Demi menjalankan misinya mencari tahu mengenai pelaku pembantaian massal keluarga Anthony, dengan rela Tuan Vigor menikahkan putri tunggalnya dengan seorang mafia yang merupakan putra sahabatnya untuk melancarkan misinya dan mendapatkan harta yang ia inginkan. namun lain halnya dengan si mafia, yang mempunyai tujuan lain dengan adanya ia masuk kedalam keluarga elit itu untuk bisa menguasai dan mengendalikan keluarga itu lewat Calon istrinya yang saat ini mendapat julukan Bloody Queen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionnaclareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeritan Malam
Di tengah pepohonan rindang yang rapat, sebuah mobil melaju kencang membelah jalanan hutan yang sepi. Suara mesinnya memecah keheningan alam, bagaikan alunan musik yang asing di telinga penghuni hutan. Debu beterbangan di belakang mobil, mengikuti jejaknya yang bagaikan garis lurus di atas tanah berbatu.
Cahaya lampu mobil menerobos kabut tipis, menyingkap bayang-bayang pepohonan yang seperti raksasa di sisi jalan. Sesekali, sepasang mata hewan liar terlihat berbinar di kegelapan, tertegun melihat kehadiran sang pengemudi yang tak diundang.
Kecepatan mobil tak berkurang, seakan sang pengemudi dikejar waktu. Jalanan berkelok meliuk dilalui dengan lincah, tanpa rasa takut sedikitpun. Daun-daun kering beterbangan menghantam kaca mobil.
Air mata mengalir deras di pipi seorang gadis kecil yang duduk di kursi penumpan, membasahi wajahnya yang polos. Isaknya pilu terdengar di dalam kabin mobil yang melaju kencang, bagaikan alunan lagu kesedihan yang tak berujung.
Di usianya yang masih belia, dia tak mengerti mengapa harus terjebak dalam situasi ini. Rasa takut dan kebingungan menyelimuti hatinya, sementara mobil terus melaju tanpa henti, membawanya ke tempat yang tak diketahui.
Bonekanya tergeletak tak berdaya di pangkuannya, tak mampu memberikan ketenangan yang dia cari. Disamping itu ada seorang anak laki laki yang berumur sekitar tujuh tahun yang sedang berusaha untuk menenangkan adiknya yang sedang menangis ketakutan di sana.
"Shuttt Yoona tenanglah, jangan terus menangis." Elamnya sembari menepuk pundak gadis kecil itu.
"Aku takut, kenapa mobilnya berjalan sangat cepat sekali, aku takut kak." Isaknya yang ketakutan sembari sesekali menatap ke arah luar jendela mobil yang hanya terlihat gelapnya malam dan pepohonan yang berjajar rapi di tepian jalan sehingga menciptakan Nuansa yang begitu sepi dan menakutkan.
"Kumohon berhentilah menangis, aku akan menyuruh supir untuk mengurangi kecepatannya." Ujarnya namun usahanya itu tidak membuahkan hasil apapun adik perempuannya itu masih terus menangis kencang.
"Pak tolong kurangi kecepatannya, Yoona tidak bisa berhenti menangis karena ketakutan, kumohon pelankan mobilnya." Pinta anak laki laki itu namun tidak ada respon sama sekali.
"Pak supir kumohon, jangan membuat Yoona terus menangis, pelankan mobilnya." Ujarnya namun hasilnya tetap sama tidak ada jawaban ataupun respon dari supir yang saat ini sedang membawa mobil itu.
Anak laki laki itu mulai kesal dan memutuskan untuk mendekatkan dirinya pada sang supir, namun ketika dia melihat ke arah kursi depan, dan jantungnya terhenti sesaat.
Di sana, tergeletaklah sang sopir, tubuhnya terkulai dengan posisi yang tidak wajar. Wajahnya pucat pasi, dengan kaki yang masih terus menginjak pedal gas dengan kelajuan penuh. Sebuah pisau llberlumuran darah tertancap di lehernya, meninggalkan luka yang mengerikan. Anak laki laki itu terpaku di kursinya, ketakutan mencekam seluruh tubuhnya. Dia tidak bisa mengeluarkan suara, hanya bisa ternganga ke arah sopir yang telah tewas.
"Kak Varo, ada apa?" Tanya gadis kecil itu yang membuyarkan semua lamunannya.
"Tidak ada apa apa Yoona." Jawabnya sembari memberanikan diri untuk merangkak maju ke arah kursi kemudi dan membuka kunci pintu mobil.
Varo si anak kecil laki laki itu mulai paham dengan situasi yang ia dapati saat ini, supir itu tidak sedang dibunuh, melainkan membunuh dirinya sendiri untuk melancarkan aksi rencananya. Varo mulai membuka kaca cendela miliknya dan mengintip ke arah luar jendela mobil hingga ia melihat sebuah terowongan gelap yang masih terletak berkilo-kilo meter dari sana.
Yoona si gadis kecil masih terjebak dalam tangisan ketakutannya, dia terus memanggil nama papa nya karena sangking takutnya, dia tidak bisa mengendalikan pikirannya, yang dia pikirkan hanyalah menangis dan berharap mobil itu segera berhenti.
Varo melepas baju sweater panjang yang ia kenakan, dan langsung melilitkan nya di area kepala dan wajah Yoona, "apa yang kau lakukan kak?"
"Menurutlah padaku."
"Kak Varo aku takut, mobilnya kenapa tidak berhenti juga." Rengek nya .
"Mobilnya akan berhenti Yoona, jika kau keluar dari sini."
"Apa?"
Varo melihat sekilas ke arah luar jendela "aku benar benar minta maaf Yoona, tapi ini semua demi kau."
"Kak Varo."
"Setelah ini hiduplah dengan baik, dan kumohon jangan pernah menangis." Lanjutnya sembari menatap lekat ke arah adik perempuannya itu.
"Kak Varo, apa yang kau katakan?" Tanyanya namun Varo tidak menjawab dan langsung membuka pintu mobil yang ada di samping Yoona.
"Tutuplah matamu." Pinta Varo yang sontak membuat Yoona menutup kedua matanya.
"Maafkan aku Yoona, kumohon bertahanlah." Ucap Varo yang terakhir kali sembari melepaskan sabuk pengaman milik Yoona, dan mendorong tubuh gadis itu dengan begitu kuat hingga keluar paksa dari dalam mobil.
Yoona yang merasa tubuhnya terlempar keluar sontak membuka kedua matanya dan menjerit begitu keras. Tubuh gadis itu terguling-guling di aspal, merasakan benturan keras yang menggetarkan seluruh tubuhnya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya, dan teriakannya tertahan di tenggorokan.
Mobil yang membawanya terus melaju, meninggalkan Yoona yang tergeletak tak berdaya di tepi jalan dengan darah yang terus mengalir keluar dari kepalanya yang tidak sengaja terbentur batu besar. Masih dalam keadaan sadar sehingga dengan pandangan yang begitu remang remang ia menyaksikan mobil yang masuk kedalam sebuah terowongan gelap dan terdengar suara ledakan yang begitu dahsyat seakan akan mobil itu menabarak sesuatu, namun beberapa saat kemudian dengan tubuh lemas dan wajahnya pucat pasi, serta darah yang mengalir dari luka-luka di tubuhnya, hingga mewarnai bajunya dengan warna merah yang mengerikan. Gadis kecil itu akhirnya tergeletak lemas tidak sadarkan diri.
~
~
~
***
Sebuah ruangan yang remang-remang, dihiasi dengan lampu kristal yang berkilauan dan dekorasi yang elegan. Diiringi alunan musik jazz yang menenangkan, aroma koktail yang menggoda memenuhi udara. Derit pintu besi terdengar ketika seorang gadis tiba tiba membuka dan masuk kedalam area ramai. Langkah kakinya bagaikan alunan musik yang memesona saat dia memasuki bar remang-remang itu. Rambutnya yang panjang terurai indah membingkai wajahnya yang cantik, dihiasi riasan natural yang menonjolkan kecantikan alaminya. Matanya yang berwarna cokelat gelap berbinar dengan rasa percaya diri, memancarkan aura menggoda yang tak tertahankan.
Gadis cantik itu mengenakan gaun berwarna hitam yang menempel sempurna di tubuhnya yang ramping, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah tanpa terlalu vulgar. Belahan dadanya yang rendah dihiasi kalung liontin yang berkilauan, dan rok mininya memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Meskipun penampilannya tidak terlalu sexy seperti wanita yang ada disana, namun ia berhasil menjadi pusat perhatian para pengunjung bar yang didominasi pria. Setiap langkahnya diiringi gumaman kagum dan tatapan penuh gairah dari para lelaki yang terpesona oleh kecantikannya.
Gadis berjalan dengan anggun menuju bar, aroma parfum mahalnya menebar pesona di udara. Dia memesan segelas martini dan duduk di salah satu kursi tinggi, mencondongkan tubuhnya ke arah bartender dengan senyum menggoda. Suaranya yang lembut dan memesona saat berbicara membuat para pria di sekitarnya semakin tergoda.
"Hey manis, apa kau sendiri?" Tanya pria tinggi yang tiba tiba datang dan menarik kursi di sampingnya.
"Tidak juga." Jawabnya singkat sembari meneguk minuman alkohol miliknua tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
Dengan begitu berani pria itu langsung menenggerkan lengannya di atas pundak gadis yang ada disampingnya "sepertinya kau sedang ada masalah." Tebaknya sembari menatap gadis itu dengan begitu dalam, dan mengharapkan respon lebih darinya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Tentu saja aku tahu, wajah cantikmu tidak bisa berbohong Darling." Jawabnya sembari tersenyum dan meraba paha kiri gadis itu
"Ngomong ngomong siapa namamu?"
Gadis berwajah cantik itu hanya bisa tersenyum sembari sesekali melirik ke arah tangan yang sedari tadi bermain di atas kulit mulusnya.
"Panggil saja aku Yoona darling." Jawabnya dengan tatapan dan lantunan suara yang begitu menggoda hasrat dan pikiran.
Namun di tengah keramaian itu tiba-tiba, suara dering telepon memecah suasana di antara mereka. Yoona melirik ke arah ponselnya yang terletak di atas meja Bar. Dia melihat layar ponselnya yang menunjukkan nama kontak yang begitu ia kenal. Gadis itu hanya tersenyum tipis sembari melirik kearah ponselnya yang terus berbunyi hingga mati dengan sendirinya.
"Siapa dia? Dia kekasihmu?" Tanya pria itu yang berhasil nembaca nama kontak yang muncul di ponsel gadis itu.
"Bukan, lebih tepatnya dia tunanganku."
"Ahh kau sudah bertunangan rupanya, apa dia tahu kau kemari sendiri?"
"Untuk apa dia tahu kalau yang ada dipikiranya hanyalah wanita lain."
"Ohh jadi dia selingkuh darimu?" Tanyanya dan keyva sontak mengangguk merespon pertanyaannya itu.
"Berani sekali dia selingkuh dari wanita secantik dirimu Yoona." Lanjutnya sembari menatap wanita yang sedang meneguk minumannya yang ke empat kalinya.
"Apa kau mau menghibur ku? Sebab aku kemari ingin mendapatkan hiburan" Tanya nya singkat dan membuat mata pria itu seketika jernih seakan akan ia tidak pernah menyangka akan mendengar kalimat seperti itu.
"Dengan senang hati aku mau menghiburmu, memang dikondisi seperti ini paling cocok bermain untuk menghilangkan beban pikiran." Jawabnya yang menerima tawaran Yoona dengan sepenuh hati dan jiwa.
"Sebentar, aku akan memesankan kamar VIP untuk kita bersenang senang."
"Tidak, aku tidak mau melakukannya disini, disini terlalu ramai, tidak enak jika semua orang mendengar nya." Pinta Yoona dengan senyuman menggodanya.
"Ahh padahal kamar disini sangat kedap suara sehingga kau bisa melenguh sepuas hatimu tanpa harus menghiraukan suasana luar, tapi aku mengerti, baiklah kau ingin dimana Darling."
"Ikutlah dengan ku." Pintanya lagi sembari beranjak dari tempat duduknya.
Yoona membawa pria itu keluar dari keramaian dan membawanya masuk kedalam mobil Aston Martin miliknya, dan melajukan mobilnya itu dengan kecepatan penuh meninggalkan tempat ramai itu.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, mobil mewah itu akhirnya memasuki sebuah daerah yang sangat sepi. Di sekelilingnya hanya ada hutan lebat dan pegunungan yang menjulang tinggi. Jalanan menjadi semakin sempit dan rusak sehingga menimbulkan goncangan di dalam mobil itu.
"Kau sebenarnya ingin kemana hmm, kenapa terlihat sangat jauh sekali."
Yoona tersenyum tipis sembari menatap jalanan yang ia tempuh sekarang. "Kita sudah sampai." Jawabnya singkat setelah memberhentikan mobilnya itu tepat di tengah jalan hutan yang begitu sepi dan gelap.
"Kenapa kita kemari?" Tanya pria itu kebingungan dan menimbulkan senyuman Yoona hingga terlihat deretan giginya.
"Kau bilang, kau ingin menghiburku bukan, maka hiburlah aku disini."
"Disini?" Tanyanya lagi sementara itu Yoona mulai melepas sabuk pengaman miliknya dan mendekatkan dirinya pada pria yang sedari tadi ada di sampingnya.
"Buatlah aku senang, aku ingin mendengar jeritan paling kerasmu." Ucapnya ketika jarak nya sudah begitu dekat dengannya.
JLEBB!!!
"AAGRRHHHH!!!" Jeritnya ketika sebuah belati tajam menanjam dalam di bidang dada kirinya.
"Cih lemah, baru satu tusukan sudah lemas."
"Dasar wanita b4jingan, apa yang kau lakukan, kau ingin membunuhku!!!" Ucap pria itu yang sepertinya sedang menahan rasa sakit disana.
"Siapa bilang aku ingin membunuhmu," Yoona memiringkan kepalanya dan tersenyum smirik ke arahnya "kau bilang yang mau menghiburku? Apa kau lupa darling? Jadi sekarang hiburlah diriku ini sampai puas." Jawabannya yang semakin mendekatkan dirinya dan menginjak telapak kaki pria itu dengan sepatu heels tingginya.
"Dasar wanita psikopat, enyalah kau dasar b4jingan!!!" Berontak nya yang terus memberontak keluar dari dalam mobil itu.
JLEBB!!!
"ARGHHH!!!" jeritnya kembali saat belati lain menancap di bidang dada kanannya.
"Ups...aku sengaja." Senang nya sembari sesekali mengeluarkan tawanya seakan ia senang dengan semua itu.
"Panggil aku Bloody Queen darling."
Yoona kembali menarik belati miliknya, lalu meraih tangan kanan pria itu dan langsung membelah daging telapak nya begitu saja sehingga lagi lagi membuat korbannya menjerit kesakitan.
"Kenapa kau hanya menjerit, ayo kau bilang ingin bermain denganku darling, mana sentuhan kecil yang kau berikan tadi?" Ucapnya sembari mengusapkan telapak tangan pria yang penuh dengan darah kental itu pada paha kirinya.
"Kau tadi bilang ingin mendengar suara lenguhanku kan, maka berikan dulu jiwamu setelah itu kau baru bisa mendengar nya." Lanjutnya tanpa menghiraukan suara jeritan kesakitan yang terus keluar dari mulut pria di depannya.
"Paha mulusku terkotori oleh tanganmu, jadi kau juga harus membersihkannya dengan darahmu."
"Ahh sial, aku suka sekali aroma ini." Racaunya ketika aroma kental manis mulai merebak di dalam mobilnya yang masih tertutup rapat.
Suara jeritan itu menggema di malam yang sunyi. Penuh dengan rasa ketakutan dan kesakitan yang teramat dalam. Seolah-olah jiwa tercabik-cabik dan raga diremas tanpa ampun.Tubuh itu terkulai lemas berlumuran darah. Matanya melotot ketakutan, mulutnya ternganga lebar, mengeluarkan suara jeritan yang pilu. Sementara gadis itu tidak sedikitpun merasa takut, bahkan dia begitu senang saat dia menjerit semakin keras.
Setiap tarikan napas terasa seperti tusukan pisau di dadanya. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar tak terkendali. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya sudah habis. Dia ingin melarikan diri, tapi kakinya tak mampu bergerak. Hanya rasa sakit dan ketakutan yang menemaninya. Dia merasa sendirian di dunia ini, dihantui oleh bayang-bayang kematian yang semakin dekat.
Jeritannya perlahan-lahan mereda, digantikan oleh suara tangisan yang lirih. Dia menutup matanya, dan semuanya menjadi gelap.Dia telah pergi. Kematian telah membawanya pergi dari dunia ini.
"Sayang sekali sudah selesai, padahal aku masih ingin lebih lama." Yoona mendengus kasar sembari menatap tubuh pria yang begitu mengerikan itu.
Yoona Sierra Queen, itulah namanya, putri tunggal cantik dari keluarga William yang merupakan keluarga konglomerat yang merangkap sebagai keluarga Mafia. Bloody Queen itulah julukannya sebab ia begitu suka dengan aroma darah kental.
Gadis cantik itu keluar dari dalam mobilnya sembari membawa benda persegi panjang miliknya dan mulai menghubungi salah satu nomor disana.
"Datanglah kemari, kalian harus membereskan mainanku, dan iya bawakan baju ganti." Ucapnya yang sedang berbicara dengan orang yang ada di dalam panggilan teleponnya.
Yoona menutup panggilan teleponnya secara sepihak, dan tidak lama kemudian terlihat sebuah panggilan masuk dari dalam ponselnya. dengan ekspresi yang sangat ragu, gadis itu menghusap layar ponselnya hingga panggilan itu terhubung.
"Hallo"
[Honey, astaga kenapa kau baru mengangkat teleponku?]
"Aku tidak tahu, aku sedang mandi tadi ada apa?"
[Aku sangat merindukanmu, kenapa kau sulit sekali untuk bertemu denganmu hmm]
"Mau bagaimana lagi, papa bilang kita tidak boleh bertemu karena pernikahan kita besok lusa, jadi simpan rindumu itu."
[Kenapa harus ada hal semacam itu, tapi ngomong ngomong apa kau tidak merindukanku?]
"Tentu saja aku merindukanmu honey, apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku di dalam rumah ini."
"Begini saja, apa kau mau menemani ku belanja besok."
[Kau bilang tidak boleh keluar rumah?]
"Kalau hanya belanja, aku bisa bujuk papa, dan dia pasti mengijinkan ku, jadi tunggu aku di mall besok."
[Baiklah, aku tidak sabar bertemu denganmu.]
Yoona tersenyum tipis ketika mendengar kalimat itu, "Aku yang lebih tidak sabar bertemu denganmu, see you honey." Ucapnya yang langsung menutup panggilan nya.
"Apa kau sedang tersesat Noona?" Ucap seorang pria tiba tiba yang baru saja tiba di sana dan membuat Yoona seketika menatap ke arahnya.
Yoona mengamati penampilan pria itu dari ujung kaki sampai ujung rambut, pria yang mempunyai tinggi 170 memakai kaos hitam dan celana jeans bersepatu. "Siapa kau?" Tanya Yoona.
"Kau habis menghabisi seseorang?" Tanya pria itu ketika melihat paha gadis itu yang berlumuran darah.
"Kau mau juga, aku bisa melakukan hal yang sama untukmu."
Pria itu tersenyum manis sembari menatap sekilas gadis didepannya "aku sudah bosan melihat darah, lagi pula aku tidak sengaja lewat dan bertemu denganmu."
"Aku pemilik bar di sekitar daerah ini, kalau ada waktu luang kau bisa mampir kesana." Lanjut pria itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Yoona disana.
Hingga beberapa saat kemudian sebuah sorot lampu mobil perlahan menerangi jalanan yang sepi dan remang remang itu, hingga terlihat tiga mobil mewah yang tiba tiba terparkir di sana dan keluarlah lebih dari 5 orang pria dari dalam mobil itu
"Maafkan kami sedikit terlambat Noona." Ucap salah satu pria yang berpakaian serba hitam.
"Tidak masalah, kalian bersihkan mobilku, dan bakar saja sampah yang ada di dalamnya." Perintahnya yang langsung pergi masuk ke salah satu mobil yang mereka bawa.
"Baik Noona." Jawabnya serentak
dengan tubuh yang membungkuk sembilan puluh derajat pada gadis yang sama sekali tidak menghiraukan mereka.