“Siapa pun yang masuk ke pulau ini ... tak akan pernah keluar dengan selamat.”
Pulau Darasila diduga menjadi markas penelitian bioteknologi terlarang. Bella, agen BIN yang menyamar sebagai dosen KKN, ditugaskan menyelidikinya. Namun sejak kedatangannya, Bella menemukan tanda-tanda ganjil bermunculan. Beberapa kali ia mendapati penduduk pulau memiliki tatto misterius yang sama persis dengan milik Edwin, suaminya. la pun mulai menduga-duga, mungkinkah sosok sang suami yang dulunya memiliki masa lalu kelam, kembali melakukan kesalahan dan turut terlibat dengan hal yang akan diselidikinya?
Misi Bella yang awalnya hanya soal penyelidikan, kini berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Karena siapa pun yang masuk ke Pulau Darasila tak akan pernah bisa keluar dengan selamat kecuali dengan satu syarat. Akankah Bella mampu menuntaskan misinya dan keluar hidup-hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIP22
Roda troli beradu dengan lantai markas VIP, menciptakan derit nyaring di lorong minim cahaya. Abirama tergeletak di atasnya, saat siuman dari pengaruh bius — ia mendapati kedua tangannya sudah terikat erat dengan seutas tali.
Matanya menyapu sepanjang koridor. Di kiri dan kanan, berjajar ruangan berpintu kaca transparan—tak tertutup tirai.
Meskipun sepanjang kariernya Abirama sudah terbiasa melihat aksi kriminal, tetapi tetap saja, apa yang barusan ia lihat cukup membuat pria berbadan kekar itu terhenyak.
‘Ini gila ... sinting!’ batinnya dengan jantung berpacu cepat.
Di balik kaca-kaca itu, aktivitas keji tengah berlangsung. Tubuh-tubuh diikat pada kursi besi, beberapa terkulai tak bergerak, ada pula yang sadar — meronta dan menjerit ketakutan.
Rahang Abirama mengeras melihat pemandangan yang berbeda di setiap ruangan. Ada yang meremukkan lutut dengan palu godam, ada yang mencabut gigi satu per satu menggunakan tang, ada yang menggergaji jari manis karena terobsesi dengan cincin perkawinan, ada pula yang mengebor kepala hingga otak berceceran. Mata Abirama langsung berkunang-kunang.
Krieeet!
Bunyi pintu kaca diseret kasar membuat kepalanya menoleh refleks. Salah satu komplotan membuka pintu, lalu troli yang membawanya didorong masuk ke dalam ruangan gelap tanpa jendela.
Abirama ditarik paksa hingga berdiri terhuyung, ia langsung berontak — meronta, bahunya menghantam dada salah satu pria itu.
“Lepas, Sialan!” desisnya.
“Jangan bertingkah kau!” bentak pria bertato ular sendok di lengannya, lalu menendang tulang kering Abirama tanpa ampun.
Nyeri langsung menjalar, geram apalagi. Abirama mendengus bak banteng birahii, tanpa pikir panjang — pria dengan pundak selebar gapura desa itu langsung menubruk kuat dua komplotan hingga tubuh mereka terhempas ke dinding.
Brugh!
Keduanya jatuh bersamaan dan mengumpat serentak.
“Bangsatt!”
“Asuu!”
Mereka lekas bangkit, masing-masing jemari mengepal tinju, bersiap memberi pelajaran dengan napas memburu.
Satu pukulan melesat cepat ke arah wajah Abirama, namun ia berhasil mengelak dan membalas dengan tendangan telak ke ulu hati. Sang lawan jatuh, mengerang kesakitan.
‘Setan! Makan apa nih orang? Tendangannya nggak manusiawi! Itu kaki, atau jangkar kapal?’
Pria yang menggilai sneakers itu tak tahu saja, sepatu yang dikenakan Abirama adalah sepatu militer—pemberian seorang perwira yang pernah bekerja sama dengannya. Ujung sepatu itu berlapis baja, wajar jika sang lawan kini merasa organ vitalnya seolah remuk.
Melihat temannya terduduk di lantai dengan wajah pucat dan napas terengah, satu komplotan lain langsung bergerak cepat. Ia melesat maju, tinjunya menghantam rahang Abirama tanpa aba-aba.
Bugh!
Kepala Abirama langsung tertoleh ke samping, telinganya seketika berdenging. Dunia di sekelilingnya berputar, luka di belakang kepalanya kembali berdenyut — tengkuknya basah oleh darah.
Belum sempat ia menjejakkan kaki dengan stabil, tendangan keras menyambar perutnya, memaksanya terjengkang dan jatuh membentur lantai dingin. Kepala terluka, sisa efek bius masih terasa, hati nestapa karena ia mengira kekasih hati telah tiada — bayangan darah di leher gadis itu terus menghantuinya, dan semua itu membuat tenaganya luruh, tak berniat melawan lagi.
“Hajar dia! Biar nggak belagu!”
Abirama dipukuli habis-habisan, punggungnya diinjak-injak, lengannya ditendang sekuat tenaga hingga luka yang belum kering kembali menganga . Namun bukannya puas, para penyerang justru semakin geram, sebab Abirama tak menunjukkan sedikitpun ekspresi sakit.
“Nganut ilmu Rawa Rontek nih orang,” ucap sang lawan asal sanking kesal.
“Gila, dia mayat idup atau apa sih? Makin ku pukuli, makin aku pulak yang sakit hati,” timpal sang rekan. Mereka berhenti memukul, lelah sendiri.
“Kebal ini. Udah pasti nganut ilmu, sering pati geni.” Pria bertato menyenggol-nyenggol wajah Abirama dengan ujung sepatu, tetapi detektif itu masih tak bereaksi.
“Ah, kau ini, udah tahun apa ini, masih percaya aja yang gitu-gitu,” sanggah temannya, mendengus tak percaya.
“Ngeyel kau kalau dibilangin. Kalau gak percaya, cobak kau gelitikin,” tantangnya sambil refleks mundur selangkah.
Sang teman yang sejak dulu tak percaya hal mistis maupun ilmu kebatinan, akhirnya berjongkok di sisi Abirama. Sekilas ia ragu, melirik temannya. Namun yang ditatap hanya mengangkat bahu santai.
Dengan senyum sok yakin, ia pun mengulurkan tangan—menggelitik. Namun nahas, Abirama yang tak suka digelitik, refleks menempeleng wajah sang lawan dengan amat kuat.
Pria bertato ular sendok terperangah melihat sang teman terjungkal, tersungkur di lantai. Sang teman langsung melempar tatapan sengit, wajah merah padam.
“TADI KAU BILANG DIA KEBAL!”
“Y-ya ... berarti bener katamu ....” Ia menggaruk kepalanya kikuk. “Berarti emang udah nggak zamannya percaya yang begituan.”
“Kimbekk lah!” umpat temannya kesal. “Padahal pergelangan tangannya masih terikat, bisa dia lepak muka ku pakek dua tapak tangannya itu!”
Ia lekas bangkit dan berkacak pinggang.
“Udah ayok, jangan diam aja kau kek orang kenak bisul. Bantu aku angkat lembu gila ini,” ajaknya kesal.
Mereka menyeret Abirama dengan susah payah, tubuhnya diseret kasar di atas lantai. Setelah tiba di kursi besi, mereka mendudukkannya paksa. Tali segera dililitkan ke tubuh dan kedua tangannya, ditarik kencang hingga Abirama tak bisa bergerak. Usai memastikan ikatannya kuat, keduanya mundur, terengah-engah.
“Nah, baek-baek kau di sini, jangan berulah,” ujar salah satu dari mereka dengan senyuman puas. “Nanti kalau pembeli mu datang, banyak-banyaklah baca doa sebelum tidur—biar tidur kau selamanya.”
Dua penjahat itu terbahak, tawanya menggema di dalam ruangan. Namun, gelak tersebut mendadak terhenti ketika sebuah suara menyapa santai dari ambang pintu.
“Anyeong, Guys!”
Keduanya sontak menoleh. Senyum di wajah mereka sirna, digantikan sorot waspada saat sesosok berdiri di sana—sang Elite telah tiba.
*
*
*