NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Kantor pengacara itu berada di lantai dua sebuah ruko modern di Depok. Bangunannya terlihat rapi dan profesional. Dimas naik tangga pelan-pelan sambil memperhatikan bagaimana interior kantor itu ditata.

Ia masuk melalui pintu kaca bening. Seorang wanita cantik duduk di meja resepsionis, sedang menerima telepon. Suasana kantor tampak sibuk dan berkelas semua orang berpakaian rapi, jelas ini firma hukum papan atas.

Sepertinya, untuk urusan yang berskala internasional, memang butuh kantor seperti ini.

“Halo, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis itu sambil berdiri, senyumnya ramah.

“Ya, saya butuh konsultasi soal perusahaan IT. Saya baru merintis,” jawab Dimas sambil maju ke konter. Dengan tabungan miliaran rupiah di rekeningnya, ia cukup percaya diri.

“Baik. Saya lihat ini pertama kalinya Bapak datang ke sini?” Suaranya halus dan sopan, tanpa kesan menggurui.

“Iya, memangnya ada masalah?” Dimas menatap sekeliling. Kantor ini benar-benar premium.

“Tidak, Pak. Hanya saja tidak semua pengacara selalu ada di kantor. Mereka ada sidang dan kerja lapangan. Pengacara yang Bapak butuhkan namanya Pak Darwin Siregar, spesialis kekayaan intelektual. Beliau sedang tidak ada hari ini. Tapi kalau Bapak mau, saya bisa buatkan janji ada biayanya sedikit.”

Dimas mengangguk. Untuk kantor hukum terbaik di wilayah itu, ia memang ingin bekerja sama dengan pengacara yang tepat. Ia mengeluarkan uang tunai Rp2.000.000 untuk biaya janji temu.

Setelah selesai, ia melihat jam. Bank sudah tutup, jadi ia memutuskan pulang ke asramanya. Hari sudah menunjukkan pukul enam sore. Seperti biasa, Dimas duduk di meja kecilnya, menyelesaikan tugas kuliah, lalu membuka laptop.

Laptop itu sangat lambat tidak seperti di kehidupan sebelumnya, tapi ia mulai terbiasa. Meski begitu, ia tetap bersyukur diberi kesempatan untuk memulai hidup baru.

Tiba-tiba ia teringat beberapa hari lalu ia mengirim uang sekitar Rp5.000.000 ke rekening ayahnya. Tapi sampai sekarang ia belum menelepon. Jadi malam itu, ia memutuskan untuk menghubungi ayahnya hanya untuk memberi kabar bahwa ia baik-baik saja.

Untungnya sekarang ia punya ponsel, begitu juga ayahnya yang mendapat jatah dari pabrik. Dimas pun menekan nomor ayahnya dan menunggu sambungan tersambung.

Telepon berdering sebentar sebelum akhirnya diangkat.

“Halo, ini Roy.”

“Ayah, ini aku, Dimas. Apa kabar?”

“Dimas? Wah… Ayah sehat. Kamu gimana di sana?”

“Aku juga baik, Yah. Gimana Ibu dan Andi?”

Percakapan awal berlangsung santai. Tapi karena malam sudah larut dan ayahnya biasa tidur lebih cepat, telepon itu berubah serius ketika ayah Dimas menyinggung soal uang.

“Kamu yang kirim lima juta itu? Ayah sempat ke bank mau balikin, tapi mereka bilang transaksinya resmi dan nggak bisa dibatalkan.”

“Tentu itu dari aku, Yah. Besok aku ada sesi latihan voli. Kalau semuanya lancar, anak sulungmu ini bakal mulai dapat penghasilan besar. Percaya deh, Yah… aku punya bakat. Pelatih di klub pun bilang begitu.”

Dimas sedikit menggombal karena ia tahu ayahnya tidak akan mudah menerima uang begitu saja, kecuali yakin bahwa Dimas akan dapat lebih banyak nanti.

Pak Roy terdiam sejenak sebelum suaranya terdengar berat.

“Seandainya keadaannya berbeda… Ayah mau simpan uang itu buat kamu. Tapi kamu tahu kan kondisi di rumah. Ibumu butuh obat yang harganya tiga juta. Asuransi nggak nutupinya. Ayah… ayah minta maaf sudah jadi beban buatmu.”

Suara ayahnya bergetar. Dimas tahu pria itu keras seperti batu, tapi hidup bisa menghancurkan siapa saja.

“Yah… aku ini anak sulung. Wajar kalau aku ikut bantu beban keluarga. Jangan ambil pinjaman apa pun, ya. Kalau kontrak klub jadi, aku bakal langsung kirim uang lagi. Minimal aku bisa dapat 200 juta pertama. Jadi jangan khawatir.”

Mereka bicara beberapa menit lagi sebelum menutup telepon.

Dimas tersenyum tipis. Ayahnya terkejut saat tahu ia mendapat cek lima juta rupiah dari kampus karena prestasi atletik. Terkadang seseorang perlu sedikit berbohong demi membuat orang tua tenang lima juta itu saja sudah sangat berarti bagi keluarganya.

Meski Dimas punya tabungan jauh lebih besar, ia tidak bisa asal memberikannya begitu saja. Kalau tiba-tiba memberi puluhan juta, ayahnya pasti curiga. Lebih aman menunggu sampai ada alasan resmi kontrak klub voli profesional.

Ia melihat jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan memutuskan tidur. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Pada pukul tiga pagi, ponselnya berdering lagi.

Nomornya Anin.

Meski setengah kesal dibangunkan, ia tetap mengangkat.

“Halo, Anin…”

“Wah, suaranya berat banget,” jawab Anin sambil tertawa kecil. “Baru bangun ya?”

“Y… iya. Aku lagi tidur. Kamu sendiri kok belum tidur?”

“Aku sudah tidur sih, tapi kebangun. Aku ada audisi satu jam lagi, dan gugup banget. Jadi pengin ngobrol sama seseorang.”

Nada suaranya ceria dan bersemangat tipikal Anin.

“Aku kira aku orang pagi, tapi denger suara kamu begini jam tiga, kayaknya kamu lebih pagi dari aku,” balas Dimas sambil duduk di tempat tidur. Ia merasa tidak sopan berbicara sambil berbaring.

“Aku tidur cepat tadi, tapi tetap saja gugup. Kalau kamu biasanya bangun jam berapa? Jangan-jangan kamu lagi ngucek muka tuh sekarang.”

“Biasanya jam lima atau enam.”

“Wah, berarti kamu orang pagi beneran. Orang normal nggak bangun segitu,” kata Anin sambil tertawa.

Percakapan berlangsung hampir satu jam. Setelah itu Anin berangkat audisi, sementara Dimas sudah tidak bisa tidur lagi. Ia akhirnya bangun, jogging satu jam, lalu latihan fisik lagi satu jam.

Setelah mandi, ia membaca buku-buku olahraga dan latihan mental atlet referensi di luar materi kampus untuk menambah wawasan. Kemudian ia bersiap untuk perjalanannya ke Klub Voli.

1
Dedeh Dian
keren bagus cerita nya.. semangat author ayo lanjut...makasih..
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!