Dahulu kala, seorang Kaisar Kuno yang agung berhasil menyatukan empat kekaisaran dan menaklukkan dewa penguasa demi melindungi keseimbangan dunia. Namun, di puncak kejayaannya, ia dikhianati dan ditikam dari belakang oleh murid kesayangannya sendiri yang bekerja sama dengan sekte iblis, hingga raganya jatuh ke dalam lembah kegelapan. Sepuluh ribu tahun berlalu, sang Kaisar bereinkarnasi menjadi Shang Zhi, seorang bocah miskin yang hidup menderita di jalanan. Tragedi kembali menghampirinya saat ibunya tewas, memicu takdir baru ketika ia diselamatkan oleh seorang master misterius.
Perjalanan Shang Zhi menuju Perguruan Tian Long membawanya bertemu dengan Yun Xi, seorang gadis periang yang perlahan menumbuhkan benih romansa di tengah kerasnya pengembaraan. Namun, bahaya selalu mengintai saat kelompok perompak menyerang dan memaksa segel misterius dalam tubuh Shang Zhi bangkit, mengubahnya menjadi sosok buas yang tak kenal ampun demi melindungi orang yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam berdarah dan hukuman
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yun Xi tertidur tanpa air mata. Di dalam mimpinya, ia melihat Shang Zhi melambaikan tangan di padang bunga yang luas, membisikkan satu kata yang akan menjadi pegangannya "Bertahanlah."
Lantai kayu Paviliun Teratai berderit di bawah langkah kaki Yun Xi yang kini tak lagi ragu. Tiga minggu telah berlalu sejak kabar kematian palsu Shang Zhi merobek jiwanya, namun alih-alih hancur, reruntuhan hatinya justru mengeras menjadi baja. Rencana pemberontakan kecilnya dimulai malam ini, saat bulan tertutup mendung tebal dan aroma hujan tanah memenuhi udara Kekaisaran Qian Long.
Yun Xi tidak memiliki pasukan, namun ia memiliki amarah seorang putri yang dikhianati. Menggunakan jepit rambut perak yang telah ia asah setiap malam pada pinggiran tempat tidur batu, ia menunggu. Ketika lonceng tengah malam berdentang, seorang pelayan muda kaki tangan Yun Jian yang sering menghinanya masuk untuk mengantarkan air cuci muka.
"Putri, waktunya bersuci. Meskipun jiwa Anda sudah kotor oleh ilmu hitam, setidaknya wajah Anda harus pantas dilihat maut," ejek pelayan itu dengan tawa kecil yang meremehkan.
Yun Xi tidak menjawab. Saat pelayan itu membungkuk, dengan gerakan yang lebih cepat dari dugaan siapapun, Yun Xi menghujamkan jepit rambutnya ke telapak tangan pelayan tersebut yang memegang wadah, lalu dengan tangan satunya, ia merebut kunci yang tergantung di pinggang pelayan itu.
"Siapa yang memberimu hak untuk bicara pada putri kekaisaran seperti itu?" bisik Yun Xi dingin. Suaranya bukan lagi suara gadis yang lembut, melainkan desisan pedang yang dicabut dari sarungnya.
Ia berlari keluar, menerjang lorong yang gelap. Para penjaga yang terkejut mencoba menghentikannya, namun Yun Xi telah mempelajari pola mereka. Ia tidak bertarung dengan tenaga, melainkan dengan kegilaan. Ia menjatuhkan obor-obor minyak ke arah tirai sutra mahal istana, menciptakan kebakaran yang seketika memicu kepanikan.
"Ayah! Ayah, lihatlah apa yang mereka lakukan!" teriaknya, suaranya menggema di sepanjang lorong menuju Aula Utama.
Yun Xi berhasil mencapai depan gerbang Aula Agung sebelum dikepung oleh puluhan prajurit elit. Di sana, Yun Jian berdiri dengan wajah merah padam, sementara di belakangnya, Kaisar Qian Long duduk di singgasana dengan tatapan kosong, seolah nyawanya telah pergi bersama mendiang permaisuri.
"Yun Xi! Kau sudah benar-benar gila!" teriak Yun Jian. "Membakar istana? Menyerang pelayan? Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan gelap telah merasuki jiwamu!"
"Satu-satunya kegelapan di istana ini adalah kau, Paman!" balas Yun Xi. Ia berdiri tegak di tengah kepungan, pakaian tidurnya ternoda abu dan percikan darah. "Kau membunuh Shang Zhi, kau membius ayahku dengan kesedihan buatanmu, dan kau mencuri kekaisaran ini dari balik bayang-bayang!"
Kaisar Qian Long sedikit tersentak mendengar nama putrinya, namun Yun Jian segera berbisik di telinga sang kaisar, "Lihatlah, Yang Mulia... putri Anda menyerang prajurit kita. Dia membahayakan nyawa Anda demi pemuda pengkhianat itu. Jika kita tidak menghukumnya, rakyat akan mengira Anda mendukung ilmu hitam."
Sang Kaisar menatap Yun Xi. Ada setitik air mata di sudut mata pria tua itu, namun kelemahannya jauh lebih besar daripada rasa sayangnya. Ia membuang muka, sebuah tanda penolakan yang paling menyakitkan bagi seorang anak.
Pengasingan ke Paviliun Awan Dingin
Hukuman mati sebenarnya adalah tujuan Yun Jian, namun ia tahu mengeksekusi putri kandung kaisar di tengah kekacauan ini bisa memicu pemberontakan rakyat. Maka, ia memilih hukuman yang lebih kejam: Pengasingan Abadi.
"Atas nama Kaisar, Putri Yun Xi dicopot dari segala gelar kehormatannya," umum Yun Jian dengan suara yang menggelegar di hadapan para pejabat istana yang gemetar. "Ia akan dibuang ke Paviliun Awan Dingin di lereng Gunung Utara. Tempat di mana matahari tak pernah menyentuh tanah, tempat di mana para bangsawan berdosa menunggu ajal dalam kesunyian."
Paviliun Awan Dingin bukan sekadar tempat tinggal; itu adalah sebuah penjara terbuka yang terisolasi dari dunia luar. Terletak di puncak tebing yang selalu tertutup kabut abadi, tempat itu hanya dihuni oleh angin kencang dan suhu yang menusuk tulang. Secara tidak langsung, ini adalah hukuman mati yang diperlambat.
Yun Xi diseret tanpa alas kaki mendaki jalan setapak yang terjal. Jubah mewahnya telah diganti dengan kain rami kasar yang tipis. Setiap langkahnya meninggalkan jejak merah di atas salju, namun ia tidak sekali pun mengeluh.
Sesampainya di gerbang Paviliun Awan Dingin yang lapuk dan tertutup lumut beku, prajurit yang mengantarnya mendorongnya masuk dan mengunci gerbang besi besar di belakangnya.
"Jangan berharap ada yang datang menjemputmu, Putri Terkutuk," ludah salah satu prajurit sebelum mereka pergi meninggalkan kesunyian yang mencekam.
Yun Xi berdiri sendirian di halaman paviliun yang luas dan terbengkalai. Angin dingin melolong, seolah-olah ribuan arwah bangsawan yang mati di sana sedang menyambutnya. Namun, di tengah kesunyian itu,
Yun Xi justru merasakan kebebasan yang aneh. Di sini, tidak ada lagi pengawasan Yun Jian. Di sini, ia bebas untuk merencanakan pembalasannya.
Ia berjalan menuju tepi tebing, menatap ke arah selatan arah Gurun Kematian tempat Shang Zhi dikabarkan tewas.
"Shang Zhi..." bisiknya, napasnya membentuk uap putih di udara yang membeku. "Jika kau benar-benar telah menjadi debu, maka jadilah angin yang membantuku meruntuhkan mereka. Tapi jika kau masih hidup... carilah aku di puncak awan ini."
Yun Xi tidak tahu bahwa jauh di cakrawala, di tengah badai pasir yang ganas, seorang pria dengan baju compang camping sedang mencengkeram erat sebilah pedang , matanya menyala dengan tekad yang sama. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
...Bersambung.......