NovelToon NovelToon
Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Keluarga / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:128.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Malam itu, di sebuah desa terpencil, Alea kehilangan segalanya—kedua orang tuanya meninggal dan dia kini harus hidup sendirian dalam ketakutan. Dalam pelarian dari orang-orang misterius yang mengincarnya, Alea membuat keputusan nekat: menjebak seorang pria asing bernama Faizan dengan tuduhan keji di hadapan warga desa.

Namun tuduhan itu hanyalah awal dari cerita kelam yang akan mengubah hidup mereka berdua.
Faizan, yang awalnya hanya korban fitnah, kini terperangkap dalam misteri rahasia masa lalu Alea, bahkan dari orang-orang yang tak segan menyiksa gadis itu.

Di antara fitnah, pengkhianatan, dan kebenaran yang perlahan terungkap, Faizan harus memutuskan—meninggalkan Alea, atau menyelamatkannya.

Kita simak kisahnya yuk di cerita Novel => Aku Bukan Pelacur.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 22

💔 Versi Revisi

Di luar, langit pagi ini mulai menggelap, awan tebal menggantung seolah mencerminkan suasana hati yang suram. Angin berhembus lembap, membawa aroma hujan yang tertahan di udara.

Faizan mengambil kunci mobil dari meja, wajahnya tetap tanpa ekspresi. Tidak ada tanda-tanda tergesa-gesa, seakan kepergian ke rumah sakit bukan hal mendesak.

Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang sulit dijelaskan\_ bukan kekhawatiran, melainkan semacam kekesalan yang sudah terlalu lama mengendap, menumpuk hingga berubah menjadi dingin yang mematikan.

Suara mesin mobil meraung pelan saat ia menyalakannya. Di sepanjang perjalanan, Faizan hanya diam. Tangannya menggenggam setir erat, matanya lurus menatap jalanan yang mulai basah oleh rintik kecil. Sekilas bayangan Alea terlintas di benaknya, tapi segera ia buang jauh-jauh, seperti hal yang tak seharusnya diingat.

Sesampainya di rumah sakit, aroma obat-obatan langsung menyergap begitu ia melangkah masuk. Suasana koridor dipenuhi suara langkah perawat, bunyi mesin monitor, dan percakapan lirih keluarga pasien. Lampu-lampu putih di langit-langit terasa terlalu terang, menusuk mata, namun tidak cukup untuk mengusir suram di hatinya.

Faizan berjalan lurus menuju ruang perawatan Alea. Di depan pintu, ia berhenti sejenak. Tatapannya kosong menatap papan nama di pintu, lalu menarik napas panjang\_ bukan untuk menenangkan diri, tapi seolah menyiapkan tameng sebelum menghadapi sesuatu yang tidak ingin ia hadapi. Ia mendorong pintu perlahan.

Alea terbaring di ranjang dengan wajah pucat, selang infus terpasang di tangan mungilnya. Bibirnya kering, matanya tertutup, napasnya pelan tapi teratur. Di samping ranjang, Ibu Maisaroh duduk dengan wajah cemas, sementara seorang perawat tengah memeriksa catatan medis.

"Faiz," suara Ibu Maisaroh terdengar serak, ada kelegaan sekaligus amarah yang tertahan. "Akhirnya kamu datang juga."

Faizan hanya mengangguk tipis. Pandangannya sekilas menyapu wajah Alea, tapi ekspresinya tetap datar, seolah tak ada yang benar-benar menyentuh perasaannya.

"Bagaimana keadaannya?" tanyanya singkat pada perawat.

Perawat itu menatap Faizan dengan ragu sejenak sebelum menjawab, suaranya pelan, penuh empati.

"Maaf, Pak. Pasien sempat pendarahan hebat. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi... janinnya tidak bisa diselamatkan."

Udara di ruangan itu seperti berhenti bergerak. Suara mesin monitor seolah melambat.

Namun Faizan hanya berdiri kaku di tempatnya. Tidak ada ekspresi terkejut, tidak ada amarah, tidak ada kesedihan di wajahnya. Ia hanya mengangguk tipis, seolah berita itu hanyalah laporan biasa yang harus ia dengar.

"Baiklah," ucapnya pelan, datar, nyaris tanpa intonasi.

Ibu Maisaroh mendongak, matanya berkaca-kaca memandang putranya. "Faiz, apa cuma itu reaksimu? Ini bayimu, anakmu sendiri, Faiz! Alea sudah kehilangan darah begitu banyak, dia--"

"Yang penting dia selamat, kan?" potong Faizan tenang, nada suaranya dingin hingga membuat ruangan terasa kian sesak. "Soal bayi\_ itu sudah di luar kuasa kita."

Alea yang sejak tadi terdiam hanya memejamkan mata lebih rapat. Ada air mata yang lolos di sudutnya, jatuh tanpa suara. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan\_ kehilangan buah hatinya, atau sikap suami yang bahkan tak terguncang sedikit pun. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang diremas dari dalam.

Ibu Maisaroh berdiri dengan wajah marah bercampur sedih. "Kamu ini manusia atau bukan, Faiz? Alea butuh kamu! Dia kehilangan anaknya, dan kamu berdiri di sini seperti-- seperti tidak terjadi apa-apa!"

Faizan menoleh perlahan ke arah ibunya. Tatapan matanya tenang, tapi di balik ketenangan itu ada dinding tebal yang tak bisa ditembus siapa pun.

"Tidak ada gunanya histeris, Mah. Jika menangis juga tidak akan mengubah apa pun."

Suasana di ruangan itu membeku. Hanya suara detak monitor yang mengisi keheningan, sementara Alea terisak tanpa suara di balik kelopak matanya yang tertutup. Tangannya yang lemah bergetar, mencoba mencari kekuatan entah dari mana.

Faizan mengangguk lagi. Lalu tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi dan duduk di dekat ranjang, tapi tidak menyentuh tangan Alea. Hanya menatapnya dalam diam, entah apa yang ada di pikirannya.

Sorot matanya kosong, seolah jarak mereka lebih jauh dari sekadar beberapa langkah\_ lebih jauh daripada yang bisa dijembatani oleh waktu atau kasih.

Ibu Maisaroh memandang putranya dengan tatapan tajam. "Faiz... Alea butuh suaminya sekarang. Bukan hanya tubuhmu yang duduk di sini, tapi hatimu juga."

Kali ini Faizan mengalihkan pandangan ke ibunya, tapi hanya sekejap. "Aku sudah di sini, Bu. Itu saja sudah cukup," ucapnya datar.

Hening lagi.

Suara detak mesin monitor terasa seperti detik jam yang memukul kesabaran.

Alea menatap langit-langit, air matanya membasahi bantal. Ia ingin bicara, tapi suaranya tersangkut di tenggorokan.

Tiga puluh menit berlalu dengan lambat. Alea beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, tapi jawaban Faizan selalu pendek dan hambar. Akhirnya ia hanya terdiam, menatap langit-langit kamar, menyimpan kecewa yang tak diucapkan.

Faizan berdiri, gerakannya tegas dan tanpa ragu. "Aku harus pergi," katanya singkat sambil merapikan jaketnya.

Ibu Maisaroh yang sedari tadi memandang dengan hati geram langsung menahan lengannya. "Faiz! Kamu serius mau ninggalin istrimu lagi? Alea butuh kamu! Kamu pikir dia di sini sendirian kuat?" Suaranya bergetar menahan emosi.

Faizan menoleh, tatapannya dingin seperti es. "Aku sudah di sini. Itu cukup. Aku ada urusan lain."

"Apa urusanmu lebih penting daripada istrimu yang baru saja sakit begini?" suara Ibu Maisaroh meninggi, hampir pecah.

Faizan menarik lengannya perlahan, tapi tegas. "Mah, jangan paksa aku. Aku nggak bisa pura-pura jadi orang yang Mamah mau."

Lalu tanpa menunggu jawaban, Faizan melangkah pergi. Pintu kamar menutup dengan suara yang terasa seperti pukulan di hati Alea. Suara langkahnya memudar di koridor\_ dingin, berat, dan menjauh.

Ibu Maisaroh berdiri mematung, dadanya naik-turun menahan marah dan kecewa. Sementara Alea hanya menatap pintu itu dengan mata berkaca-kaca, berusaha menelan kenyataan bahwa suaminya memang tak pernah peduli padanya.

Alea memalingkan wajah ke arah jendela, berusaha menyembunyikan air matanya yang akhirnya jatuh juga. Di luar, hujan mulai turun perlahan, menimpa kaca jendela dengan bunyi lembut namun memilukan. Tubuhnya terasa lemah, tapi yang paling menyakitkan bukan luka di tubuh\_ melainkan di hatinya.

Ibu Maisaroh cepat-cepat mendekat, duduk di tepi ranjang sambil menggenggam tangan Alea. Suaranya bergetar, tapi ia berusaha menenangkan.

"Sudah, Nak-- jangan dipikirin dulu Faiz," ucapnya pelan, mengelus tangan Alea yang dingin. "Laki-laki itu, kadang keras kepala. Ibu tahu kamu sakit bukan cuma di badan, tapi juga di hati."

Alea menggeleng lemah. "Bu, dia-- bahkan nggak peduli dengan anak yang aku kandung."

Suaranya pecah di akhir kalimat, dan air matanya mengalir deras. Ia menutup wajahnya dengan tangan, bahunya bergetar hebat.

Ibu Maisaroh menarik napas panjang, berusaha tetap tegar meski hatinya sendiri ikut perih melihat menantunya begitu hancur.

"Alea, yang penting sekarang kamu sembuh dulu, ya? Urusan Faiz, nanti kita bicarakan lagi. Ibu nggak akan diam. Ibu janji."

Alea menggigit bibirnya, menahan isak. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tangan Ibu Maisaroh lebih erat, seolah butuh pegangan di tengah badai yang ia hadapi sendirian.

Hujan di luar semakin deras, seolah ikut menangis bersama mereka\_ dua perempuan yang terluka oleh sikap seorang pria yang bahkan tak sadar telah menghancurkan segalanya.

Di dalam hati, Ibu Maisaroh menyimpan kemarahan pada putranya sendiri. Tapi ia memilih diam, tak ingin membuat Alea makin terluka dengan kata-kata yang mungkin justru memperparah keadaan. Ia hanya bisa menatap wajah menantunya yang pucat dan berdoa dalam hati,

'*Ya Allah, lembutkan hati anakku... sebelum semuanya terlambat*.'

...----------------...

**Bersambung**...

1
Ai Meysi
kasian alea mentalnya ancur../Sob/
Ai Meysi
serba salah ya
Ai Meysi
sedihnya salam kenal kakak otor
Miss Ra: salam kenal juga kaka...

/Heart/
total 1 replies
May Daman Sara
tapi cerita nya kyak gak nyambung betul gak sieh 😄
gralsyah
mampir kak authorrr
Miss Ra: trimakasih kaka...

/Heart/
total 1 replies
Rika Anggraini
ini saja baca novel nya sdh sedih hati rasa teremas.
apalagi mau baca novel rela dimadu.
kayaknya aku tdk sanggup thor
Miss Ra: /Grin//Grin/

baca ajah gak pp kak..
kalo bisa baca Cinta Aisyah sama Kekejaman Suamiku..

dijamin makin nyesek..
total 1 replies
Rika Anggraini
nyesak banget
Rika Anggraini
baru tau kau faiz rasanya sakit itu bagianana🤣
Rika Anggraini
malu mengakui.
gengsi lu ketinggian pak
Rika Anggraini
bubar sj kalian dr pernikahan
Rika Anggraini
sdh faizan tinggalkan alea.
dan alea pergi tinggalkan faiz.
walaupun ending aku sdh baca tetap jg jengkel sm.kalian berdua.
buat apa nahan hati.
vari kebebasan sendiri
Miss Ra: /Facepalm//Joyful//Joyful//Facepalm/

sabar beb sabaaarr
total 1 replies
Rika Anggraini
dimana2 pelakor memang tdk tau diri
Rika Anggraini
saking penasarannya sy lompat bacanya🤣
nnt ulang lg baca dr atas 🤣🤣
Miss Ra: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Rika Anggraini
emosi berlioat2 sama faizan.
walaupun sy paham.posisi mu.
harus nya kamu bersikap adil.
cuek sama semua org.
jgn sm nayla kamu begitu.
hampir banting hp.tp ingat harganya ngak jadi banting hp🤭🤣
Miss Ra: /Joyful//Joyful//Joyful/

seneng aku kalo ada pembaca ikut emosi..
total 1 replies
Rika Anggraini
kenapa jg masih di hotel.
terkilir kamu bs plg kan.
kenap harus 1 kamar sama suami org.
gila
Rika Anggraini
calon pelakor.
emosi baca novel ini bertambah meningkat.😄
Miss Ra: /Joyful//Facepalm/

sabar kak
total 1 replies
Rika Anggraini
bawa ke RS g*bl*k.
bukan bawa ke hotel.
bisa jadi korban salah paham dia kira kamu baik.
padahal kamu tu lg tdk baik
Rika Anggraini
alea pergi saja.
hidup jauh dr suami d keluarga toxic mu itu.
tujuan awal mu tuk aman bbrp hari dr keluargamu kan??
jangan menyakiti diri sendiri dgn bertahan.
beri juga faizan ketenangan.
mgkn dgn jamu pergi kalian akan baik2 satu sama lain.
di tempat yg berbeda
Rika Anggraini
jangan kasih haraoan pada mantan.
kamu bukan pilihan makanya dia dulu pergi.
maafkan istri mu..bagaimana pun emosimu ada anak diantara kalian
Rika Anggraini
kalau sy paham posisi faizan.
di jebak.
tdk cinta.
sulit menerima wajar.
harus nya alea kuat dong.
dia yg menjebak faizan.
harus nya tangguh dong.
bukan bentar2 nanggis
sedih
alea yg jebak harusnya sdh tau konsekwensi nya.
sy suka wanita tegar.
apa tujuanmu menjebak faizan??
jalani itu ambil hati suamimu.
jgn menanggis setiap sebentar.
kamu bukan di jodohkan.
ngk kebayang kl anak sy diposisi faizan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!