan akhirnya, suara knalpot yang paling tidak diinginkan oleh seorang nona muda terhormat pun meledak bebas.
Puruputttt... putt... putt... putt... dott!
Suara ledakan gas lambung itu bergema dahsyat, memantul di dinding-dinding kamar mandi marmer yang luas dan sunyi tersebut. Linzy langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis malu pada dirinya sendiri meskipun tidak ada orang lain di dalam sana.
Namun, tepat di detik berikutnya, indra penciumannya mendadak menangkap anomali yang luar biasa gila. Bukannya aroma tak sedap khas toilet yang menguar, seluruh ruangan kamar mandi mewah itu perlahan-lahan dipenuhi oleh kepulan asap transparan tipis yang berbau harum semerbak bunga mawar segar yang luar biasa mewah.
Bersamaan dengan meresapnya aroma mawar itu ke pori-pori kulitnya, rasa perih akibat luka bakar di tubuhnya mendadak lenyap, berganti sensasi sejuk yang menenangkan.
Linzy mendongak dengan napas terengah-engah, menatap lurus ke arah cermin wastafel besar di hadapannya yang selama satu tahun ini sengaja ia tutup rapat menggunakan kain hitam agar tidak perlu melihat wujud buruk rupanya.
Dengan tangan yang bergetar hebat menahan luapan emosi, Linzy mengangkat lengannya, bersiap menyibak kain penutup cermin itu demi membuktikan apakah ramalan gila pengemis tua itu nyata atau sekadar halusinasi kegilaannya semata.
****
Di dalam kamar mandi mewah yang berlapis marmer Carrara putih bersih, napas Linzy menderu tidak teratur, naik turun memburu oksigen. Aroma mawar premium yang semerbak pekat menyelimuti ruangan itu, menyingkirkan bau lembap yang biasanya terasa pengap.
Dengan jantung yang bertalu-talu bagaikan genderang perang di balik dadanya, Linzy memberanikan diri. Perlahan-lahan, ia mendongak menatap cermin besar yang ada di hadapannya.
"Alamaoyy... siapa kau?!"
Pekikan kaget dengan logat yang campur aduk itu lolos begitu saja dari bibir Linzy. Matanya membelalak sangat lebar, nyaris tak berkedip menatap pantulan di cermin wastafel.
Bagaimana tidak? Sosok gadis yang ada di dalam cermin di depannya adalah seorang perempuan yang luar biasa cantik. Wajahnya yang semula kusam, hancur, dan dipenuhi oleh bekas luka bakar yang mengerikan akibat tragedi malam berdarah setahun lalu, kini telah berganti menjadi kulit yang putih bersih, halus, dan bercahaya layaknya porselen mahal dinasti Ming.
Bahkan lebih gila dari itu; wajah ini jauh lebih jelita daripada wajah aslinya sebelum tragedi kebakaran menimpanya. Hidungnya tampak lebih mancung sempurna dengan struktur mungil yang proporsional, bibirnya merah merekah alami seperti kelopak bunga mawar yang baru mekar, dan sepasang matanya berbinar jernih bak telaga terdalam.
Tidak hanya wajah. Linzy segera menyingkap lengan hoodie longgarnya dengan gerakan panik. Matanya kembali berkaca-kaca melihat kulit tangannya yang kini mulus tanpa cacat sepeser pun. Benar-benar tidak ada sisa-sisa luka bakar yang selama ini menjadi mimpi buruk psikologisnya. Tubuhnya kini kembali sempurna, bahkan memiliki lekuk yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Saking syoknya menerima kenyataan visual tersebut, lutut Linzy lemas. Ia sempat jatuh terduduk di atas lantai marmer sejenak sebelum akhirnya bangkit dan berlari keluar dari kamar mandi dengan kaki telanjang. Ia menerjang masuk ke dalam kamarnya yang luas, langsung menuju meja rias kayu jati yang biasanya selalu ia hindari seumur hidup.
Di bawah pendar lampu kristal kamarnya yang mewah, ia kembali mengecek keadaannya melalui cermin meja rias. Tangannya yang ramping dan lembut meraba pipinya sendiri dengan gerakan ragu, memastikan bahwa yang ia sentuh adalah daging dan kulit asli, bukan sekadar halusinasi akibat diare ubi rebus.
"Ini... ini beneran aku?" bisiknya dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis bahagia.
Ternyata itu memang benar rupa wajahnya. Dia tidak sedang berhalusinasi. Berkali-kali Linzy mengucek matanya dengan punggung tangan, lalu mencubit pipinya sendiri dengan keras sampai terasa perih menyengat.
Rasa sakit itu meyakinkannya bahwa ini bukanlah mimpi di siang bolong. Keajaiban dari ubi rebus pemberian Nenek Tari ternyata nyata—ia telah kembali menjadi cantik, bahkan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan dalam fantasi terliarnya.
Linzy berdiri mematung di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan perasaan yang campur aduk antara bahagia, takut, dan takjub yang luar biasa. Ia menyadari satu hal: dunia luar tidak akan lagi menatapnya dengan pandangan jijik.
Tapi di sisi lain, ia harus mengingat batasan waktu Cinderella Effect yang ditekankan sang nenek: semua sihir ini akan menguap tepat pukul dua belas malam.
****
Sementara itu, di salah satu lobi mal megah yang menjulang tinggi di pusat Jakarta, Alin melangkah keluar dengan napas sedikit terengah-engah. Kedua tangannya menjinjing kantong plastik besar berisi tumpukan buku tulis dan alat tulis baru yang aromanya masih khas kertas pabrik.
Sebelum berangkat kerja ke rumah makan Bu Sinta, Alin berniat mencari makan terlebih dahulu, sebab perutnya sudah mulai melilit perih karena belum terisi sejak pagi hari.
Tepat di area depan pintu keluar kaca mal, langkah kaki Alin mendadak terhenti. Matanya tertuju pada seorang wanita paruh baya yang tampak kebingungan di dekat pilar. Wanita itu berdiri mematung sambil menenteng beberapa paperbag bermerek mewah, wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan raut cemas yang kentara.
Didorong oleh rasa iba sesama manusia, Alin melangkah menghampiri wanita tersebut. "Permisi Tante, sepertinya Tante sedang butuh bantuan? Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Alin dengan suara lembut yang sangat sopan.
Wanita itu menoleh cepat, menatap Alin dengan binar harapan yang mendadak terbit. "Begini... dompet saya hilang, dan saya tidak tahu jatuh di mana. Handphone saya pun mati total karena lowbat, jadi saya kebingungan di sini. Sudah saya cari ke mana-mana di sekitaran koridor ini dan melapor pada satpam di depan, tapi belum ada kabar sama sekali. Kalau boleh, saya mau minta tolong, Nak? Saya mau pinjam uang tunai untuk ongkos taksi pulang," ucap wanita itu dengan nada bicara yang sangat berkelas, meskipun suaranya terdengar sedikit gemetar menahan panik.
Alin mengamati wanita di hadapannya dari jarak dekat. Secara visual, wanita ini tampak luar biasa elegan dan anggun. Alin memperkirakan usianya sekitar 40-an tahun, namun kecantikannya sangat mencolok karena ciri fisik asing yang kental. Matanya berwarna biru jernih seperti samudera, dipadukan dengan rambut pirang (blonde) alami yang tertata rapi. Pakaian yang dikenakannya tampak sangat mahal dari desainer ternama, menunjukkan ia berasal dari kalangan kelas atas.
Krucukk!
Tiba-tiba, sebuah suara nyaring yang sangat tidak estetik berasal dari perut Alin yang meronta-ronta minta diisi karbohidrat. Seketika itu pula, wajah Alin memerah padam sampai ke telinga menahan malu tingkat dewa. Ia meremas ujung bajunya yang belel, merasa sungguh tidak tahu situasi mengapa perutnya ini harus berdemo di depan orang asing yang tampak terpandang.
"Eum... maaf Tante, perut saya sangat lapar. Dan kebetulan... saya juga tidak punya uang tunai di dompet saat ini. Bagaimana kalau Tante ikut saya ke mesin ATM terdekat di seberang, terus kita cari makan siang dulu?" tawar Alin sambil menunduk canggung,
Wanita bule paruh baya itu tersenyum tipis, merasa sangat terharu dengan kejujuran dan ketulusan Alin yang polos. "Ya sudah kalau begitu, ayok!!"
Tanpa ragu, wanita itu langsung menggandeng tangan Alin dengan hangat, seolah mereka sudah saling kenal selama puluhan tahun. Mereka berjalan bersama menuju mesin ATM terdekat, lalu berlanjut melangkah ke sebuah restoran keluarga yang tak jauh dari sana.
Aroma bumbu bakaran yang gurih langsung menyambut indra penciuman mereka saat memasuki restoran ber-AC tersebut. Alin yang sudah tidak tahan lagi menahan lapar langsung memesan ayam goreng tepung dan ikan gurame bakar porsi besar lengkap dengan nasi putih yang mengepul hangat.
Begitu pesanan datang, Alin langsung melahapnya dengan sangat lahap tanpa memedulikan etiket, sementara wanita itu hanya memesan minuman segar dan duduk anggun memperhatikannya.
Namun, wanita itu mendadak terpaku diam menatap cara Alin mengunyah makanan. Gerakan tangannya, cara dia memegang sendok, bahkan struktur tulang pipinya saat tersenyum...
Dia mirip sekali dengan Alysa... wajahnya, matanya. Tapi tidak mungkin dia adalah anak yang hilang itu, kan?