Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Sudah Tak Kenal
"Mel... Mas tunggu kamu di parkiran." Begitu membaca pesan singkat dari Pandji Melitha langsung gelisah sendiri.
Semalam, kakak sepupunya itu memang sudah mengatakan akan mengajaknya keluar juga sudah ijin pada Harry, kakaknya.
"Mas, sekolah udah nyiapin bus untuk pulang pergi," Balas Melita memberi alasan.
Terbayang dirinya berboncengan dengan kakak sepupunya itu di atas motor, memeluk pinggangnya, Oh my God! Pekiknya dalam hati. Pokoknya dalan mimpi pun ia tidak pernah memimpikannya.
"Mas tahu Mel, tadi sudah minta izin sama kepala sekolah dan security juga, supaya kamu sama Adri tidak ditunggu oleh sopir bus."
Melitha baru teringat keponakannya itu, hatinya sedikit lega, itu artinya mereka akan naik motor bertiga, tentu ia tidak akan perlu menempel dengan kakak sepupunya itu.
"Mel, buruan! Nanti ketinggalan bus sekolah loh!" Rida, teman sebangkunya mengingatkan dari depan kelas, sementara teman-teman mereka yang lain berebutan keluar.
"Aku dijemput kakakku, Ri!" sahutnya, sambil mengetikan sesuatu di ponselnya lalu mengirimnya lagi ke nomor Pandji.
"Iya, Mas... Sebentar lagi aku turun sekalian jemput Adri di perpustakaan."
"Hah, memangnya boleh?" heran Rida, ketua kelas mereka pun yang bersiap untuk mengunci pintu ikut merasa heran mendengarnya.
Sesuai aturan, sekolah memang tidak memperkenankan para murid membawa kendaraan sendiri demi menghindari kecelakaan lalu lintas maupun alasan keterlambatan. Bila ada siswa yang sakit atau izin apapun, orangtuanya wajib menuliskan surat dan mengirimnya lewat sopir bus.
"Masku sudah minta izin langsung pada kepala sekolah, ada urusan keluarga," ucap Melitha sambil berjalan keluar menggendong tas punggungnya yang ia sampirkan di pundak.
"Kalau gitu, aku duluan ya, Mel... takut nggak kebagian posisi tempat duduk yang nyaman!" pamit Rida langsung berlari menuruni tangga.
"Aku juga ya, Mel!" Niko, si ketua kelas tak mau kalah cepat, menyelip di antara teman-teman mereka yang berjalan bergerombol.
"Rida! Titip satu tempat duduk di sebelahmu! Abang antar kunci dulu ke TU!" teriak Niko, berlari berlawanan arah dengan Rida begitu berada di lantai bawah.
Melitha ikut berbelok ke kiri, menyusul arah Niko demi menghindari parkiran motor agar tidak langsung bertemu Pandji yang menunggunya disana.
Walau rutenya memutar, dan cukup jauh menuju perpustakaan dimana Adri selalu menunggunya setiap hari, hitung-hitung waktu yang tersita akan membuat penghuni sekolah berkurang sehingga tidak banyak yang melihatnya pulang bersama Pandji, ia tak mau banyak pertanyaan, karena teman-temannya hanya tahu Harry sebagai kakaknya.
"Mel, Melitha!"
Kaki Melitha yang baru menapaki satu anak tangga perpustakaan seketika terhenti, menoleh pada suara berat yang memanggilnya.
"Mau jemput Adri?" Pandji melepaskan kacamata hitamnya ketika Melitha lama terpaku menatap ke arahnya.
"Aaaa--, i-iya, Mas..." Melitha tergagap.
"Adri sudah di dalam," tunjuk Pandji pada mobil yang terparkir di belakangnya.
"Mas Pandji bawa mobil?" tanya Melitha dengan nada heran. Pasalnya, ini kali pertama ia melihatnya, biasanya kemana-mana selalu menggunakan roda duanya, kecuali mengantarkan ibunya ke rumah sakit, itupun hanya menggunakan taxi.
"Iya," Pandji tersenyum tipis. "Naik motor bertiga nggak cukup tempat, bisa-bisa kena tilang Polantas. Lagi pula cuacanya juga sedang terik. Ayo," ajaknya.
Tak banyak tanya lagi, Melitha berjalan menuju pintu kabin belakang.
"Di sini saja, di depan," Pandji sudah membuka lebar pintu kabin depan, di samping kemudi.
"Di belakang saja, Mas. Kasian Adri--" tolak Melitha, merasa sungkan.
"Adri, nggak papa kan kalau bibi Melinya Paman pinjam untuk temani Paman di depan?" ucap Pandji, sebelum Melitha menyelesaikan kalimat penolakannya.
"Iya, nggak papa kok, Paman. Bibi di depan aja sama paman Pandji, Adri udah nyaman kok rebahan kaya gini," tubuh kecilnya menggeliat sebentar di atas jok yang telah direbahkan bagai kasur rumahan.
Melihatnya, tidak ada pilihan lain bagi Melitha selain masuk ke kabin depan, dan duduk di sana.
Pandji gegas jalan memutar setelah menutup pintu di sisi Melitha, lalu masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Mas bantu?" ucapnya memberi penawaran, melihat Melitha kesulitan memasang seatbelt nya.
Melitha hanya mengangguk, sedari tadi dirinya sudah berusaha tapi tetap saja tidak bisa memasangnya, talinya begitu pendek gumamnya di dalam hati.
"Talinya di tarik saja seperti ini Mel, sepanjang yang kamu butuhkan, lalu tekan ujung besinya seperti ini."
Klek.
"Nah, selesai..." Pandji tersenyum kecil, tubuhnya mundur perlahan dari hadapan Melitha yang terduduk kaku tanpa ia sadari.
"Kita jemput Naomi dulu ya sebentar untuk makan siang, biar Ardi punya temannya."
...***...
Di restoran, mulut kecil Naomi terus saja mengunyah tiada henti, matanya berbinar penuh minat melihat semua hidangan yang tersaji di meja, tak puas bila tidak mencicipi semuanya.
"Paman, matanan itu apa namanya?" tunjuknya pada sepiring sajian yang warnanya menggugah selera dan menarik perhatiannya.
"Ini, namanya asam manis fillet ikan kakap, Naomi mau?" tawar Pandji.
Naomi cepat mengangguk. "Iya, No-mi mau, tepeltinya enak," air liur dalam mulut Naomi seketika penuh, tak sabar untuk memakannya.
"Sebentar.... Paman ambilkan buat Naomi ya..." Panji menjepit dengan sumpit, lalu mengangkat dan memindahkan satu demi satu makanan yang diminta keponakannya itu.
Tak sabar, Naomi mencomot dengan jarinya dan memasukan ke dalam mulut hingga kedua pipi chubby nya mengembung bagaikan bakpao lalu mulai mengunyah.
"Enak?" Pandji menatap pipi Naomi yang memerah menahan pedas yang tidak seberapa.
"Gulih dan lenyah, Paman," ucapnya sambil memamerkan sederet gigi rapinya yang putih. " No-mi tuka ada lata atam tuka (cuka), lata atam manit nanad (nanas) nya juga."
"Wuih, hebat!" Pandji mengacungkan dua jempolnya sebagai rasa kagum pada keponakannya yang mampu memaparkan apa yang di cecap oleh indera perasanya. "Naomi bisa jadi koki!"
"Iya, tita-tita No-mi mau jadi theef tandal," memajukan dagu dan membusungkan dadanya.
"Katanya mau jadi detektif seperti detektif Conan?" Adri menyela adiknya.
"Itu juga No-mi mau..." Naomi mencicit, mengingat cita-citanya itu. "Boleh banyak-banyak kan, Paman?"
Pandji tertawa, membelai sayang kepala Naomi. "Boleh... Sebanyak apapun boleh, Sayang."
"Kemana?" tanya Pandji, melihat Melitha bangkit dari kursinya.
"Ke kasir, Mas..."
Pandji langsung menahan Melitha dengan isyarat tangannya. "Biar Mas aja yang ke kasir," ucapnya gantian bangkit.
"Tapi, ini?" Melitha menunjukan kartu debit yang diberikan Pandji lewat bibinya beberapa waktu lalu.
"Itu buat keperluanmu, Mel."
Melitha tidak berbicara lagi, hanya menatap punggung Pandji yang berjalan ke meja kasir di sela keramaian pengunjung restoran.
"Mas Pandji...." suara lembut itu mengudara, begitu Pandji sampai di depan meja kasir.
Pandji menoleh, menemukan sosok Elok tersenyum ramah padanya. Hanya sepersekian detik, Pandji kembali berpaling tanpa mengatakan apapun dengan ekspresi datar, menyerahkan kartu debitnya setelah kasir membacakan tagihannya.
Elok terhenyak menahan malu, setelah malam itu, ini kali pertama ia bertemu lagi dengan mantan tunangannya, pria itu terlihat berbeda, seakan tidak pernah mengenalnya.
Bersambung✍️
Melitha udah mumet. Rumah tangga mamas na malah jauh lebih rumit.