Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata keluarga? Rumah untuk berteduh? Tempat meminta perlindungan? Tempat memberi kehangatan? Itu semua benar. Tetapi tidak semua orang menganggap keluarga seperti itu. Ada yang menganggap Keluarga adalah tempat dimana ada rasa sakit, benci, luka dan kekangan.
"Aku capek di kekang terus."
"Lebih capek gak di urus."
"Masih mending kamu punya keluarga."
"Jangan bilang kata itu aku gak suka."
"Kalian harusnya bersyukur masih punya keluarga."
"Hidup kamu enak karena keluarga kamu cemara. Sedangkan aku gak tau siapa keluarga aku."
"Kamu mau keluarga? Sini aku kasih orang tua aku ada empat."
"Kasih aku aja, Mamah dan Papah aku udah di tanam." Tatapan mereka berubah sendu melihat ke arah seorang anak laki-laki yang matanya berbinar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Echaalov, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Langit sudah tidak sepanas tadi, mereka sedang berjalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saat berjalan sesekali mereka berbincang. Tania menyadari Naysa sedari tadi curi-curi pandang melihat kepadanya. Seperti ingin berbicara namun ragu-ragu.
"Nanay," panggil Tania. Naysa melihat kepada Tania.
"Iya? "
"Ada apa? Kamu mau ngomong sesuatu? " tanya Tania.
"Em gimana ya? gak enak ngomongnya," ucap Naysa yang masih terlihat ragu-ragu.
"Ngomong aja kali, Nay. Kayak sama siapa aja," ucap Tania terkekeh di akhir ucapannya.
"Yaya, aku boleh nginap di rumah kamu gak? " tanya Naysa menunduk sambil memainkan jarinya.
"Boleh, malahan boleh banget aku kesepian di rumah, kalau kamu nginap aku jadi ada teman," ucap Tania senang.
"Oke kalau kamu gak keberatan aku nginap ya di rumah kamu," ucap Naysa lega.
Candy dan Tyra hanya menyimak percakapan mereka. Tapi rasa penasaran hinggap di kepala Candy. Ia tidak bisa lagi menahannya.
"Aku boleh nanya gak? " tanya Candy menatap Naysa.
"Tanya aja Sel," ucap Naysa.
"Kenapa kamu mau nginap di rumah Yaya? "
"Pengen aja, udah lama aku gak nginap,"
"Oh gitu."
Perasaan Candy menjadi tenang. Tadi pikiran buruk terlintas di benaknya takut terjadi sesuatu kepada Naysa sehingga ia ingin nginap. Takut terjadi sesuatu di rumahnya, tapi begitu mendengar ucapan Naysa perasaan Candy tidak khawatir lagi.
"Kalian mau ikutan nginap? " tanya Naysa menatap Tyra dan Candy.
"Aku pengen tapi bakal gak di bolehin," ucap Candy sedih, wajahnya terlihat murung.
Mereka menatap Candy lalu mengelus bahunya bermaksud untuk menenangkannya. Mereka tahu pasti Candy tidak di izinkan menginap oleh ayahnya. Bukan rahasia lagi bahwa Candy mempunyai orang tua overprotektif. Tidak boleh menginap, tidak boleh pulang sore, setiap mau kemana saja harus izin, dan hanya boleh main di rumahnya atau di rumah teman yang di percaya oleh Arya, Ayah Candy.
Waktu ke sawah mereka sempat berbohong akan bermain di rumah Tania padahal pergi ke sawah. Untung saja tidak ada orang yang membocorkan itu ke Arya, sehingga Candy tidak di marahi.
"Jangan sedih kalau kamu sedih kita ikutan sedih," ucap Tania. Tania pun memeluk Candy lalu di susul oleh Naysa dan Tyra. Mereka berpelukan seperti teletubbies.
"Kalau Rara mau nginap gak? " tanya Tania.
"Aku sih pengen, cuman nanti malam aku ada acara sama keluarga aku," ucap Tyra tersenyum.
Sekilas Candy melihat dari tatapan Tania dan Naysa ada rasa iri begitu mendengar ucapan Tyra. Namun tatapan itu sekilas jadi Candy tidak yakin apakah yang baru saja ia lihat benar atau tidak.
"Wah pasti seru ya," ucap Tania.
"Kamu pasti gak sabar ya," ujar Naysa.
"Iya aku gak sabar," senyuman tidak pernah luntur dari wajah Tyra.
Setelah itu mereka pulang ke rumah masing-masing, kecuali Naysa yang pergi ke rumah Tania.
"Assalamualaikum Bibi, Yaya pulang," ucap Tania begitu membuka pintu, Naysa mengikuti dari belakang.
"Waalaikumsalam non Yaya, eh ada non Nanay juga," ucap Bi Ratih ketika melihat Tania dan Naysa yang mengikuti dari belakang.
"Iya Bi, Nanay mau nginap di sini," ucap Tania.
"Oh begitu bagus dong non Yaya ada teman," ujar Bi Ratih.
"Bi bawa snack ya ke kamar Yaya."
"Iya siap non," ucap Bi Ratih.
Tania dan Naysa pun berjalan menuju kamar Tania.
******
Langit sudah gelap, terlihat bintang berhamburan menghiasi langit malam. Seorang gadis kecil menutup gorden kamarnya, lalu berjalan menuju kasur yang terdapat manusia yang sedang tiduran.
Gadis kecil itu membaringkan tubuhnya di kasur itu. Ia berbaring di samping seorang gadis kecil lainnya. Mereka berdua menatap langit-langit kamar.
"Nanay," panggil Tania.
"Ya? " tanya Naysa masih menatap langit-langit kamar Tania.
"Kamu ada masalah ya? "
"Enggak."
"Jangan bohong."
"Serius aku gak ada masalah."
"Aku tahu kamu ada masalah, aku juga ada, setidaknya untuk hari ini kita bisa saling bercerita kan? "
Naysa tidak menjawab, keheningan terjadi di antara mereka.
"Jujur aku lelah punya orang tua yang gak pernah punya waktu untuk aku, mereka bahkan sama sekali tidak peduli kalau aku nakal, kalau aku dapat piala, bahkan untuk hal sederhana seperti makan bersama di meja makan itu seperti hal yang gak akan pernah terjadi, mereka bahkan lebih suka menatap iPad, HP, dan Laptop dari pada liat wajah aku," Tania mengucapkan itu sambil tersenyum pahit. Naysa menoleh menatap Tania.
"Yaya? Kamu gakpapa? "
"Aku gakpapa, aku cerita ke kamu bukan bermaksud adu nasib atau gimana, aku cuman mau terbuka sama kamu, dengan bercerita setidaknya sakit yang aku rasakan lebih ringan karena aku cerita ke kamu, kamu juga bisa jadiin aku tempat cerita," ucap Tania menatap Naysa.
Naysa menghembuskan nafasnya lalu kembali menatap langit-langit kamar Tania.
"Ayah aku nikah lagi ,Ya. Aku gak tahu harus gimana? Di rumah aku hanya mendengar suara tangisan yang berasal dari kamar ibu, aku bingung harus bersikap seperti apa? Di satu sisi aku gak mau liat ibu sedih tapi di sisi lain aku gak mau orang tua aku cerai," ucap Naysa.
"Kalau saran aku, kamu tanya aja ke ibu kamu, biar ibu kamu yang mengambil keputusan Nay. Tapi untuk sekarang kamu mending hibur ibu kamu, Nay."
"Tapi aku belum siap ngobrol sama ibu, saat ayah mengucapkan itu ke ibu aku ada di sana, Ya. Aku dengar semuanya, aku lihat semuanya, aku dengan jelas lihat ibu nangis di hadapan ayah. Aku juga belum menerima kenyataan bahwa ayah aku nikah lagi. Apalagi ibu, ibu pasti masih terguncang mendengar kenyataan itu," tanpa sadar setetes air mata keluar dari pelupuk matanya. Naysa duduk lalu menghapus air matanya menggunakan tangan. Melihat punggung Naysa yang bergetar, Tania memeluk Naysa. Tania bisa merasakan bahunya basah.
"Nangis aja Nanay, jangan di tahan," Tania menepuk punggung Naysa lembut.
"Sakit, Yaya. Hati aku sakit, Yaya."
"Iya aku tahu, keluarin aja sesak di hati kamu yang kamu tahan, Nay."
Di malam yang sepi terdengar suara tangisan di kamar Tania. Tania terus menepuk punggung Naysa untuk menenangkannya. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari pipinya. Namun segera tangannya menghapus air mata itu. Tania tidak tega melihat sahabatnya seperti ini.
Setelah satu jam, tangisan Naysa sudah berhenti. Mereka membaringkan tubuhnya di kasur lalu memakai selimut untuk membuat tubuh mereka hangat.
"Udah malam kita tidur ya."
"Iya, makasih Yaya. Udah mau dengar keluh kesah aku," ucap Naysa.
"Kita kan sahabat, mau senang atau sedih semuanya harus kita jalani bersama. Ingat Nanay, kamu itu punya aku, Sesel, dan Rara. Jadi kamu jangan pernah merasa sendiri."
"Iya."
Mereka pun tertidur dengan perasaan yang tenang setelah mencurahkan semua kegundahan dari hati mereka.