NovelToon NovelToon
Sang Koki Sihir

Sang Koki Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:226.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xeiralana

Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.

Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.

Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penawaran dari Lionel

Benar dugaan Brisella, dia mempunyai entah kemampuan apa. Dia sanggup mematahkan mantra peledak hingga sihir pelacak. Pikiran Brisella bercabang, tetapi di sisi lain ia bangga terhadap dirinya sendiri. Kini satu masalah terpecahkan, hanya saja dia belum menemukan solusi untuk kabur dari kurungan besi ini.

“Siapa kau sebenarnya? Apa kau benar-benar manusia?”

Brisella mengulas senyum licik. Kali ini kesempatannya untuk membuat remaja pria itu tunduk padanya.

“Kau tidak mau aku bantu? Aku bisa melepaskan belenggumu dengan mudah,” tutur Brisella dengan raut muka menyebalkan.

“Kau pasti menginginkan sesuatu dariku, bukan? Aku tahu tidak ada yang gratis di dunia ini.” Ternyata dia semakin mencurigai Brisella.

“Memangnya apa yang bisa kau berikan padaku? Kelihatannya kau tidak punya sesuatu yang istimewa. Atau mungkinkah kau berpikir aku akan memintamu menyerahkan tubuhmu?”

Pemuda itu langsung merinding mendengar ucapan Brisella barusan. Tidak ada yang salah dari perkataan Brisella sebab kenyatannya tak ada hal berharga yang dapat dia tawarkan.

“Jadi, kau sungguh menginginkan tubuhku?!” Pikiran buruknya masih saja berlangsung.

Brisella menggeleng sambil menjawab, “Meskipun kau punya tubuh yang bagus, aku tetap tidak menginginkan tubuhmu. Sebelum itu, tolong beri tahu aku namamu terlebih dahulu. Setelah itu, mari kita bicarakan imbalannya.”

“Devion … namaku Devion.”

“Baiklah, Devion, aku akan membantumu.”

Brisella dengan cepat menyingkirkan kalung besi dan rantai nan mengikat kaki Devion. Sejenak Devion merasa lega terbebas dari alat yang selama ini selalu dia takutkan.

“T-Terima kasih.” Devion tampak enggan dan malu-malu berterima kasih kepada Brisella.

Di saat itu pula Brisella membuka kunci pintu kurungan. Namun, dia tidak bisa langsung keluar dari sana. Terlalu besar resiko yang ditanggung jika dia keluar dan melompat dari kereta.

“Apa kau pandai menggunakan sihir?” tanya Brisella ke Devion.

“Tidak, aku hanya bisa menggunakan pedang.”

“Sayang sekali. Semisalnya kau pandai menggunakan sihir, kita bisa keluar dari sini sekarang juga.”

Sesaat otaknya buntu, Brisella mendapatkan sebuah ide yang cemerlang. Dia hampir melupakan bahwa tidak hanya mereka berdua saja yang berada di tempat tersebut.

“Ziggy! Dapatkah kau mendengar suaraku? Cepat keluar! Aku butuh bantuanmu.”

Tidak ada respon dari Ziggy. Brisella benar-benar marah kali ini sebab Ziggy selalu saja menghilang ketika dia membutuhkan bantuannya. Ingin rasanya ia berkata-kata kasar, tetapi percuma karena takkan mengubah situasi apa pun yang terjadi.

“Kenapa dia sering menghilang? Apa yang dilakukannya?”

Brisella kehabisan akal. Bersamaan ketika Brisella mencoba kembali berpikir, kereta kuda yang membawa mereka mendadak berhenti. Tampaknya mereka sudah tiba di lokasi tujuan. Brisella pun mendekati Devion, memberi kode untuk melompat kabur ketika penculik membukakan penutup gerbong kereta kuda.

Setidaknya aku bisa menggunakan ini untuk memperlambat gerakan mereka.

Brisella merogoh kantong sihirnya. Dia menggenggam bubuk lada yang sempat dia beli sebelumnya di pasar. Sang gadis berencana melempar bubuk lada ke wajah si penculik.

Tatkala penutup gerbong dibuka, para penculik sangat terkejut mendapati Brisella dan Devion sudah lepas dari belenggu yang mereka pasang.

“Mengapa kalian bisa lep—”

“Sekarang waktunya kita kabur!”

Brisella melempar bubuk lada tersebut tepat mengenai mata para penculik. Lekas Brisella menarik pergelangan Devion untuk melompat dari gerbong kereta.

“Hei, kurang ajar! Beraninya kalian!”

***

Bersamaan hujan dan badai nan melanda Kota Yelind, Cassis kala itu mengalami kepanikan hebat tatkala menerima laporan mengenai menghilangnya Brisella. Perasaannya campur aduk hingga nyaris tak mampu mengendalikannya.

“Tidak bisa begini! Aku harus pergi mencari Brisella sekarang juga! Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada adikku.”

Cassis berencana menerobos badai. Dia tak tahan berdiam diri saja menanti badai reda. Namun, aksinya itu dihentikan oleh bawahannya.

“Yang Mulia, saya mohon Anda jangan nekat. Dalam situasi hujan badai seperti ini, mustahil kita bisa menemukan keberadaan tuan putri. Tolong pikirkan baik-baik sebelum Anda menyesal nanti.”

Apa yang dikatakan bawahannya itu benar. Di dunia ini tidak ada sihir pengendali cuaca, tidak ada pula sihir yang dapat menjamin keselamatannya ketika berada di bawah cuaca buruk, dan tidak ada sihir yang mampu melindunginya di tengah hujan badai. Terlebih lagi, hujan badai yang menerpa Kota Yelind berbeda dari hujan badai biasa. Entah mengapa, hujan badai tersebut terlihat lebih banyak menaruh bahaya.

“Sial! Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Cassis benar-benar cemas. Pikiran buruk terus menerus mencoba merampas kewarasannya.

Di sela kegundahan hati Cassis, tanpa terduga Lionel datang menghampirinya. Suasana yang kurang kondusif membuat kedatangan Lionel membuat atmosfer sekitar semakin terasa berat.

Lionel mengetahui dengan baik perihal apa yang terjadi kala itu. Bersama wajah tak berdosanya, ada sesuatu yang ingin dia lakukan. Sejujurnya, dia juga terkejut mendengar berita menghilangnya Brisella.

“Kenapa kau datang kemari? Sekarang bukan waktu yang tepat bila kau mau mencari masalah denganku,” ujar Cassis meenyorot tajam Lionel.

“Aku kemari bukan untuk mencari masalah denganmu, tetapi aku membawa sesuatu yang mungkin bisa membantumu menerobos hujan badai dan mencari keberadaan tuan putri,” tutur Lionel meruntuhkan keresahan Cassis.

“Apa maksudmu?!”

Lionel mengeluarkan sebuah jubah berwarna biru tua, lalu berkata, “Gunakan ini! Aku baru saja membuat alat sihir yang dapat melindungimu dari cuaca buruk. Dengan jubah ini, seburuk apa pun cuaca yang terjadi, takkan membuatmu kesulitan dalam pencarian dan penggunaan sihir. Bahkan, kau juga bisa terbang seperti biasa.”

“Mustahil kau memberikan jubah ini secara gratis. Pasti ada sesuatu yang kau inginkan dariku, kan?”

Memang begitulah Lionel, pria itu tidak pernah membantu orang lain secara gratis. Selalu ada maksud di balik pertolongannya. Kali ini pun sama, ada yang dia inginkan dari Cassis.

“Ada sesuatu yang aku inginkan. Sebenarnya, aku mendengar kalau indra perasamu sudah mulai berfungsi kembali setelah memakan masakan adikmu. Jadi, bisakah kau mengizinkan aku mencicipi masakan adikmu? Kau tahu sendiri kalau kita sama-sama mempunyai masalah dalam indra perasa.”

“Hanya itu saja? Ya sudah, berikan jubahnya padaku. Setelah Brisella ditemukan, silakan kau tanya sendiri karena Brisella yang berhak memberi izin atas hal ini.”

Sejujurnya, Cassis berharap Brisella tidak pernah mengizinkan Lionel mencoba masakannya. Dia benar-benar tidak menginginkan Lionel terhipnotis masakan Brisella yang terkenal oleh kelezatannya. Namun, situasi yang menimpa Cassis kini, membuat dia terpaksa menurunkan ego sejenak dan meminta Lionel meminta izin langsung kepada Brisella.

“Baiklah kalau begitu. Kau boleh menggunakan jubah ini.” Lionel menyerahkan jubah tersebut ke Cassis.

Cassis langsung memakai jubah itu dan bergerak cepat menembus hujan badai. Mengejutkan sekali, rupanya jubah itu sungguh melindunginya dari hujan badai bercampur petir. Hanya saja ada hal lain yang mengganggunya.

“Hei, kenapa kau mengikutiku?!” Cassis berbalik badan. Ternyata Lionel mengikuti dia dari belakang.

“Aku mau membantumu mencari tuan putri,” jawab Lionel seraya tersenyum.

Cassis menghela napas panjang dan berdecak sebal.

“Terserah kau saja! Jangan sampai kau mengganggu langkahku.”

1
Andi Irawan
👍👍👍👍👍
Ainnur Najiah
lanjut up
AL- FAQIH
bagus banget ceritanya,kak kpn updatenya jgn lama-lama please
Andi Ilma Apriani
semoga masakan brisella yang buat putra mahkota sembuh bukan krn jantungx
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Ita Xiaomi
Aku berkhayal masakkan Brisella bs menyembuhkan penyakit Ernest.
Akasia Rembulan
akhirnya muncul lagi.. semangat thor
Yoni Hartati
lanjut semangat
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Yunita Sri wahyuni
Q suka dengan cerita nya... walau pun cerita ttg sihir tapi jelas beda dgn sihir yg ada di Harry Potter..good jobs author 😘💪🏻💪🏻
Yunita Sri wahyuni
ya iya la dunia baru ... dunia baru setelah kematian...itu benar adanya... lanjut 💪🏻
Shinta Andriyani
Bagus dan menarik
Akasia Rembulan
ayo Brisela jangan biarkan orang2 menjatuhkan mu
Zg Silva Soares
Bugus
Susilawati
di tunggu kelanjutannya Thor
Susilawati
mantapp brisela 👍👍👍
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi
Wiji Lestari
up up up/Angry/
Wiji Lestari
lanjoot
Ita Xiaomi
Wah seru dan menegangkan.
Andi Ilma Apriani
makasih thoorr sudah up...semangaattt yach 😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!