Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Dua Wanita
Seran menatap Jenara, seakan berharap ia salah dengar.
“Kau serius? Bagaimana bisa mereka hilang?”
Jenara menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia memeluk kedua lengannya sendiri untuk menguatkan hati.
“A-aku tadi pergi ke hutan belakang,” ucapnya terbata. “Aku hanya sebentar, Seran. Aku mau mengambil tanaman.”
Mata Jenara mulai berkaca-kaca dan napasnya goyah.
“Saat itu 3G—maksudku… Giri, Gatra, dan Gita masih tidur nyenyak. Aku pastikan mereka semua masih terlelap. Tapi ketika aku kembali…kamar mereka kosong. Tidak ada siapa-siapa.”
Jenara menggeleng cepat, seakan masih berharap kenyataan itu berubah.
“Aku sudah mencari ke kebun, ke jalan desa, bertanya pada warga. Tidak ada yang melihat mereka. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi….”
Kalimat Jenara berubah menjadi isak yang tertahan. Bahunya gemetar hebat.
Sementara Seran tidak berkata apa-apa lagi. Wajahnya mengeras. Rahangnya mengatup kuat dan sorot matanya berubah dingin. Ia pun menoleh ke pekerja pengangkut beras yang sejak tadi berdiri kebingungan.
“Letakkan beras itu di beranda rumah, dan pulanglah," perintah Seran singkat.
Tanpa menunggu lagi, Seran berbalik dan melangkah cepat menyusuri jalan desa. Langkahnya panjang dan pasti, seperti dikejar oleh waktu.
Jenara tersentak dan berlari menyusul. “Kau mau ke mana?”
“Ke rumah Kepala Desa,” jawab Seran tanpa menoleh. “Kita minta bantuan.”
“Aku ikut.”
Jenara tidak berpikir dua kali. Ia mempercepat langkahnya, hampir setengah berlari di samping Seran.
Jalan menuju rumah Kepala Desa terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah diiringi pikiran-pikiran buruk yang tak mau berhenti bermunculan.
Bagaimana jika 3G diculik? Bagaimana jika mereka disakiti? Bagaimana jika ia datang terlambat?
Jenara menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan diri agar tidak menangis keras di tengah jalan.
Rumah Kepala Desa berdiri di ujung jalan utama, lebih besar dari rumah warga lain. Begitu sampai, Seran langsung memanggil tanpa basa-basi.
“Pak Kepala Desa!”
“Ada apa pagi-pagi begini, Seran? Apa ada masalah?” tanya Kepala Desa bingung melihat Seran dan Jenara ke rumahnya.
Seran langsung menjawab. “Anak-anak kami hilang, Pak."
Kepala Desa terkejut. “Hilang?”
Jenara tidak sanggup lagi menahan diri. Air matanya jatuh satu per satu, lalu berubah menjadi isak yang tak terkendali.
“Ini… ini salah saya, Pak,” ucapnya dengan suara bergetar. “Saya meninggalkan mereka sendirian di rumah saat mereka masih tidur.”
Kepala Desa mendekat, raut wajahnya berubah serius.
“Kau meninggalkan mereka untuk apa, Jenara?”
Jenara mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan, mencoba mengatur napas.
“Saya… saya hanya ingin mengambil tanaman di hutan. Saya berniat berjualan makanan mulai siang ini," jelas Jenara menahan kepedihan.
“Tapi ketika saya pulang, mereka tidak ada. Saya sudah mencari ke mana-mana, Pak."
Kepala Desa terdiam sejenak, menatap Jenara dengan sorot mata penuh pertimbangan. Pria tua itu menghela napas panjang. Pandangannya menyapu wajah Jenara yang masih pucat, lalu beralih ke Seran.
“Niatanmu bagus, Jenara. Ingin bekerja, ingin mandiri. Tapi satu hal tetap tak boleh kau lupakan, yaitu menjaga anak-anak.”
Kata-kata itu tidak keras, tetapi cukup membuat dada Jenara terasa ditusuk pelan. Ia menunduk dalam-dalam dengan jemari yang saling menggenggam erat.
Pak Kepala Desa lantas duduk di bangku kayu sambil menyilangkan tangan.
“Kalau dipikir-pikir, siapa orang yang paling mungkin dekat dengan anak-anak kalian, di desa ini?”
Seran dan Jenara saling berpandangan. Hampir bersamaan, keduanya menjawab, “Ranisya.”
Kepala Desa mengangguk kecil. “Kita coba ke rumahnya sekarang. Kita tanyakan baik-baik.”
Tanpa menunda, mereka bertiga menyusuri jalan desa menuju rumah Ranisya. Setiba di halaman rumah perempuan itu, suara anak-anak langsung terdengar.
Di beranda rumah itu, Giri, Gatra, dan Gita duduk bertiga di atas tikar pandan. Di tangan mereka ada mangkuk berisi bubur gandum manis bercampur susu, masih mengepul hangat. Gita bahkan tampak sedang meniup buburnya dengan wajah serius.
Dada Jenara langsung terasa sesak. Tanpa peduli apa pun, ia berlari maju.
“Giri… Gatra… Gita!”
Tiga kepala kecil itu menoleh serempak. Mata mereka membesar.
“Ibu!”
Sambil berurai air mata, Jenara langsung memeluk mereka bertiga sekaligus. Tangannya gemetar saat merengkuh tubuh-tubuh kecil itu, mencium rambut mereka satu per satu.
“Syukurlah, kalian baik-baik saja. Maafkan Ibu...,” bisiknya berulang, suaranya parau.
Namun sebelum keharuan itu bertahan lama, sebuah tawa kecil yang sinis terdengar.
“Kenapa menangis seperti itu, Jenara? Kau sangat berlebihan."
Jenara mendongak. Ranisya berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, bibirnya melengkung penuh ejekan.
“Seharusnya, kau berterima kasih padaku.”
Jenara perlahan berdiri, masih memegang bahu Gita dan Gatra.
“Berterima kasih?" ulang Jenara dingin. "Kau membawa anak-anakku tanpa izin, Ranisya. Kau tahu aku hampir gila mencarinya."
Ranisya mendengus ringan. Ia mencondongkan badan sedikit, menatap Jenara dari atas ke bawah.
“Kau ibu yang tidak bertanggung jawab, Jenara. Meninggalkan tiga anak tirimu sendirian di rumah pagi-pagi buta," ujarnya menyudutkan Jenara.
“Kebetulan aku datang untuk mengantarkan bubur kesukaan Kak Seran. Dan aku melihat mereka baru bangun tidur, kebingungan, tidak ada orang dewasa di rumah. Daripada mereka dalam bahaya, aku mengajak mereka ke rumahku. Itu namanya kasih seorang ibu.”
Jenara menahan napas, matanya memerah menahan marah.
“Kau menyebut ini kasih? Sama saja kau menculik mereka.”
“Enak saja!” Ranisya membentak kecil. “Jaga mulutmu, Jenara.”
Melihat keributan itu, Seran akhirnya melangkah maju. Ia berdiri di antara mereka untuk melerai.
“Cukup, Ranisya! Lain kali kalau kau ingin mengajak anak-anakku, izin dulu padaku. Jangan bertindak sepihak seperti ini," tegas Seran.
Ekspresi Ranisya langsung berubah. Dengan jari telunjuk, ia menuding langsung ke wajah Jenara.
"Kak Seran malah menyalahkan aku? Jelas yang salah itu Jenara, dia meninggalkan anak-anak. Pasti dia ingin berselingkuh dengan mantan kekasihnya!"
Jenara tersentak. "Jangan memfitnah, Ranisya! Aku pergi ke hutan untuk mencari tanaman. Aku akan berjualan makanan mulai hari ini!”
Di saat bersamaan, Rasmi, ibu Ranisya, keluar dari dapur lalu menyeringai kecil.
“Kau mau berjualan makanan, Jenara? Siapa yang mau beli? Bisa-bisa warga desa muntah dan sakit perut saat memakan masakanmu."
Ranisya ikut tertawa pelan. “Benar. Jangan membuat kami tertawa dengan alasan konyolmu.”
Mendengar keributan itu, beberapa warga desa yang rumahnya berdekatan dengan Ranisya langsung berkerumun. Mereka ikut menyaksikan dengan rasa penasaran yang membuncah.
Jenara pun menatap Ranisya dan Rasmi bergantian. Kali ini, ia tidak menunduk. Pendiriannya tidak goyah sama sekali di hadapan mereka.
“Kalau kalian tidak percaya, buktikan saja. Dalam tiga jam ke depan, aku akan berjualan di depan rumahku.”
Ranisya menyilangkan tangan. “Lalu?”
“Kalau ada dua puluh orang warga desa yang membeli makananku, kau harus meminta maaf padaku," pungkas Jenara seraya maju dua langkah, mendekati Ranisya.
“Dan kau harus membantuku memasak seharian penuh, tanpa mengeluh."
Suasana mendadak sunyi. Ranisya tersenyum miring sambil menatap malas ke arah Jenara.
“Aku terima tantanganmu, Tapi, syaratnya diubah," pungkas Ranisya dengan nada angkuh.
"Siang ini, aku dan Ibu juga akan berjualan mi kuah. Jika warga yang membeli makanan kami lebih banyak darimu, kau yang harus menjadi pembantu di rumahku, Jenara."
Seran terkejut mendengar tantangan yang disampaikan Ranisya untuk istrinya. Ia segera menghampiri Jenara, bermaksud untuk mengajaknya pulang. Namun, Jenara justru menoleh kepada Kepala Desa.
"Setuju! Kita buat janji ini di depan Pak Kepala Desa sebagai saksi. Kita lihat, makanan siapa yang lebih disukai warga desa."