NovelToon NovelToon
Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Terlahir Lemah, Tapi Otakku Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: YeJian

Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.

Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.

Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.

Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 – Retakan yang Terlihat

Keberhasilan Unit Ketujuh tidak membawa kelegaan.

Justru sebaliknya.

Sejak laporan misi disahkan, suasana di dalam unit berubah perlahan tapi pasti. Tidak ada yang mengatakan apa pun secara langsung, tapi Ren Tao bisa merasakannya dari cara langkah diperlambat, dari tatapan yang terlalu lama, dari jeda singkat setiap kali ia berbicara.

Keberhasilan bersama jarang benar-benar terasa bersama.

Di halaman latihan, Li Shen memanggil semua anggota Unit Ketujuh. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada.

“Kita dapat penilaian baik,” katanya. “Itu berarti satu hal pengawasan akan meningkat.”

Zhou Min mendengus pelan. “Selama kita ikuti prosedur, apa masalahnya?”

Ren Tao tidak menoleh, tapi ia mencatat nada itu.

Masalah selalu datang dari orang yang percaya sistem selalu adil.

Li Shen melanjutkan, “Mulai sekarang, setiap laporan kita akan dicek dua kali. Setiap kesalahan kecil akan diperbesar.”

Sun Qiao mengangguk cepat. Han Yue tetap diam.

Ren Tao akhirnya bicara. “Artinya, kita tidak boleh ceroboh. Tapi juga tidak boleh terlalu patuh.”

Zhou Min menoleh tajam. “Maksudmu apa?”

Ren Tao menatapnya tenang. “Kalau kita hanya mengerjakan apa yang terlihat, kita akan dilewati. Kalau kita melampaui tanpa dasar, kita akan ditandai.”

Li Shen menyipitkan mata. “Jadi menurutmu apa langkah terbaik?”

Ren Tao tidak langsung menjawab. “Seimbang. Dan transparan.”

Tidak semua orang menyukai jawaban seperti itu.

Beberapa hari berikutnya, Unit Ketujuh menjalani tugas-tugas kecil. Tidak berbahaya. Tidak penting. Tapi selalu ada pemeriksaan tambahan. Selalu ada revisi laporan. Selalu ada catatan kecil yang terasa… sengaja.

Pada tugas pengumpulan data wilayah barat, Zhou Min mengambil inisiatif tanpa koordinasi. Hasilnya cepat, tapi datanya mentah.

Pengawas lapangan mengembalikan laporan mereka.

Kurang verifikasi.

Catatan itu ditulis dengan tinta merah.

Zhou Min marah. “Kalau kita lambat, kita dianggap tidak kompeten. Kalau cepat, dibilang ceroboh. Mau apa mereka?”

Ren Tao membaca ulang laporan itu. “Mereka mau kita salah.”

Sun Qiao menelan ludah. “Terus… kita harus gimana?”

Ren Tao menutup gulungan itu perlahan. “Kita pastikan kesalahan itu tidak bisa diarahkan ke satu orang.”

Zhou Min tertawa pendek. “Kau ngomong gampang karena kau bukan penanggung jawab utama.”

Ren Tao menatapnya lurus. “Justru karena itu aku bicara.”

Hening.

Retakan itu mulai terlihat jelas.

Malamnya, Ren Tao dipanggil ke ruang administrasi. Seorang pejabat senior menyerahkan satu gulungan giok tambahan.

“Tugas individu,” katanya singkat. “Rahasia tingkat menengah.”

Verifikasi silang laporan Unit Ketujuh.

Secara resmi: peningkatan akurasi.

Secara praktik: pengujian loyalitas.

Ia mengangguk. “Saya mengerti.”

Di luar ruangan, Wei Kang berdiri menunggu, seolah kebetulan. “Berat jadi murid teladan,” katanya ringan.

Ren Tao menatapnya tanpa emosi. “Saya hanya menjalankan tugas.”

Wei Kang tersenyum. “Dan itu yang membuatmu menarik.”

Ren Tao tidak menjawab.

Di kamarnya, ia membuka gulungan rahasia itu lagi. Ia tahu apa yang diharapkan.

Satu laporan.

Satu nama.

Satu kesalahan.

Sistem selalu ingin kambing hitam.

Ren Tao memejamkan mata, berpikir lama. Lalu ia mulai menulis.

Bukan tuduhan.

Analisis.

Ia menuliskan pola tekanan, urutan revisi, waktu pemeriksaan. Semua rapi. Semua faktual. Tidak menunjuk satu orang pun tapi jelas menunjukkan adanya intervensi berlapis.

Saat laporan itu diserahkan, pejabat administrasi terdiam lama.

“Ini… berani,” katanya akhirnya.

Ren Tao mengangguk. “Tapi akurat.”

Keesokan harinya, Unit Ketujuh dipanggil bersama. Tidak ada hukuman. Tidak ada pujian.

Hanya satu kalimat dari pengawas.

“Mulai sekarang, laporan Unit Ketujuh akan ditangani langsung oleh aula pusat.”

Itu bukan hadiah.

Itu peringatan.

Zhou Min menatap Ren Tao dengan campuran emosi. Sun Qiao terlihat lega. Han Yue akhirnya bicara, suaranya pelan. “Kau menarik kita ke tingkat yang lebih berbahaya.”

Ren Tao menjawab jujur. “Kita sudah ada di sana sejak hari pertama.”

Malam turun.

Di kediamannya, Wei Kang membaca laporan analisis itu sekali lagi. Tidak ada celah untuk menghukum. Tidak ada alasan untuk menghapus.

Ia tersenyum tipis, tapi matanya dingin.

“Baik,” gumamnya. “Kalau begitu, kita hentikan permainan kecil.”

Di kamarnya, Ren Tao membuka mata dari meditasi. Retakan sudah terlihat.

Dan dari retakan itu—

perubahan besar

selalu masuk.

1
Zan Apexion
salam sesama penulis novel Kultivasi.☺️👍

semangat terus ya...
YeJian: siap terimakasih bro atas dukungan nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!