Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Sasaran
“Permisi, Pak… Bu,” ucap pelayan sambil menunduk sopan.
“Ini pesanan untuk meja ini.”
Pelayan itu meletakkan piring dan gelas satu per satu di hadapan Adipati dan Selina, lalu mundur perlahan.
“Silakan dinikmati.”
Adipati mengangguk singkat.
“Terima kasih.”
Arga berdiri sambil merapikan jasnya.
“Gue urus yang lain dulu, ya.”
Ia melirik ke arah panggung.
“Nanti gue balik lagi.”
“Ya,” jawab Adipati datar.
Vito ikut berdiri.
“Gue ke toilet dulu.”
“Jangan lama,” celetuk Arga sambil tertawa kecil.
Vito hanya mengangkat tangan lalu pergi.
Kini tinggal Adipati dan Selina di meja itu. Suasana mendadak lebih hening, hanya terdengar denting sendok dan suara musik lembut dari kejauhan.
Selina memandangi makanannya.
“Masih panas,” katanya pelan.
Adipati tersenyum tipis.
“Iya.”
Ia mengambil sendok, meniupnya perlahan.
“Pelan-pelan aja.”
Selina terkejut kecil saat Adipati mendekatkan sendok ke bibirnya.
“Mas…”
“Kamu ngapain?”
Adipati menatapnya lembut.
“Aku mau nyuapin kamu.”
“Biar gak kepanasan.”
Selina tersenyum malu.
“Banyak orang yang liat Mas…”
“Biarin,” jawab Adipati santai.
“Kamu kan istri Mas.”
Ia menyuapkan dengan hati-hati.
“Gimana? Enak enggak?”
Selina mengangguk.
“Enak.”
Adipati tersenyum puas.
“Ya sudah.”
“Makan yang banyak.”
Selina menatap Adipati beberapa detik, lalu berkata pelan,
“Makasih ya…”
“Hm?”
“Karena selalu di samping aku,” lanjut Selina.
“Walaupun suasananya gak enak.”
Adipati meletakkan sendok, menatapnya serius.
“Selama kamu di sini…”
Ia menyentuh punggung tangan Selina.
“Aku gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu.”
Selina menggenggam balik tangannya.
Dari kejauhan, sepasang mata memperhatikan mereka dengan senyum yang sulit ditebak.
Mereka menghabiskan makanan dan minuman perlahan. Piring-piring mulai kosong, gelas pun tinggal sisa es mencair.
Selina tiba-tiba mengibaskan tangannya pelan.
“Mas…”
“Hm?” Adipati menoleh.
“Kenapa ya… aku kok gerah banget,” ujar Selina sambil menarik napas pendek.
“Padahal biasanya aku gak gampang kepanasan.”
Adipati mengernyit.
“Gerah?”
Ia melirik sekeliling.
“AC-nya nyala kok. Dingin malah.”
Selina menggeser duduknya, wajahnya terlihat memerah.
“Entah kenapa rasanya gak nyaman.”
Ia memijat pelipisnya.
“Aku ke toilet dulu, ya.”
“Tunggu,” kata Adipati khawatir.
“Kamu yakin gak apa-apa?”
Selina mencoba tersenyum.
“Iya… mungkin cuma capek.”
Ia berdiri dan melangkah pergi menuju toilet.
Adipati mengikuti Selina dengan tatapan penuh curiga. Begitu Selina menghilang di balik pintu toilet, Adipati menoleh ke meja.
“Gerah tiba-tiba… padahal AC dingin,” batinnya.
Pandangan Adipati jatuh pada gelas minuman Selina yang sudah hampir kosong. Ia mengangkatnya perlahan, menatap cairan sisa di dalamnya.
“Ada yang gak beres,” gumamnya.
Ia mendekatkan gelas itu ke hidungnya, mengernyit lebih dalam.
“Ini…”
Ia menarik napas lagi, wajahnya berubah tegang.
“Bukan bau minuman biasa.”
Adipati mengepalkan tangannya.
“Ini kan minuman gue tadi…”
“Yang diminum Selina.”
Ia menelan ludah, matanya mengeras.
“Baunya…”
“Obat perangsang.”
Napas Adipati menjadi berat. Amarah dan kecemasan bercampur jadi satu.
“Kurang ajar…” batinnya.
“Ada yang sengaja mau ngejebak gue.”
Ia menoleh ke arah toilet dengan wajah dingin dan penuh tekad.
“Aku gak akan diem,” gumamnya.
“Siapa pun yang berani nyentuh Selina…”
“Bakalan gue hancurin.”
Adipati berdiri cepat, menggenggam gelas itu erat.
Adipati melangkah cepat menghampiri Arga yang sedang berdiri di dekat bar. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras. Tanpa basa-basi, ia langsung mencengkeram kerah kemeja Arga.
“Ngapain lo naro obat aneh di minuman gue?” bentak Adipati dengan suara ditekan.
“Lo tau gak itu diminum istri gue! Sekarang dia kegerahan.”
Arga terkejut, refleks memegang pergelangan tangan Adipati.
“Den, sumpah! Gue gak mungkin ngelakuin hal kayak gitu, bro!”
“Ada apa ini?” tanya Vito yang baru datang, matanya menyapu wajah mereka bergantian.
Imanuel ikut mendekat, ekspresinya kaget.
“Serius lo?”
“Ada yang memberikan obat perangsang di minuman ,Raden.Tapi itu bukan gue yang nyuruh.”
Arga menggeleng cepat.
“Demi apa pun, gue gak tau apa-apa!”
“Restoran ini punya gue,kalain gue yang undang!”
Adipati makin menekan cengkeramannya.
“Jangan bohong!”
“Istri gue tiba-tiba kegerahan, gak wajar!”
Ia menunjuk ke arah meja.
“Kalau bukan lo, siapa?”
Arga menelan ludah, suaranya mulai gemetar.
“Gue bersumpah, Den. Gue gak sejahat itu.”
Adipati mendekatkan wajahnya, tatapannya dingin.
“Kita cek CCTV.”
“Kalau sampai terbukti ada campur tangan lo…”
Ia menekan kata-katanya satu per satu.
“Gue habisin lo.”
Suasana mendadak sunyi.
Arga menghela napas panjang lalu mengangguk tegas.
“Oke.”
“Kita cek sekarang juga.”
“Seluruh CCTV restoran ini.”
Ia menoleh ke stafnya.
“Panggil security. Buka rekaman dari dapur sampai bar.”
Vito menatap Adipati dengan wajah serius.
“Tenang dulu, Dip. Kita cari fakta.”
Adipati melepas kerah Arga perlahan, tapi sorot matanya masih menyala.
“Gue tenang.”
“Tapi siapa pun yang berani nyakitin istri gue…”
Ia mengepalkan tangan.
“Gak bakal lolos.”
Mereka pun melangkah menuju ruang kontrol CCTV—
ketegangan semakin memuncak, dan kebenaran tinggal menunggu waktu.
Mereka memasuki ruang kontrol CCTV di belakang restoran. Ruangan sempit itu dipenuhi layar monitor yang menampilkan sudut-sudut restoran dari berbagai arah. Lampu neon membuat suasana terasa makin dingin.
Arga menunjuk ke kursi.
“Duduk.”
Ia menoleh ke staf IT.
“Putar rekaman dari satu jam lalu. Fokus ke meja Raden Adipati Wijaya.”
Staf itu mengangguk gugup.
“I-iya, Pak.”
Layar berganti. Terlihat jelas meja Adipati dan Selina dari sudut atas. Mereka duduk berdampingan, tertawa kecil, lalu pelayan datang membawa pesanan.
Adipati mendekat ke layar, matanya tajam.
“Stop.”
“Ulangi bagian waktu minumannya disiapkan.”
Rekaman mundur. Terlihat dapur minuman.
Pelayan yang sama sedang menyiapkan gelas.
Imanuel mencondongkan tubuh.
“Itu pelayannya.”
Vito menyipitkan mata.
“Tunggu… pause di situ.”
Gambar berhenti. Dari sudut layar, terlihat sosok wanita mendekat ke pelayan itu. Rambut panjang, gaun yang mencolok.
Semua terdiam.
Adipati langsung mengenali siluet itu.
“Sinta…”
Arga mengumpat pelan.
“Kurang ajar.”
Rekaman dilanjutkan. Terlihat Sinta berbicara singkat dengan pelayan, menyerahkan sesuatu dengan gerakan cepat. Pelayan tampak ragu, lalu mengangguk.
Imanuel menelan ludah.
“Gila… beneran dia.”
Vito menggeleng.
“Ini udah keterlaluan.”
Adipati berdiri tegak, napasnya berat tapi terkontrol.
“Mana pelayannya.”
Arga langsung meraih ponselnya.
“Security, bawa pelayan yang ini ke sini. Sekarang.”
Beberapa menit kemudian, pelayan itu masuk dengan wajah pucat. Tangannya gemetar.
Adipati menatapnya dingin
“Gue cuma mau satu jawaban jujur.”
“Siapa yang nyuruh lo?”
Pelayan itu menunduk.
“S-saya… saya cuma disuruh, Pak…”
“Disuruh siapa?” potong Adipati tegas.
Pelayan mengangkat wajahnya perlahan.
“Mbak… Sinta.”
Ruangan kembali sunyi.
Adipati memejamkan mata sesaat, lalu membukanya dengan sorot yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Di mana dia sekarang?”
Arga menjawab cepat.
“Masih di area VIP. Belum keluar restoran.”
Adipati mengambil jaketnya.
“Bagus.”
Vito menatapnya khawatir.
“Deb… santai dulu.”
Adipati melangkah menuju pintu.
“Gue santai.”
“Sangat santai.”
Ia berhenti sejenak dan menoleh, suaranya rendah tapi mengandung ancaman.
“Tapi setelah ini…”
“Dia bakal tau satu hal.”
“Gue gak pernah main-main kalau nyangkut istri gue.”
Adipati keluar dari ruang CCTV, meninggalkan suasana tegang—
sementara di sudut lain restoran, Sinta masih merasa dirinya menang, tanpa tahu badai sedang menuju ke arahnya.