Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.
Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.
Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.
Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.
Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.
Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah
Hari Itu, Mereka Menjadi Kita
Mereka menikah di sebuah rumah yang direnovasi jadi guest house kecil, tersembunyi di dalam kompleks pepohonan.
Bukan gedung.
Bukan hotel mewah.
Halaman depannya sangat luas, dengan rumput yang masih basah oleh embun pagi. Kursi-kursi kayu ditata rapi menghadap satu meja akad. Tidak ada pelaminan tinggi, hanya rangkaian bunga putih dan daun hijau yang disusun sedemikian rupa. tampak cantik.
Jumlah tamunya tidak lebih dari lima puluh orang.
Keluarga inti.
Beberapa sepupu dekat.
Teman-teman yang benar-benar tahu perjalanan mereka, bahkan sebelum kata menikah pernah disebut.
Pagi itu, udara terasa tenang.
Aneh, tapi menenangkan.
Lala duduk di kamar kecil di lantai dua guest house itu.
Gaunnya sederhana putih gading, tanpa ekor panjang, tanpa payet berlebihan. Rambutnya disanggul rapi, make-up tipis. Ia masih terlihat seperti dirinya sendiri. Itu yang ia mau.
Tangannya dingin.
Bukan karena takut menikah.
Tapi karena menyadari satu hal.
hari ini tidak ada lagi alasan untuk mundur.
Mamaya duduk di sampingnya, membenarkan lipatan kain di pangkuan Lala.
“Kamu cantik,” katanya pelan.
“Bukan cantik pengantin. Tapi cantik kamu.”
Lala menelan ludah.
“Mama yakin?” tanyanya lirih.
Mamanya menoleh, menatapnya lama.
“Kalau mama nggak yakin, mama nggak bakal duduk di sini sekarang.”
Di ruang lain, Rendra berdiri di depan cermin. Jasnya pas, kemejanya rapi. Ia menarik napas, lalu menghembuskannya pelan berulang-ulang.
Ia gugup baik gugup karena akan akad dan juga soal setelahnya.
Soal bangun pagi bareng orang lain.
Soal jadi tempat pulang, bukan cuma tempat singgah.
Ayahnya duduk di kursi, menatapnya dengan mata yang lebih sayu dari biasanya, tapi penuh.
“Ren,” panggilnya.
“Jadi tempat pulang ya, bukan hanya tempat singgah” ucap ayahnya
“Iya yah”
Ayahnya mengangguk pelan.
Di luar, suara langkah mulai terdengar.
Tamu sudah duduk.
Penghulu sudah datang. Waktu tidak berhenti menunggu mereka siap sepenuhnya.
Akad
Lala berjalan pelan ke halaman, ditemani ayahnya. Tidak ada musik keras. Hanya alunan instrumen lembut, hampir seperti bisikan.
Rendra berdiri saat Lala sampai di hadapannya. Lalu mereka duduk bersebelahan.
Untuk sesaat, dunia mengecil.
Yang tersisa hanya dua pasang mata.
Ijab kabul diucapkan dalam satu tarikan napas. Tidak ada pengulangan. Tidak ada koreksi.
Sah.
Satu kata itu jatuh di antara mereka, ringan tapi berat.
Lala menunduk.
Rendra menghela napas panjang, seperti baru saja selesai menahan sesuatu selama bertahun-tahun.
Doa dipanjatkan.
Tangan mereka bertaut untuk pertama kalinya sebagai sesuatu yang berbeda.
Bukan lagi “gue dan lo.”
Tapi belum juga sepenuhnya “kita.”
Dan mungkin... memang tidak harus buru-buru.
---
Setelah ijab kabul selesai, mereka duduk berdampingan di meja kecil yang disiapkan khusus. Buku nikah dibuka, pena diserahkan.
Lala menandatangani lebih dulu. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena ragu, tapi karena menyadari betapa resmi semua ini sekarang. Rendra menyusul. Tanda tangannya tegas, lebih stabil dari yang ia kira.
Saat buku itu ditutup, ada jeda singkat.
Lalu tepuk tangan terdengar hangat. Datang dari keluarga inti dan dari sudut lain, dari teman-teman geng mereka yang berdiri sambil tersenyum lebar, beberapa bahkan mengusap mata diam-diam.
Sesi foto dilakukan singkat.
Foto bersama keluarga inti.
Lalu foto bersama teman geng mereka yang langsung berubah sedikit ribut.
“Eh bentar, gue belum masuk frame!”
“Ren senyum dong, jangan kaya abis ditagih utang!”
Lala sampai tertawa kecil, refleks menoleh ke Rendra. Untuk sesaat, suasananya terasa seperti nongkrong biasa bukan hari pernikahan.
Tidak ada pose rumit.
Tidak ada tuntutan untuk selalu terlihat sempurna.
Cukup berdiri bersebelahan, dikelilingi orang-orang yang benar-benar mengenal mereka dari awal.
Pelan-pelan, tamu mulai menghampiri.
Ucapan selamat mengalir satu per satu. Ada yang singkat, ada yang memeluk lebih lama dari seharusnya. Ada doa yang diucapkan sambil menahan haru, ada pula yang diselipkan dengan candaan khas teman dekat.
“Gila ya, akhirnya kalian nikah juga.”
“Gue gak nyangka sumpah, tapi cocok.”
“Saling jagaa ya, hajar aja kalo Rendra macem-macem”
“Pelan-pelan aja, yang penting bareng.”
Lala mengangguk, tersenyum, mengucap terima kasih berkali-kali.
Rendra menyalami tangan-tangan yang datang, bahunya ditepuk, punggungnya diteguk ringan gestur kecil penuh restu, terutama dari teman-teman yang tahu betul bagaimana proses mereka sampai di titik ini.
Tak lama kemudian, aroma makanan mulai terasa lebih kuat.
Hidangan disajikan sederhana tapi hangat: masakan rumahan, bukan prasmanan mewah. Tamu-tamu berpencar keluarga duduk rapi, sementara teman-teman geng memilih berkumpul di satu sisi, bercanda sambil menyantap makanan.
Lala dan Rendra akhirnya ditinggal sejenak.
Mereka duduk berdampingan, piring di depan mereka belum tersentuh.
Rendra melirik Lala sekilas.
“Laper?” tanyanya pelan.
Lala mengangguk kecil.
“Iya. capek juga.”
Rendra tersenyum tipis.
“Selamat datang di hidup baru,” ujarnya setengah bercanda.
Lala menoleh, menatapnya sebentar.
Tidak menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya hari itu, bahunya sedikit rileks.
Di sekitar mereka, suara tawa teman-teman, obrolan ringan, dan denting sendok beradu dengan piring memenuhi halaman.
Pernikahan itu tidak riuh.
Tidak megah.
Tapi lengkap.
Karena yang hadir bukan sekadar tamu. melainkan orang-orang yang benar-benar berarti.
—
Hari semakin siang, satu per satu tamu mulai berpamitan. Suasana halaman yang tadi dipenuhi suara obrolan pelan-pelan menyusut, menyisakan lingkaran kecil orang-orang terdekat.
Teman geng mereka masih bertahan.
Beberapa duduk di kursi lipat, beberapa berdiri sambil memegang gelas minum. Tidak ada yang terburu-buru, seolah tahu hari ini bukan untuk sekadar datang lalu pergi.
Salah satu dari mereka mendekat lebih dulu ke Rendra, menepuk pundaknya pelan.
“Ren,” ucapnya serius tapi santai, “gue gak mau lebay. Tapi... jaga Lala baik-baik ya.”
Rendra mengangguk.
“Iya.”
Lala yang berdiri di sampingnya sempat terdiam mendengar itu.
Teman yang lain menyusul, menoleh ke Lala.
“La,” katanya, tersenyum kecil, “kalo capek, kalo ragu, kalo kesel... jangan dipendem sendiri. Lo tau kita selalu ada.”
Lala tersenyum, kali ini bukan senyum formal.
“Makasih,” jawabnya pelan.
Ada satu momen hening, lalu salah satu dari mereka tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.
“Yaudah, sebelum makin haru dan kita malah nangis berjamaah, gue pamit duluan ya.”
Yang lain ikut tertawa.
Pelukan singkat terjadi tidak berlebihan, tapi cukup untuk meninggalkan rasa hangat.
Satu per satu, teman geng itu berpamitan.
Menyisakan Lala dan Rendra, berdiri di halaman yang kini jauh lebih sepi.
Matahari sudah lebih tinggi.
Angin siang berembus pelan.
Setelah semua benar-benar pergi, Rendra menarik kursi dan duduk. Lala ikut duduk di sebelahnya. Tidak langsung bicara.
“Capek?” tanya Rendra akhirnya.
“Capek,” jawab Lala jujur.
Rendra tersenyum tipis.
Mereka diam sebentar, mendengar suara dedaunan dan langkah panitia yang sedang merapikan sisa acara.
“Ren,” Lala memecah hening, “acaranya... singkat ya.”
“Iya,” jawab Rendra. “Tapi cukup kan.” tanyanya
Lala mengangguk.
“Gue takut tadi,” katanya pelan. “Takut semuanya kerasa palsu.”
Rendra menoleh, menatapnya.
“Tapi?”
“Tapi enggak,” lanjut Lala. “Gue ngerasa... yaudah. Ini gue. Ini kita.”
Rendra menarik napas dalam-dalam.
“Gue gak janji hidup lo bakal langsung tenang,” ucapnya jujur. “Tapi gue janji, gue gak akan ninggalin lo sendirian ngejalaninnya.”
Lala menatap ke depan.
“Gue juga gak tau ini ke depannya gimana,” katanya. “Tapi... makasih udah berani bareng gue.”
Rendra tersenyum kecil.
“Harusnya gue yang bilang gitu.”
Hari makin siang.
Acara telah usai.
Di sisa halaman yang sunyi, dua orang itu duduk berdampingan. bukan dalam euforia, bukan juga dalam kepastian mutlak.
Tapi dalam kesepakatan diam-diam
menjalani, pelan-pelan, tanpa janji berlebihan.
—
Rendra menyetir dengan tenang. Jas akadnya sudah diganti, tapi jam tangan di pergelangan tangannya masih sama jam yang tadi ia pakai saat mengucap ijab. Lala duduk di sampingnya, memeluk tas kecil berisi barang-barang pentingnya, seperti sedang menjaga sesuatu agar tidak jatuh.
Tidak ada musik.
Hanya suara mesin dan jalanan.
Di kepalanya, Lala mengulang banyak hal sekaligus. wajah mamanya yang lega, ayahnya yang diam tapi berkaca-kaca, geng mereka yang menggoda sambil menepuk pundak Rendra. Semuanya terasa seperti potongan-potongan yang belum benar-benar menyatu.
“Kita nanti nginep di rumah nyokap lo dulu, ya,” ucap Rendra akhirnya, suaranya rendah.
“Iya,” jawab Lala. “Sekalian gue ambil barang-barang.”
“Dikit - dikit aja,” tambah Rendra. “Gak perlu langsung semuanya.”
Lala mengangguk.
Ia pun belum siap benar-benar menutup pintu kamar lamanya.
Beberapa menit kemudian, rumah itu terlihat. Lampu teras menyala terang, pintu depan terbuka setengah. Mobil berhenti.
Begitu turun, Lala langsung mencium bau rumahnya bau yang familiar sejak kecil. Campuran kayu, masakan sore, dan sesuatu yang selalu membuatnya merasa aman.
Mama Lala menyambut mereka dengan senyum yang belum juga hilang sejak siang.
“Masuk, Nak. Capek pasti.” sambut mamanya Lala yang sudah lebih dulu sampai rumah.
Rendra menyalami ayah Lala dengan hormat, lebih tenang dari biasanya. Ada jarak yang berubah, tapi juga ada kedekatan baru yang belum terbiasa.
Malam itu sederhana. Tidak ada pesta lanjutan. Tidak ada obrolan panjang. Hanya makan malam bersama, suara sendok dan piring, sesekali tanya ringan yang tidak menekan.
Setelah itu, Lala masuk ke kamarnya.
Kamar yang sama.
Tempat ia sering mengurung diri, menunda banyak hal, merasa aman dalam ketidakpastian.
Ia membuka lemari, menatap pakaian-pakaian yang sebagian akan ia bawa pergi. Tangannya berhenti lama di satu gantungan. Kaos lama. Hoodie favorit. Barang-barang kecil yang menyimpan versi dirinya sebelum hari ini.
Rendra berdiri di ambang pintu, tidak masuk tanpa izin.
“bawa yang penting aja dulu,” katanya pelan. “Sisanya bisa kapan-kapan.”
Lala mengangguk.
“Iya.”
Ia memasukkan beberapa pakaian rumahan, beberpaa potong kemeja untuk bekerja, alat mandi, dan barang kecil ke dalam koper. Tidak banyak. Seperti ingin memastikan ia masih bisa kembali walau ia tahu besok segalanya akan mulai berubah.
Malam semakin larut.
Lampu-lampu rumah sudah banyak yang dimatikan. Hanya lampu ruang tengah yang masih menyala redup.
Lala masih duduk di tepi ranjang kamarnya, tas setengah terbuka di sampingnya. Ia menatap dinding, seolah mencari sisa-sisa dirinya yang lama.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“La?” suara Rendra.
“Iya.”
Pintu dibuka perlahan. Rendra masuk dengan langkah hati-hati, seperti orang yang masih belajar posisi barunya. Ia menutup pintu, lalu berdiri sebentar, agak kikuk.
“Nyokap lo bilang... kamar ini aja,” katanya pelan. “Katanya daripada pindah-pindah.”
Lala mengangguk.
“Iya.”
Ada jeda kecil. Canggung yang bukan karena asing tapi karena terlalu sadar bahwa hari ini semuanya berubah.
Rendra akhirnya duduk di ujung ranjang, menjaga jarak.
“Capek ya,” katanya.
“Banget,” jawab Lala jujur. “Rasanya kaya... baru sekarang otak gue nyampe ke hari ini.”
Rendra tersenyum kecil.
Hening lagi, tapi kali ini hangat.
Lala berbaring lebih dulu, menghadap samping. Rendra mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur. Ia ikut berbaring, masih memberi jarak tidak terburu-buru menyentuh apa pun.
“Kita resmi ya sekarang,” ucap Rendra lirih, hampir seperti memastikan pada dirinya sendiri.
“hmm”, jawab Lala. “Resmi.”
Rendra menarik napas panjang.
“Kalau lo butuh waktu... gue ngerti.”
Lala menoleh, menatapnya dalam remang.
“Gue gak butuh waktu buat kabur, Ren.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Rendra tersenyum lega.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Hanya menggeser sedikit posisinya, cukup dekat untuk berbagi keheningan yang sama.
Malam itu mereka tidak banyak bicara.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada tuntutan.
Hanya dua orang yang akhirnya berhenti lari dari kata nikah, dan memilih duduk diam di dalamnya bersama
semangat kak... salam dari Edelweiss...