Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.
Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.
Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Bersiapan Kai Untuk Keluarganya
Yuki yang sedang duduk di ruang keluarga, baru saja menenangkan Ai yang tertidur pulas di pangkuannya, menoleh kepada Ibu Kai dengan mata penasaran. Suara langkah dan nada serius Ibu pagi itu membuat hatinya sedikit was-was.
“Bu… ada apa?” tanya Yuki, suaranya lembut namun ada ketegangan yang terselip. “Kamu terlihat serius sekali pagi ini.”
Ibu Kai tersenyum tipis, duduk di sofa di samping Yuki, sambil menepuk lembut lengan anak itu. “Ah, Nak… tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya aku ingin memberitahumu tentang rencana Kai sebelum dia berangkat ke luar negeri tadi.”
Yuki menatap Ibu dengan mata sedikit membesar. “Rencana… maksud Bu, apa yang Kai lakukan? Apakah… sesuatu terjadi?” tanyanya, napasnya sedikit tertahan karena rasa khawatir mulai muncul. Ai yang tertidur di pangkuannya sesekali bergerak, dan Yuki menatap bayi itu sambil menenangkan.
Ibu Kai menghela napas, lalu meletakkan tangan di atas tangan Yuki. “Kai memang harus pergi menangani urusan penting di luar negeri, Nak. Tapi sebelum pergi, dia memastikan semua di sini kamu, Ai, dan orang tua nya akan berada di tempat aman. Dia memerintahkan Ren dan Niko untuk menyiapkan semuanya, termasuk ruang bawah tanah yang aman untuk kalian jika sesuatu terjadi.”
Yuki menelan ludah, matanya mulai berbinar. “Ruang bawah tanah? Maksud Bu, apa… apa itu aman?” Suaranya terdengar bergetar, bayangan masa lalu yang menakutkan seketika muncul kembali di pikirannya.
Ibu Kai mengangguk lembut, menepuk pundak Yuki. “Sangat aman, Nak. Aku dan ayahmu sudah memeriksa semuanya. Niko juga akan memantau semua CCTV dan sistem keamanan. Tidak ada yang bisa menembusnya. Jadi jangan khawatir. Semua langkah diambil untuk menjaga keselamatan kalian.”
Yuki menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Aku… aku mengerti. Hanya saja… aku takut. Kau tahu, Bu… masa lalu itu selalu membuatku merasa tidak aman.” Suara Yuki lirih, tapi matanya menatap Ibu penuh harap.
Ibu Kai tersenyum hangat, menggenggam tangan Yuki dengan lembut. “Itulah sebabnya Kai begitu tegas, Nak. Dia ingin memastikan kamu dan Ai aman sebelum pergi. Dan aku ingin kau tahu… kau bisa tenang. Segala kemungkinan sudah dipikirkan. Aku, ayah, Ren, dan Niko… kami semua menjaga kalian. Fokusmu sekarang hanya pada dirimu dan Ai.”
Yuki menunduk, meremas tangan Ibu sedikit, merasa lega sekaligus masih sedikit cemas. “Terima kasih, Bu… aku tahu Kai selalu memikirkan kami, tapi kadang… aku takut kehilangan kendali jika sesuatu terjadi lagi.”
Ibu Kai menepuk lembut tangan Yuki, menatap matanya penuh pengertian. “Itu wajar, Nak. Semua orang yang pernah mengalami trauma akan merasa begitu. Tapi kau harus percaya… Kai bukan hanya pemimpin yang tegas, dia juga peduli padamu. Dan aku juga akan selalu di sini, menenangkannya jika kau merasa takut. Tidak ada yang akan membahayakanmu atau Ai.”
Yuki menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sambil memandang Ai yang tertidur damai. “Aku… aku akan mencoba tenang, Bu. Aku janji akan mengikuti saran Ibu. Hanya saja… aku masih merasa cemas ketika Kai jauh.”
Ibu Kai tersenyum, memiringkan kepalanya. “Itu normal, Nak. Tapi lihatlah… dia sudah mempersiapkan segalanya dengan matang. Jadi percayalah padanya, dan percayalah pada orang-orang yang dia percayai. Sementara itu, kau bisa fokus menikmati waktu dengan Ai, melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia.”
Yuki menatap Ibu Kai dengan mata berkaca-kaca, rasa lega dan syukur mengalir dalam hatinya. “Terima kasih, Bu. Aku benar-benar bersyukur punya kalian semua. Rasanya… beban di hatiku sedikit berkurang.”
Ibu Kai menepuk pundak Yuki sekali lagi. “Itulah tujuan ibu, Nak. Kami ingin kau merasa aman dan nyaman, meskipun Kai harus pergi. Kau tidak sendiri. Ingat itu selalu.”
Yuki tersenyum kecil, memandang Ai yang masih tertidur pulas, lalu menunduk pada Ibu Kai. “Aku akan berusaha, Bu. Aku janji akan mencoba untuk tetap tenang.”
Ibu Kai membalas senyuman itu, menatap Yuki dengan mata lembut tapi tegas. “Bagus. Sekarang, nikmati waktu dengan Ai. Mainkan dia, bicaralah padanya, dan lakukan hal-hal yang kau sukai. Semua orang di sini siap mendukungmu, Nak.”
Yuki mengangguk, perlahan meletakkan Ai di bouncer kecil yang sudah disiapkan, tersenyum melihat bayi itu tersenyum kembali. “Aku… aku akan mencoba melakukan itu, Bu. Terima kasih sudah selalu ada untuk kami.”
Ibu Kai mengusap rambut Yuki sebentar, menatapnya dengan penuh kasih sayang. “Selalu, Nak… selalu.”
***
Rumah Kai memang sejak awal tidak pernah dirancang seperti rumah kebanyakan orang. Dari luar, bangunannya tampak elegan dan modern, namun tidak mencolok. Tidak ada yang akan menyangka bahwa di balik dinding-dinding kokoh dan tata ruang yang tampak biasa itu, tersembunyi sistem keamanan berlapis yang hanya diketahui oleh segelintir orang kepercayaan.
Semua desain dan rancangan rumah itu dibuat dengan perhitungan matang. Kai tidak pernah mempercayakan hal sepenting ini kepada sembarang arsitek atau kontraktor. Yang mengerjakannya hanyalah orang-orang tertentu mereka yang sudah terikat sumpah setia, mereka yang mengerti bahwa satu kebocoran kecil saja bisa berarti bahaya besar. Ayah Kai ikut terlibat sejak awal, begitu juga sahabatnya dan asisten pribadinya. Setiap sudut rumah dirancang bukan hanya untuk kenyamanan, tapi juga untuk perlindungan.
Bagian paling rahasia dari rumah itu adalah ruang bawah tanah yang dibuat khusus sebagai tempat perlindungan bagi orang-orang yang paling disayangi Kai. Bukan sekadar bunker biasa, melainkan sebuah ruang aman dengan sistem mandiri: suplai listrik cadangan, persediaan makanan, ventilasi tersembunyi, jaringan komunikasi tertutup, serta pengawasan kamera yang terhubung langsung ke pusat kontrol yang dipegang Niko.
Yang membuatnya nyaris mustahil ditemukan adalah letaknya. Tidak ada pintu besar, tidak ada tangga mencolok, tidak ada tanda apa pun yang menunjukkan keberadaan ruangan itu. Pintu masuknya tersembunyi tepat di bawah rak meja dapur. Bagi siapa pun yang tidak tahu rahasianya, itu hanya terlihat seperti perabot dapur biasa kokoh, rapi, dan tidak mencurigakan.
Untuk membukanya, dibutuhkan kartu akses khusus yang hanya dimiliki beberapa orang terpilih. Bahkan jika seseorang berhasil masuk ke dalam rumah, mereka tetap tidak akan bisa menemukan ruang itu, apalagi membukanya. Sistem pengamanannya berlapis: kartu akses, kode biometrik, dan verifikasi ganda yang terhubung langsung ke server internal. Jika ada upaya paksa, sistem akan langsung mengunci total dan mengirimkan peringatan ke Niko serta tim keamanan.
Di dalam ruang bawah tanah itu, suasananya jauh dari kata menyeramkan. Justru sebaliknya, tempat itu dibuat senyaman mungkin. Ada kamar tidur, ruang kecil untuk Ai, dapur mini, ruang santai, serta area medis darurat. Semuanya dirancang agar orang-orang di dalamnya bisa bertahan dengan aman tanpa perlu keluar untuk waktu yang lama. Kai memikirkan setiap detail, bahkan sampai hal-hal kecil seperti mainan bayi, selimut hangat, dan pencahayaan yang tidak membuat stres.
Bagi Kai, ruang itu bukan simbol ketakutan, melainkan bentuk tanggung jawab. Ia tahu dunia yang ia geluti penuh risiko. Karena itulah, ia menyiapkan benteng terakhir untuk melindungi mereka yang paling berharga dalam hidupnya.
Yuki sendiri awalnya tidak menyadari betapa serius dan dalamnya persiapan itu. Baru setelah Ibu Kai menjelaskan perlahan, Yuki mengerti bahwa semua ini bukan karena berlebihan, melainkan karena Kai benar-benar tidak ingin mengambil satu pun peluang terhadap keselamatan mereka. Kesadaran itu membuat hatinya bergetar ada rasa terharu, ada rasa aman, dan ada kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ruang bawah tanah itu menjadi bukti nyata: di balik sosok Kai yang dikenal dingin dan keras, ada seseorang yang merancang masa depan dengan sangat hati-hati, memastikan bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, orang-orang yang ia cintai akan selalu punya tempat berlindung yang tidak bisa disentuh bahaya.