Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Pesta Ulang Tahun Teman yang Terlarang
Pesta ulang tahun teman yang terlarang akan menjadi ujian berikutnya bagi Lana untuk menguji sejauh mana Adrian sanggup melacak keberadaannya. Ia menatap sebuah kartu undangan berwarna merah muda yang terselip di dalam buku catatan fisikanya dengan perasaan yang sangat bimbang.
Maya sudah berulang kali mengirimkan pesan singkat agar Lana hadir dalam perayaan besar tersebut yang akan diadakan di sebuah kelab malam ternama. Lana sangat menyadari bahwa menginjakkan kaki ke tempat seperti itu tanpa izin suaminya sama saja dengan menggali liang kubur sendiri.
Namun rasa rindu akan kehidupan remaja yang normal terus bergejolak di dalam dadanya hingga mengalahkan logika sehatnya. Ia tidak ingin selamanya dianggap sebagai gadis aneh yang selalu menghilang setelah bel pulang sekolah berbunyi karena pengawalan militer yang sangat ketat.
"Kamu harus datang, Lana, atau semua orang akan semakin yakin bahwa kamu sedang disekap oleh om kaya raya," bisik Maya saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
Lana merasakan keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya saat ia membayangkan reaksi Adrian jika mengetahui niat tersembunyinya ini. Ia teringat akan wajah dingin sang kolonel yang selalu menekankan pentingnya kepatuhan terhadap setiap aturan yang telah dibuat di dalam mansion.
Namun dorongan untuk bebas sejenak dari belenggu aturan militer terasa jauh lebih kuat daripada rasa takutnya terhadap hukuman yang mungkin menanti. "Saya akan mencoba datang, tetapi jangan sampai ada yang tahu mengenai keberangkatan saya nanti malam," jawab Lana dengan suara yang sangat lirih dan penuh kekhawatiran.
Malam itu suasana di dalam mansion terasa sangat mencekam karena Adrian sedang melakukan rapat koordinasi penting di ruang kerjanya yang sangat tertutup. Lana memanfaatkan celah waktu tersebut untuk menyelinap keluar melalui pintu belakang yang biasanya digunakan oleh para pelayan dapur.
Ia mengenakan jaket bertudung hitam untuk menutupi pakaian pesta yang ia kenakan secara sembunyi-sembunyi sejak sore tadi. Lana berlari menuju jalan raya dengan jantung yang berdegup sangat kencang hingga ia merasa seolah oksigen di sekitarnya menghilang.
Ia segera menghentikan sebuah taksi konvensional dan memberikan alamat kelab malam yang tertulis di dalam kartu undangan milik Maya tersebut. Sepanjang perjalanan ia terus meraba bros emas di balik sakunya yang kini terasa sangat berat seolah sedang memberikan peringatan bahaya.
"Apakah saya benar-benar sedang melakukan hal yang sangat gila dengan melanggar perintah seorang kolonel?" gumam Lana sambil menatap bayangannya sendiri di kaca mobil yang gelap.
Sesampainya di lokasi pesta, dentuman musik yang sangat keras dan cahaya lampu warna-warni segera menyambut kedatangan Lana yang masih merasa sangat asing. Ia menemukan Maya dan teman-teman kelasnya sedang menari dengan riang seolah tidak ada beban apa pun yang menghimpit hidup mereka.
Lana mencoba untuk membaur dan melupakan sejenak statusnya sebagai seorang istri rahasia dari pria paling berkuasa di markas besar militer. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama saat ia merasakan getaran kuat pada bros emas yang ia simpan di dalam saku jaketnya.
Cahaya biru kecil pada alat pelacak itu berkedip dengan frekuensi yang sangat cepat dan berubah menjadi warna merah darah yang sangat mengerikan. Lana menyadari bahwa Adrian telah mengetahui posisinya dan kemarahan sang suami akan segera meledak di tempat yang sangat tidak terduga ini.
Melarikan diri dari mansion ternyata tidak semudah yang ia bayangkan karena kini ia bisa melihat beberapa pria berbadan tegap sedang memasuki kelab malam dengan tatapan yang sangat mengancam.