Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.
Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.
Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.
Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.
Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?
Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Berdamai
Ayuna terus membaca, seolah-olah sedang menyiksa dirinya sendiri.
Hingga halaman terakhir.
Di sana, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya seketika kosong.
Foto-foto dirinya bersama Ferdi.
Ada yang diambil dari sudut jauh, seakan mengintai. Ada pula foto saat mereka kebetulan bertemu di perpustakaan, di kantin, bahkan saat hanya berdiri berjauhan tanpa interaksi apa pun.
Ia bahkan tidak tahu kapan foto-foto itu diambil.
Tiba-tiba, semuanya menjadi jelas.
Ia mengerti sekarang.
Ia mengerti mengapa Renan berubah begitu drastis saat itu. Mengapa sikapnya menjadi dingin, tajam, penuh sindiran. Mengapa kata-katanya saat mereka mengurus akta nikah begitu melukai.
Bukan tanpa alasan.
Ia telah hidup dalam kecurigaan, curiga bahwa Ayuna tidak benar-benar peduli padanya, curiga bahwa hubungannya dengan Ferdi tidak sesederhana yang ia lihat, curiga bahwa dirinya hanyalah pilihan kedua.
“Renan…” suara Ayuna pecah, dadanya terasa nyeri.
“Aku dan Ferdi tidak ada hubungan apa pun. Tidak seperti yang dia katakan.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
Renan mengangkat tangannya, menyeka air mata Ayuna dengan ujung jari. Kulitnya memanas oleh emosi yang tertahan terlalu lama.
“Aku sangat menyukaimu,” katanya pelan, tapi suaranya tegang.
Ayuna menggenggam bajunya tanpa sadar.
“Aku tidak mengerti kenapa kamu tidak pernah menjelaskannya padaku.”
Renan menarik napas dalam, seolah harus menahan sesuatu di dadanya.
“Bahkan kalau kamu hanya datang sebagai teman, membawa bukti, aku pun tidak akan berani menatapmu.”
Ia tertawa pendek, pahit.
“Aku takut.”
Ayuna menegang. “Takut apa?”
Tatapan Renan merendah sesaat.
“Takut kamu akan mengakuinya,” lanjutnya lebih pelan.
“Takut kamu akan bilang aku hanya pasangan cadangan.”
Tangannya mengepal.
“Bahwa kamu bersamaku hanya karena aku bisa memberimu hidup yang lebih baik.”
Ayuna menggeleng kuat-kuat. “Tidak, bukan begitu.”
Namun Renan tetap melanjutkan, suaranya rendah dan berat,
“Lalu kamu bilang kamu hamil.”
Ia menatap Ayuna lurus-lurus.
“Dan saat itu aku sadar, tidak masalah siapa yang ada di hatimu. Selama kamu ada di sisiku. Selama aku adalah ayah dari anak itu.”
“Namaku tertulis di buku nikah.”
“Aku menang.”
Ada posesif yang tidak lagi disembunyikan, ada keinginan yang selama ini ditekan dan akhirnya bocor keluar. Tangannya menyentuh wajah Ayuna, perlahan, dalam, seolah memastikan bahwa ia benar-benar ada.
Ayuna terdiam.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami isi hati pria di hadapannya.
Ayuna menatapnya lama.
Dadanya naik turun tidak teratur. Ada dorongan kuat untuk mendekat, tapi juga ketakutan yang menahan langkahnya.
Tangannya terangkat, lalu ragu di udara, seolah ia takut sentuhan itu akan membuat segalanya runtuh.
Namun akhirnya, Ayuna memilih maju.
Ia mencondongkan tubuh dan menempelkan bibirnya ke bibir Renan, perlahan, gemetar, seolah memberi dirinya sendiri kesempatan terakhir untuk mundur.
Tapi Renan tidak memberinya jalan kembali.
Tangannya menangkup wajah Ayuna, menariknya lebih dekat. Nafas mereka bertaut, emosi yang terlalu lama tertahan akhirnya pecah, bukan dengan tergesa, melainkan dengan kebutuhan yang dalam.
“Renan,” bisik Ayuna dengan suara gemetar.
“Tidak ada orang lain.”
“Yang kupedulikan hanya kamu.”
“Di dunia ini, kamulah orang yang paling kupedulikan.”
“Renan, aku mencintaimu.” Matanya berkaca-kaca, bening seperti mata rusa betina, rapuh, jujur, dan penuh ketulusan.
Renan menatapnya tak percaya. Seolah tidak pernah membayangkan bahwa ia memiliki tempat seperti itu di hatinya.
“Apa yang kamu katakan?” suaranya nyaris berbisik, mencari kepastian.
“Renan,” Ayuna menggenggam tangannya erat.
“Kamu selalu ada di hatiku. Tidak pernah ada orang lain.”
“Aku hanya, selalu merasa tidak pantas untukmu.”
“Bahkan setelah kita menikah, rasanya seperti mimpi.” Ia tertawa kecil di sela tangisnya, keindahan yang rapuh dan menyayat.
“Dulu, saat kamu bilang kamu peduli padaku, aku tidak percaya. Kupikir kamu menikahiku hanya karena anak.”
“Aku tidak berani percaya bahwa kamu benar-benar mencintaiku.”
“Renan… aku sangat mencintaimu.” Tangisnya pecah.
“Ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan padamu. Tentang wanita-wanita di sekitarmu. Tentang hubunganmu dengan mereka.”
“Aku ingin kamu menjauh mereka.”
“Tapi aku tidak berani mengatakannya.”
Ayuna memeluknya erat. Dan ini membuatnya merasakan kehangatan Renan benar-benar menenangkan di dalam pelukannya.
Ia bisa mendengar detak jantung Renan, berdegup kuat, seolah berdetak hanya untuknya.
“Gadis bodoh, benar-benar gadis bodoh,” gumam Renan sambil membalas pelukannya erat, seakan baru saja menemukan sesuatu yang telah lama hilang.
“Kenapa kamu tidak bertanya?” suaranya sedikit serak.
“Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun padaku?”
“Aku terus membayangkan kamu akan bertanya. Hanya satu kalimat darimu, dan aku akan segera kembali. Hanya satu kata, dan aku akan mengusir mereka semua.”
Nada suaranya mengandung kekesalan yang tertahan, bukan marah, melainkan penyesalan.
Kejujuran di antara mereka akhirnya meruntuhkan semua kesalahpahaman.
Di dapur, Mbak Yeni tanpa sengaja mendengar semuanya.
Ia terdiam beberapa detik sebelum wajahnya berbinar. Selama ini ia selalu merasa ada jarak halus antara tuan muda kedua dan nyonya muda kedua, jarak yang kini akhirnya ia pahami asalnya.
Syukurlah, kesalahpahaman itu telah terurai.
Dengan lega, ia segera menelepon Mama Reni.
“Tuan muda kedua dan nyonya muda kedua sudah berbaikan, Nyonya,” katanya jujur. “Memang ada salah paham yang cukup dalam, tapi sekarang semuanya sudah jelas.”
Di seberang sana, Mama Reni menghela napas panjang. “Syukurlah. Tolong jaga Ayuna baik-baik. Anak itu terlalu sering memendam perasaan.”
Setelah menutup telepon, Mbak Yeni kembali ke dapur dengan hati ringan, mulai memikirkan hidangan malam ini.
Di ruang tamu, Papa Herman hanya melirik singkat saat Mama Reni menceritakannya.
“Kalau begitu, biarkan saja,” katanya tenang. “Selama rumah ini damai, itu sudah cukup.”
Mama Reni tersenyum pelan.
❀❀❀
Sejak Renan dan Ayuna berdamai, mereka benar-benar nyaris tak terpisahkan. Bahkan, Renan kerap membawa istrinya ke kantor.
Adrian akhirnya tidak tahan. “Aku serius, kalian ini luar biasa sekali,” katanya datar.
“Ini tempat kerja.”
“Tidak bisakah kalian menghormati kami yang masih lajang?”
Renan mengangkat alisnya santai. “Bukankah itu salahmu sendiri karena belum menemukan istri?”
Ayuna duduk malu-malu di sofa, berusaha mengecilkan keberadaannya. Ia tahu, akhir-akhir ini mereka memang terlalu lengket.
Namun, ia tak bisa menahannya.
Ia sangat merindukan Renan, ingin selalu berada di dekatnya. Bahkan jika mereka tidak berbicara, hanya berada di ruangan yang sama saja sudah cukup baginya.
Renan menoleh ke Adrian. “Baik, aku beri kamu sedikit waktu istirahat. Segera rekrut orang baru.”
“Beri tahu karyawan di bawah, jangan rekrut yang wajahnya hasil operasi plastik,” lanjutnya datar.
“Lihat mahasiswa dari universitas media. Terutama mahasiswa laki-laki, yang berkelas dan tidak terlalu konvensional.”
“Selain penampilan, utamakan bakat.”
Adrian mengangguk. “Iklan gelombang pertama sudah balik modal. Kita berani investasi besar untuk trafik, dan sudah ada beberapa orang yang ingin pindah ke sini.”
“Tidak masalah,” jawab Renan.
“Kita memang kekurangan orang.”
Ia menyadari Adrian belum pergi. “Ada lagi?”
Adrian melirik Ayuna sejenak, lalu berkata, “Ini tentang ulang tahun Edric. Dia mengundang kita.”
“Katanya, akhir-akhir ini dia tidak bisa menghubungimu.”
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻
Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta