NovelToon NovelToon
Dua Mafia Bersaudara dalam Satu Takhta

Dua Mafia Bersaudara dalam Satu Takhta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Fantasi Wanita / Persaingan Mafia
Popularitas:21.5k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Kisah Shen Xiao Han dan Colly Shen adalah kelanjutan dari Luka dari Suami, Cinta dari Mafia, yang menyoroti perjalanan orang tua mereka, Holdes Shen dan Janetta Lee.

***

Shen Xiao Han dan Colly Shen, putra-putri Holdes Shen dan Janetta Lee, mewarisi dunia penuh kekuasaan dan bahaya dari orang tua mereka, Holdes dan Janetta.

Shen Xiao Han, alias Little Tiger, menjadi mafia termuda yang memimpin kelompok ayahnya yang sudah pensiun—keberanian dan kekejamannya melebihi siapa pun. Colly Shen, mahasiswi tangguh, terus menghadapi rintangan dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

Di dunia di mana kekuasaan, pengkhianatan, dan ancaman mengintai setiap langkah, apakah mereka akan bertahan atau terperangkap oleh bayangan keluarga mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Perpustakaan Kampus

Colly duduk tenang di sudut perpustakaan, tablet di tangannya menampilkan berita yang tengah mengguncang dunia bawah tanah. Sorot matanya tetap datar, namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Kakak memang luar biasa,” gumamnya pelan. “Dengan berita ini, siapa lagi yang berani mencari masalah dengan kami?”

Langkah kaki terdengar mendekat.

Lilis, mahasiswi baru yang selalu tampil mencolok, masuk ke perpustakaan bersama beberapa teman sekelasnya. Begitu melihat Colly, pandangannya langsung berubah sinis.

“Anak manja,” sindir Lilis nyaring. “Ternyata kau di sini. Pura-pura belajar demi mendekati profesor kita?"

Juanna ikut menimpali dengan senyum mengejek. “Colly, dulu kau mengoda Jacky Yin, Apa kau tidak merasa terlalu berlebihan?”

Connie terkekeh pelan.

“Benar. Dosen kita itu terkenal, tampan, dan disukai banyak orang. Mana mungkin dia tertarik pada gadis sepertimu.”

Colly menutup tabletnya perlahan. Ia mengangkat kepala, menatap mereka satu per satu tanpa emosi.

“Juanna, Connie,” ucapnya tenang, “sejak kapan kalian menerima uang dari Lilis sampai berani menyindirku? Atau sebelumnya aku pernah mengganggu kalian?”

“Apa maksudmu? Siapa yang menerima uang?” Connie langsung membantah.

“Jangan hanya karena dia berasal dari keluarga kaya, kalian lalu menjadi budaknya,” lanjut Colly dingin. “Itu menyedihkan. Apa keluarga kalian menggantungkan hidup padanya?”

Wajah Juanna mengeras.

“Siapa bilang keluargaku bergantung padanya?”

“Kalau begitu,” balas Colly tajam, “kenapa kalian ikut-ikutan menyerangku hanya karena dia?”

Lilis mendengus, lalu menyela dengan nada manis palsu. “Kalian jangan dengarkan ucapannya. Dia hanya iri. Karena kalian berdua bersikap baik padaku, sementara dia tidak punya teman.”

Colly tersenyum tipis—senyum yang sama sekali tidak hangat.

“Manusia seperti kalian berdua tidak layak menjadi temanku,” katanya tanpa meninggikan suara. “Hanya bisa memandang kekayaan orang lain dan merendahkan diri sendiri demi diterima. Itu benar-benar bodoh.”

Perpustakaan mendadak sunyi.

Beberapa mahasiswa lain melirik ke arah mereka. Juanna dan Connie terdiam, sementara wajah Lilis menegang menahan malu dan marah.

“Oh, iya…” Colly tersenyum samar. “Kalau kau menganggapku anak manja ... kau benar.”

Ia merogoh tasnya dengan santai, lalu mengeluarkan sebuah kartu hitam tanpa limit meletakkannya di atas meja.

“Ini dari papaku.”

Ia lmengeluarkan kartu kedua, lalu kartu ketiga, menyusunnya sejajar dengan gerakan anggun.

“Yang ini dari mamaku. Dan yang ini,” Colly menatap mereka satu per satu, “dari kakakku.”

Nada suaranya tenang, nyaris manis.

“Jadi ya, aku memang anak manja kedua orang tuaku dan adik kesayangan kakakku.”

Lilis, Juanna, dan Connie terpaku. Wajah mereka memucat, mulut terbuka tanpa suara.

Beberapa detik berlalu sebelum Juanna akhirnya bersuara, suaranya tercekat.

“Bagaimana… bagaimana bisa kau punya sebanyak itu?”

Colly menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya santai. “Karena keluargaku kaya.”

Ia melirik ke arah Lilis sekilas—dingin, meremehkan. “Dan kalau mau membandingkan kekayaan,” lanjutnya pelan tapi jelas, “aku jauh lebih kaya daripada Lilis.”

“Colly, tadi aku tidak bermaksud menyinggungmu,” ucap Connie cepat, sikapnya berubah drastis. “Jangan dimasukkan ke hati.”

“Iya, benar,” sambung Juanna tergesa. “Kita kan teman.”

Colly menatap mereka berdua sekilas, lalu tersenyum tipis—senyum yang jelas bukan tanda penerimaan.

“Bukankah tadi kalian masih merendahkanku?” tanyanya tenang. “Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?”

Ia merapikan tasnya perlahan.

“Jangan kira dengan berpura-pura baik padaku aku akan memberikan kartu-kartu itu pada kalian. kalian yang tergila-gila pada uang seharusnya tahu diri. Berteman dengan orang seperti kalian hanya menjijikkan.”

Colly memasukkan kembali kartu-kartunya ke dalam tas tanpa tergesa.

Wajah Connie dan Juanna memucat.

“Colly Shen,” sela Lilis dengan nada menusuk, berusaha mempertahankan harga dirinya. “Lalu kenapa kalau kau kaya? Apa yang kau miliki semua berasal dari keluargamu.”

Colly menoleh perlahan, tatapannya lurus dan tajam. “Bukankah kau juga sama?”

Ia melirik tas bermerek di bahu Lilis, perhiasan di pergelangan tangannya.

“Tas, perhiasan, pakaian—semuanya dibeli orang tuamu.” Colly mengangkat alis tipis.

“Jadi apa bedanya kita?”

“Colly, ini hanya salah paham. Kita sudah lama berteman. Lilis yang menghasut kami memusuhimu,” ujar Connie.

“Aku tidak butuh penjelasan kalian,” jawab Colly dingin. “Aku juga tidak berharap berteman dengan kalian. Lagipula aku, Colly Shen, sangat pemilih. Terutama terhadap orang licik seperti kalian bertiga.”

Colly melangkah pergi.

“Tunggu! Aku belum selesai bicara. Percaya atau tidak, papaku bisa mengeluarkanmu dari kampus ini!” ancam Lilis.

Colly tersenyum dan menghentikan langkahnya. “Ingin mengusirku? Baik. Suruh saja papamu mencoba,” jawabnya santai.

“Kau akan menyesal,” geram Lilis.

“Aku bahkan tidak sabar melihat seberapa hebat ayahmu itu,” balas Colly.“Dasar anak manja.”

Kesal, Lilis meraih sebuah buku dari rak dan melemparkannya ke arah Colly.

Namun tiba-tiba sebuah tangan menahan buku itu.

“Profesor Zhou!” seru Lilis cemas.

Pria itu menahan sakit akibat lemparan buku tebal tersebut.

“Dasar pengecut. Melempar saat aku tidak waspada,” sindir Colly.

“Kalian datang ke sini untuk belajar, bukan mencari musuh,” ujar Profesor Zhou tegas. “Tidak bisakah kalian berdamai?”

“Siapa yang mau berdamai dengannya?”sahut Lilis ketus.

“Sejak hari pertama masuk Jing Yang, dia sudah bermusuhan denganku, seolah aku berutang padanya." Colly menoleh pada Profesor Zhou.

“Profesor, tanganmu sudah bengkak. Bagaimana kalau aku mengoleskan obat?”

“Hanya luka kecil, tidak apa-apa,” jawab Profesor Zhou.

“Profesor Zhou, maaf. Aku tidak sengaja,” ucap Lilis gugup.

“Profesor, aku akan mengobati lukamu,” kata Colly dingin. “Kalau ternyata lukanya parah, aku tidak segan menyerahkan hasil visum ke pengadilan.”

Wajah Lilis langsung pucat.

“Aku bisa menuntutnya karena melakukan tindakan kekerasan,” kata Colly dingin.

“Sudah, tidak apa-apa!” ujar Profesor Zhou tegas. “Kalian semua adalah muridku. Jangan bermusuhan lagi. Lupakan kejadian hari ini. Aku berharap kalian bisa berdamai.”

“Tidak mau. Aku tidak sudi,” jawab Colly tanpa ragu. “Aku masih ada urusan.”

Tanpa menunggu jawaban, Colly langsung berbalik dan meninggalkan perpustakaan.

“Profesor, Colly yang keras kepala, bukan aku,” kata Lilis dengan nada dibuat-buat.

“Kalau bukan karena dia yang mulai, mana mungkin aku melemparnya. Maafkan aku.”

“Tidak perlu meminta maaf,” jawab Profesor Zhou."Yang penting jangan mengulanginya lagi. Sekarang cepat pulang. Besok datang tepat waktu.”

Setelah itu, Profesor Zhou pun beranjak pergi.

Tak seorang pun menyadari, di sisi lain perpustakaan, Michael duduk diam—menyaksikan seluruh kejadian itu sejak awal.

"Tidak lama lagi Profesor Zhou akan disibukan dengan dua gadis itu," gumamnya.

1
Ayla Anindiyafarisa
lanjut thor..
Maria Mariati
kau juga akan terkubur di sini Alan Zhang 🤣🤣🤣
Ayla Anindiyafarisa
lanjut thor..
Ayla Anindiyafarisa
tinggal minta maaf aja kok susah banget toh tuan ma
Ayu lestari Ayu
ayolah thor up nya diperbanyak,,,q suka bgt sama ceritanya,bikin tegang n penasaran aja,,,pliiiiiisssss di perbanyak up nya,semoga autor sehat selalu ,,,😘
Maria Mariati
haduhhhh tua tua sudah bosan kali dia Ama nasi ,cari perkara aja 🤣🤣🤣🤣🤣
Ayla Anindiyafarisa
lanjut thor
Inez Putri
mantaap gak tanggung² micheal bw senjatanya good 👍👍😄😄
Ayla Anindiyafarisa
aduh Thor tadinya aku udh kesel loh aku kira beneran si holdes tidur beneran sama tu jalang
Ayla Anindiyafarisa
keren Thor..
Maria Mariati
haduhhhh tikus masuk kandang singa,hati2 yakk takut nya ga bisa keluar lagi
wie wie
apakah itu willy
Maria Mariati
iyaa padahal mereka saudara se kakek nenek 🤣🤣🤣🤣
Pikachu: gk asli punya 🤣
total 1 replies
Tiara Bella
plot twist bngt tdnya aku nyangka propesor itu yg lindungin Colly twnya kebalikannya....salah nebak aku
Maria Mariati
aku tak percaya Michael lin sudah meninggal pasti dia bisa lepas dari tali yang diikat oleh profesor gadungan itu 🤣🤣🤣
Maria Mariati: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Maria Mariati
kewaspadaan Colly menurun ga sadar ada musuh
Maria Mariati
belum tahu dia siapa Colly sebelum tangan mu sampe ,tangan mu dulu yang patah 🤣🤣🤣
Maria Mariati
bapak nya oon anak nya apa lagi,🤣🤣🤣
Maria Mariati
mafia ko tunggu rapat,keburu mati lahhh🤣🤣🤣
Bonny Liberty
alur cerita jelas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!