Zhen Nuo editor di salah satu platform novel online. Secara tidak sengaja terjebak di dalam dunia novel yang penuh intrik pernikahan. Dengan semua kemampuannya ia berusaha merubah takdirnya sebagai pemeran pendukung. Yang akan terbunuh di bab kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman yang pantas
Pengecekan di lakukan kembali untuk memastikan api benar-benar padam.
"Selir Yu, api sepenuhnya padam." Ketua Hakim kota berkata dengan yakin.
"Terima kasih atas bantuan dari Ketua Hakim Liu. Berkat anda saya bisa melampiaskan kekesalan di hati ku." Mendekat. Tepat di samping Pria dengan kumis tebalnya itu. Selir Yu berkata, "Malam ini hadiah akan aku kirimkan ke kediaman Liu."
Ketua Hakim Kota mengangguk mengerti. Dia memberikan hormat lalu memerintahkan semua bawahannya untuk pergi. Mengikuti setiap langkahnya.
Selir Yu melihat semua orang yang telah bersedia ikut membantu. "Terima kasih atas bantuan yang kalian lakukan." Dia sedikit merendahkan tubuhnya memberikan hormatnya. Sebagai rasa terima kasih.
Semua orang yang ada di sana cukup terkejut. Tapi juga merasa senang. Mereka ikut memberikan hormat kepada wanita mulia di hadapan mereka.
"Guyi, pastikan pembagian uang dilakukan merata. Jangan sampai terlewatkan," ujar Selir Yu.
"Baik."
Sebelum melangkah masuk ke dalam kereta. Selir Yu melirik tajam kearah Tuan Heng An yang terlihat tidak berdaya bersama keluarganya. "Mata di bayar mata."
Kereta yang di tumpangi Selir Yu berjalan pergi meninggalkan kediaman Heng. Di saat wanita mulia itu telah duduk tenang di dalamnya.
Setelah pembagian uang telah terseleksikan. Semua orang pergi dengan wajah bahagia. Karena uang yang mereka dapatkan bisa menutup keuangan selama satu tahun penuh. Bahkan ada yang mendapatkan uang dapat menutup keuangan selama lima tahun.
Para pengemis dan gelandangan yang ikut juga bisa hidup kenyang selama beberapa bulan kedepan.
"Kembali ke istana." Teriak Pelayan Guyi.
"Baik." Semua pelayan dan prajurit melangkah pergi meninggalkan kediaman Heng setelah keramaian menghilang.
Di saat kesunyian mulai terasa. Istri Tuan Heng An bersimpuh dengan air mata mengalir di wajahnya. "Suamiku, taman indah ku telah menjadi abu."
"Sudah diam. Yang terpenting semua harta kita terselamatkan." Tuan Heng An membentak istrinya.
"Aaaa... Kamar ku."
Beberapa orang merengek melihat kediaman Heng hangus tak bersisa.
"Diam." Tuan Heng memijat keningnya. Mencoba menghentikan rasa pusing di kepalanya.
Di atas menara tertinggi di Ibu Kota. Kaisar Xiao Chen memperhatikan keributan di jalur utama hingga menuju kediaman Heng.
"Wanita itu semakin bertingkah gila." Kedua mata dingin itu menyipit memperhatikan dari kejauhan.
Jubah emas di tubuhnya melayang bebas di saat angin cukup kuat menerpanya. "Zhu Wan, kau sudah menemukan orang yang aku cari?"
"Yang Mulia, tidak ada jejak yang bisa saya temukan dari orang tersebut. Pihak Ibu Suri juga baru-baru ini semakin memperketat penjagaannya istana dalam," jelas Pengawal Zhu Wan.
"Huh..." Menghela napas yang telah menekan. "Jika Ibu Suri telah bertindak. Tidak ada lagi jalan yang bisa di lalui dengan mudah. Tetap waspada. Jangan sampai beliau mendapat kecurigaan sekecil apapun," tegas Kaisar Xiao Chen.
"Baik."
"Aku juga harus kembali. Akan ada tontonan yang seru untuk di saksikan." Kaisar Xiao Chen membalikan tubuhnya lalu berjalan turun dari menara tertinggi.
...~~~...
...Istana Dalam....
Keributan di kediaman Heng yang langsung mengguncang Ibu Kota. Telah sampai ke telinga Ibu Suri Agung yang masih memiliki kekerabatan dengan keluarga Heng.
Para pelayan dari istana persik sudah menunggu kedatangan Selir Yu.
Istana Lili tempat tinggal Selir Yu juga telah di kepung pihak dari Ibu Suri Agung.
Dengan tatapan tenang, Selir Yu berjalan santai meski tahu bahaya telah datang kearahnya.
"Selir Yu, Ibu Suri Agung meminta anda untuk datang menikmati teh dan mengobrol bersama." Salah satu pelayan kepercayaan Ibu Suri Agung menjadi pengantar pesan.
Selir Yu mengangguk mengerti.
Wanita itu di arahkan menuju ke istana persik yang penuh dengan keindahan. Taman-taman bunga memenuhi halaman utamanya. Para pelayan terlihat di sibukkan dengan menyirami bunga-bunga yang sudah bermekaran.
"Guyi, kenapa ada begitu banyak pria muda di sini. Wajah-wajah mereka cukup tampan," bisik pelan Selir Yu.
Pelayan Guyi melangkah lebih dekat. Dia mendekatkan wajahnya kearah telinga Selir Yu. Memberitahukan semua yang ia ketahui tentang Ibu Suri Agung Bao Yu.
Selir Yu menutupi mulutnya yang mengangga karena terkejut. "Benarkah?"
Pelayan Guyi mengangguk.
"Wanita tua yang penuh gairah," ujar Selir Yu yang kelepasan.
Pelayan kepercayaan Ibu Suri Agung seketika menatap kearahnya. Membuat Selir Yu melihat kearah lain dan bertingkah selayaknya wanita bangsawan. Tetap tenang meskipun hari itu bisa menjadi akhir buruk untuknya.
Pelayan wanita mengarahkan tamu Ibu Suri Agung masuk kedalam ruangan peristirahatan.
Baru saja kaki Selir Yu melangkah masuk. Bau dupa wewangian menyebar seperti peluru yang langsung menyumbat hidungnya. 'Bau ini lagi.'
Bau wewangian itu membuat kepalanya terasa pusing. Tapi dia tidak bisa bertindak gegabah. Tetap tenang, dan tenang.
"Ibu Suri Agung." Selir Yu memberikan hormatnya. Di saat dia berhenti di hadapan wanita dengan guan hijau giok. Dan Kalung permata zamrud yang ada di lehernya berkilat cerah terlihat sangat indah. Dua pria berdiri tenang tepat di belakang wanita paruh baya itu. Mereka menjadi penggerak kipas kecil. Agar menghasilkan udara yang sepoi dan lembut.
Empat pintu, enam jendela di buka. Cahaya dari luar sepertinya masih kurang cukup. Karena lilin masih menyala di setiap sudut ruangan itu.
Ibu Suri Agung masih membaringkan tubuhnya. Dia bahkan enggan untuk bangkit. Tatapan matanya lebih tenang dari danau tanpa gangguan ikan. "Kau datang." Mengulurkan tangannya memberikan arahkan kepada wanita di depannya agar duduk.
Selir Yu merendahkan tubuhnya beberapa detik lalu tegak kembali. Dia duduk mengikuti perintah wanita paruh baya di depannya. 'Dia big boss sesungguhnya. Orang di balik kekuatan keluarga Heng yang dapat membuat Xiao Chen tidak berdaya.'
Pelayan wanita mendekat menuangkan teh hangat dalam cangkir yang bersih. Setelah penuh ia berikan cangkir berisi teh itu kepada Selir Yu.
Keringat dingin sudah meluncur bebas dari punggung Selir Yu. Wanita itu menatap tanpa rasa takut. Tapi hatinya berkecamuk mencoba mencari cara agar bisa terbebas dari wanita dengan kekuasaan di tangannya.
"Aaahhh..." Ibu Suri Agung Bao Yu bangkit dengan menekan kepalanya. "Berkat Selir Yu. Sakit kepala ku tidak kunjung sembuh. Benar-benar sangat mengesalkan."
Selir Yu hanya tersenyum tipis.
Wanita paruh baya itu duduk tegak di atas kursi. Sedangkan Selir Yu duduk di bawah dengan alas yang telah di sediakan. Hal ini untuk mempertegas kedudukan keduanya jauh berbeda.
Selir Yu meminum perlahan teh yang telah di sediakan. Setelah selesai, dia meletakkan kembali cangkir yang ada di tangannya di atas meja. "Dua hari yang lalu aku mendapatkan obat sakit kepala yang cukup manjur. Jika sakit kepala Yang Mulia masih juga belum membaik. Aku bisa memberikan resepnya. Aku jamin dalam hitungan menit. Sakit kepala anda akan sembuh."
Ibu Suri Agung menatap tenang. "Baik. Aku menunggu resep yang Selir Yu katakan."
Selir Yu tersenyum lembut dengan anggukan kecil. "Jika Yang Mulia tidak memiliki perintah lain lagi. Aku mohon pamit undur diri. Sudah dua hari terakhir ini. Aku di sibukkan mengurus tuan muda gila yang hampir saja merugikan adik kedua ku." Bangkit perlahan.
"Baik. Sepertinya aku juga tidak bisa menahan mu terlalu lama di sini," ujar Ibu Suri Agung Bao Yu.
Selir Yu memberikan hormatnya. Dia berbalik lalu berjalan pergi meninggalkan Istana Persik.
Pelayan wanita mendekati Ibu Suri Agung Bao Yu. "Yang Mulia, kenapa anda tidak memberikan pelajaran untuknya? Dia telah dengan terang-terangan melakukan perlawanan kepada anda."
Ibu Suri Agung Bao Yu tersenyum namun kedua matanya penuh kelicikan. "Dia pasti akan mendapatkan ganjarannya." Melirik kearah penutup kayu yang ada di sampingnya. "Pejabat Yu, bagaimana menurut mu?"
Tuan Yu Wangyi keluar dari tempat persembunyiannya. "Yang Mulia dapat menentukan hukuman yang pantas untuknya. Saya tidak akan ikut campur."
mungkin sebenarnya selir Yu ingin melindungi adiknya makanya dia melarang ayahnya mengirim adiknya ke istana krn selir Yu tahu bagaimana sulit dan bahaya nya tinggal di istana