Siapa sangka putri tertua perdana menteri yang sangat disayang dan dimanja oleh perdana menteri malah membuat aib bagi keluarga Bai.
Bai Yu Jie, gadis manja yang dibuang oleh ayah kandungnya sendiri atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Dalam keadaan kritis, Yu Jie menyimpan dendam.
"Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Sabarlah untuk menunggu pembalasanku, ibu dan adikku tersayang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Sesampainya di halaman samping, Fang Ling dan Lian dibuat terkejut oleh Fang Li.
"Ibu, tolong kami!" rengek Fang Ling.
Baru saja Fang Ling ingin menghambur ke pelukan ibunya, rotan panjang milik Fang Li langsung menghadang.
"Jangan coba-coba!" tegas Fang Li pada adik bungsunya.
Lian hanya bisa menghela napas melihat kelakuan putri pertama dan bungsunya. Si putri pertama terkenal tegas dalam mendidik ketiga adiknya. Fang Hua paling beruntung karena cepat tanggap saat mempelajari ilmu bela diri.
Berbeda dengan Yu Jie dan Fang Ling. Kedua kakak adik itu terkenal manja. Bedanya, meski Yu Jie terkenal manja dulu, dia masih bisa menahan diri. Berbeda dengan Fang Ling yang selalu tidak tahan saat belajar bela diri.
Semakin Fang Ling berteriak, semakin gencar kakak tertua mereka memberi pengajaran.
"Li'er, biarkan mereka istirahat dulu," pinta Lian.
"Ibu, pengawal itu akan tiba ke kediaman ini lagi tidak sampai sebulan. Yu Jie dan Fang Ling harus siap sebelum pengawal itu tiba," jelas Fang Li.
"Ibu tahu kau ingin yang terbaik untuk kedua adikmu. Mereka berdua juga sudah bekerja keras. Ibu tidak melarang mu untuk mendidik mereka, tapi setidaknya biarkan mereka bernapas sebentar," bujuk Lian karena tidak tega melihat kedua putrinya yang harus berdiri di atas balok kayu yang lebarnya tidak sampai satu jengkal.
Yu Jie dan Fang Ling harus berdiri dengan satu kaki demi melatih keseimbangan tubuh mereka. Namun, belum sampai mata Fang Li berkedip satu kali, Yu Jie dan Fang Ling sudah terjatuh. Bukan hanya sekali kedua gadis itu jatuh. Setiap kali jatuh, mereka harus naik kembali.
Hingga jatuh yang terakhir, kedua gadis itu berteriak cukup kencang. Bagaimana tidak, Fang Li dengan sengaja menyingkirkan tumpukan pasir sebagai alas saat mereka jatuh cukup jauh dari area balok yang berdiri.
Padahal tinggi balok itu hanya setinggi bahu Fang Hua, tapi Yu Jie dan Fang Ling menganggap tinggi balok itu sangat tinggi. Kedua gadis itu jatuh terjerembab ke tanah dengan bunyi yang cukup keras disertai teriakan mereka.
"Ibu, katakan padaku bagaimana caranya menyelesaikan latihan dasar bela diri mereka jika sedangkan aku baru saja memulai pelajaran untuk mereka?" jawab Fang Li sambil menunjuk Yu Jie dan Fang Ling dengan ujung bibirnya.
Lian menggeleng. Kali ini dia tidak bisa membantu kedua putrinya dari kakak tertua mereka. Lagipula benar kata Fang Li. Waktu mereka tidak sampai sebulan. Setidaknya, Yu Jie dan Fang Ling harus menguasai dasar ilmu bela diri.
Batinnya seorang ibu bergejolak. Daripada dia melihat dan mendengar kedua putri manjanya itu mengeluh, lebih baik dia menyibukkan diri di dapur.
"Kalau begitu, ibu akan menyiapkan cemilan untuk kalian," ucap Lian sambil berlalu.
"Eh, i..."
Belum selesai Fang Ling berucap, Fang Li membulatkan matanya hingga membuat gadis itu takut. Fang Ling langsung mengurungkan niatnya setelah ditatap tajam oleh kakak tertuanya.
Yu Jie dari tadi memilih diam saja. Meski pelatihan bela diri ini membuat seluruh tubuhnya sakit, tapi ini semua demi kebaikannya.
Fang Li takut jika sewaktu-waktu dia tidak berada di sisi mereka, mereka tidak bisa melindungi diri dengan baik. Fang Li tak ingin pengalaman pahit dulu terulang.
"Lanjutkan!" perintah Fang Li.
Yu Jie kembali naik ke balok dengan sekali hentakan kaki. Gayanya cukup anggun sebagai pemula. Sedangkan, Fang Ling menaiki balok dengan wajah tertekuk hingga membuatnya jatuh sebelum sebelah kakinya sempat berpijak.
"Kau harus iklas," ucap Fang Hua sambil tertawa kecil.
"Andai saja aku memiliki tenaga dan otak yang cemerlang seperti dirimu, kak!" keluh Fang Ling.
"Ling'er, yang dikatakan kak Hua itu benar. Semakin banyak kau mengeluh semakin sedikit yang kau dapat. Ini juga demi kebaikan kita," ucap Yu Jie.
"Adik ketiga benar. Yu Jie saja yang ahli pengobatan tetap belajar. Dia juga sama lelahnya denganmu," ujar Fang Hua.
Terkadang Fang Hua sedikit kesal dengan adik bungsunya itu. Dari sekian banyak sifat yang baik, dia malah mengambil sifat manja Yu Jie.
"Baiklah," ucap Fang Ling sambil bersungut.
Pelatihan dasar bela diri mereka hari ini berjalan lebih lama dari biasanya. Hal itu dilakukan Fang Ling agar beberapa hari ke depan kemampuan kedua adiknya meningkat, meski sedikit.
Lian memilih untuk tidak ikut campur. Sedangkan Fang Hua senang menjadi pengamat yang memberi dorongan bersama Li Jing.
Memasuki hari ke lima belas, kemampuan Yu Jie berkembang pesat. Meski kemampuannya belum mendekati setengah dari kemampuan Fang Li, setidaknya cukup untuk melindungi dirinya sendiri.
Fang Ling juga tak kalah hebat. Kemampuannya setara dengan Fang Hua. Tak disangka, meski cengeng dan suka mengeluh, ternyata saat gadis itu mendalami sesuatu hasilnya sangat baik.
"Bagaimana ibu? Aku hebat kan!" teriak Fang Ling dengan sombongnya.
Pletak
"Aduh! Kenapa kak Hua malah melempari ku dengan kerikil?" teriak Fang Ling rak terima.
Dengan santainya Fang Hua menjawab, "Aku ingat beberapa waktu lalu, ada seseorang yang cengeng dan suka mengeluh saat latihan."
"Ish, kakak! Itu kan dulu," balas Fang Ling sambil mengusap keningnya yang sakit.
"Makanya, kau itu harus lebih sabar saat belajar. Bukannya kau sendiri yang akan menerima manfaatnya," balas Fang Hua.
"Iya, iya," jawab Fang Ling.
"Mulai besok tidak ada latihan lagi," ujar Fang Li.
"Kenapa kak? Bukankah kemampuan kami masih jauh," tanya Yu Jie bingung.
"Aku yakin pengawal itu akan tiba dalam beberapa hari lagi. Kita juga harus bersiap," jawab Fang Li.
Yu Jie tersenyum, "Kakak benar. Banyak sekali yang harus kita persiapkan."
"Aku harus membuat beberapa ramuan sebagai buah tangan," timpal Yu Jie.
Fang Hua tersenyum mendengar kalimat buah tangan yang meluncur dari bibir Yu Jie. Gadis itu yakin Yu Jie pasti akan memberi buah tangan yang terbaik untuk ibu dan anak itu.
"Kakak, apa mereka akan mengenali kita?" sela Fang Ling.
"Tentu saja tidak," jawab Yu Jie.
"Bagaimana mungkin mereka tidak mengenali kita?" tanya Fang Ling bingung.
Mungkin iya karena mereka sudah banyak berubah. Kulit mereka yang dulu kusam, kini menjadi sangat cerah dan bersih. Tubuh mereka juga memiliki berat yang ideal.
Mereka juga memiliki wajah yang semakin hari semakin cantik karena ramuan Yu Jie. Jika orang yang tidak mengetahui asal usul mereka, sudah pasti mengira mereka adalah sebuah keluarga kaya raya atau bangsawan yang dikepalai dengan seorang janda.
Belum lagi perangai mereka yang tidak kalah anggun dengan putri-putri bangsawan lain. Meski begitu berbeda, tetap saja orang yang sudah lama mengenali mereka pasti akan tahu.
Otak Fang Ling berpikir keras mencari jawaban yang cocok untuk pertanyaannya sendiri. Namun, karena keterbatasan dia tidak dapat menemukan jawaban yang tepat.
lanjut up lagi thor