NovelToon NovelToon
Ketika Janji Tidak Berakhir

Ketika Janji Tidak Berakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamak3Putri

Aruna Pramesti mencintai dalam diam, ia menerima perjodohan dengan Revan Maheswara dengan tulus.

Menikah bukan berarti dicintai.
Aruna menjadi istri yang diabaikan, disisihkan oleh ambisi, gengsi, dan bayang-bayang perempuan lain. Hingga saat Revan mendapatkan warisan yang ia kejar, Aruna diceraikan tanpa ragu.

Aruna memilih pergi dan membangun kembali hidupnya.
Sementara Revan justru terjerumus dalam kegagalan. Pernikahan keduanya berakhir dengan pengkhianatan, menyisakan luka, kehampaan, dan penyesalan yang datang terlambat.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Revan ingin menebus kesalahan, tapi Aruna terlalu lelah untuk berharap.

Namun sebuah amanah dari ibunya Revan, perempuan yang paling Aruna hormati, memaksanya kembali. Bukan karena cinta, melainkan karena janji yang tidak sanggup ia abaikan.

Ketika Revan baru belajar mencintai dengan sungguh-sungguh, Aruna justru berada di persimpangan. Bertahan demi amanah atau memilih dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamak3Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proses Perceraian

Satu bulan berlalu sejak Aruna kembali ke rumah orang tuanya. Satu bulan yang diisi dengan keheningan, rutinitas sederhana, dan upaya perlahan untuk menata kembali dirinya sendiri. Tidak ada pembicaraan tentang Revan, kecuali jika benar-benar diperlukan. Orang tuanya menghormati keputusan Aruna dengan cara paling sederhana, tidak bertanya berlebihan, tidak menekan, dan tidak memaksanya untuk segera pulih.

Namun Aruna tahu, ia tidak bisa berlama-lama tinggal di sana. Bukan karena ia tidak dicintai, melainkan karena ia ingin berdiri kembali sebagai dirinya sendiri. Maka, setelah satu bulan berlalu, Aruna mengambil keputusan untuk kembali menempati apartemen kecil miliknya. Apartemen yang selama ini kosong, ditinggalkan sejak ia menikah dengan Revan.

“Apa kamu yakin mau kembali ke apartemen, Runa?” tanya ibunya dengan nada khawatir.

Aruna tersenyum kecil. “Aku yakin, bu,” jawabnya.

“Apa gak sebaiknya kamu tinggal di sini saja? Nanti apartemen kamu disewakan saja,” saran ibunya lagi.

“Aku gak suka apartemenku disewakan, Bu. Takut penyewanya gak bisa mengurus dengan baik,” ujar Aruna.

Sebenarnya, ayah dan ibunya tidak setuju Aruna kembali ke apartemen, apalagi mereka tahu Aruna akan tinggal sendirian. Namun karena Aruna tetap bersikeras, orang tuanya hanya bisa pasrah. Mereka berpesan agar setiap hari Sabtu dan Minggu Aruna pulang ke rumah. Aruna pun menyetujui permintaan itu.

Pagi itu, Aruna berdiri di depan pintu apartemennya. Kunci diputar perlahan. Pintu terbuka, dan udara pengap langsung menyambutnya. Apartemen itu sunyi, bersih, tetapi terasa dingin. Aruna meletakkan tasnya di atas sofa, lalu berjalan pelan menyusuri ruangan. Ia membuka jendela, membiarkan cahaya matahari masuk. Debu tipis berkilau di udara, seolah apartemen itu ikut bernapas kembali.

“Mulai dari sini,” gumam Aruna pelan.

Hari-hari berikutnya ia lalui dengan ritme baru. Berangkat kerja, pulang ke apartemen, menyiapkan makan sederhana, lalu tidur tanpa harus menunggu siapa pun. Tidak ada pesan yang ditunggu. Tidak ada suara langkah di malam hari. Anehnya, Aruna justru merasa lebih tenang.

Hingga suatu sore, sebuah amplop cokelat terselip rapi di kotak surat apartemennya. Nama Aruna Putri Pramesti tercetak jelas di bagian depan. Tangannya terdiam di udara selama beberapa detik sebelum mengambil amplop itu. Ia sudah tahu apa isinya, bahkan sebelum membukanya. ‘Surat Gugatan Cerai.’

Tidak lama kemudian, pesan masuk dari nomor Revan. “Aruna. Aku sudah mengurus perceraian kita. Aku harap kamu jangan mempersulit prosesnya.”

Aruna tertawa kecil dengan getir, lalu mengetik balasan. “Tenang saja, Kak Revan. Aku tidak akan hadir, agar gugatan cerai bisa diputus secara verstek.”

Setelah itu, hening. Tidak ada balasan lagi dari Revan.

Aruna masuk ke dalam apartemen, duduk di sofa, lalu membuka amplop itu dengan tenang. Lembar demi lembar ia baca tanpa terburu-buru. Bahasa hukum yang kaku. Tanggal sidang. Pemanggilan pertama.

Aruna melipat kembali surat itu, memasukkannya ke dalam map, lalu meletakkannya di meja kecil dekat jendela. Ia tidak menangis. Sejak awal, Aruna memang telah mengambil keputusan untuk tidak hadir. Bukan karena takut, melainkan karena ia ingin proses itu selesai dengan cepat, tanpa perdebatan yang tidak perlu.

“Aku tidak akan datang agar semua cepat berakhir,” gumam Aruna pelan.

Aruna sengaja tidak menghadiri pemanggilan pertama dan kedua dari pengadilan. Ia membiarkan hari-hari itu berlalu seperti biasa, bekerja, pulang, dan menjalani hidupnya dengan tenang.

Dua bulan kemudian, Revan duduk di ruang sidang. Ia datang tepat waktu, didampingi pengacaranya. Kursi di seberang tampak kosong. Pandangannya tertuju ke kursi itu lebih lama dari yang ia sadari.

“Termohon tidak hadir,” ujar panitera dengan suara datar.

Revan mengangguk singkat. Ia sudah menduganya.

Pengacara Revan membungkuk sedikit ke arahnya. “Ini sudah pemanggilan kedua dan pihak Termohon tetap tidak hadir. Maka perkara dapat diputus secara verstek, Pak.”

Revan tidak menjawab. Tatapannya lurus ke depan. Sidang kedua pun berakhir singkat. Hari putusan ditetapkan. Dan akhirnya, palu hakim diketuk tanpa Aruna berada di ruangan itu.

Perceraian resmi diputus secara hukum negara, tanpa tangisan, tanpa debat, tanpa perlawanan.

Tiga bulan setelah gugatan cerai diputuskan, Aruna menerima akta cerai yang dikirimkan oleh salah seorang staf Revan ke apartemennya. Ia membaca satu kalimat yang menandai akhir dari segalanya, lalu menutup berkas itu perlahan. Tangannya sedikit gemetar, tetapi wajahnya tetap tenang.

Delapan bulan pernikahan itu benar-benar selesai. Aruna berdiri, merapikan map berisi dokumen, lalu menyimpannya ke dalam laci. Ia membersihkan apartemennya, membuat secangkir teh hangat, lalu duduk di dekat jendela.

Ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari ibunya.

“Halo, bu,” jawab Aruna.

“Nak, kamu baik-baik saja?” tanya ibunya khawatir.

“Aku baik, bu. Akta cerai aku udah keluar,” ujar Aruna lirih.

“Terus kamu bagaimana, nak? Apa ibu perlu ke sana menemani kamu?” tanya ibunya dengan nada lembut.

“Gak usah, bu. Aku baik-baik aja. Aku hanya perlu waktu untuk sendiri,” jawab Aruna pelan.

“Yang sabar ya, nak. Kamu berdoa sama Tuhan, minta diberi kekuatan untuk menjalani semua ini,” nasihat ibunya.

“Iya, bu. Terima kasih,” balas Aruna.

Panggilan berakhir. Aruna menghapus air mata yang jatuh di sudut matanya. Ia berusaha kuat dan tidak cengeng. Ini semua adalah pilihannya sendiri. Sejak awal, ia tahu Revan tidak pernah mencintainya. Namun dengan bodohnya, ia tetap bersedia menikah bahkan menyepakati semuanya.

Di tempat yang berbeda, Revan duduk di ruang kerjanya. Tangannya memegang map merah bertuliskan ‘Akta Cerai’ yang kemarin diambil oleh stafnya dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Matanya terpejam, pikirannya melayang pada kilas balik pernikahannya dengan Aruna.

Tiba-tiba pintu terbuka. “Revan,” panggil mamanya.

Revan membuka mata. “Iya, Ma.”

Tatapan mamanya tertuju pada map merah di tangannya. “Ternyata kamu sudah mengambil keputusan itu, ya, nak,” ucapnya.

“Ma, aku.” Revan hendak berbicara.

Namun mamanya mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar Revan berhenti. “Apa pun pilihanmu, semoga itu yang terbaik,” ucapnya pelan.

“Ma, kita sudah membahas ini berulang kali,” kata Revan.

“Memang,” jawab mamanya. “Tapi firasat orang tua tidak pernah salah, nak.”

“Apa maksud Mama?” tanya Revan.

“Kamu tahu kenapa mama dan papa tidak setuju dengan hubunganmu dan Viona, bahkan menjodohkan kamu dengan Aruna?” tanya mamanya.

“Kenapa, ma?” Revan bertanya lagi.

“Karena mama dan papa tahu Viona bukan perempuan yang baik. Dia tidak mencintaimu dengan tulus,” ucap mamanya, lalu terdiam sejenak. “Sementara Aruna, dia istri dan menantu yang luar biasa. Dia bahkan melindungi kamu. Menutupi perselingkuhan kamu dengan Viona.”

Revan terdiam. Di dalam hatinya, ia sadar kalau Aruna memang seorang istri yang baik. Ia menjalankan kewajibannya dengan sungguh-sungguh, meskipun tahu dirinya tidak pernah benar-benar dianggap.

1
Herman Lim
bentar lagi hancur kehidupan Revan dan pasti viona ga akan puas sama Revan skrg dia pasti akan cari yg lebih kaya lagi
kalea rizuky
jangan di buat balik. Thor g rela enak aja abis di buang di pungut dih
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Aidil Kenzie Zie
semoga Aruna setelah ini bisa dapatkan kebahagiaan mungkin dari pak Daniel
Aidil Kenzie Zie
pernikahan karena ego ortu
Abizar Abizar
mending Aruna sama Daniel aja😍
Aidil Kenzie Zie
satu kata untuk Aruna bodoh
Aidil Kenzie Zie
mampir
Herman Lim
kamu Revan yg nikah karna warisan
Imas Yuniahartini
jalan ceritanya bagus tapi endinknya kurang mengena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!