Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Tidak terasa libur sekolah pun telah tiba, setelah kurang lebih satu minggu dibuat pusing oleh ujian tengah semester. Dan sekarang, mereka sudah terlepas dari itu semua, termasuk kampus tempat Kaivandra berkuliah. Jika Valeska bisa menikmati waktu libur, beda halnya dengan Kaivandra yang malah menyibukkan diri bersama teman-temannya.
Entah belajar bareng, membuat sebuah projek, atau malah kata menyibukkan itu hanya sebuah wacana lantaran terlena dengan kata liburan.
Seorang gadis keluar dari dalam kamar, sembari menyeret koper berwarna biru. Setelah menutup pintu, dia dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tidak pernah ia duga. Valeska melihat mamanya yang entah kapan dia datang ke apartemen.
"Adek," panggil Delina sembari tersenyum manis ke arah putri bungsunya.
Dengan terpaksa, Valeska menghentikan langkahnya dan tersenyum balik pada sang mama. "Lho, adek mau kemana?"
"Adek, mau liburan bersama teman-teman adek, Ma."
"Ternyata benar apa kata abang, kalau adek mau liburan bersama teman-teman? Padahal Mama udah ke sini, tapi adek nya malah keluar," ucap Delina.
"Kan abang udah pernah bilang, segera ajak adek jalan-jalan, kalau udah begini mau gimana? Masa harus dibatalin? Nggak masuk akal banget." Sahut Kaivandra yang tiba-tiba keluar dari arah dapur.
"Tapi bang ..." Delina memperlihatkan tiket pesawat yang baru saja dia pesan beberapa waktu yang lalu.
"Mama udah pesan tiket buat ke Bali, kalau nggak jadi, tiketnya hangus dong." Delina menatap ke arah Valeska, dengan tatapan penuh harap. Delina berpikir, bahwa Valeska lebih memilih pergi dengannya dibandingkan dengan teman-temannya. Tapi ternyata.
"Ma, Adek mau berangkat sekarang ya. Temen-temen udah nunggu di lobi apart,"
"Adek milih pergi sama merek--" ucapan Delina terhenti begitu saja setelah mendengar suara panggilan telpon dari salah satu teman Valeska.Suara yang nyaring, berhasil mengalihkan atensi mereka yang berada di sana.
"Iya kenapa?"
"Kita udah di lobi, ayok turun sekarang. Kami tunggu,"
"Ok." Jawabnya singkat, panggilan pun terputus.
Untuk menjawab rasa penasaran, Delina pun keluar mengikuti Valeska dan Kaivandra yang sudah lebih dulu berjalan menuju lift. Begitu sampai di lantai dasar, mereka dikejutkan oleh mini bus yang sudah terparkir rapi di apartemen.
"Ini siapa yang bawa tayo ke sini?" tanya Kaivandra, tidak habis pikir.
"Mama sewa bus?" sekarang giliran Valeska yang bertanya pada sang mama.
Delina menggelengkan kepala, "Bukan," jawabnya singkat. "Lah, terus?"
"Hallo, Valeska Delina Putri. Apakah sudah siap untuk liburan hari ini dan hari berikutnya? Kalau memang sudah siap, mengangguk'lah sebagai jawaban." Ujar Prisha, dengan nada yang begitu antusias.
"Yuhuu! Liburannya jadi, no wacana!" teriak Anaya, tidak kalah antusias.
Mereka bertiga pun keluar dari dalam mini bus, dan langsung mengambil alih koper milik Valeska. Sementara dia malah menatap ketiga temannya tanpa berkedip, begitupun dengan Kaivandra yang masih dibuat shik shak shok. Beberapa saat kemudian, Valeska mengangguk dan tertawa melihat tingkah temanya.
"Astaga, kalian mau kemana sih? Kok nyampe bawa mini bus? Itu juga, nyampe bawa koper, mau berapa hari kalian di sana?" tanya Delina, sembari memperhatikan bagasi yang penuh dengan koper.
"Tante, kita semua itu cewek. Otomatis, keperluan kita pun banyak, harus ada skincare, body care, hair care, makeup, dan masih banyak lagi. Iya kan?" tanya Prisha pada teman-temannya. Demi menjaga mood Prisha agar tetap baik, mereka pun mengiyakan.
"Lho? Ada yang mau pindahan?"
"Mau liburan," jawab Kaivandra pada temannya yang baru saja sampai.
"Kemana? Gue juga mau ikut," sahut Vikara.
Buk!
"Paan sih, itu khusus cewek doang. Mana ada cowok ikutan, nggak boleh," Satya memukul bahu Vikara.
"Kitajuga bakal liburan, tapi setelah laporan selesai,"
"Udah ish, jangan pada berantem kak," tegur Valeska.
"Ini ide siapa naik bus segala?" tanya Valeska pada ketiga temannya. Diluar prediksi juga, jalan-jalan naik bus kayak gini, berasa study tour.
Prisha dan Laksha menunjuk ke arah Anaya, secara kompak. Dan yang ditunjuk malah tertawa pelan.
"Disuruh ayah bawa ini, masa harus ditolak, sayang banget. Kadang kesempatan nggak akan datang berkali-kali."
"Ekhem." Deheman keras mengalihkan semua atensi mereka, dan nyatanya, Delina masih berdiri di antara
mereka semua. Dia enggan meninggalkan tempat itu, karena merasa tertarik pada kejadian pagi ini.
"Eh iya Tan, maaf hampir lupa kalau di antara kita ada Tante, sekali lagi mohon maaf." Ucap Anaya sopan, sembari menyalami tangan mama Valeska, diikuti oleh Laksha, dan Prisha.
Sementara ketiga teman Kaivandra, mereka hanya tersenyum ramah pada orang yang berada di dekatnya.
"Tante, putrinya udah remaja, nanti kalau nikah dengan saya, berikan restu ya," ucap Vikara, yang langsung
mendapatkan pukulan dari Kaivandra.
"Jangan macam-macam. Jangan dengerin Ma, ini anak emang otaknya agak gesrek. Maklum, kebanyakan ngerjain laporan,
"Delina hanya terkekeh ringan, saat mendengar perkataan Vikara. Dia sudah tidak heran lagi, wajar saja teman putranya itu berkata demikian karena Delina sendiri menyadari betapa cantiknya Valeska.
"Gen saya gitu lho." Ucap Delina dalam hati.
"Tante, bang Kaivandra, dan kakak semua yang ada di sini. Sebelumnya maaf, kita nggak punya banyak waktu, jadi kita mau izin untuk berangkat liburan sekarang, apa boleh?" tanya Prisha, sekaligus meminta izin.
Delina dan Kaivandra tidak langsung menjawab, keduanya fokus menatap satu persatu teman Valeska. Sadar akan tatapan itu, mereka pun menundukkan kepalanya, agak grogi juga kalau ditatap seperti itu, apalagi kalau yang natap cowok ganteng seperti Kaivandra.
"Jangan khawatir, bang, kita akan pulang dalam kondisi selamat. Dan pastinya, tidak ada yang cacat sedikitpun pada Valeska, lagipula di dalam ada om saya juga, yang kebetulan akan menemani kita berempat selama di perjalanan." Jelas Anaya, berusaha meyakinkan.
"Gimana bang, bolehkan?" tanya Laksha, karena sejak tadi melihat Kaivandra terdiam.
Sebenarnya Kaivandra takut adiknya kenapa-napa, bisa jadi penyakitnya itu tiba-tiba kambuh, tapi semoga saja tidak.
"Bang ..." panggil Valeska, pelan.
Dia paham apa yang ada di pikiran abangnya. Kaivandra tidak menjawab, dan membiarkan ucapan Valeska mengayun di udara. Dia beralih menatap mini bus, lalu melihat seorang pria dewasa yang sedang berdiri di sana.
"Boleh, asal hati-hati. Jangan terlalu kecapean, begitu sampai, langsung istirahat besoknya baru boleh main. Jangan tidur larut malam, makan yang cukup, kalau ada apa-apa kabari aja,"
"Horee! Kita liburan, yeey akhirnya." Mereka bersorak setelah Kaivandra memberikan izin. Akhirnya, usaha meyakinkan abangnya Valeska berbuah manis juga.
Meskipun demikian, Kaivandra masih menahan rasa takut.
"Dek, semua obatnya dibawa'kan? Awas ada yang ketinggalan, jangan lupa satu hari tiga kali, dan yang ijo lumut diminum di jam makan siang."
"Astaga abang, bawel banget. Ini udah adek masukin kok, udah jangan terlalu khawatir. Adek gapapa, sekalipun kenapa-napa, kan ada abang yang selalu ada buat adek," jawab Valeska sembari memeluk abangnya.
"Memang kalian mau liburan kemana?" tanya Delina, yang sejak tadi penasaran.
"Pastinya ke tempat yang seru, banyak kenangan, terdapat kasih sayang, dan masih banyak lagi hal indah yang bakal adek dapatkan di sana," Valeska berkata dengan nada tengil.
"Dek, nggak baik tahu liburan sampai berhari-hari, apalagi nginep di rumah orang lain," kali ini Delina mencoba menasehati.
"Bang, kok Mama bilang kayak gitu?" tanya Valeska, sembari memasang wajah melas.
"Padahal adek pengen mengukir banyak kenangan indah sebelum adek pergi jauh, adek juga pengen menghabisi waktu dengan orang-orang tersayang. Apa adek salah?" Valeska bertanya lagi.
"Hus, nggak boleh gitu. Adek nggak akan pergi jauh, adek bakal ada di sisi abang selamanya. Mending berangkat sekarang, kasihan teman-temannya nunggu lama, masalah Mama, nanti abang yang urus."
Lanjut Kaivandra, sembari mengelus punggung sang adik.
"Berangkat apa tidak?" Seru, Anaya.
"Kalau donatur sudah berkata, nunggu apalagi? Let's goo kawaan!"
"Kita pamit dulu, bang. Kita pamit ya semuaa, bye." Ujar Prisha, lalu melambaikan tangannya disusul oleh ketiga temannya.
"Hati-hati kalian,"
"Siap, kakak teknik. Kita pamit, semoga kalian bisa cepat healing, tinggalkan semua tugas laporan kalian."
***
Minibus yang mereka tumpangi perlahan melaju, membelah padatnya jalan raya yang dipenuhi deretan kendaraan. Meski terjebak dalam kemacetan, semangat mereka tak surut sedikit pun. Guratan kebahagiaan begitu jelas terpancar di wajah mereka berempat, menambah kehangatan suasana di dalam bus.
Setelah dua jam berlalu, suasana di dalam bus mulai tenang, berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya. Canda tawa dan lantunan suara mereka yang berkaraoke kini mereda, tergantikan oleh keheningan lembut. Kelelahan akhirnya memeluk mereka satu per satu, membuat mereka terlelap di kursi masing-masing.
Perjalanan masih panjang, sekitar tiga jam lagi menuju tempat tujuan, namun kehangatan kebersamaan mereka terus terasa dalam damai tidur yang kini mengisi sisa perjalanan. Valeska dan ketiga temannya tampak menikmati waktu liburan dengan penuh kebahagiaan. Tawa mereka mengalun ringan, meresapi momen kebersamaan yang telah lama mereka rindukan. Namun, beda halnya dengan Kaivandra dan teman-temannya. Mereka duduk dengan penuh konsentrasi, tenggelam dalam diskusi tentang mata kuliah yang telah dipelajari, mengurai materi demi materi dengan penuh perhatian.
Di sisi lain, Vikara tampak sedikit gusar. Rasa kesal terlihat jelas di raut wajahnya. Di antara mereka, dialah yang merasa paling sulit mengingat materi. Setelah berusaha keras, akhirnya ia hanya bisa pasrah, menahan kekesalan yang mengendap dalam dirinya sendiri, berharap kelak pemahaman itu datang seiring waktu.
"Betul! Kata gue mah, ini mirip dengan konsep jalan tol, deh. Coba kalian bayangin kalau cuma ada satu jalur, semua kendaraan harus lewat situ. Nah, itu rangkaian seri. Tapi kalau ada beberapa jalur, kendaraan bisa menyebar, itu rangkaian paralel," jelas Kaivandra.
Arjuna mengangguk setuju, "Ah, jadi intinya kayak jalur ya! Hmm ... tapi kenapa ya, tegangan di rangkaian paralel itu justru sama di setiap jalurnya, padahal arusnya beda?"
"Itu karena tiap cabang di rangkaian paralel tuh langsung terhubung ke sumber tegangannya, makanya tegangannya tetap. Jadi, misalnya di satu cabang tegangannya 12 volt, ya di cabang lain juga akan sama, Jun," Kaivandra menjelaskan kepada teman-temannya beserta contoh yang dia pahami.
"Ada benernya juga apa kata lo, Kai. Makanya di rangkaian paralel, kalau salah satu komponennya rusak, otomatis komponen lainnya masih bisa nyala. Tapi di rangkaian seri, kalau satu komponen putus, semua ikut mati." Kali ini Satya ikut nimbrung, setelah diam sejenak karena kurang pemahaman.
"Oke, ini mulai nyambung nih. Terus soal perhitungan dayanya gimana, sih? Kayaknya rumit banget kalau udah pakai P\=V×I segala,"
"Nah, dari sini udah mulai ada celah. Kalau udah masuk daya, kita harus hati-hati. Di rangkaian seri, daya itu hitungnya dari total arus dan tegangan yang melewati setiap komponen. Sementara di paralel, total dayanya akumulasi dari semua cabang,"
"Oh, berarti kalau makin banyak cabang, kebutuhan arusnya makin besar juga ya?" tanya Vikara, yang sejak tadi terdiam.
Kaivandra mengangguk, lalu berkata, "Benar banget! Makanya rangkaian paralel lebih banyak makan arus dibanding seri."
Vikara menghela napas panjang, "Gila, ya. Sekilas kelihatannya gampang, tapi kalau nggak benar-benar dipahami, bisa bikin kepala mumet."
"Haha, namanya juga teknik. Nggak apa-apa mumet, itu tandanya kita mikir." Sahut Arjuna, diawali dengan tertawa puas.
Mereka melanjutkan diskusi dengan semangat, sambil sesekali tertawa di tengah pembahasan yang serius. Dalam diskusi ini, rupanya Kaivandra yang lebih paham dibanding yang lain. Sesekali, dia mencoret catatan milik temannya yang dirasa kurang pas.
Diskusi ini berlangsung selama 2 jam. Setelahnya mereka keluar dari apartemen karena ingin meregangkan badannya dengan cara berolahraga yang mereka sukai.