Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedih
Pintu langsung tertutup. Jayden baru saja mendorong pintu dengan kaki.
Di saat bersamaan netra Casey terbelalak. Sebab Jayden merengkuhnya dengan napas memburu dan penuh nafsu.
Lelaki itu sedang memejamkan kedua matanya. Perbuatan Dea tentu saja membuat gairah Jayden langsung memuncak. Dia lelaki normal, itu hal yang wajar, tapi Jayden masih mampu menahan diri dan tidak terjebak dengan permainan Dea. Dia malah membayangkan tubuh istrinya semalam, yang berteriak histeris di bawah tubuhnya.
Sebenarnya Jayden tidak ingin menyentuh Casey. Dia hanya mau mengetahui keadaan istrinya. Jayden teringat perkataan Marisa, jangan sampai membuat Casey terluka.
Dia tak mau mengingkari janjinya. Hanya sebatas janji, begitulah pikiran pendek Jayden. Namun, anehnya, setiap kali bertemu Casey, Jayden tak mampu mengontrol diri.
Saat pintu terbuka, dan suara Casey mengema, anggota tubuhnya bergerak tanpa izin.
'Astaga, ada apa dengannya? Dia kenapa? Sebenarnya apa yang terjadi? Masa suruh aku ke sini gara-gara ini!' jerit Casey dalam hati.
Deg, deg, deg.
Sekarang, Casey mulai heran, mengapa jantungnya berdetak tak beraturan. Seperti orang sedang menghadapi ujian nasional saja.
Mata Casey masih terbuka lebar. Dia dapat melihat mata Jayden tertutup rapat-rapat. Dan sekarang lelaki itu malah memeluknya lebih erat dan lebih dekat lagi, sampai-sampai tak ada jarak lagi yang terbentang di antara mereka.
Casey berusaha mendorong dada Jayden sebab dia mulai kesusahan bernapas sekarang.
"Jayden!" Dengan sekuat tenaga Casey mendorong dada Jayden.
Pelukan terlepas. Jayden terkejut bukan main.
"Kau kenapa sih?" tanya Casey, sambil mengusap bibirnya yang sedikit berair akibat sentuhan Jayden barusan.
Jayden tak membalas, kini memandang wajah Casey amat serius.
Melihat hal itu, debaran di dada Casey bertambah dua kali lipat. Casey jadi salah tingkah dan terlihat sangat gugup sekarang. Dia segera mengalihkan mata ke segala arah, berusaha menghindari tatapan Jayden yang membuat perasaannya kian tak menentu.
"Kalau nggak ada yang urgent aku permisi dulu."
Casey hendak membalikkan badan. Namun, sebelum kakinya bergerak, Jayden sudah terlebih dahulu menarik tangannya.
Casey terkesiap. "Jayden, kenapa sih? Lepaskan aku kita sedang di rumah sakit tahu," sahutnya, berusaha mendorong.
"Nggak kenapa-kenapa, ayo kita buat anak lagi, biar kau cepat hamilnya."
Ekspresi panik nampak jelas di wajah Casey sekarang.
"Tapi Jayden tadi malam kan sudah dan nanti kedengaran orang–hmph!"
Jayden kembali meraup bibirnya, kasar dan liar.
"Jayden!" Casey mendorong lagi. Napasnya ikut ngos-ngosan. "Nanti kedengaran orang, jangan di sini di rumah saja. Apa kau nggak bosan?"
Jayden tak menjawab malah menyeret Casey ke sofa. Bak sebuah magic, Casey malah menurut dan patuh. Dia baru sadar ketika sudah duduk di sofa.
"Jayden, aku keluar–"
"Siapa yang suruh keluar, kita belum selesai, nggak ada penolakan, aku suamimu dan kau nggak usah khawatir ruangan ini kudesain kedap suara."
"Tapi Jayden hmf!" Casey hendak mendorong, tapi Jayden tak memberi jeda untuk protes. Jayden sudah terlebih dahulu menindihnya sambil menekan tombol kecil di dekat sofa.
Casey langsung membeku, Jayden menyambar bibirnya dengan penuh nafsu. Tangan lelaki itu sudah bergerak ke mana-mana, membuka seluruh pakaian Casey dan dirinya.
'Kedap suara? Pasti dia dan Dea sering main di ruangan ini.' Entah mengapa perasaan Casey campur aduk sekarang. Merasa bahagia sekaligus sedih, menyadari satu fakta Jayden hanya ingin memuaskan nafsunya saja.
Padahal ruangan ini didesain khusus untuk kegiatan nakal Jayden. Jayden pria normal, masih perjaka ting-ting, di usia menginjak 33 tahun, belum juga menikah, dia sibuk berkerja. Selama ini Jayden memuaskan hasratnya menggunakan kelima jarinya. Jadi, di waktu stress atau senggang kadang kala Jayden menutup pintu dan mengaktifkan ruangan kedap suara agar suaranya tidak tembus keluar.
Dan Casey lah wanita pertama yang dia sentuh. Yang membuatnya gairahnya selalu tak terkontrol.
Sudah lima menit, Jayden melakukan pemanasan. Tak lupa lelaki itu meninggalkan jejak kemerahan di leher Casey sejak tadi. Dan kini tubuh keduanya tanpa sehelai benang pun.
"Jayden, aku mohon jangan, di rumah saja, apa kau nggak capek tadi malam kan sudah, apalagi badanku bau banget sekarang." Dengan napas terengah-engah Casey mencoba bernegosiasi.
"Nggak, aku nggak capek, lagian kita harus sering berhubungan badan, biar cepat punya anak." Perkataan Jayden barusan, memperkuat bahwa lelaki ini hanya menginginkan anak dari Casey. Hati Casey berdenyut perih, dia semakin merasa sedih.
Casey ingin protes. Namun, Jayden buru-buru membungkam bibirnya. Kali ini dengan memajukan pinggang.
Casey meringis sejenak, jejak percintaan semalam masih terasa di bawah sana. Kini Jayden mulai mengayunkan tubuhnya hingga lenguhan Casey terdengar di ruangan.
"Ah ...." Suara indah Casey membuat Jayden bersemangat.
Di sofa, Jayden semakin menghentakkan pinggangnya dengan sangat cepat, hingga teriakan Casey memenuhi seluruh ruangan.
Tiga puluh menit kemudian, percintaan telah usai. Jayden terpaksa menyudahi, saat baru ingat ada jadwal operasi sebentar lagi. Dan dia harus bersiap-siap sekarang juga.
"Aku pergi dulu, sebelum keluar minumlah air putih," kata Jayden, melihat Casey sekilas masih berbaring di sofa dengan tubuhnya ditutupi selimut kecil milik Jayden.
Casey terlihat nampak lelah sekarang. Beda dengan Jayden, wajahnya berseri-seri dan terlihat segar bugar.
"Hmm." Casey hanya membalas dengan berdeham rendah. Kini pikirannya melayang-layang ke mana, tengah memikirkan selimut yang menutupinya sekarang.
'Ini pasti selimut bekas dia dan Dea.' batin Casey memandang Jayden tengah memutar gagang pintu.
Andai saja Casey tahu. Selimut itu hadiah dari mamanya Jayden. Karena Jayden kadang kala menginap di rumah sakit jika jadwal operasinya padat.
Beberapa menit kemudian, Casey bergegas memakai pakaian kerja dan memutuskan keluar dari ruangan.
Namun, baru saja beberapa kali mengayunkan kaki, Casey disambut dengan sebuah tamparan yang sangat kuat dari seseorang.
Plak!!!
"Dasar jal*ng!" pekiknya.
"Awh!" Casey membelalakan mata, dengan cepat menoleh ke depan.