Vanessa Althea Christy Walker atau kerap di sapa Vanessa adalah seorang dokter spesialis bedah termuda berusia 22 tahun,ia terkenal dengan parasnya yang begitu cantik dan sikapnya yang ramah.
namun tidak ada satu pun lelaki yang dekat dengan mampu memenangkan hatinya.entah mengapa Vanessa begitu tertutup tentang perasaannya.
suatu hari ia bertemu dengan seorang pasien kecil yang tersesat di taman.
ia menolong anak itu dan bertemu dengan sang ayah yang di sebutkan oleh anak itu.
parahnya pria yang di sebut ayah oleh anak itu adalah mantan kekasihnya.
langit bagaikan runtuh saat tau pria yang dulu meninggalkannya tanpa kabar kini muncul di depannya dan parahnya ia malah menolong anak pria itu.
tanpa ia ketahui akar permasalahannya bukan dari sudut pandangnya tetapi dari kebenaran di masa lalu yang membuat kesalahpahaman terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R3C2YMYFMYME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Malam ini sungguh menegangkan bagi Vanessa, malam ini adalah malam pertama bagi Vanessa dan Alaric.
di sebuah kamar hotel yang di dekor dengan nuansa pengantin baru yang diisi hanya oleh mereka berdua yang sudah di ketahui,bahwa mereka 2 pernah memutuskan hubungan. tentu saja itu membuat keduanya sama-sama canggung.
Kini keduanya sama-sama saling berdiam diri sama-sama bergelut dengan pemikiran mereka sendiri.
"pergilah untuk mengganti gaunmu"ucap Alaric pada akhirnya.
"hum baiklah"ucap Vanessa canggung lalu pergi ke kamar mandi untuk mengganti gaunnya.
sedangkan Alaric juga mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai.
Alaric mengambil laptopnya dan mulai mengerjakan pekerjaan kantor yang tertunda karena pernikahannya.
Vanessa menutup pintu kamar mandi dan bersandar pada pintu.
ia meraba dadanya yang berdegup kencang.
"huff canggung sekali.huff"ucap Vanessa sambil menghela nafas panjang.
Vanessa kemudian menyalakan kran air di wastafel dan membasuh wajahnya serta menghapus make up yang ada di wajahnya iya juga melepas perhiasan-perhiasan yang ada di tubuhnya.
setelah selesai saat ingin membuka gaun pengantinnya ia menatap ke arah paper bag yang ada di atas meja wastafel di sudut.
Vanessa memikirkan bahwa itu baju yang sudah disiapkan untuknya sesuai apa yang dikatakan oleh Mommy Gianna tadi sebelum mereka masuk ke dalam kamar hotel itu.
Vanessa mengeluarkan isi paper bag itu dan membulatkan matanya saat melihat baju apa yang ada di dalam paper bag itu.
"ba-baju di-dinas istri??gila Mana mungkin aku make baju jaring kurang bahan ini, yang ada aku langsung diterkam sama duda itu"ucap Vanessa sambil mengembalikan lingerie itu ke dalam paper bag.
"huff untung tadi aku bawa baju ganti"ucap Vanessa sambil menatap paper bag yang ia bawa.
Vanessa lalu mulai membuka resleting gaunnya.
namun tiba-tiba ia terdiam saat tangannya tidak mencapai resleting gaun pengantin itu.
"gawat!! tantangan apa ini lagi?"ucap Vanessa sambil terus berusaha menggapai resleting gaunnya.
namun sebanyak apapun dia berjuang untuk meraihnya tangannya tetap tidak menggapai resleting gaunnya itu.
"huff sulit sekali"ucap Vanessa.
namun tiba-tiba ada cahaya yang muncul di pikirannya.
"apa minta bantuan aja dari Al yah??"ucap Vanessa.
lalu Vanessa menggenggam ganggang pintu dan ingin membukanya, namun kini otaknya menyuarakan sesuatu yang membuatnya tidak jadi membuka pintu itu.
"gk ah,kan malu kalau tubuh ku di lihat olehnya, tapi kan dia pasti mencintaimu yang istrinya, jadi nggak mungkin kan dia nafsu sama aku.tapi aku sungkan, bisa-bisa jantung copot kalo berdekatan dengan dia"ucap Vanessa.
saking lamanya Vanessa berpikir ya lupa dengan waktu.
30 menitan kemudian,Alaric mengerutkan keningnya saat merasa bahwa Vanessa belum juga keluar dari kamar mandi.
"apa dia tidak apa-apa??"gumam Alaric lalu meletakkan kembali laptopnya ke atas meja dan berjalan menuju pintu kamar mandi.
Tok
Tok
"Vanessa apa kamu tidak apa-apa??"ucapan Alaric sambil mengetuk pintu kamar mandi itu.
Vanessa tidak menyahut yang membuat Alaric kembali khawatir, Alaric kembali mengetuk pintu itu.
"apa kamu baik-baik saja?? kalau kamu masih belum menjawab maka aku akan buka pintu ini"ucap Alaric.
tak berselang lama pintu terbuka dan tampaklah Vanessa mengintip dengan malu-malu.
"kenapa kamu sangat lama??"ucap Alaric.
"eemm itu aku"ucap Vanessa tergagap.
"itu apa??"ucap Alaric.
"a-aku,a-aku tidak tidak bisa menggapai resleting gaunku hehehe"ucap Vanessa.
"huff dan karena itu kamu terlalu lama di dalam kamar mandi?"ucap Alaric sambil bersedekap dada.
sambil menyengir Vanessa menganggukkan kepalanya.
"huff keluarlah, biar aku membantumu"ucap Alaric.
"hah??ta-tapi aku malu"cicit Vanessa.
"keluarlah,tak perlu malu"ucap Alaric.
Vanessa mulai keluar dari kamar mandi dengan perlahan.
Alaric lalu membalikkan badannya Vanessa lalu kemudian membuka resleting gaun Vanessa.
Baru setengah resleting itu terbuka Alaric meneguk ludah kasar saat melihat punggung Vanessa yang putih mulus.
"tidak,sadarlah Al jangan terbawa nafsu jika kau tidak ingin kehilangan dia lagi" batin Alaric lalu Alaric kembali melanjutkan membuka resleting gaun Vanessa.
"sudah"ucap Alaric.
"ah baiklah, te-terimakasih"ucap Vanessa.
Vanessa ingin masuk ke dalam kamar mandi tanpa di sadari kaki Alaric menginjak ujung gaun Vanessa.
gaun itu melorot ke lantai dan memperlihatkan tubuh Vanessa yang polos yang hanya mengunakan CD saja.
Alaric yang melihat itu membalalakkan matanya dan meneguk ludahnya kasar.
"kyaaaa"Vanessa berteriak lalu mengambil gaun yang jatuh ke lantai untuk menutupi tubuhnya,lalu Vanessa ingin masuk ke kamar mandi namun Alaric menahan tangan Vanessa dan mengurangi Vanessa di antara pintu dan dirinya.
tampaknya sisi kelaki-lakiannya tidak bisa di tahan.
Alaric memegangi wajah Vanessa dan mulai mencium bibir ranum milik Vanessa.
Vanessa awalnya menolak namun lama kelamaan ia merasa nyaman dan sedikit membalas ciuman itu.
Kini keduanya di penuhi oleh gelora panas namun Vanessa menyadarkan dirinya lalu mendorong Alaric menjauh darinya dan menampar wajah Alaric.
"cukup Al!!jangan sama kan ku dengan almarhum istri mu,tunggu aku kembali aku akan berbicara serius dengan mu"ucap Vanessa lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"agggrrrh,Al,kenapa kamu harus kelepasan sih.dasar bodoh.tapi ini bukan salah ku,dia yang membuat ku tergoda"gumam Alaric frustasi.
"ahh bagaimana kalau Vanessa meminta bercerai matilah hidup ku"ucap Alaric sambil menjambak rambutnya.
tak berselang lama Vanessa keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju naskas lalu mengambil sesuatu dari sana.
"van,maafkan aku.aku salah"ucap Alaric sambil mengikuti Vanessa.
Vanessa mengacuhkan Alaric lalu duduk di sofa lalu meletakkan memo kecil berserta pulpen di atas meja.
Vanessa bersedekap dada lalu kemudian menatap tajam ke arah Alaric.
"duduk"ucap Vanessa.
Alaric menuruti perintah Vanessa dan ikut duduk di sofa.
"aku punya dua pilihan permintaan"ucap Vanessa.
"baiklah aku akan mendengarkan nya"ucap Alaric.
"pilihan permintaan pertama,aku ingin kita cerai"ucap Vanessa.
"tidak,aku tidak menyetujui nya"ucap Alaric
"baiklah,kalau begitu aku ingin kita berdua membuat kesepakatan bersama,perjanjian.aku akan menulis larangan dan apa saja yang boleh kamu lakukan pada ku dan begitu sebaliknya, bagaimana tuan??"ucap Vanessa.
"huff baiklah,mari kita menulis masing-masing aturan kita"ucap Alaric mengalah daripada ia di mintai cerai,dimana mereka baru saja menikah beberapa jam.
Lalu Vanessa menulis segala peraturan yang ia tetapkan untuk hubungan itu,begitu sebaliknya yang di lakukan oleh Alaric.
TBC
ternyata komunikasi & mengerti itu
no 1 ya...
untuk menyelesaikan permasalahan...
mereka jadi bahagia
dan 2 " nya
jadi bucin
dong ke Vanesa
biar gak ada kegundahan hati lagi...
si vanessa keras kepala gak mau denger penjelasan alaric..