Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 5
Seorang wanita terduduk di samping pusara terakhir bertuliskan nama Natan Nugraha yang merupakan suaminya. Isak tangis terdengar lirih diiringi rasa penyesalan dirinya yang tidak bisa menyelamatkan suaminya.
Dadanya terasa sesak kala mengingat tawa, janji dan rencana yang tak sempat terwujud. Arumi kembali mengingat terakhir kali ia sarapan bersama dan permintaan terakhir suaminya untuk dirinya agar berhenti bekerja yang tak sempat Arumi turuti.
"Maafkan aku, Mas ... aku minta maaf,HIKSS. Aku egois, aku tidak menurut padamu, aku ... Aku belum bisa menjadi istrimu yang baik,"
Arumi menggenggam tanah merah yang sudah di taburi kembang olehnya,"Aku ... Aku akan menjadi istrimu yang baik, mas. yang menurutimu aku janji, aku janji. Jadi, kembalilah padaku mas Natan. Gimana hidup ku nanti nanti tanpa mu mas, aku sudah tidak punya siapa siapa lagi selain kamu mas Natan, hiks"
Tangisnya tidak kunjung mereda, Kenan yang sedari tadi berada dibelakangnya itu pun menghampiri Arumi walaupun ia tau itu tidak akan bisa membuat tangisan Arumi berhenti.
"Maafkan aku, jika bukan karena kelalaian ku mungkin suami mu masih hidup," Memang bukan saatnya Kenan berkata jujur tapi jika ia tidak mengatakannya sekarang mungkin Arumi makin membenci nya.
Yah walaupun akhirnya Arumi bertambah membenci nya setidaknya Kenan tidak memulai hubungan dengan kebohongan.
Arumi menatap Kenan lalu berdiri diikuti juga oleh Kenan dan saat ini tatapan mereka berdua bertemu. Kedua tangan Arumi terangkat dan tidak disangka wanita itu menarik kerah kemeja Kenan, tetapi pria itu hanya menanggapinya dengan santai.
"Apa ini semua rencanamu?" lirih Arumi.
"Tidak," jawab Kenan singkat.
"PEMBOHONG, dasar munafik," Arumi melepaskan genggaman tangannya lalu ia segera pergi meninggalkan Kenan yang ikut mengejar nya.
"Tunggu, Arumi. Kau mau kemana?" teriak Kenan.
Arumi melewati mobil yang terparkir di pinggir pintu masuk makam. Kenan berusaha mengejar, tetapi Arumi sudah pergi dengan terburu-buru dengan menaiki ojek yang sedang mangkal di sekitar makam juga.
Kenan memutuskan kembali ke mobil ingin mengejar, tetapi sebuah notif pesan di ponselnya membuat Kenan kesal dan mengurungkan niatnya mengejar Arumi.
***
Sedangkan di kediaman Dirgantara ramai dengan dua keluarga yang sedang membicarakan anak mereka masing-masing.
"Kenan di mana, Tante?" tanya Helen.
"Sedang di jalan, Tante sudah menyuruhnya pulang kau tenang saja ya sayang," jawab Tiara.
"Iya, tunggu saja ... Rupanya dia sudah tidak sabar ya jeng untuk bertemu calon suaminya," balas Jeni yang merupakan ibu dari Helen.
Helen tersipu malu memang ia tidak bisa menutupi rasa rindunya pada Kenan yang sangat amat dicintainya itu. Akan tetapi, tidak lama netranya melihat papanya yang terlihat gelisah seraya memegangi dadanya membuat Helen khawatir.
"Papa kenapa? Apa papa sakit? Kita ke dokter saja ya," khawatir Helen mengusap punggung sang papa.
"Papa tidak apa-apa, mungkin hanya kecapean saja jangan khawatir," ucap Danu seraya mengusap kedua tangan putrinya.
"Tenang saja, papa mu itu lagi banyak kerjaan jangan terlalu khawatir," lanjut Jeni.
Terdengar suara mobil terparkir di halaman rumah membuat semua orang menoleh ke luar. Jantung Helen tiba-tiba berdebar karena yakin jika itu adalah Kenan.
Suara sepasang sepatu yang mendekat membuat Helen menatap sayu pada pria yang memang sedang ditunggunya.
Tiara sangat senang ia menghampiri putranya dan menyuruhnya duduk diantara kedua keluarga. Helen tidak henti menatap pria yang mempunyai paras tampan, hidungnya mancung dan kulitnya yang putih dengan tubuh proporsional nya memberi kesan gagah tanpa berlebihan itu.
Namun, Kenan tidak membalas tatapan Helen melainkan merasa bingung apa yang terjadi mengapa keluarga Helen berada di rumah nya dan ada keperluan apa hingga Helen juga berada di rumah nya.
"Seperti nya calon mantu bingung jeng," celetuk Jeni membuat Kenan terkejut.
"Calon mantu? Siapa? Mih apa maksudnya tolong jelaskan!" tanya Kenan sedikit menekan.
Tiara sedikit panik dengan sikap putranya karena tatapannya sangat tidak mengenakan untuk dilihat ke dua orang tua Helen.
"Eh, tenang dong Kenan, begini ... Maksud kedatangan keluarga Helen ke sini untuk membicarakan pertunangan mu dengan Helen," jelas Tiara.
"Pertunangan? Tidak aku tidak bisa bertunangan dengan Helen," tolak Kenan yang mana membuat senyuman yang sempat terukir di bibir manis Helen luntur seketika mendengar penolakan dari Kenan.
"Kenapa Kenan? Bukan kah hubungan kalian harus di resmikan bahkan kalau bisa kalian segera menikah saja," ujar Jeni.
"Hubungan apa maksud Tante? Aku dan Helen selama ini hanya berteman tidak lebih,"
"Kenan!" pekik Tiara.
"Maaf, Helen jika penolakan ku menyakiti mu tapi jujur aku tidak bermaksud. Kau wanita yang baik carilah pria yang baik dan sangat mencintai mu, menyayangi mu bukan aku," tegas Kenan.
"Yang aku cinta hanya kamu, Kenan. Dari dulu aku sudah menunggumu tidak bisakah kau membuka hatimu untuk ku? Kita belum memulai kali saja jika kita mencoba memulai kau akan ..."
"Tidak bisa dan tidak akan mungkin," sela Kenan.
"Kenapa? Apa alasannya," balas Helen.
"Karena aku sudah menikah," jawab Kenan.
"Apa?!"
Semua orang terkejut, terlihat kemarahan di wajah kedua orang tua Helen dan Helen sendiri pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dia sangat syok mendengarnya.
Hatinya sangat sakit seperti tertusuk jarum, tidak menyangka jika Kenan bisa menikah dengan wanita lain. Padahal ia pikir selama ini sikap sayang nya, perhatiannya, Kenan padanya bentuk balasan perasaan yang sama dengan dirinya.
Walaupun Kenan selalu mengelak karena hal itulah Helen bisa mempertahankan perasaanya dan berharap jika Kenan hanya belum siap saja karena memang pria itu sangat pekerja keras.
"Gimana ini jeng Tiara, kalau memang Kenan sudah menikah kenapa kalian memberi harapan palsu pada putriku!" marah Jeni.
"Tenanglah, mah jangan seperti ini tidak enak dengan pak Arsyad," Danu berusaha menenangkan Jeni.
"Pah, mah, kita pulang," pinta Helen dengan suara lirih. Ia beranjak dari duduknya tanpa berpamitan dengan Arsyad dan Tiara.
Diikuti Jeni yang menyusul Putrinya sedangkan Danu masih terdiam menatap Kenan yang menatap kepergian Helen.
"Maaf atas perlakuan istriku, mungkin sebagai seorang ibu ia hanya ingin membela putrinya. Akan tetapi, ini memang yang terbaik untuk putriku," ungkap Danu yang tidak bisa berbohong jika ia sendiri pun merasa sakit melihat putrinya ditolak oleh pria yang sangat ia cintai.
"Maafkan aku om Danu aku juga tidak ingin menyakiti Helen," ucap Kenan.
"Tidak, kau sudah benar cinta memang tidak bisa dipaksakan. Jangan seperti om yang memaksa cinta hingga akhirnya berpisah dan memutuskan menikah lagi dengan mamanya Helen sedangkan anak om yang jadi korban,"
Degh
Kenan terdiam mengingat dirinya yang memaksakan cinta Arumi dan berusaha memiliknya apapun resiko yang nantinya akan ia terima dari kebencian Arumi padanya.
Ia khawatir jika Arumi tidak akan pernah bisa mencintainya dan dirinya sempat memiliki buah hati dengan Arumi akan bernasib sama dengan rumah tangga Danu. Akan tetapi, ia menepis rasa itu dan akan berusaha membuat Arumi jatuh cinta padanya.
Danu berpamitan, setelah pria itu pergi Tiara dan Arsyad menatap tajam pada putranya seakan meminta penjelasan dengan apa yang baru saja dikatakan putranya.
"Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" gugup Kenan.
"Siapa wanita itu? Siapa wanita yang bisa membuat putraku menolak Helen yang sangat sempurna di mata mami, hah ... Siapa!' pekik Tiara merasa kesal.
"Tidak perlu berteriak, mih. Nanti aku jelaskan tapi tidak sekarang," jawab Kenan santai.
"Kenapa?" tanya Arsyad.
"Karena aku ingin mengatakan sesuatu, aku ingin mengakui kesalahanku, pih, mih," ujar Kenan.
Kedua orang tua itu pun saling memandang dan beralih kembali menatap Kenan,"katakan," ucap Arsyad.
Kenan menarik napas dalam berusaha menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.
"Empat hari lalu aku menabrak seseorang hingga akhirnya ia tidak selamat," lirih Kenan.
"Apa?!"
*
*
Bersambung.