Rania Alesha— gadis biasa yang bercita-cita hidup bebas, bekerja di kedai kopi kecil, punya mimpi sederhana: bahagia tanpa drama.
Tapi semuanya hancur saat Arzandra Adrasta — pewaris keluarga politikus ternama — menyeretnya dalam pernikahan kontrak.
Kenapa? Karena Adrasta menyimpan rahasia tersembunyi jauh sebelum Rania mengenalnya.
Awalnya Rania pikir ini cuma pernikahan transaksi 1 tahun. Tapi ternyata, Adrasta bukan sekedar pria dingin & arogan. Dia manipulatif, licik, kadang menyebalkan — tapi diam-diam protektif, cuek tapi perhatian, keras tapi nggak pernah nyakitin fisik.
Yang bikin susah?
Semakin Rania ingin bebas... semakin Adrasta membuatnya terikat.
"Kamu nggak suka aku, aku ngerti. Tapi jangan pernah lupa, kamu istriku. Milik aku. Sampai aku yang bilang selesai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PCTA 32
Dan pada akhirnya... hanya ada sunyi di antara mereka. Sunyi yang tidak lagi canggung. Sunyi yang hangat. Sunyi milik dua hati yang akhirnya saling menemukan.
Adrasta menatap Rania di bawahnya perempuan yang selama ini tak hanya memenuhi pikirannya, tapi juga merobohkan seluruh benteng pertahanan hatinya. Tak ada lagi ruang untuk ragu. Tak ada lagi celah untuk mundur. Adrasta ingin mencintai Rania dengan seluruh jiwanya, seluruh raganya utuh tanpa batas.
Perlahan, Adrasta merendahkan tubuhnya, hingga napas mereka bertaut di udara yang sama. Tangannya menggenggam pipi Rania dengan lembut, membingkai wajah itu seolah
begitu rapuh seolah dunia bisa runtuh hanya dengan menyakitinya sedikit saja.
"Aku ingin kau tahu, Rania..." bisik Adrasta, suaranya dalam, serak, nyaris bergetar oleh perasaan yang terlalu meluap. "Bahwa sejak detik ini... kau tak akan pernah sendiri lagi. Bahkan dalam luka sekalipun... biar aku yang menanggung semuanya." Rania menggigit bibir bawahnya. Ada air bening menggantung di sudut matanya. Tapi bukan lagi air mata takut. Itu air mata seseorang yang hatinya perlahan luluh hancur dan dibangun kembali oleh cinta yang begitu tulus.
Saat akhirnya Adrasta menyatu dalam dirinya perlahan, dalam, dan begitu berhati-hati - Rania tidak bisa menahan lengkungan tangannya untuk melingkari leher Adrasta, menarik tubuh pria itu semakin erat ke dalam dekapannya.
Seolah tubuh Adrasta adalah satu-satunya tempat paling aman di dunia. Seolah hanya pria itu yang sanggup menjadikannya utuh kembali. Adrasta menggeram pelan bukan karena nafsu semata tapi karena keterhubungan jiwa itu terasa terlalu dalam, terlalu nyata, terlalu indah untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata biasa.
la mulai bergerak - ritmenya lambat, nyaris menyiksa, seolah ingin membuat setiap detik kebersamaan itu abadi. Setiap desah nafas mereka berpadu. Setiap gerakan mereka seirama. Ada dentuman rasa yang tak bisa lagi dibohongi antara raga dan jiwa, antara rasa memiliki dan rasa berserah. Hingga tanpa sadar, Adrasta berbisik rendah di telinga Rania, suaranya dalam, berat, penuh janji.
"Kau milikku, Rania... hanya milikku... seumur hidupku..." Dan saat gerakannya makin dalam, makin kuat, makin menuntut, justru di sanalah letak kelembutannya - karena bagi Adrasta, mencintai Rania bukan sekedar tentang memiliki raganya... Tapi tentang memiliki hatinya. Sepenuhnya. Selamanya.
Dan ketika batas itu akhirnya terlampaui... Ketika puncak rasa itu meledak dalam dirinya...
Adrasta tenggelam dalam pelukan Rania seutuhnya. Tubuhnya menegang dalam dekapan Rania, rahangnya mengeras, matanya terpejam rapat-merasakan bagaimana dirinya seolah benar-benar menyatu, tak hanya dalam raga... tapi juga dalam jiwa perempuan itu. Desah napas Adrasta pecah di dekat telinga Rania, serak, berat, namun dalam setiap helanya ada doa tanpa suara. Doa seorang pria yang jatuh cinta terlalu dalam.
"Aku ingin kau mengandung benih cintaku, Rania..." bisik Adrasta lirih, nyaris seperti doa rahasia yang hanya Tuhan dan Rania yang boleh mendengarnya.
"Aku ingin... ada bagian dariku... hidup di dalam dirimu." Seketika dada Rania menghangat. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan mengalir dalam hatinya. Sebuah rasa yang perlahan tumbuh menjadi nyata.
Rasa dimiliki... rasa dicintai... dan rasa menjadi bagian dari seseorang yang benar-benar menjaganya dengan sepenuh jiwa. Adrasta tetap mendekap tubuh Rania dalam kehangatan usai penyatuan mereka. Bukan sekadar karena hasrat, tapi karena hatinya terlalu penuh untuk melepaskan.