Kisah Lyla, seorang make-up artist muda yang menjalin hubungan diam-diam dengan Noah, aktor teater berbakat. Ketika Noah direkrut oleh agensi besar dan menjadi aktor profesional, mereka terpaksa berpisah dengan janji manis untuk bertemu kembali. Namun, penantian Lyla berubah menjadi luka Noah menghilang tanpa kabar. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Lyla yang telah meninggalkan mimpinya sebagai make-up artist, justru terseret kembali ke dunia itu dunia tempat Noah berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meongming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 : Hubungan Rahasia
Paginya, sekolah sudah ramai di meja-meja yang mulai dipenuhi murid. Lyla baru saja masuk, masih memeluk buku di dada seperti biasa, wajahnya tampak lebih cerah dari biasanya. Tapi baru beberapa langkah, dua temannya langsung melambai heboh dari bangku mereka.
“Lylaaa!!”
Ia sedikit terlonjak. “H-hah? Kenapa?”
Temannya langsung mencondongkan badan dengan tatapan menyelidik.
“Kemarin… yang di lorong itu beneran Noah, kan?”
Teman satunya ikut menimpali cepat, “Dan kalian pulang bareng?! Kami lihat, tahu!”
Wajah Lyla langsung memanas. “E-eh? I-it itu bukan kayak yang kalian pikir! Kami cuma…”
“Cuma apa~?” goda salah satu sambil menatap nakal. “Cuma jalan bareng sampai halte, ya?”
Suara mereka mulai menarik perhatian. Beberapa teman lain di sekitar mulai melirik, pura-pura sibuk tapi telinganya jelas fokus.
Lyla semakin panik, kedua tangannya menutup pipinya yang merah.
“Tolong jangan ngomong keras-keras…” bisiknya, tapi suaranya malah membuat semua tambah penasaran.
“Wah, jadi beneran deket dong!”
“Serius, Noah dari klub teater itu?”
“Dia kan populer banget!”
Kelas langsung jadi riuh dengan bisik-bisik penuh antusias.
Lyla menunduk dalam-dalam di bangkunya, wajahnya merah sampai telinga.
“Kenapa jadi begini sih…” gumamnya
Karena meski malu setengah mati, hanya mengingat Noah saja sudah cukup untuk membuat hatinya kembali berdebar
Pelajaran sejarah baru saja dimulai. Guru menyebut nama Lyla dan temannya untuk mengambil buku paket di perpustakaan.
Lyla mengangguk pelan, berdiri dari kursinya sambil merapikan rok seragamnya. Lorong sekolah terasa sepi pagi itu. Suara langkah mereka bergema pelan di antara deretan loker. Udara masih dingin, dan Lyla menarik napas pelan sambil menggenggam daftar buku di tangannya.
Sampai akhirnya..
Langkahnya terhenti.
Di ujung lorong, Noah berjalan dari arah berlawanan. Dengan seragam yang rapi , ia menatap sekilas ke arah Lyla. Tidak ada senyum seperti biasanya, hanya tatapan lembut yang cepat ia sembunyikan.
Lyla menunduk spontan, jantungnya langsung berdetak lebih cepat. Ia tahu Noah tidak akan menyapanya di tempat ramai seperti ini… karena ia sendiri yang memintanya.
Namun saat mereka berpapasan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Ujung jemari Noah menyentuh jari Lyla—hanya sekilas, tapi cukup membuat Lyla terhenti sesaat.
Ia menoleh pelan.
Noah sudah berjalan melewati, tak menatap balik. Tapi senyum kecil tersungging di sudut bibirnya, samar, seolah hanya Lyla yang tahu maknanya.
Lyla mematung.
Ada rasa panas menjalari pipinya, dan dadanya seolah dipenuhi ribuan kupu-kupu kecil yang berterbangan.
Temannya menatap bingung. “Lyla? Kamu kenapa?”
Lyla buru-buru menggeleng, menggenggam erat kertas di tangannya. “Nggak apa-apa…”
Tapi suaranya terdengar terlalu pelan.. dan senyum kecil di bibirnya tak bisa ia sembunyikan.
Sampai di perpustakaan Lyla dan temannya menuju rak bagian sejarah, mencari tumpukan buku paket yang diminta guru. Temannya sibuk memeriksa daftar, sementara Lyla berdiri di depan rak tinggi, mengulurkan tangan untuk mengambil buku paling atas.
Tangannya sempat bergetar sedikit bukan karena buku itu berat, tapi karena pikirannya masih melayang pada momen di lorong tadi.
Sentuhan itu.
Sekilas saja, tapi masih terasa jelas di ujung jarinya. Ia mencoba menenangkan diri, tapi malah tersenyum tanpa sadar.
“Lyla, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?”
Suara temannya membuat Lyla terlonjak kecil. “Eh? Nggak kok! Aku cuma… inget sesuatu lucu aja,” jawabnya cepat, lalu menunduk menutupi wajah yang memanas.
Temannya mengangkat alis, tapi akhirnya hanya mengangkat bahu. “Aneh, deh. Nih, bantuin angkut yang ini.”
Lyla mengangguk cepat dan mengambil beberapa buku. Tapi matanya sempat melirik ke arah jendela perpustakaan tempat halaman sekolah terlihat samar di luar sana.
Entah kenapa, ia berharap bisa melihat Noah lewat lagi, padahal baru beberapa menit berlalu, tapi hatinya sudah merindukan tatapan itu.
**
Kantin siang itu ramai, di salah satu sudut dekat jendela, Noah duduk sambil membuka bungkus makanannya. Di depannya, Juliet kakak kelas sekaligus ketua klub teater menyandarkan dagu di tangan, menatapnya lekat dengan ekspresi menyelidik.
“Noah, aku denger gosipnya kamu dapet tawaran dari agensi, ya?”
Nada suaranya santai, tapi matanya tajam. “Jujur aja. Bener?”
Noah terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. “Iya… mereka nawarin ikut seleksi minggu depan.”
Juliet langsung bersiul pelan. “Wah, anak teater kita jadi aktor beneran, nih!” Ia tertawa, tapi kemudian ekspresinya sedikit berubah. “Terus, kamu terima?”
Noah memainkan sedotan di tangannya, pandangannya menunduk. “Aku belum tahu, Kak. Masih mikir.”
“Masih mikir?” Juliet mengangkat alis. “Kamu tuh selalu gitu, Noah. Kalau nggak diseret orang, kamu nggak bakal maju.”
Nada suaranya sedikit ketus, tapi jelas terdengar nada khawatir di baliknya.
“Padahal kamu punya bakat, ngerti nggak?”
Noah menatap Juliet, tersenyum kecil. “Aku ngerti, kok. Tapi… ikut seleksi itu berarti harus banyak latihan di luar jam sekolah. Aku nggak yakin bisa bagi waktu.”
Juliet menghela napas, menatapnya lekat-lekat. “Atau…” ia menyipitkan mata. “Atau ada alasan lain?”
Noah terdiam. Ekspresinya sulit ditebak.
Juliet menyandarkan punggung di kursi, menyilangkan tangan. “Ah, tau banget aku. Pasti gara-gara seseorang, ya.”
Nada suaranya menggoda, bibirnya tersenyum geli.
Noah tersenyum tipis, menunduk lagi. “Kak Juliet emang selalu suka nebak-nebak.”
“Ya soalnya tebakan aku sering bener.” Juliet tertawa kecil, lalu mencondongkan tubuh.
“Kalau kamu punya orang yang kamu pikirin, ya udah ngomong aja. Tapi jangan sampai itu bikin kamu ngerem langkahmu sendiri.”
Noah terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku cuma… nggak mau ninggalin sesuatu yang baru aja terasa berarti.”
Juliet menatapnya sebentar, lalu tersenyum lembut. “Kamu ini, ya. Sok dalam banget.”
Ia berdiri, menepuk bahunya pelan. “Tapi serius, Noah. Kalau emang itu mimpimu, kejar. Jangan tunggu-tunggu.”
Noah mendongak, tersenyum. “Iya, Kak.”
Juliet mengangguk puas, lalu berjalan pergi sambil membawa nampannya. “Dan kalau kamu udah terkenal nanti,” katanya sambil melambai tanpa menoleh, “jangan pura-pura nggak kenal ketua klub-mu yang cantik ini!”
Noah tertawa kecil, menggeleng pelan.
Ia menatap keluar jendela kantin, senyumnya perlahan memudar—pikirannya kembali pada Lyla.
**
Langit sore berubah mendung saat bel terakhir berbunyi. Satu per satu siswa berlarian keluar kelas, sebagian membuka payung, sebagian berlari kecil menembus gerimis.
Lyla berdiri di depan gedung sekolah, menatap titik-titik air yang mulai membasahi halaman sekolah.
“Ah… aku lupa bawa payung.”
Belum sempat ia memutuskan mau menunggu hujan reda atau berlari saja, seseorang tiba-tiba memayunginya dari samping.
“Noah?”
Noah tersenyum kecil di bawah payung hitamnya. “Kamu pikir aku bakal biarin kamu kehujanan sendirian?”
Lyla mematung sejenak, lalu buru-buru menunduk, pipinya memanas. “Tapi… payungmu kecil. Nanti kamu ikut basah.”
“nggak apa apa,” jawab Noah santai. “Aku tinggi, jadi bagian kepalaku udah biasa kena hujan.”
Lyla spontan mendongak menatapnya, lalu tertawa kecil. “Kamu aneh.”
Mereka mulai berjalan perlahan melewati halaman sekolah yang sepi. Suara hujan menetes di atas payung, menciptakan suara lembut di antara mereka.
Beberapa langkah dalam diam, Noah tiba-tiba berbicara, nadanya ragu-ragu.
“Lyla… soal tawaran dari agensi itu…”
Lyla menoleh pelan, matanya penuh perhatian. “Hm?”
Noah menatap ke depan, langkahnya melambat. “Aku masih belum yakin harus ambil atau nggak. Aku takut gagal. Takut kalau aku nggak cukup bagus.”
Lyla menatapnya lama sebelum menjawab. “Tapi kalau kamu nggak coba, kamu nggak akan tahu hasilnya. Kamu… selalu berani di panggung. Aku yakin kamu bisa, Noah.”
Suara hujan menelan sedikit akhir kalimatnya, tapi Noah mendengarnya jelas. Ia menatap Lyla, matanya melembut.
“Kalau gitu… minggu depan, saat seleksi, kamu ikut, ya.”
“Eh?” Lyla berkedip bingung. “Ikut?”
“Iya,” Noah tersenyum, “biar aku punya alasan buat tampil sebaik mungkin.”
Wajah Lyla langsung memerah. “A-aku? Tapi aku bukan siapa-siapa di sana.”
“Justru itu.”
Noah menatapnya lembut. “Aku cuma butuh kamu di sana.”
Lyla menunduk dalam-dalam, mencoba menyembunyikan senyum yang mulai tumbuh di wajahnya, hujan terus turun, tapi entah kenapa, dunia terasa jauh lebih hangat.