novel ini untuk sementara sedang direvisi mohon maaf kalau ada ketidak nyamanan dalam membacnya🙏🙏,
Dinda,Arin,Dimas,Dani dan Wiira berencana mengisi liburan setelah ujian akhir sekolah,mereka berencana pergi ke naik ke gunung ciremai.
Fadilah dan Farhan teman teman Dani yang mendengarnya ikut bergabung,mereka adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi dikota Jakarta sedang liburan ditempatnya Dani.
Mereka tak menyangka liburan mereka jadi bencada dan mengakibatkan kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Dani
Dinda termenung didepan rumah Dani,sudah satu bulan lebih ia tidak pernah bertemu Dani,bahkan tetangganya pun tidak tahu mereka kemana.
"Dani dimana kamu Dan?"Dinda mendesah sedih,kemudian ia pergi dari depan rumah Dani dengan langkah gontai.
Dinda berjalan menyusuri perumahan elit,ia berjalan sambil tertunduk lesu,tapi ketika sudah jauh meninggalkan perumahan itu ia merasa ada seseorang yang mengikutinya,hatinya mulai cemas,Dinda mempercepat langkahnya,tapi langkah dibelakangnya juga terdengar semakin cepat.
Dinda berhenti dan berbalik,ia melihat kearah belakang disana ada seorang laki-laki memakai hoody dan wajahnya ditutup masker,lelaki itu berjongkok sedang membetulkan tali sepatunya.
"Siapa dia,jangan-jangan anak buahnya Dimas,ketakutan mulai melanda Dinda,ia bergegas pergi setengah berlari.
"Tuk tuk tuk tuk...."
Suara sepatu dibelakangnya mengikutinya suaranya terdengar jelas,Dinda semakin ketakutan,keringat dingin membasahi keningnya,ketika ia melewati gang sepi ia bergegas lari dengan sekuat tenaga dan orang dibelakangnya pun ikut berlari.
"Ya Allah tolong aku,aku takut,"Dinda bergumam,terus berdoa dalam hati.
"Brukhhh...."
"Akhhhh...."
Dinda jatuh kakinya terantuk batu,karena ketakutan ia tidak memperhatikan jalan,ketika ada batu didepannya ia tidak memperhatikannya,Dinda berusaha bangun,namun kakinya terasa sangat sakit.
"Akhhhh..."
"Aduhhh...."
Dinda merangkak menjauh begitu melihat orang tersebut sudah dekat dengannya.
"Gawat dia semakin dekat,"gumam Dinda,sambil terus merangkak menjauh.
"Kenapa sepi sekali,ya Allah aku takut,tolong
"Dinda,jangan takut,ini aku,"terdengar suara orang yang dibelakangnya menahan langkah Dinda.
Dinda berbalik,ia terkejut mendengar suara yang ia kenal,"Dani,apakah itu kamu,"Dinda memperhatikan orang yang berdiri didepannya.
Orang itu membuka masker dan hoodynya,ia tersenyum pada Dinda.
"Apa kabar Dinda,"Dani berjongkok didepan Dinda,memeriksa kakinya.
Dinda terdiam shock,airmatanya jatuh,ia memegang pipi Dani,"kemana aja kamu selama ini,kenapa kamu tidak pernah datang menjengukku?"
Dani memegang tangan Dinda dan mengenggamnya,ia mencium tangan itu,bibirnya bergetar.
"Banyak hal yang terjadi,aku senang melihatmu lagi,"Dani melepas genggaman tangannya,ia menatap Dinda begitu dalam.
"Ayo kita pergi dari sini,nanti aku ceritakan semuanya,kenapa aku pergi,"Dani membantu Dinda berdiri,ia menuntunnya menuju sebuah mobil yang jauh terpakir dari situ.
Dani mengendarai mobil menuju suatu tempat,sesekali matanya melirik kearah Dinda,setelah sampai disebuah danau Dani menghentikan mobilnya dan berbalik menatap kearah Dinda.
"Apa kabarmu Din?"
Dinda balas menatap Dani,matanya berembun menatap mata Dani.
"Aku baik,kemana kamu selama ini,bukankah kamu berjanji akan selalu menjaga dan ada disampingku,kamu pergi kemana,apa yang terjadi,aku ketakutan Dan,kamu kemana saja?"berbagai pertanyaan keluar dari bibir Dinda.
"Hehhh...."
Dani menghela nafas dan mulai bercerita.
"Maafkan aku Din,aku tidak sempat memberitahumu,setelah kami bisa menyelamatkanmu dihutan,aku dan keluargaku selalu mendapat teror."
"Hah,kenapa,apa ini perbuatan mereka?"
"Yah,kamu tahu tidak,salah satu anggota mereka adalah kepala sekolah kita sendiri Din,"ungkap Dani.
"Hahhh..."Dinda menatap Dani tak percaya,"apakah itu benar,darimana kamu tahu,itu sepertinya tidak mungkin Dan?"
"Yah,akupun shock,awalnya aku tidak percaya ketika melihatnya,tapi itu memang dia,dia ikut waktu ritual dihutan itu."
"Kenapa Dan,aku tidak mengerti dan aku juga bingung,"Dinda masih shock dan belum mempercayainya.
"Apa kamu tidak curiga,kenapa berita yang tersebar disekolah berbeda faktanya dengan kejadian yang kita alami?"Dani menatap intens kemata Dinda.
"Bagaimana kamu tahu keadaan disekolah,bukankah kamu tidak pernah masuk sekolah?"
"Aku mencari tahu Din,aku diam-diam selalu mengikutimu,aku tahu bahaya masih mengintai,mereka tidak akan melepaskan kita begitu saja."
"Kenapa Dan,Dimas terlihat sangat baik,bahkan dulu dia selalu melindungiku bila ada yang mau menyakitiku,tapi kenapa?"
"Sepertinya dia sengaja mendekatimu,tapi yang tidak aku mengerti satu minggu setelah kejadian Dimas meninggal."
"Apa...."Dinda menatap wajah Dani tidak percaya.
"Yah,satu minggu setelah kejadian tubuhnya ditemukan disebuah jalanan sepi dengan dada terbelah dan jantungnya hilang."
"Kalau Dimas sudah meninggal,seharusnya kita aman Dan,tapi kenapa teror itu masih berlanjut?"
Dinda merasa tubuhnya lemas mendengar semuanya,ia bersandar dijok mobil,ia bingung semuanya tampak begitu kacau,Dimas,kepala sekolah.
"Sudahlah,kita harus cari cara untuk keluar,Dinda aku rasa kamu enggak usah datang kesekolah,pindah saja,aku juga berencana untuk pindah Din."
"Aku iuga bingung Dan,mauku juga begitu,aku sudah tidak nyaman bersekolah disana,tapi ngomong-ngomong,Kalau memang benar kepala sekolah terlibat,berarti apa yang aku lihat waktu itu benar,itu adalah Fadilah dan Farhan.
"Apa! Kapan kamu mereka?"Dani terkejut,ia merasa ini ada hubungannya dengan Dinda,berarti dugaan benar kalau mereka masih mengincar Dinda.
"Beberapa hari yang lalu Dan,aku takut saking takutnya aku bergegas pergi tapi setelah itu aku tidak sadarkan diri."
"Jadi apa yang aku lihat beberapa kali berada disekitar rumahku itu memang mereka,"gumam Dani.
"Aku takut Dan,aku selalu bermimpi ditempat yang sama dan orang-orang itu mengejarku dan yang lebih membuat aku takut aku sering mimpi dikejar-kejar satu sosok mahluk mengerikan bertanduk dan punya sayap,Dan apa berarti aku akan mati?"ucap Dinda dengan lirih.
"Tidak,aku tidak akan membiarkannya itu terjadi,kita akan melawan mereka."
"Lalu bagaimana caranya Dan,aku takut,aku frustasi,aku bingung,"Dinda mulai menangis.
Dani menarik Dinda kedalam pelukannya,"aku sudah berjanji akan selalu melindungimu,dan itu akan aku lakukan,kita harus berani melawan mereka."
Dinda hanya terdiam,ia masih tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dia yang mereka tuju.
Dani juga terdiam beberapa saat,kemudian ia menarik Dinda dalam pelukannya,ia mengelus rambut Dinda berusaha menguatkan dan menenangkannya.
"Aku takut sekali Dan,aku masih tidak mengerti,mengapa aku,dan ada apa sebenarnya?"
Dani melepas pelukannya dan menatap Dinda,ia memengang tangannya.
"Ini semua yang terjadi bukan kebetulan,mereka sudah merencanakan semuanya sejak lama,setelah kejadian itu,aku mencari tahu siapa sebenarnya Dimas,dan sebenarnya mereka itu siapa,kelompok apa?"
Dani terdiam sesaat,ia menghela nafas panjang,"Din,aku mau tanya sama kamu,apa selama kamu berteman dengan Dimas kamu pernah diajak untuk mengunjungi rumahnya,mengenal keluarganya?"
Dinda mengeleng,"bahkan aku tidak tahu dia tinggal dimana,keluarganya seperti apa,"sahut Dinda.
"Kamu tahu tidak,kalau data tetang Dimas itu enggak ada."
"Hah yang benar Dan,bagaimana bisa tidak ada satupun dokumen tentang dia?"Dinda terkejut dan shock.
"Yah,dan apa yang aku temukan lebih mengejutkan lagi!!"
"Apa itu Dan,"Dinda semakin penasaran.
"Ketika aku mencari berita tentang sekte kelompok itu,aku pernah lihat disalah satu daerah,dan merekapun diusir dari tempat tersebut,ada beberapa artikel yang aku temukan dan ada salah seorang anggota sekte wajahnya persis Dimas dan lebih mengejutkan lagi,kamu tahu tidak,berita itu terbit 80 tahun yang lalu."
"Hah!! Yang benar Dan,itu sepertinya tidak mungkin,"ucap Dinda.
"Iyah aku juga tidak percaya,dan kamu tahu enggak,para pengikutnya itu bukan hanya dati kalangan bawah tapi ada dari pejabat dan artis dan kelompok mereka sudah banyak tersebar kemana-mana,dan selain itu mereka juga akan mendapatkan kekayaan,kebenaran dan kekuasaan."
"Hah,kamu membuatku semakin takut Dan,sekarang aku harus bagaimana?"
"Kita harus memberi tahu kakekmu dan kyai Safi'i Din,kita harus bicarakan ini dengan mereka,"ucap Dani.
"Aku takut Dan,kalau benar kepala sekolah kita anggota mereka,akh harus bagaimana Dan?"
"Sudahlah aku antar kamu pulang dulu,nanti kita lanjutkan pembicaraan kita disana,kamu tenang saja,kita bicara pada kakekmu,mudah-mudahan dia bisa mencari jalan keluarnya."
Dinda hanya menganguk,ia tidak tahu harus bagaimana.
mana berkuasa pula kepala sekolah
ruwet
supaya aman di pesantren kan saja
pergilah ke alam baka buat makhluk tekutuk di hutan itu
jangan sembarang ke tempat orang.. semua tempat ada peraturannya masing-masing. saling menghargai...
kembali jadi ke aslinya kakek peot
dr awal aku juga udah curiga sama Dimas...