Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Patah Hati?
Suasana yang seharusnya sendu bagi Firda mendadak berubah jadi kekesalan. "Mas Pras, tolong jangan kurang ajar yah. Saya tidak suka disentuh sembarang orang," katanya menegaskan, seraya berdiri melepaskan diri dari pelukan Pras.
Arman yang melihat pemandangan itu tak kuasa lagi menahan tawanya. Apalagi saat melihat ekspresi Pras yang nampak amat terkejut, lalu kemudian kecewa.
"Loh, Dek Firda, Mas Pras 'kan cuma mau bantu menguatkan," ucapnya dengan ekspresi yang mirip seperti kucing yang baru saja dipukul kepalanya karena ketahuan mencuri ikan.
"Menguatkan 'kan bisa pakai kata-kata penghiburan, Mas Pras, bukan malah main peluk dan elus-elus sembarangan. Memang Mas Pras kira saya perempuan apaan?" kata Firda marah. Dia merasa harus segera membangun batasan dengan pria itu sebelum Pras melakukan hal yang lebih jauh lag. Bisa dibilang cenderung ke sikap kurang ajar. Ditambah dia tidak mau Pras berharap lebih padanya akan hubungan romantis di masa depan karena pria dengan karakter seperti Pras bukanlah tipenya.
"Ya sudah, Mas minta maaf, Dek Firda. Janji tidak akan begitu lagi." Pras mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan, lalu menggeser posisinya menjauh hingga ke ujung sofa, barulah setelah itu Firda duduk di tempat semula.
Arman berdehem terlebih dahulu setelah dia akhirnya bisa menguasai diri dan berhenti menertawakan Pras. "Firda, are you OK? Kalau kamu mau menangis silahkan saja. Tidak apa-apa. Aku mengerti kamu pasti sedang merasa kehilangan."
Firda menghela napas. "Saya baik-baik saja, Tuan. Tadinya saya memang mau menangis karena sedih mendengar kabar papa mertua saya, tapi ... tidak jadi." Di ujung kalimatnya, Firda melirik sekilas ke arah Pras dengan ekor matanya, terlihat masih kesal, membuat Arman kembali menyentuh hidung demi menyembunyikan senyumannya yang terbit. Jangan tanyakan ekspresi Pras seperti apa. Dia menyesal sekali membuat Firda marah atas sikapnya yang lancang. Jadi dia lebih memilih diam saja mulai sekarang, takutnya kalau dia bicara malah membuat Firda semakin marah padanya.
Arman lantas menceritakan bahwa saat berita pencarian Firda viral di televisi dan sosial media pertama kali beberapa bulan lalu, dia mulai memerintahkan Pras untuk mencari tahu. Dan setelah diselidiki, rupanya seminggu sebelum tuan Kusnandar meninggal dunia, beliau sudah membuat surat wasiat bahwa yang mewarisi seluruh harta kekayaannya termasuk perusahaan adalah Firda. Juga, Arman menceritakan tentang anak Firda yang sepertinya tidak meninggal, tapi justru malah dibawa pergi oleh seseorang yang merupakan orang suruhan nyonya Risma.
Jelas saja Firda merasa sangat terkejut, tapi dia juga merasa sangat senang jika seandainya yang dikatakan Arman bahwa putri kandungnya masih hidup. Ibarat kata, dia bak menemukan seberkas cahaya di balik kegelapan cobaan hidup yang menimpanya selama ini.
"Lalu, apa Tuan Arman dan Mas Pras tahu kemana mereka membawa bayiku?" tanyanya terdengar tak sabar. Menatap kedua pria itu secara bergantian. Seketika dia melupakan kekesalannya terhadap Pras.
Pras hanya menjawab dengan gelengan kepala, masih enggan berbicara.
"Kepergian orang suruhan nyonya Risma tidak meninggalkan jejak sama sekali. Aku rasa, dia sengaja menyembunyikan anakmu di suatu tempat untuk dijadikan sebagai senjata melawanmu suatu saat nanti. Apalagi dalam wasiatnya tuan Kusnandar menyerahkan semuanya padamu tanpa menyisakan sedikit pun untuk istrinya."
Firda tersenyum miris. Sedikit pun tak merasa heran jika ibu mertuanya tega melakukan itu. Dia sudah hidup selama beberapa tahun dengan wanita itu, sedikit banyaknya dia sudah tahu keburukannya. Semakin parah setelah Aris meninggal. Dia diperlakukan tidak lebih baik dari pembantu-pembantu di rumah mereka. Bahkan saat menjelang persalinan, Firda yang seharusnya dibawa ke rumah sakit terbaik yang memiliki fasilitas lengkap malah dibawa ke klinik bersalin sederhana, yang fasilitasnya hanya satu tingkat di atas puskesmas, padahal keluarga mereka punya banyak uang.
Firda lantas mengangkat wajahnya menatap Arman dengan lekat dan penuh harap. "Tuan ... bisakah saya minta tolong? Tolong bantu saja melawan ibu mertua saya yang licik itu."
"Tentu saja. Tanpa kamu minta pun, aku dan Pras pasti akan melakukannya," kata Arman, lalu menatap Pras yang diam sejak tadi. "Bukan begitu, Pras?"
Pras mengangguk lemah, dengan ekspresi yang sama sekali tidak bersemangat. "Ya, Bos. Benar begitu," lirihnya.
Firda tersenyum lega. Hati yang tadinya gundah kembali menghangat. "Terima kasih banyak, Tuan. Saya sangat bersyukur karena Tuhan mengirim orang sebaik Anda dan Mas Pras ke dalam kehidupan saya."
Arman balas tersenyum diiringi anggukan. "Lalu, kapan kamu siap bertemu dengannya?"
Firda berpikir sejenak. "Mm ... kalau bisa besok, Tuan."
Arman mengangguk. "Ya, terserah kamu saja. Lebih cepat lebih baik."
Setelah kesepakatan itu dibuat, Firda pun pamit keluar dari ruang kerja Arman, karena sebentar lagi Akira akan bangun untuk menyusu.
"Kamu sudah tidak punya kesempatan lagi, Bos, karena dek Firda juga sudah mulai jatuh cinta padaku." Arman mengulangi kata-kata Pras beberapa waktu lalu dengan nada dan ekspresi mengejek, lalu tertawa keras. "Cih, jatuh cinta apanya? Jelas-jelas Firda risih saat kamu dekat–dekat dan sentuh dia."
"Sudah, Bos, jangan menertawai saya lagi. Saya sedang patah hati karena merasa ditolak." Wajah Pras benar-benar kusut. Tak ada setitik pun ekspresi keceriaan di sana seperti biasa. "Bos, mulai besok saya mau ambil cuti tahunan saja lebih awal." Pras bangkit dari duduknya, lalu putar badan ingin segera meninggalkan ruang kerja Arman, tapi Arman langsung mencegahnya.
"Heh, mau ke mana? Siapa yang memberimu ijin untuk cuti?"
"Bos ..." Pras menatap Arman dengan wajah memelas, berharap Amran iba padanya, "mohon sedikit pengertiannya. Saya tidak sedang baik-baik saja. Hiks hiks hiks."
"Dih, lebay." Sebelah sudut bibir Arman langsung terangkat. Merasa jijay melihat Pras yang sesenggukan tanpa air mata.
Arman tiba-tiba saja mengarahkan kamera ponselnya ke arah Pras yang masih terisak-isak. "Aku akan mengirimkan rekaman video ini kepada Raya," ucap Arman. "Raya, lihat, mantan kekasihmu yang tidak pernah menangis semenjak kalian putus, sekarang malah menangis karena ditolak perempuan lain. Padahal 'kan ya, kalian pacaran selama bertahun-tahun dan hampir saja bertunangan, tapi kok dia tidak pernah sedih semenjak putus sama kamu, malah sekarang dia menangisi perempuan lain."
Ekspresi Pras mendadak kembali normal mendengar nama sang mantan disebut. "Jangan bercanda, Bos. Itu tidak lucu." Pras menatap Arman tajam, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak melempar atasannya itu menggunakan kotak tisu yang ada di atas meja, seperti yang sering Arman lakukan padanya ketika marah atau pun kesal. "OK, OK. Bos, cuti tahunanku tidak jadi diambil besok, asal jangan kirim video syalan itu padanya."
Arman tertawa puas, penuh kemenangan, sambil menurunkan ponselnya. "Pras, sekarang tugasmu hubungi nyonya Risma. Buat tempat janjian untuk bertemu, tapi jangan sampai bocorkan identitas kita yang sebenarnya."
Pras langsung memberi hormat, seperti seorang prajurit kepada komandannya. "Siap laksanakan, Bos!"
_____________________________________
Lanjut?
Eh, jangan lupa Suscribe biar dapat notif kalau ceritanya sudah update😉
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..