Novel ini mengisahkan seorang gadis yang bernama Aluna. Ia menjalin hubungan selama kurang lebih enam tahun dengan pacarnya yang bernama Bryan. mereka berhubungan jarak jauh dan mengikat janji untuk bisa hidup bersama.
Tapi takdir berkata lain, mendekati acara lamaran Bryan pada Aluna, Ayahnya justru telah menjodohkan Bryan dengan orang lain.
Aluna melepaskan Bryan dengan gadis itu. Walaupun Bryan sangat menolak keputusan Aluna untuk mengakhiri hubungan mereka.
Aluna kemudian pergi ke kota XX untuk menghindari Bryan yang masih terus mengejarnya. Hingga akhirnya hidup Aluna berubah setelah pertemuannya dengan Arka pria kaya dan dingin
Akankah Aluna dapat membuka hatinya untuk pria lain dan hidup bahagia.
simak kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Sara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU ISTIMEWA AYAH
Malam harinya Bryan sudah kembali ke kotanya. Bahkan Aluna mengantarnya ke pelabuhan seolah tidak terjadi apa - apa diantara keduanya.
Bryan berfikir Aluna perlu waktu untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Makanya Bryan memilih mengiyakan semua yang dikatakan Aluna.
"Aku sudah sampai di rumah." Bryan memberi kabar dengan pesan singkat yang masuk di ponsel Aluna.
"Ok. Makan dan beristirahatlah." Aluna membalas pesan Bryan. Bryan hanya tersenyum membaca pesan masuk dari seseorang yang dinamainya My Amore dikontak ponselnya.
"Terima kasih telah mengantarku." Bryan kembali mengirim pesan chat kepada Aluna. Bryan berharap hubungannya dengan Aluna akan membaik seiring berjalannya waktu. Walaupun Aluna telah mengakhiri hubungan mereka secara sepihak.
"Sama - sama. Aku tidur dulu. " Balas Aluna mengakhiri pesan singkatnya.
" Baiklah. Tidurlah yang nyenyak. Aku cinta kamu Luna. " Pungkas Bryan mengakhiri chat mereka.
Entah mengapa ungkapan cinta dari Bryan sudah tidak membuat Aluna bahagia seperti dulu, Sebelum Aluna melihat Bryan di hotel bersama Fiona.
Keesokan harinya sepulang bekerja Bryan melihat beberapa mobil mewah yang terparkir dihalaman rumahnya. Bryan kemudian masuk melihat siapa yang berkunjung dirumahnya. Bryan lupa bahwa kedua orangtuanya akan kembali hari ini dari Singapura.
Dengan terburu - buru Bryan naik ke lantai dua kamarnya karena tadinya di ruang tamu dia melihat Fiona, Hendra ayah Fiona dan juga kedua orangtuanya yang mungkin sedang menunggu kedatangannya. Belum sampai di kamarnya, Indra Wijaya ayahnya sudah memanggilnya.
Dengan langkah terpaksa Bryan turun menuju ruang tamu dimana ayahnya sudah kembali duduk bergabung dengan tamunya.
Fiona yang melihat Bryan hanya terus menunduk entah sandiwara apa yang akan dia mainkan. Dalam hati kecilnya Bryan berharap Fiona akan menepati janjinya untuk membatalkan perjodohan mereka.
Bryan duduk di samping ibunya, dia menatap tidak suka kepada wanita yang ada didepannya. Wanita yang sudah merusak hubungannya dengan Aluna.
" Papa dan om Hendra telah sepakat bahwa besok kamu dan Fiona akan bertunangan." Ucap Indra Wijaya santai kepada Bryan.
"Apa?" Bryan setengah berteriak kaget dengan ucapan yang baru saja didengarnya.
"Papa bahkan tidak minta persetujuan Bryan?" Tanya Bryan masih dengan posisinya.
"Fiona sudah menceritakan apa yang telah terjadi diantara kalian. Bertanggung jawablah dengan apa yang telah kamu lakukan Bryan. Jangan jadi seorang laki - laki pengecut." Seru Indra Wijaya tegas kepada Bryan.
"Apa yang perempuan licik itu ceritakan." Andai Bryan tidak menghargai om Hendra ayah Fiona sekaligus rekan bisnis ayahnya pasti Bryan akan menanyakan seperti itu.
Mendengar ucapan Ayahnya Bryan tiba - tiba tersenyum mengingat ucapan yang sama yang Aluna katakan padanya.
Bryan meraih ponsel dan dengan santainya dia mengetik pesan singkat kepada Aluna.
" Sayang kau sedang apa? Aku sangat merindukanmu."
"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, Bryan permisi dulu." Bryan beranjak dari duduknya pergi meninggalkan ruang tamu dimana ada orangtuanya dan juga tamu istimewa ayahnya.
Bryan tidak lagi memperdulikan panggilan ayahnya. Sebelum benar - benar menghilang dari pandangan ayahnya Bryan hanya berkata "Tidak ada gunanya meminta pendapatku bukan? Karena keputusan papa adalah titah yang tidak dapat dibantah." Setelah mengatakan itu Bryan masuk ke kamarnya dan tidak pernah keluar lagi. Walaupun beberapa kali ayahnya menyuruh salah seorang pelayan untuk memanggilnya makan malam bersama dengan Fiona dan Hendra, namun Bryan enggan keluar dari kamarnya sampai Fiona dan Hendra kembali ke hotel.
Sesampainya dikamar Bryan tetap mengirim beberapa pesan untuk Aluna tetapi semenjak pesan terakhir kepulangannya dari kampung halaman Aluna. Aluna sudah tidak pernah mengiriminya pesan bahkan membalas pesan pun sudah tidak pernah.
apa kah author masih lajang🙏🙏