Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh privasi untuk pengantin dadakan .
Sore itu ,Cantika pulang kerja di jemput oleh yoga ,hari pertama kerja ,Cantika merasa menjadi artis dadakan untuk teman temannya ,dimana teman temannya merasa heboh melihat seorang lelaki yang bersama Cantika ,dan diketahui dia adalah suami Cantika
setelah sampai di kediaman Pradipta ,Cantika segera membersihkan diri ,dan berganti pakaian ,pakaian yang sudah disiapkan oleh ibunya yoga ,Cantika merasa lega karena ibunya yoga perhatian sama dia .
mereka makan malam bersama ,diselingi dengan candaan dan drama ala keluarga Pradipta .
Usai drama kecil di ruang makan, suasana rumah keluarga Pradipta perlahan-lahan kembali normal,atau setidaknya berusaha normal. Cantika masih belum terbiasa dengan aktivitas di rumah seluas ini. Baru berputar di lantai bawah saja, dia merasa seperti lagi main di escape room versi mewah: banyak pintu, banyak lorong, banyak kemungkinan nyasar.
Sementara itu, Yoga sejak tadi terlihat sibuk menelepon seseorang. Tidak jelas siapa, mungkin asistennya, temannya, atau mungkin juga pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan kilat mereka. Cantika tidak ingin sok tahu, jadi dia memilih duduk manis di ruang keluarga, memegang segelas jus jambu yang entah siapa yang meletakkan di sana untuknya.
“Bu, aku masih kaya mimpi deh,” gumamnya pelan.
Tentu saja tidak ada yang menjawab, karena dia ngomong sendiri.
Setelah beberapa menit, Yoga datang dan duduk di sofa sebelahnya. “Kamu capek?”
Cantika menggeleng. “Nggak capek sih. Lebih ke… overwhelmed. kemarin pagi aku kurir. Sore jadi pengantin kilat. Malam jadi menantu baru. Bentar lagi aku takut bangun-bangun ternyata aku ketiduran di gudang ekspedisi.”
Yoga tersenyum kecil, kali ini benar-benar tulus, tidak kaku seperti biasanya. “Aku juga masih agak kaget, kok.”
“Ya kaget lah,” Cantika nyengir, “Cowok siapa yang bangun pagi mikir bakal nikah sama kurir nyasar?”
“Aku.” Yoga menjawab santai.
Cantika langsung terbatuk-batuk kecil saking tidak siap.
Yoga cepat-cepat mengambilkan segelas air. “Pelan minumnya. Aku cuma bercanda.”
“Ooo… kukira serius,” Cantika memelototin dia dengan pipi merah sedikit malu.
“Aku serius kalau kamu mau aku serius,” jawab Yoga, kali ini lebih pelan.
Dan Cantika langsung pura-pura sibuk dengan gelasnya. Aduh, nih orang kok kalau ngomong suka bikin deg-degan tiba-tiba?
---
Setelah hening beberapa saat, Cantika akhirnya berani buka suara lagi.
“Eh, Mas Yoga…”
“Hm?”
“Keluarga kamu… beneran nggak apa-apa? Maksudku, aku datang tiba-tiba, nikah tiba-tiba, dan… ya kamu ngerti lah.”
Yoga menyandarkan tubuhnya ke sofa. “Ayahku minta aku menikah hari itu, apa pun yang terjadi. Kondisinya belum stabil setelah serangan jantung. Dia ingin memastikan semuanya beres tanpa drama tambahan.”
“Tapi jadinya aku nih, kurir acak yang baru dia lihat sepuluh menit.”
“Kurir acak yang menyelamatkan ayahku dari stres lebih besar,” jawab Yoga, ekspresinya lembut. “Kalau kamu nggak ada, mungkin semuanya akan jauh lebih kacau.”
Cantika terdiam.
Di dalam hati dia ingin bilang: Iya, tapi kan aku juga punya hidup sendiri…
Tapi kalimat itu tertahan. Dia juga tidak tega bilang begitu setelah melihat bagaimana kondisi ayah Yoga tadi.
“Aku belum sempat bilang terima kasih,” ucap Yoga tiba-tiba. “Untuk semua bantuanmu hari ini.”
Cantika berkedip. “Bantuan? Aku bahkan nggak tau aku bantu apa.”
“Kamu menerima sesuatu yang seharusnya menjadi bencana besar buat keluarga kami. Itu saja sudah sangat berarti.”
Cantika menunduk canggung. “Y-ya… sama-sama.”
Yoga menatapnya beberapa detik,agak lama, tenang, dan entah kenapa membuat Cantika salah tingkah.
“Aku udah nyiapin kamar kamu,” katanya.
Cantika langsung mendongak. “Kamar… aku?”
Yoga mengangguk. “Iya. Kita mungkin sudah menikah, tapi kamu tetap butuh privasi. Kita nggak harus satu kamar kalau kamu belum siap.”
“Ah, iya… iya. Terima kasih, Mas…” Cantika mengangguk cepat, berusaha tidak terlihat lega banget.
Yoga berdiri. “Ayo, aku antar.”
---
Kamar di lantai dua itu jauh lebih besar dari kamar kos Cantika yang sempit.
Ada jendela besar, karpet lembut, lemari berukuran se-Antarctica, dan kamar mandi dalam yang lampunya otomatis menyala begitu pintu terbuka.
Cantika masuk dengan langkah yang ragu.
“Mas… ini beneran buat aku?”
“Iya. Kamu nyaman?”
“Masalahnya bukan nyaman apa nggak… tapi ini kamar bisa muat lima Cantika.”
Yoga menahan tawa. “Kalau kurang besar, bisa cari kamar lain.”
“Ah jangan! Ini aja udah sangat sangat… sangat… wow.” Cantika mengusap selimutnya. “Aku takut kalau tidur di sini aku berubah jadi tuan putri terus lupa asal.”
Yoga bersandar di pintu. “Kalau kamu tiba-tiba berubah jadi tuan putri, aku yang paling pusing pasti.”
“Kenapa?”
“Soalnya kamu bakalan nyuruh aku pakai baju ala pangeran,” jawab Yoga datar.
Cantika tidak tahan dan tertawa keras.
“Nggak kok, Mas Yoga. Aku nggak akan nyuruh kamu pakai baju pangeran. Paling aku suruh pakai baju kurir biar matching.”
“Kita pasangan kurir?”
Cantika mengangguk dramatis. “Pasangan kurir romantis. Viral di TikTok.”
Yoga akhirnya tertawa kecil. “Kamu ini…”
“Kenapa?”
“Unik.”
Cantika mengerutkan kening. “Unik kayak apa? Unik yang bagus atau unik yang kayak ketemu kucing jalanan yang jalannya miring?”
“Unik yang menyenangkan,” balas Yoga.
Cantika kembali bungkam. OMG, kenapa hati gue meleleh?
---
“Kalau kamu butuh apa pun, bilang sama aku,” kata Yoga kemudian. “Serius. Aku tahu semua ini terlalu cepat, tapi aku bakal berusaha supaya kamu nyaman tinggal di sini.”
“Sip… makasih banyak, Mas.”
Yoga mengangguk singkat. “Oke. Aku tinggal dulu. Besok kita ngobrol soal hal-hal lebih penting.”
“Kayak apa?”
“Soal administrasi pernikahan, keluarga besar, dan… masa depan,” jelas Yoga.
“Masa depan?” Cantika merasa jantungnya salto.
“Masa depan kita berdua.”
Yoga berkata pelan sebelum menutup pintu.
Tinggalkan Cantika di dalam kamar, berdiri bengong sambil memegang gagang pintu.
---
Begitu pintu tertutup, Cantika langsung jatuh duduk di kasur empuk itu sambil menenggelamkan wajah ke bantal.
“Aduh Cantika…” gumamnya, setengah malu setengah panik.
“Apa yang kamu lakuin hari ini sih? Kenapa hidupmu tiba-tiba jadi drama FTV premium?”
Dia berguling ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi.
Kasurnya terlalu empuk. Bikin makin galau.
Tapi di balik semua kekacauan ini… ada satu hal yang tidak bisa dia bohongi:
Yoga.
Cowok yang baru ia kenal beberapa jam.
Tapi aura dinginnya perlahan hilang ketika bicara dengannya.
Dan ada sesuatu pada cara Yoga memperlakukannya,halus, tenang, tapi juga penuh tanggung jawab yang membuat Cantika merasa… aman.
“Jangan baper dulu, Cantik…” Dia menepuk pipinya sendiri. “Inget posisi kamu: kurir nyasar yang terjerat takdir.”
Tapi saat dia memejamkan mata… yang muncul justru senyum kecil Yoga.
Dan detik itu juga, Cantika tahu:
Hidupnya tidak akan pernah sama lagi mulai hari ini