✨Rilis episode setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at, pukul 19.00 wib ✨
Di dunia lamanya Ren Akasa adalah pria kantor yang di perlakukan buruk oleh atasan dan juga rekan kerjanya.
Tekanan kerjaan yang gila, gaji yang sering di tunda juga rekan kerja yang manipulatif. Suatu ketika ia di tarik ke dunia lain, BUKAN untuk menjadi PAHLAWAN melainkan untuk menjadi RAJA IBLIS.
Antara menjadi penyelamat yang bijak, atau menjadi penguasa tirani yang dingin, mengingat selama hidupnya di dunia nyata ia diperlakukan bagai pecundang.
dengan kekuatan yang Ren miliki, apakah dunia lain akan menjadi pelampiasannya akibat perlakuan dari dunia lamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lorenzo Leonhart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karantina Api dan Sisa Nurani
Disebuah dimensi yang tak ada siklus siang dan malam, tampak kembali sosok wanita bergaun putih polos panjang tanpa perhiasan emas atau permata yang mencolok.
Wanita itu terlihat tengah berada di hamparan awan-awan lembut yang disekitarnya ada sungai dengan air jernih mengalir, wanita itu mengambil air dari sungai itu dengan wadah penampung air untuk menyiram tanaman (gembor) berwarna biru muda, berbahan seperti kristal bening yang sepertinya itu adalah Orichalcum (logam paling langka di Aetheria).
Ia berjalan membawa gembor yang telah terisi air dengan telanjang kaki, setiap langkah kakinya memperlihatkan keanggunannya, kakinya yang indah itu tampak berkilau, suasana yang hangat membuat kakinya terlihat semakin indah.
Langkahnya terhenti di suatu kebun yang ramai bunga-bunga indah, tampak ia menyirami suatu tanaman yang sudah tumbuh tunas di dalam sebuah pot yang sejajar dengan pot lainnya, hanya saja pot yang satu ini tampak lebih istimewa, karena ia di pisahkan dan di beri jarak dari pot lainnya.
Wajah cantik dan anggunnya menatap lebih dekat pada tanaman istimewa itu dalam jarak satu jengkal tangan, ia menyentuh lembut dengan ujung jari telunjuk indahnya, lalu kemudian ia tersenyum dengan lembutnya.
Lokasi: Kota Dagang Gold Harbour, Gerbang Barat.
Waktu: Menjelang Tengah Malam.
Gold Harbour adalah permata ekonomi Arthemis. Kota ini tidak pernah tidur, pelabuhannya selalu ramai dengan kapal-kapal rempah, dan gerbang daratnya biasanya terbuka bagi kafilah dagang hingga fajar.
Namun malam ini, suasana di sana terasa mencekam. Pesan anonim yang dikirim oleh Mika, yang memperingatkan tentang "Wabah yang memakan jiwa" telah sampai ke tangan Gubernur Kota, Lord Berwick.
Namun, alih-alih waspada, Lord Berwick justru tertawa sambil membakar surat itu di depan para pengawalnya.
"Pesan dari iblis Vargos? Mereka pikir kita bodoh?" ejek Berwick sambil menyesap anggur mahalnya. "Mereka hanya ingin kita menutup jalur dagang agar ekonomi kita lumpuh.
Perketat penjagaan, tapi jangan tutup gerbang. Bisnis harus tetap berjalan!"
Keputusan itu adalah lonceng kematian bagi Gold Harbour.
Di luar tembok kota yang megah, kegelapan hutan seolah bernapas. Tak ada suara serangga, hanya keheningan yang berat. Tiba-tiba, dari balik semak-semak, sesosok bayangan merangkak keluar dengan gerakan menyentak. Itu adalah seorang petani dari desa Riveru yang hilang kontak. Kulitnya pucat keabu-abuan, dan dari rahangnya yang robek, cairan hitam menetes perlahan.
"Berhenti di sana, warga!" teriak seorang penjaga tembok sambil mengacungkan tombak. "Identifikasi dirimu!"
Petani itu tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan suara gurgling yang dalam sebelum melompat dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa. Ia menabrak penjaga itu, dan dalam sekejap, taring-taring yang tumbuh secara tidak alami di mulutnya merobek leher sang prajurit.
Kekacauan meledak dalam hitungan detik. Dari balik kegelapan, ratusan Chaos Thralls yang dibawa Kenji menyerbu seperti air bah hitam. Penjaga kota yang mencoba melawan dengan sihir cahaya terkejut saat melihat mantra mereka justru "dimakan" oleh kabut hitam yang menyelimuti para monster itu.
Jeritan mulai menggema di seluruh kota. Di tengah kekacauan itu, Kenji Sato berdiri di atas bukit kecil yang menghadap ke kota, matanya yang kuning reptil berpendar penuh kepuasan.
"Makan... teruslah makan," desis Kenji. "Jadilah bagian dari keabadianku."
Lokasi: Langit di atas Gold Harbour.
Tiba-tiba, suara kepakan sayap yang berat membelah udara malam. Namun, ini bukan kepakan sayap organik biasa. Ada suara desis uap dan denting logam yang ritmis.
Dari balik awan, pasukan Sky Raider Harpy muncul dengan formasi V yang sempurna. Di bawah perut mereka, tergantung selongsong tong raksasa yang dirakit oleh tenaga kasar Gorn dan dilengkapi pengait magnetis presisi buatan Thrumm.
Ratu Syra memimpin di depan, mengenakan helm taktis yang menyambungkan penglihatannya langsung ke Menara Regulus.
"Target teridentifikasi. Zona infeksi telah mencapai 30% area pemukiman luar," suara Syra terdengar dingin lewat kristal transmisi.
Di balkon Menara Regulus, Ren berdiri menatap layar hologram yang menampilkan umpan visual dari mata kelelawar pengintai. Wajahnya diterangi cahaya ungu dari panel kontrol. Di kepalanya, Mahkota Raja Iblis berpendar redup, mengirimkan denyut energi dingin yang menekan emosi manusianya ke titik terendah.
"Tuan Leon, apakah kita harus menunggu evakuasi warga?" tanya Silas yang berdiri di belakangnya.
"Tidak ada waktu," jawab Ren tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya datar, tanpa getaran empati. "Jika satu saja dari mereka keluar dari tembok, seluruh wilayah Arthemis akan menjadi zona mati. Syra, laksanakan protokol Scorched Earth (Bumi Hangus). Bakar semua yang ada di luar tembok utama."
"Laksanakan!"
Syra memberikan isyarat tangan. "Gorn, Thrumm, pastikan muatannya lepas sekarang! Lepaskan tong Napalm!"
Ratusan tong raksasa dilepaskan secara serentak. Saat tong-tong itu jatuh menghantam tanah dan kerumunan Chaos Thralls, sistem pemicu yang dirancang Thrumm bekerja sempurna.
BOOM! BOOM! BOOM!
Ledakan besar berwarna ungu menyelimuti gerbang barat. Itu bukan api biasa, melainkan Napalm Miasma, cairan pembakar yang dicampur dengan energi negatif Vargos untuk menghancurkan sel biologis hingga ke level molekul.
Api ungu itu menjilat apa saja, membakar monster-monster Kenji yang berteriak melengking saat tubuh mereka yang biasanya bisa beregenerasi kini mencair menjadi abu hitam.
Kenji yang melihat hal itu dari kejauhan menggeram murka. "LEON! Kau berani mencampuri urusanku lagi?!"
Lokasi: Pelataran Gerbang Barat Gold Harbour.
Leon memutuskan untuk turun langsung ke lapangan. Ia melompat dari naga terbangnya, jubah hitamnya berkibar saat ia mendarat dengan dentuman keras di tengah jalanan kota yang kini menjadi lautan api ungu.
Pedang hitamnya, Void Reaver, terhunus. Di sekelilingnya, mayat-mayat monster Kenji berserakan. Namun, pemandangan di depannya jauh lebih mengerikan.
Seorang prajurit muda Arthemis, mungkin usianya belum genap dua puluh tahun, tergeletak di bawah pilar yang runtuh.
Setengah tubuhnya telah terinfeksi. Urat-urat hitam menonjol di lehernya, dan satu matanya telah berubah menjadi kuning liar seperti Kenji. Namun, ia belum sepenuhnya berubah.
Prajurit itu menatap Leon dengan mata manusianya yang tersisa, penuh dengan air mata dan ketakutan yang murni.
"Tolong... Tuan..." prajurit itu merintih, tangannya yang gemetar berusaha menggapai jubah Leon. "Sakit sekali... apakah... apakah aku akan selamat? Ibuku... dia ada di dalam kota..."
Leon terdiam sejenak. Secara logika, otaknya sebagai Ren tahu bahwa pemuda ini sangat menderita. Ia seharusnya merasa sedih, atau setidaknya ragu. Namun, Mahkota Raja Iblis di kepalanya berdenyut kencang. Dingin. Mahkota itu membisikkan bahwa prajurit ini hanyalah "sampah biologis" yang berisiko menulari wilayahnya.
Ren berjalan mendekat. Ia tidak berjongkok untuk menghibur, ia hanya menatap rendah pemuda itu.
"Kau sudah terinfeksi," ucap Ren dingin. Suaranya tidak memiliki kehangatan seorang pahlawan. "Dalam dua menit, kau akan menjadi monster yang memakan ibumu sendiri. Satu-satunya rahmat yang bisa kuberikan adalah kematian yang cepat."
"T-tidak... tolong... aku masih bisa... aku masih merasa..." pemuda itu terbatuk, mengeluarkan cairan hitam. Kesadarannya mulai memudar, namun ia masih memohon dengan sisa-sisa jiwanya.
Tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, Ren mengangkat pedangnya.
SRET!
Satu tebasan bersih memisahkan kepala prajurit itu dari tubuhnya sebelum mutasinya selesai. Tidak ada keraguan di tangan Leon. Tidak ada air mata. Ia hanya mengibaskan darah hitam dari bilah pedangnya seolah-olah ia baru saja membersihkan debu.
[Sistem: Ancaman Dinetralkan. EXP didapatkan.]
Ren menatap layar sistem itu dengan tatapan kosong. Untuk sesaat, keheningan di sekitarnya terasa menyiksa. Di bawah pengaruh Mahkota, ia merasa sangat kuat, sangat efisien, dan sangat... kosong.
Apakah aku benar-benar baru saja melakukannya tanpa berkedip? Sebuah suara kecil di sudut terjauh pikirannya bertanya. Itu adalah suara Ren Akasa yang asli.
"Tuan Leon?" Mika mendarat di sampingnya, menatap mayat prajurit itu lalu menatap tuannya dengan cemas. Mika, yang biasanya santai, kini merasa ada yang salah dengan aura Leon. "Kita harus segera mengejar Kenji. Dia melarikan diri ke arah pelabuhan."
Ren tidak menjawab segera. Ia menyentuh Mahkota yang ada di kepalanya. Logam dingin itu terasa seperti bagian dari tengkoraknya sekarang. Ia merindukan rasa takut. Ia merindukan rasa bersalah. Ia merindukan perasaan menjadi manusia yang lemah namun memiliki hati.
"Mika," panggil Leon pelan, matanya masih menatap ke arah kobaran api ungu yang melahap sisa-sisa penduduk desa Riveru yang terinfeksi.
"Ya, Tuan?"
"Setelah kekacauan Kenji ini selesai... aku ingin meninggalkan Vargos sebentar."
Mika memiringkan kepalanya, bingung. "Maksud Anda, perjalanan dinas? Ingin menaklukkan wilayah lain?"
"Bukan," Leon berbalik, menatap Mika dengan mata yang sesaat kembali berwarna hitam normal sebelum kembali menjadi merah ungu. "Aku ingin menyamar. Aku akan pergi ke ibu kota Arthemis, mendaftar sebagai petualang tingkat rendah, dan hidup di antara manusia.
Tanpa mahkota ini. Tanpa pasukan ini."
Mika terbelalak. "Tapi itu sangat berbahaya! Jika identitas Anda terbongkar"
"Aku harus melakukannya, Mika," potong Ren, suaranya kini terdengar sedikit lebih manusiawi, sedikit lebih rapuh. "Jika aku terus berada di sini, mengenakan mahkota ini dan membuat keputusan 'logis' sebagai Raja Iblis... aku takut suatu hari nanti, saat aku menatap cermin, aku tidak akan menemukan Ren Akasa lagi. Aku akan menjadi iblis sungguhan yang menghancurkan segalanya karena aku menganggapnya efisien."
Ren mengepalkan tangannya. "Aku butuh sisi kemanusiaanku tetap hidup. Aku tidak ingin menjadi monster yang sama dengan Kenji, hanya karena aku merasa lebih 'beradab' darinya."
Mika terdiam, lalu menunduk hormat. "Jika itu keinginan Anda, saya akan menyiapkan segala dokumen palsu dan penyamaran sihirnya. Tapi untuk sekarang..." Mika menunjuk ke arah pelabuhan di mana kepulan asap hitam yang lebih besar muncul.
"...Kenji sedang membajak kapal perang Arthemis. Jika dia berhasil pergi lewat laut, infeksinya akan menyebar ke benua lain."
Ren kembali menegakkan tubuhnya. Aura dingin Raja Iblis kembali menyelimutinya, menelan keraguan sesaat tadi.
"Benar. Mari kita selesaikan hama ini dulu."
Ren melompat ke udara, memanggil kekuatan gravitasi untuk meluncur seperti peluru menuju pelabuhan. Di belakangnya, langit Gold Harbour dipenuhi api dan jeritan, menjadi saksi bisu di mana seorang Raja Iblis menyelamatkan dunia dengan cara yang paling kejam, sementara di dalam hatinya, seorang manusia sedang berjuang untuk tidak mati rasa.
Bersambung.