NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersentuh oleh kenangan

 Usai makan bersama, mereka memutuskan untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring secara bersama-sama.

  Hanya Tya yang tidak membantu, dia duduk di teras rumah, menatap pemandangan sawah dan gunung yang begitu indah, "aku harus bujuk ayah, agar mau tinggal di desa. Ya karena, di kota aku cuma lihat jalan aspal, kalau mau lihat pemandangan lain harus dari atas balkon, ugh, sungguh nggak asyik." Tya bicara sendiri.

  Rama menghampiri dengan membawa gitar milik Ayub, "Tya, sepertinya kakak bisa bermain gitar." Ucap Rama penuh keyakinan, yang membuat Tya jadi penasaran.

  "Benarkah? Coba mainkan, aku mau lihat." Kekeh Tya, lalu menoleh ke arah pohon besar, "bagaimana jika kita duduk di sana saja, kak?" Tya menunjuk sebuah pohon yang rindang dengan daun hijau yang lebat, di bawahnya terdapat tempat duduk yang terbuat dari bambu, tampak sangat nyaman jika digunakan untuk bersantai sambil bermain gitar.

  Rama menganggukan kepala, "ide bagus!" katanya, lalu mereka berlari ke arah pohon.

  Dengan begitu cepat mereka berebut tempat duduk yang terbuat dari bambu itu, Rama memegang gitar dengan hati-hati, ia meletakan jari-jarinya di atas senar, namun suaranya tidaklah merdu seperti saat orang lain memainkannya.

  "Yah, ternyata susah Tya. Aku pikir tingal gini-gini," ucap Rama sambil memetik senarnya, namun suara yang didapat sama sekali tidak merdu.

  "Coba lagi, kak." Ucap Tya memberi semangat.

  Rama menghela napas, lalu mencoba memahami bagaimana jari-jarinya harus diletakkan di atas senar. Namun lagi dan lagi suara yang keluar tidaklah merdu, melainkan seperti suara yang tidak harmonis dan menyakitkan telinga.

  Tya tertawa, "nggak semudah itu, kakak. Kakak harus belajar sama mas Ayub." Ucap Tya yang membuat Rama terkekeh.

  Pendapat Tya tidak dihiraukan oleh Rama, dia tidak menyerah, tetap mencoba lagi dengan lebih berhati-hati, namun hasilnya masih saja tidak seperti yang dia harapkan. Jari-jarinya masih saja terasa kaku dan tidak fleksibel.

  Rama mulai merasa frustasi. "Argh, ternyata susah. Tapi aku tidak akan menyerah," katanya.

  Tya menahan tawa saat Rama merasa frustasi, namun tidak mau berhenti mencoba. Galih datang dari belakang, tersenyum sambil meraih gitar dari tangan Rama tanpa berkata, lalu duduk di antara Rama dan Tya. Dia tunjukan pada anaknya cara bermain gitar yang benar, agar menghasilkan suara yang merdu dan enak untuk di dengar.

  Rama mengamati, "cuma begitu kenapa bisa terdengar enak banget, ayah? Tadi aku gitu kenapa nggak dapat suara sebagus ini?"

  "Perhatikan jari tengah om Galih, beda sama kakak tadi." Kata Tya sambil menahan tawa.

  "Sok tahu kamu, Tya." Ketus Rama yang membuat Tya semakin ingin meledeknya.

  "Berikan padaku, om." Pinta Tya sambil langsung meraih gitarnya dari tangan Galih.

  Saat Tya memainkan gitar itu, suaranya memang belum semerdu ketika Galih yang memainkan. Namun tidak fals seperti saat Rama yang memainkannya.

  "Ih, kok kamu bisa, Tya?" ucap Rama, yang membuat Tya tersenyum bangga.

  "Makanya perhatikan letak jari om Galih," Tya memberikan gitarnya pada Rama. "Ayo, kakak coba lagi!"

  Galih melihat Ayub dan teman-temannya datang, "belajar sama Ayub, Rama." Katanya.

  "Nggak ah, aku malu, ayah." Kata Rama.

  "Kalau malu belajar mana bisa bermain gitar, kakak?" Saut Tya.

  "Kalau malas belajar matematika, mana bisa mengerjakan PRnya sendiri, Tya?" balas Rama yang membuat Tya mengaruk-garuk rambutnya.

  "Rama!" panggil Ayub. "Kita mau mancing di kali, mau ikut, nggak?"

  Rama bingung, sebenarnya ingin sekali ikut mereka mancing, tapi kesempatan bersama ayah dan ibunya di waktu yang sama belum tentu terulang lagi.

  "Kalau mau ikut, ikut saja, Rama. Biar ayah nunggu di sini sama Tya." Kata Galih setelah mengamati wajah bingung Rama.

  "Nggak, mas Ayub." Tolak Rama, "maaf ya, lain kali aku pasti mau, sekarang aku mau belajar cara main gitar dulu." Alasannya.

  "Ya sudah, kalau begitu kita tinggal ya..." kata Ayub.

  "Kita pergi dulu, mas Galih, Rama, dan Tya." Pamit mereka.

  "Ayo om, mainkan lagi gitarnya, kasih paham sama kakak Rama." Ucap Tya setelah perginya Ayub dan teman-teman.

  "Oke, Tya." Kata Galih sambil mengarahkan jari Rama ke senar gitar tersebut.

  "Coba letakan jari tengahmu di sini ya, Rama." Galih menunjukan letaknya, "lalu petik senar yang ini dengan jari telunjukmu." Instruksi dari sang ayah.

 Rama mencobanya, namun justru suaranya tidak keluar.

  "Ha ha, malah nggak ada suaranya?" ledek Tya yang mendorong Rama semakin ingin dapat melakukannya.

  Galih pun ingin tertawa, namun dia tahan agar tidak mematahkan semangat Rama.

 "Oke, nggak masalah. Kita coba lagi, ya?" Ucap Galih sambil terus memberi arahan pada Rama.

  Untuk kesekian kalinya, akhirnya Rama berhasil. Berkat kegigihan, perlahan-lahan Rama mulai menguasai. Nada-nada sederhana mulai ia mainkan dengan lancar, suaranya pun sudah tidak fals lagi.

  "Wah, kak Rama hebat."

  "Aku bisa kan, Tya?" ucap Rama dengan banga.

  "Iya, kakak bisa. Walaupun harus diulang-ulang." Tya tersenyum meledek Rama.

  "Ngeledek terus, kakak nggak mau ngerjain PR matematika mu lo, Tya!" ancam Rama.

  "Eh, ya udah, kakak hebat." Kata Tya karena takut pada ancaman Rama.

  Galih dapat merasakan kedekatan diantara mereka, meski bukan saudara kandung. "Sini, ayah yang mainkan." Galih mengambil gitar dari tangan Rama, "kalian mau lagu apa?"

  "Emm," jari telunjuk Tya mengetuk-ketuk pipinya. "Yang om Galih bisa ajalah."

  "Banyak yang om Galih bisa, Tya."

  "Ya sudah, kalau begitu nyanyikan lagu yang paling bagus pada masa muda om Galih." Ucap Tya yang membuat Galih tersenyum, lalu menyanyikan beberapa lagu untuk mereka.

  "Ih, ternyata ayah mu hebat, kak Rama!" Ucap Tya kagum.

  Rama mengangguk dengan gembira sambil bertepuk tangan untuk ayahnya. "Aku tidak tahu kalau ayah bisa bermain gitar dan bernyanyi, ayah benar-benar hebat!" ucapnya sambil memberi acungan jempol, ia merasa bangga pada ayahnya.

  Suara ayahnya yang merdu dan ekspresif membuat Rama merasa seperti berada di dalam lagu itu, ia dapat merasakan emosi yang kuat dalam setiap kata yang Galih nyanyikan.

  "Mau lagu apa lagi?" tanya Galih pada kedua anak itu.

  Rama hendak menjawab, namun Tya berbisik di telinganya. "Ibu datang, sepertinya mau manggil kita," katanya.

  Bisikan Tya memicu ide dari Rama. "Nyanyi satu lagi ya, ayah?"

  Galih tersadar, ternyata waktu sudah hampir sore saat ia menatap jam yang melingkar di tangannya, "tapi sudah sore, Rama."

  "Sekali lagi saja, ayah." Ucap Rama memohon sambil melirik ibunya yang semakin dekat, "aku mohon, ayah." Sambungnya lagi, setelah melihat ayahnya hanya berpikir.

  Galih menghela napas, "baiklah, kamu mau ayah nyanyi lagu apa?"

  Rama dapat bernapas lega, ia dapatkan kesempatan itu. "Lagu yang ayah persembahkan untuk ibu." Ucap Rama yang dijawab gelengan kepala oleh Galih.

  "Nggak ada, Rama. Ayah nggak tahu," ucapnya datar.

  "Ayolah, Ayah. Kesempatan ini nggak akan hadir dua kali, kan? diantara jutaan lagu pasti ada salah satunya." Rama terkekeh, hingga Galih akhirnya mau.

  Galih kembali menghela napas dalam-dalam, memetik gitarnya lalu mulai menyanyikan lagu yang tiba-tiba muncul di benaknya.

Jauh di lubuk hatiku

Masih terukir namamu

Jauh di dasar jiwaku

Engkau masih kekasihku...

Hatinya bergetar saat mendengar lagu itu, Arumni merasa tersentuh oleh kenangan, namun tidak lagi memiliki perasaan yang sama.

Ia dengarkan nyanyian Galih dari samping tempat duduk Tya. "Ssstttt!" Arumni mencegah saat Tya hendak menyapa, sementara Rama yang memang sengaja menyuruh ayahnya bernyanyi untuk Arumni, tersenyum menikmati lagu yang dibawakan oleh Galih.

Dan kuberharap semua ini

Bukanlah kekeliruan seperti yang kukira

Seumur hidupku

Akan menjadi doa untukmu

"Arumni!" panggilan bu Siti memecah suasana.

Galih berhenti bernyanyi, dan menyadari Arumni berada di sana.

"Iya, bu Siti." Arumni segera menghampiri bu Siti, salah satu tetangga yang sedari tadi belum bertemu denganya, karena bu Siti bekerja berangkat pagi pulangnya menjelang sore. Mereka saling menyapa, lalu Arumni tampak diajak masuk ke rumahnya.

Galih jadi tersenyum canggung, saat menyadari bahwa Arumni telah mendengarnya bernyanyi, terlebih lirik lagu itu seperti berasal dari dalam hatinya.

"Om Galih, dulu ibu bisa memetik gitar sambil bernyanyi atau tidak?" Tanya Tya dengan begitu polosnya.

"Iya, jangan-jangan ibu juga bisa nyanyi sambil bermain gitar seperti ayah?" timpal Rama.

"Nggak bisa Tya, nggak bisa Rama, ibu nggak bisa nyanyi, suaranya fals, apa lagi kalau main gitar, menyakiti telinga orang yang mendengarnya." Kata Galih yang memicu gelak tawa Rama dan Tya.

"Mas Galih!" teriak Arumni yang membuat Galih membulatkan matanya.

"Apakah ibu mendengar yang baru saja ayah katakan?" bisik Galih yang membuat Rama ikut panik.

"Nggak tahu ayah," ucap Rama.

Arumni menyusul mereka. "Mas Galih, Rama, Tya! Aku panggil-panggil nggak ada yang dengar?"

Galih menghembus napas lega, karena itu berarti Arumni tidak mendengarnya, ia segera berdiri. "Iya, Arumni. Ada apa?"

"Bu Siti mau bertemu kalian juga, ayo kita ke rumahnya." Ucap Arumni, lalu mereka semua ke rumah bu Siti sebelum Adit datang.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!